Selasa, 20 November 2018

5 Hal yang Harus Diperhatikan Sebelum Membuat Tokoh Novel

5 Hal yang Harus Diperhatikan Sebelum Membuat Tokoh Novel

5 Hal yang Harus Diperhatikan Sebelum Membuat Tokoh Novel
Credit: PT. Dbeyond Kreatika Indonesia


Ujwar.com – Setelah sekian lama berhenti memberikan artikel-artikel lewat blog, akhirnya kali ini, aku memiliki waktu lagi untuk membuat artikel yang inshaa allah bermanfaat. Hehe. 

Sebagai seorang penulis novel, jelas saya juga menghadirkan tokoh-tokoh untuk novel. Selama hampir empat tahun ada di dunia kepenulisan, saya mendapatkan beberapa pelajaran mengenai noval. Nah, khususnya dalam pembuatan tokoh dan penokohan.

Baca juga: 

Membuat tokoh dan juga penokohan dalam novel tidaklah mudah, banyak sekali yang harus diperhatikan. Di sini, saya menuliskan, 5 hal yang harus Anda perhatikan sebelum benar-benar meluncurkan tokoh-tokoh novel. Diantaranya:

1. Kesesuaian Nama Dengan Daerah

Ya, banyak sekali penulis yang mungkin ujug-ujug alias buru-buru dalam membuat tokoh. Orang Sunda, yang misalnya anak petani, dinamai Angel. Bukan berarti merendahkan sebuah pekerjaan, atau suku yang ada, tetapi harus ada kesesuaian, antara  nama yang sering digunakan dalam daerah tertentu.

Mungkin, jika seorang tokoh asli orang Jakarta, kemudian namanya Angel, masih masuk. Sebab kebanyakan orang-orang kota memang membuat nama-nama semacam itu untuk anak-anaknya.

2. Kesesuaian Nama dengan Sifat dan Kebiasaan

Saya sangat suka terhadap nama yang dibuat oleh Bunda Asma Nadia dalam novel Love Spark In Korea. Nama tokoh utamanya adalah: Rania Timur Samudra. Menurutku unik. Dia seorang traveler yang mengunjungi alam-alam indah. Ada kesesuaian antara nama dan juga kebiasaan, atau bahkan sifatnya.

Contoh lain, nama seorang cowok: Gagah. Secara otomatis, nama Gagah pasti digambarkan seorang cowok yang memiliki perawakan tinggi, badan bagus, jadi idaman, dan lain-lain. Atau minimal, sosok Gagah ini bisa membuat cewek kelepek-kelepek saat lihat wajahnya dan cara dia berkata-kata. 

3. Kesesuaian Nama Dengan Tahun Lahir

Bagi pembuat cerita fiksi sejarah, atau fiksi yang menggunakan latar-latar zaman dulu, jelas harus melakukan riset yang banyak, terutama untuk penyesuaian nama tokoh dengan yang ada pada zamannya. 

Hal ini untuk meyakinkan pembaca, bahwa cerita tersebut seperti benar-benar terjadi dan nyata. Jelas ini berhubungan dengan penghargaan dari pembaca nantinya.

4. Kesesuaian Nama dengan Fisik

Apakah seorang ibu akan memikirkan fisik si anak sebelum membuat nama? Di dunia nyata, sepertinya jarang ya terjadi. Sebab, ketika bayi, anak-anak hampir selalu sama. Berkulit putih (mungkin agak kemerahan) dan terlihat lucu. Nama apa pun, selagi cocok, pasti akan disematkan terhadap si anak.

Namun di dalam novel, kadang nama dan fisik tidak sesuai itu sering menjadi pertanyaan. Seorang tokoh dengan nama Juminten, pasti orangnya hitam manis, khas-khas orang sunda. Ramah, sopan, dll.

Atau, orang pasti mengenal, nama Jonathan, pasti memiliki wajah yang putih, badan tinggi, ganteng, dll (Idelanya seperti itu).

Nah, sebagai penulis, kita harus peka terhadap hal semacam itu. Kita harus bisa membuat nama tokoh, yang sebisa mungkin sesuai dengan fisiknya. Jangan sampai tokoh yang kita buat malah di-bully pembaca. Hehe. Kecuali, masalah nama itu yang mau diangkat menjadi konflik.

Misal, seorang namanya Angel, tapi dia misal: dekil, pendek, tidak cantik (maaf ya, bukan melihat sesuatu berdasarkan fisik, ini hanya contoh), pasti akan mendapatkan banyak pertanyaan dari orang-orang sekitarnya. Namanya tak sesuai dengan wajahnya. Maka dari itu, diusahakan, nama dan fisik ada kesesuaian.

5. Nama Tokoh Dengan Latar Belakang Keluarga

Perhatikan nama tokoh dengan latar belakang keluarga juga. Misal keluarga blasteran, namanya pasti agak susah diupcakan. Atau, misal keluarga dari suatu suku, biasanya memiliki nama belakang berdasarkan marga tertentu. Atau berdasarkan nama Bapak, dan lain-lain. 

Jangan sampai, tokoh orang Batak, tapi nama orang Sunda atau Jawa. Harus ada kesesuaian si tokoh dengan Latar Belakang Keluarganya.

Nah, itu dia 5 hal yang harus diperhatikan sebelum membuat tokoh dan penokohan dalam novel. Setidaknya, sebagai penulis, kita berusaha untuk tidak membiasakan membuat tokoh tempelan. Pembuatan nama, karakter, fisik, kebiasaan, harus benar-benar dipikirkan secara matang.

Sudahkah melakukan 5 hal di atas sebelum membuat nama tokoh? 








Jumat, 16 November 2018

Lintang Langit Pada Senja, Sebuah Novel yang Mengajarkan Kita Untuk Terus Berjuang

Lintang Langit Pada Senja, Sebuah Novel yang Mengajarkan Kita Untuk Terus Berjuang


Credit: dokumen pribadi




Ujwar.com - Setelah sekian lama buku ini sampai, baru kali ini aku review. Sebenarnya sudah selesai baca sejak beberapa hari lalu, tapi kebetulan, baru kali ini aku leluasa bikin tulisan.

Well, kali ini, aku akan review sebuah novel Islami yang menurutku paket lengkap. Gimana nggak paket lengkap coba, selain soal cinta, novel ini juga membahas soal perjuangan kehidupan dan konflik keluarga, yang jelas-jelas  membuat dadaku sesak saat membaca.

Benar, judul novelnya adalah: Lintang Langit Pada Senja, Karya Mbak Ririn Astutiningrum, terbitan Elex Media Komputindo. Seneng deh, dapat kesempatan review buku ini. Nah, sebelum benar-benar ngasih review, aku akan kasih tahu dulu blurb dari novel ini:

***

Lintang dan Langit selalu merasa dunia tak adil hingga mereka melangkah bersama. Lintang dan langit serupa dua tapak tangan yang tak akan bisa menjabat tanpa satu sama lain. Indahnya cinta dan dunia mereka genggam dalam batin yang sejatinya kelam. Mereka bersama menepis sunyi, tak peduli bagaimana hari nanti.

Satu ketika, kenyataan pahit merenggut paksa kebersamaan mereka. Tiada lagi Lintang pada Langit. Getir demi getir dijalani masing-masing hingga takdir kelak mempertemukan mereka kembali dalam keadaan yang berbeda.

Ada senja di antara langit dan bintang-bintang. Senja yang mengajarkan arti hidup, cinta sejati, dan perjuangan. Senja yang senantiasa setia. Senja yang sekejap muncul lalu sirna, namun senantiasa berkorban dalam kerlip cahaya bintang.

“Lintang, aku adalah Langit. Langit yang senantiasa menaungimu, mendekapmu, memayungimu, hingga pagi tiba. Andaipun mentari memaksamu pergi, bukankah ada senja yang selamanya mempertemukan kita?”

***

Sekilas setelah baca back cover, terus terang aku langsung tertarik. Kelihatan sekali, kalau Mbak Ririn jago memilih diksi dari kalimat-kalimat menyentuh yang dia buat. Well, aku terhanyut, bahkan sebelum membuka isinya.

Ketika membuka isi, aku langsung dihadapkan dengan misteri menghilangnya Langit secara tiba-tiba dari kehidupan Lintang. Padahal, bukankah mereka sudah janji akan saling membersamai? 

Setelahnya, mulai muncul misteri. Mulai muncul jawaban. Dan bahkan, mulai muncul sesuatu, yang memang tak dikehendaki. Baik secara pribadi si tokoh, atau secara sosial dan agama. Jelas ini menguras emosi. 

Ada satu hal yang juga menonjol dalam novel Lintang Langit pada Senja. Yups, latar. Aku sangat senang ketika Mbak Ririn menjelaskan latar dengan amat detail. Terutama soal Bandung. Aku yang kebetulan pernah ke tempat-tempat yang diceritakan dalam novel, senyum-senyum sendiri. Berasa nostalgia. Memang, aku seperti berada di tempat kejadian seperti tokoh-tokoh di dalam novel.

Selain soal alur, aku juga mencintai tokoh-tokohnya, terutama Lintang. Lintang adalah gambaran remaja yang mungkin banyak saat ini. Dia yang kurang kasih sayang, dia yang memiliki segalanya, tetapi kering. Hingga sesuatu menimpanya. Syukurlah, di sini tak hanya soal kepedihan yang dijelaskan, penulis juga menunjukkan, bagaimana bangkit dari lubang paling gelap. 

Setelah latar dan alur, aku kembali dibuat jatuh cinta terhadap kalimat indah yang menyejukkan.

“Walau lautan menjadi tinta dan pohon-pohon di dunia ini menjadi pensilnya tak akan cukup untuk menuliskan betapa banyaknya nikmat Allah.”
-Senja- (Hal, 98-99)

Ya, novel ini tidak hanya menceritakan sebuah perjuangan cinta dua insan, tetapi memberikan pula pelajaran soal bagaimana rasa syukur itu bisa membuat hidup tenang.

Semakin ke sini, aku semakin terharu, sebab, sebuah keajaiban muncul. Antara Langit, Lintang dan Senja, semuanya punya cara masing-masing untuk melihat sudut pandang dari sebuah pengorbanan. Ketika orang lain menganggap berkorban adalah hal sulit dan menyakitkan, mereka memiliki cara untuk tetap melihat pengorbanan sebagai sebuah kebahagiaan.



Di ending, aku ternganga. Jadi endingnya gini? Menurutku sih nggak nyangka, endingnya bakal secetar itu. Yeah, aku cukup puas.


Setelah selesai membaca keseluruhan novel, aku mengembuskan napas. Mengulas senyum sejenak, lantas beristigfar. Ya ampun, novel ini benar-benar menginspirasi. Tidak hanya soal cerita fiksi, tetapi soal ilmu dan hal-hal manis tentang islam, yang memang membuat pembaca (khususnya aku) sadar akan nikmat dan kebesaran-Nya.

Jika diberi kesempatan untuk menilai, aku akan memberikan nilai 8/10 dari novel ini. Dan yeah, novel ini recomended banget buat dibaca. 

Aku beruntung pernah baca novel Lintang Langit Pada Senja. Kamu sudah baca karya Mbak Ririn Astutiningrum, belum? 








Senin, 24 September 2018

Beginilah Rasanya Lolos Audisi Rising Star Indonesia 2018!

Beginilah Rasanya Lolos Audisi Rising Star Indonesia 2018!


Beginilah Rasanya Lolos Audisi Rising Star Indonesia 2018!
Cerdit: RCTI


Ujwar.com – Hari Sabu, 22 September 2018, nyaris mengulang kembali kisahku 2 tahun lalu saat mengikuti audisi Rising Star Indonesia 2016. Dulu, audisi itu dilaksanakan tanggal 4 Oktober 2016. Masih ingat banget! Namanya juga pengalaman pertama. Dan ya, jelas saja akan tetap tersimpan di relung hati. Terutama saat berdiri di hadapan juri dengan badan gemetaran.

Nggak nyangka aku bisa kembali menginjakkan kaki di SABUGA ITB. Sebab, sejak audisi 2 tahun lalu itu kepercayaandiriku benar-benar down. Setelah tahu bahwa bakat menyanyiku nggak seberapa, aku sempat berpikir: mungkin jalanku bukan menyanyi!

Yeah, aku hanya berangkat atas kenekatan. Tanpa vocal yang mumpuni, tanpa ilmu musik, tanpa les vocal, dan lain-lain. Pokoknya, aku berangkat karena merasa bisa nyanyi dengan belajar sendiri. Dudududu. 

Kemarin bagaimana? Kemarin aku belajar otodidak juga. Bedanya, aku punya motivasi berbeda. Jika dulu bermimpi buat bisa ada di TV, sekarang justru hanya punya motivasi supaya ada peningkatan dari tahun lalu. Kalau ada peningkatan, secara otomatis, hal-hal yang berhubungan dengan lolos audisi, dan lain-lain pasti akan datang. Benar kan?

Baiklah. Mari ikuti ceritaku mengikuti audisi tersebut:


BERANGKAT KE SABUGA

Pukul 7 pagi, Hari Sabtu, 22 September 2018 kemarin, aku mengorbankan kuliah demi ikut audisi. Kalau kata orang: buat apa sih? Mimpi jangan terlalu besar, entar pas jatuh, sakit!

Aih, tapi aku nggak ngerasa gitu kok. Sebab keberangkatanku ke Bandung bukan benar-benar ngebet pengin viral atau terkenal. Just for menambah pengalaman. Jadi ketika nggak lolos pun, aku udah legowo sendiri.

Sepanjang jalan, aku merasa lebih tenang, karena memang sudah beberapa kali berangkat audisi. Rising Star 2016, SUCA 4, dan akhirnya Rising Star 2018. Aku rasa, keberangkatanku ke Bandung akan menjadi kebiasaan setiap tahun. Rasanya kalau nggak ikut, kaya ada yang kurang.

Waktu Idol 2018, aku nggak jadi ikut, karena ada beberapa alasan. Waktu The Voice 2018 juga nggak ikut, sebab bentrok dengan audisi Stand Up Comedy. Dan akhirnya, Rising Star ini yang kemabali menguji kemampuanku.

“Duh, Ujwar multitalent banget ya?”

Ahahaha, bukan multitalent guys, tapi aku hanya coba-coba. Alhasil, selalu kesebut banyak kemampuan. Ya, bersyukur aja sih, kata-kata sahabat semua, akan menjadi doa.





SAMPAI DI SABUGA

Aku sampai di SABUGA sekitar pukul 10. Berbeda dengan tahun lalu, audisi yang sekarang tidak terlalu ramai. Apa mungkin sudah dihabiskan di pagi hari? Ya, dulu sih, sekitar jam 10 itu masih banyak yang berlalu lalang. Bahkan ada orang yang jualan map dan spidol, dan kita harus menebus sekian puluh ribu. Katanya buat persyaratan lomba (Padahal gratis, nggak perlu beli kaya gituan). Aku tidak menemukan mereka saat aku sampai di SABUGA.

Sejenak, sambil berjalan, aku mengambil swafoto di depan banner RISING STAR Indonesia 2018. Kemudian beberapa aku upload. Ya Allah, jadi inget 2 tahun lalu, saat audisi nggak bisa foto-foto karena HP kebetulan rusak. Tahun sekarang, aku bisa mengabadikan momen itu.

Doc. Pribadi

Doc. Pribadi


Aku dipertemukan dengan 2 bapak-bapak yang sebenarnya sudah bertemu di DAMRI. Waktu di DAMRI, kami tidak bertegur sapa, sebab aku tidak tahu kalau ternyata tujuan kami sama. Justru kami bersalaman saat mengantri. Indah sekali audisi itu, kita bisa bertemu orang baru dengan impian sama.



Aku mengantri sampai pukul 2 sore. Sambil mengantri, acara diisi oleh Agung dan Rike, pasangan suami istri, finalis Rising Star, 2 tahun lalu. Jelas aku senang, sebab sambil mengantri, aku dan peserta lain mendapat wejangan dari beliau-beliau soal audisi.




Hingga akhirnya, sampailai di kursi panas. Sebelum audisi, 10 peserta diharuskan duduk di kursi, dan setelahnya akan dipanggil untuk melakukan audisi.

Kamu tahu apa yang aku pikirkan? Yups, takut penampilanku sama kaya tahun lalu, atau bahkan menurun. Aku kasih gambaran, waktu audisi tahun lalu, aku gugup, tegang dan kaku, sehingga suara jadi ilang dan blank, bahkan nadanya ke mana-mana. Aku bergidik, dan berdoa agar Allah membantu.

Well, setelah duduk di kursi-kursi itu, kami disuruh untuk berjalan ke lantai atas. Dan yeah, audisi sekarang, room-nya semakin banyak. Tahun 2016, disediakan sekitar 3-4 room audisi. Di masing-masing room itu, ada 2 juri. Tahun sekarang, ada sekitar 8 room, sementara formasi masih sama seperti tahun lalu. Sepuluh orang dari kursi panas, masing-masing nanti akan audisi di salah satu room, bergantian. Dan itu menegangkan.



Eh iya, setelah tahu room audisi, aku jadi punya kesimpulan, bahwa audisi tahun ini lebih cepat selesai karena room audisinya banyak. Pantas saja jam 10 pagi, tempat audisi udah nggak terlalu padat. Sepertinya kalau masalah peserta, nggak kalau banyak sama tahun sebelumnya.

O iya, selama menunggu, aku terus berdoa. Aku akan benar-benar merasa gagal jika seandainya penampilanku malah lebih buruk dari tahun lalu. Saat giliran aku yang masuk room audisi, aku langsung beku.

Deg!


Dada ini seperti akan copot.

“Hallo.” Aku buru-buru berusaha ramah, untuk menghilangkan nervous, sambil menyodorkan KTP.

“Namanya siapa?” Salah satu juri cowok berbaju putih bertanya ramah.

“Ujwar kak.”

“Dari mana?”

“Garut.”

“Wah, jauh juga.”

Dia bertanya naik apa aku dari Garut, terus Garutnya di kecamatan apa, dan bla-bla. Berderet pertanyaan basa-basi lain.

Setelah ditanyai banyak hal, tanganku diperiksa. Sumpah, kaya anak SD tau nggak. Aku kira, jika ada tahi-tahi kuku yang menempel di kuku, tanganku akan dipukul lidi. Ternyata juri hanya mau ngetest, apakah kita rileks dan juga tidak tegang?

“Tuh kan, gemeteran!” desah salah satu juri cewek.

Damn!

Ternyata, audisi kali ini benar-benar dinilai dari berbagai aspek. Faham aku, mereka menguji dari mental terlebih dahulu. Terus terang, dibilang seperti itu, aku malah gugup.

“Enggak,” 

“Eh iya, aku kok iri ya liat alis kamu!” Juri berjilbab tersenyum kagum.

Aku hanya mengerutkan dahi.

Jadi ingat audisi SUCA waktu di Indosiar. Jurinya juga bilang gitu lho.

“Aku iri sama alis kamu!”

Dih, apa mereka janjian? Atau mereka orang yang sama? Ahahaha. Jadi syerem.

Tapi yang aku pertanyakan justru ini: Emang, alisku semenarik apa sih?

“Kamu benang alis ya?”

Aku langsung menggeleng. Ya ampun, mana ada aku lakuin begituan. Yang bikin ngakak, emang harus ya, tuh juri ngiri bangeud lihat alis aku? Hihi. 

“Idung kamu juga agak mancung. Kamu oprasi juga ya?” Juri cowok ikut nimbrung. Kalau pertanyaan ini sepertinya hanya kebalikannya dari mancung. Dia basa-basi doang :D

Mereka sepertinya ingin membuat aku benar-benar gugup deh. Soalnya biasanya kalau diajak ngomong gitu, aku justru tambah gugup. Atau mereka memang sengaja membuat suasana supaya aku rileks? Mungkin saja sih.

Setelah basa-basi cukup lama, akhirnya aku bernyanyi.

“Aku mau nyanyi Too Say At Goodbyes dari Sam Smith.”

Kedua juri mengangguk.

Dada bergemuruh, seperti saat ketika menunggu jawaban cinta dari si doi. Ahahah, cielah.

Aku bernyanyi pada akhirnya. Namun ketika bernyanyi, aku merasa benar-benar fresh. Semua ketakutanku diawal hilang seketika. Meski gugup, suaraku tetap stabil (yang kurasakan), juga masih bisa ngehit nada sesuai dengan yang kupelajari.

Syukurlah! Pikirku.

Namun setelah bernyanyi, tidak ada apa-apa lagi.

Juri langsung ngomong:

“Selamat ya, kamu dapat kartu biru.”

Aku tersenyum, mengambil kartu biru itu, lantas keluar dari room audisi.



Duh, kok aku agak ragu ya? Masih ingat, waktu audisi 2016, aku disuruh nyanyi beberapa lagu lho. Dan itu yang bikin PD aku agak naik. Aku merasa, bahwa aku diperhitungkan. Ah, tapi aku berdoa, semoga kartu itu membawa keberuntungan.

Setelah 10 orang beres audisi, kami semua disuruh menghadap ke suatu ruangan, dari sana diumumkan, bahwa kami semua tidak lolos! Aku langsung kecewa dong. Dan ya, semua orang yang dapet kartu biru itu nggak lolos. Yang dinyatakan lolos dan akan audisi dengan juri artis di Jakarta adalah yang dapet kartu merah.

Setelah keluar dari ruangan dengan perasaan kecewa, aku melihat jam. Masih jam tiga. Rencananya kan aku memang pulang hari minggunnya (meskipun waktu itu belum kepikiran mau nginep di mana). Akhirnya, tadaaaaa, aku nyoba ulang audisi untuk kedua kalinya!

Duh, Ujwar keukeuh banget sih ya! Udah ditolak, kok audisi lagi?

Ya, aku masih penasaran. Di sana ada 8 room, siapa tahu, selain juri di room 5 yang menolakku, ada juri di room lain yang tertarik dengan suaraku? Ya, kita harus optimis kan ya? Xixixi. 

Aku muter lagi buat ngulang audisi. Untung saja, peserta audisi udah melongpong. Hanya satu dua yang datang. Padahal nih ya, tahun lalu itu sekitar pukul 4, masih sangat rame. Duh, mungkin karena hari Sabtu, banyak yang sekolah atau kuliah. Atau juga karena sebagian dari mereka sudah mengikuti audisi ajang pencarian bakat sebelumnya. Bayangin aja, tahun ini Talent show lagi naik daun. Indonesian Idol 2018 (sudah tamat), The Voice Indonesia 2018 (Tayang 1 November) dan sekarang Rising Star 2018. Belum ajang pencarian bakat yang junior. Bisa dibayangkan.

Aku optimis dong, suaraku bisa narik perhatian di room lain. Dan well, akhirnya aku kebagian lagi tampil setelah gagal audisi 1 setengah jam sebelumnya. Waktu itu, aku semakin rileks, sebab sudah tahu alurnya seperti apa.



Masuk ke dalam room, seperti biasa, aku berkata seramah mungkin. Sebab kita tidak hanya dinilai dari suara, attitude juga.

Setelah berkenalan dan lain sebagainya, juri bertanya:

“Mau nyanyi apa, Ujwar?”

“Too Say At Goodbyes, dari Sam Smith!”

“Oke, mulai.”

Duaaar! Aku menyanyi. Ahahaha, sudah seperti ada pesta hajatan yang waw aja. Entah kenapa, di audisi kedua ini, aku enjoy banger. Gugup masih ada (wajar), tetapi aku lebih rileks. Gerakkan ada, nyanyian mantep (yang kurasakan saat itu, berbeda dengan audisi 1), kemudian, klik-klik-an yang aku latih juga berhasil ditampilkan.

“Coba deh lagu lain!”

Aku tertawa dalam hati. Jika juri sudah meminta kita nyanyi lagu lain, berarti mereka penasaran. Hehehe. Well, aku nyanyi lagu Jaz - Dari Mata. Yang awalnya lagunya agak-agak mellow, selanjutnya aku harus senyum-senyum sendiri karena lagunya memang soal kasmaran.

Sama, di lagu ini, aku merasa menang. Karena emang lagunya kemakan banget. Lagu yang mudah soalnya.

“Coba deh, lagu dangdut!”

Aku langsung bungkam. Sedikit syok, sekaligus nggak nyangka. Eh, aku disuruh nyanyi lagu dangdut? Nggak salah?

Flashback ke belakang, aku memang nggak pernah fokus di genre dangdut. Suka sih lihat DA, LIDA, atau KDI, tapi nggak pernah yang benar-benar suka gitu lho. Lagu-lagunya ampir tahu dan sering denger, tapi hanya hapal setengah-setengah.

Bingung juga dong, aku mau nyanyi apa? Kenapa pula tuh juri nyuruh lagu dangdut?

Tengang langsung! Karena aku emang nggak nyiapin lagu dangdut. Argh! Aku merasa gagal. Akhirnya, tiba-tiba saja lagu Lesti yang berjudul Purnama terlintas di kepala. Belum hafal semua lho, tapi daripada kalah dan bilang: “Nggak bisa dangdut!” Akhirnya aku nyanyi lagu itu.

Sepertinya mereka sedang menguji, apa aku bisa nyanyi di berbagai genre, juga tidak gugup dan sudah memiliki persiapan? Dan jawabannya, persiapan kurang, nyanyian pun di lagu terakhir agak berantakkan. Tetapi meski begitu, rasa percaya diriku justru makin menggebu. Ingin dong ngebuktiin kalau aku bisa lagu apa pun?

Setelah beres nyanyi lagu dangdut, akhirnya juri ngasih kembali KTP, plus kartu ..... jeng, jeng, jeng, BIRUUUU!

Huah, biru lagi guys. Berarti aku belum lolos.

Tahu apa yang kurasakan? Nggak ada kecewa. Nggak tahu kenapa. Hanya saja tahu beberapa trik ketika kita akan audisi (pelajaran yang bisa kuambil, atau kamu kedepannya). Di antaranya:

-Siapkan lagu sebanyak-banyaknya. Karena juri biasanya nguji dari berbagai lagu.

-Siapin mental yang bagus.

-Jaga sikap, dan harus punya keunikan.

-Lebih baik bisa alat musik (*Dan ini yang bikin aku nggak PD, soalnya aku ngga bisa pakai satu pun alat musik).

Dan, setelahnya, lapang dada. 

Yups. Audisi itu bukan soal bagus atau tidak, tetapi perpaduan antara bakat, minat dan takdir. Ketika seseorang punya bakat, tetapi takdirnya nggak bisa jadi seorang penyanyi, mungkin saja saat nyanyi mendadak nge-blank dan suaranya ilang. Atau, seseorang yang teknik vocal biasa aja, tapi punya warna suara bagus, kemudian mentalnya bagus dan nggak maluan saat nyanyi, dia yang kemudian terpilih masuk.

So, semuanya misteri. Bener kan?

Intinya, sebagai manusia, yang harus kita lakukan adalah berusaha sebaik mungkin. Setelahnya, serahkan semuanya kepada Allah.

Baiklah, setelah beres audisi, aku merenung. Setelah kegagalan itu, aku tidak akan berhenti berjuang. Setelah gagal audisi untuk kesekian kali, adrenalinku semakin terpacu. Tahun depan dan tahun-tahun selanjutnya harus ikutan audisi. Latihan lagi, belajar lagi, perbanyak jam terbang, dan fokus.

Aku lolos?

Ya enggak-lah. Judulnya sengaja boongan. Hehehe. Eh, ndak boongan sih. Aku memang lolos. Lolos dari rasa pesimis, lolos dari rendah diri, lolos dari rasa putus asa, dan lolos dari pikiran-pikiran buruk lainnya. Ya, aku merasa menang aja meski pada nyatanya nggak lolos. Hehe. 

Setelah beres audisi, aku malah berjalan dengan penuh percaya diri. Aku merasa, setelah 2 tahun audisi, aku memiliki banyak perubahan, terutama mental. Mentalku sekarang sudah lebih baik dan bisa lebih menerima.

Di akhir audisi, aku milih makan bakso tahu bersama teman baruku dari Purwakarta. Selain makan, kami juga sempat mengobrol dengan salah satu orangtua yang anaknya lolos. Waow, alangkah bahagianya orangtua itu, karena anaknya bisa membuktikan diri.

Setelahnya, aku malah semakin termotivasi. Sebab si Ibu juga bercerita, bahwa lolosnya sang anak (yang masih kelas 2 SMA) nggak ujug-ujug lolos. Pertama, anak itu sudah les musik sejak kecil. Kedua, anak itu sudah beberapa kali juara lomba nyanyi, baik tingkat Jawa Barat, atau nasional. Dan ketiga, dia pernah jadi finalis Indonesian Idol 2014, masuk 50 besar. Waw banget kan perjuangannya?

Semua kesuksesan yang dilihat sekarang ini, adalah buah dari perjuangan yang sudah dilakukan jauh sebelum ini. 

Kalau aku baru gagal 2 kali, terus suaraku masih jelek (tapi pengin masuk), ini ngotot namanya. Yang jelas, aku akan lebih banyak latihan lagi, lebih banyak belajar memantaskan diri lagi, dan melakukan perjuangan-perjuangan. Kalau sudah pantas, ingin apa pun, pasti dapat.


PULANG DARI SABUGA!

Setelah pulang berjuang, tadinya aku mau ikut ke Purwakarta sama temen baruku itu. Kami sudah datang ke Stasiun Bandung, membeli tiket kereta, tetapi kemudian urung. Aku akhirnya nggak jadi ikut, dan memilih jalan-jalan ke toko buku. Sementara meski nggak ikut, aku memberikan satu buku TIRAH ke dia. Aku hanya ingin, suatu pertemuan itu akan terus berlanjut dengan hal-hal lain. 




Aku juga berkata: “Tahun depan kita ikut dan ketemu lagi!”

Dia mengacungkan jempol. Ah iya, sayang sekali, aku lupa poto bareng sama temanku itu. AKhirnya foto sendiri. Hehehe.



Well, sisa malam itu, aku habiskan di bawah langit kota Bandung.








Kamis, 09 Agustus 2018

10 Tips Menerbitkan Buku Untuk Penulis Pemula


10 Tips Menerbitkan Buku Untuk Penulis Pemula



10 Tips Menerbitkan Buku Untuk Penulis Pemula
credit: Pixabay.com

Ujwar.com – Hello, aku kembali lagi nih, buat berbagi hal menarik soal buku. Yups, cara menerbitkan buku untuk kawan-kawan yang baru masuk dunia menulis. Bagi yang sudah master dan ngerti, jauhi saja, hempas sana, hehehehe.

Kawan-kawan, di era sekarang, makin banyak penulis baru yang muncul di permukaan. Eh, aku juga baru sih, tapi nggak baru-baru amat. Setidaknya aku sudah masuk dari 2014 lalu. Mungkin yang dikategorikan baru itu adalah penulis yang masuk tahun 2018. Hihi.

Banyak yang bertanya, bagaimana sih, cara menerbitkan buku? Saya sempat membahas soal cara supaya naskah kita diterima di penerbit mayor. Namun kali ini, saya akan membahas menerbitkan buku secara umum.

Siap untuk menyimak? Berikut 10 Langkah Menerbitkan Buku Untuk Penulis Pemula, Ala Ujwar:

1. Punya Tulisan

Well, banyak nih tipe penulis yang wara-wiri, nanyain gimana cara nerbitin naskah, tapi kemudian, setelah ditanya naskahnya, dia baru mau nulis. Aduhai, mending perbanyak dulu tulisan deh, biar nanti pas nyari penerbit, bisa bantu. Hehehe. Kalau belum ada naskah udah nanya gimana cara nerbitin buku, yang ada, orang yang ditanyai malah ikut eneg. Weka. 

2. Editing Tulisan

Menurut aku, self editing adalah hal nomor satu yang harus dipikirkan. Sebagai penulis yang mungkin baru masuk ke dunia literasi, banyak diantaranya yang belum mengerti, bahwa self editing itu amatlah penting. Banyak di sekelilingku yang justru langsung mengirimkan tulisan ke penerbit tanpa self editing.

Kata mereka, “Kan ada editor.”

Hem, benar sih, ada editor. Tapi editor juga akan memilih tulisan yang tingkat kerapihannya lebih tinggi dong. Tentu saja, kalau tulisan kita acak-acakkan, penerbit akan memilih melempar naskah tersebut ke tong sampah. Hem, terdengar kejam ya. Tapi, mau gimana lagi?

Terbit di penerbit mana pun, buku yang kita tulis memang harus rapi. Sama halnya ketika kamu ngelamar kerja. Moso acak-acakkan? Ya, ndak akan menarik perhatian orang dong ya?

3. Mencari Penerbit

Nah, setelah naskah ada, editing udah, baru nanya soal penerbit. Aku bisa jawab dan bisa bantu kok, menjelaskan penerbit itu ada apa aja. Seperti yang kita kenal, ada dua jenis penerbit. Yaitu Indie dan juga Mayor. 

Kamu bebas memilih mau menerbitkan di mana saja. Cuma, kamu harus tahu, kalau indie itu bisa menerbitkan naskah, tanpa harus memalui seleksi. Biasanya kita akan diminta memilih paket penerbitan yang mereka sendiri. Banyak pula, penerbit indie yang menyediakan penerbitan gratis dan beberapa di antaranya mengikuti sistem mayor. Sementara, mengirim naskah ke penerbit mayor itu diseleksi guys. Jadi ya, sebelum mengirimkan ke penerbit mayor, mari mempersiapkan tulisan terbaik kita.

Cara pengiriman tulisan biasanya melalui email untuk saat ini. Ada juga yang harus dikirimkan ke alamat redaksi. Tapi ya, setiap penerbit berbeda-beda aturan. Kamu bisa lihat ada 50 Penerbit Mayor yang aku tuliskan.

Jika menerbitkan secara mayor masih terasa susah, bisa juga kok nerbitin di penerbit indie. Misal di Ujwart Media. Penerbit Indie ini sudah berdiri sejak 2016. Jadi jangan ragu untuk bisa bersinergi dengan UM.



4. Siapkan Diri

Anggap saja naskahmu diterima sebuah penerbitan. So, langkah selanjutnya adalah mempersiapkan diri. Naskah diterima penerbit itu masih gerbang lho. Belum apa-apanya. Kamu harus melakukan banyak hal yang memang menguras waktu, tenaga dan fikiran.

Setelah di-ACC, biasanya ada tahap revisi. Jangan malas untuk revisi. Dalam tahap revisi inilah, kamu tahu, apa yang kurang ditulisanmu. Karena biasanya nih ya, ediror akan memberikan masukan.

Seandainya naskahmu tidak diterima, siapkan diri juga untuk berlapang dada. Untuk tidak menyerah. Untuk tidak menye-menye. Masa baru sau kali naskah ditolak penerbit sudah galau. Meskipun kalau menerbitkan indie, kebanyakan diterima sih. Hihi.


5. Jangan Jadi Penulis Nyebelin

Banyak penulis yang sok idealis. Mmm, beda ya, antara orang yang beneran idealis sama sok idealis. Kalau idealis itu emamng udah tahu naskah sendiri. Udah tahu kekurangan dan kelebihan. Udah tahu, mau di ke manakan. Dan tahu, bagaimana caranya tulisan tersebut akan laku di pasaran. Kalau sok idealis, mereka merasa naskahnya sudah bagus, mereka merasa nggak perlu revisi, mereka merasa bahwa apa-apa yang terjadi harus berdasarkan dirinya.

Misal nih ya: pihak penerbit udah buatin cover menarik, sesusai naskah. Eh, penulisnya ngotot pengin ganti cover. Disuruh ngejelasin kenapa harus ganti, ngga bisa. Katanya kurang menarik. Lha, penerbit biasanya sudah tahu, bagaimana bentuk cover yang dibuat sesuai isi tulisan.

Atau, seorang editor memberi tahu kepada penulis untuk mengganti, atau juga untuk merevisi. Namun kadang ada penulis yang ngotot bahwa tulisan tersebut nggak perlu direvisi. Kalau nggak mau direvisi, yaudah, nerbitin sendiri aja. Edit sendiri, cover sendiri, layout sendiri. Beres. Hehe.


So, jangan jadi penulis nyebelin ya. Soalnya redaksi biasanya kapok ketemu penulis yang kek gitu.


6. Siapkan Strategi

Well, jika naskahmu benar-benar sudah diterima, saatnya kamu siapkan strategi. Banyak banget yang tidak tahu, bahwa di waktu sekarang ini, penulis jadi salah satu pendongkrak suksesnya buku. Aku kasih tahu ya, bagi kalian yang baru menerbitkan buku, jangan malas untuk promosi. Promosi adalah hal penting dalam suksesnya buku.

Siapkanlah strategi yang akan kamu gunakan supaya bukumu itu sukses. Apa saja promosi yang akan dilakukan si penulis agar karyanya dikenal dan bisa dibaca semua orang. 

Ini menjadi hal penting dan krusial. Banyak diantara penulis yang tidak mengerti pentingnya promosi.

“Kan ada penerbit.”

Hei, penerbit nggak hanya ngurus naskahmu. Apalagi penerbit indie, yang jaringannya bisa dibilang kecil, kemungkinan buku terjual itu minim. So, penulis juga harus bantu jualan dong. Sekarang itu, penulis yang nggak bisa jualan susah untuk bertahan. Sebab, kebanyakan penerbit bahkan melihat dari sisi pasar dan penulis itu sendiri.

Kecuali kamu udah terkenal sih, mungkin tulisanmu akan laku keras. Eh, penulis terkenal juga kan sering banget ngadain promosi. Yey, penulis terkenal aja promo, masa kita enggak?

7. Bangun Personal Branding

Sebenarnya, ini masih masuk terhadap strategi, tetapi guys, sengaja aku pisahkan. Sebab ini lebih penting menurutku. Pandangan pertama seseorang kebanyakan kepada penulisnya. Maka inilah yang harus dibangun.

Emang, personal Branding itu apa sih?

Personal Branding itu adalah suatu proses membangun diri kita di depan umum. Duh, bener nggak ya? Ya, intinya Personal Branding itu, bagaimana diri kita di hadapan calon-calon pembaca kita.

Ketika kita berhasil membangun personal Branding, maka akan timbul rasa percaya dari calon pembaca buku itu. Mau tidak mau, mereka akan membeli buku kita untuk kemudian mereka baca.

Personal Branding tidak bisa dibangun dalam sekejap. Butuh banyak proses. Kamu bisa memulainya dari sekarang.  Ini penting. Sebab banyak naskah keren, tapi kadang nggak diminati karena brand kita buruk di hadapan orang.

Kalau kata gaulnya mah, sebelum jual produk, kita harus jual diri dulu. Seseorang yang sudah mahal dan dikagumi, pasti akan berdampak juga pada sesuatu yang kita buat dan kita bangun.

8. Aktif Bermedia Sosial

Siapa sih yang nggak kenal media sosial? Hampir setiap oranng punya media sosial. Dan well, media sosial, terutama facebook dan instagram menjadi salah satu pendongkrak, terkenalnya kita, atau pun karya kita.

Ketika seseorang tidak bisa bersosial dengan baik, susah juga untuk bukunya laku.

So, bagi kalian yang kurang aktif, mulailah aktif bersosial media. Jangan merasa eksis di sosial media itu alay. Justru kamu harus tahu, banyak yang mendapatkan keuntungan menggunakan media sosial. Banyak kok yang viral, yang laku, yang best seller gara-gara media sosial. 

9. Bangun Kepercayaan Diri

Sebelum dan sesudah terbit, kepercayaan ini amat penting. Kepercayaan diri seseorang akan memberikan energi positif. Bayangin aja, kalau saja kita nggak PD dengan buku kita, gimana orang mau beli. Lha, penulisnya aja nggak PD? 

Ya, kita harus mengenal karya kita. Kita harus tahu kelebihan dan kekurangannya.

Kalau pun masih ada kekurangan, kita bisa memperbaiki di cetakan selanjutnya, atau di buku selanjutnya, yang penting kita tahu, bahwa tulisan kita memiliki manfaat yang luar biasa. Untuk semuanya.



10. Selagi Bukumu Sudah Jadi, Jangan Gampang Puas

Guys, setelah naskahmu terbit, kebanyakan langsung berpuas diri. Padahal masih banyak yang perlu dilakukan. Salah satunya dengan menulis buku baru. Perbaiki tulisan lewat menulis buku baru. Buatlah waktu menulis yang konsisten, agar tidak ketinggalan orang lain.

Tulisan seseorang akan semakin bagus, ketika seseorang semakin sering  menulis.

Itulah 10 tips Menerbitkan Buku Ala Ujwar untuk penulis. Sudah siap karyamu dikenal orang? Yauk menulis dan terbitkan.






Jumat, 20 Juli 2018

Pengalaman Audisi SUCA 4 di Bandung

Pengalaman Audisi SUCA 4 di Bandung

Pengalaman Audisi SUCA 4 di Bandung



Ujwar.com – Yuhuuu, setelah sekian lama diam tanpa update, akhirnya nulis juga. Dan tulisan ini dipersembahkan buat kawan-kawanku yang penasaran soal audisi SUCA 4.

Baiklah, semua orang yang berteman denganku di media sosial mungkin tahu bahwa aku ikut audisi Stand Up Comedya Academy 4 di Indosiar. Dan sebagai salah satu orang alay bin eksis, aku selalu update apa yang terjadi dari awal audisi sampai akhir. Well, kali ini, aku mau ceritain semuanya. Dari berangkat, sampai pulang lagi.

BTW, jangan baca bagian akhirnya aja ya. Sebab banyak kejadian lucu yang mungkin akan buat kalian ilfil sama aku.


Berangkat dari Garut, 14 Juli 2018.

Awalnya, aku mau berangkat hari Jumat, 13 Juli 2018, dan nginep di kosan teman. Tapi kemudian, aku berpikir lagi: kalau seandainya nginep, keluar lagi uang dong. Pertama buat makan satu hari, kedua buat ongkos bolakk-balik. Akhirnya aku mutusin datang audisi hari Sabtu, 14 Juli 2018.

Seperti yang telah kita ketahui, setiap audisi talent show, pasti diadakan di kota-kota besar. Sama halnya dengan SUCA. Kebetulan, audisi kali ini di Bandung, dan Bandung adalah kota terdekat dari Garut. Tetangga. 

2016, aku sempat ikut audisi Rising Star di SABUGA Bandung, dan untuk kedua kalinya, aku ikut audisi di bidang berbeda. Komedi tunggal. Dan kebetulan sekali, tempat audisi kemarin di kampus STKS Bandung. Jalan Juanda, Dago.

Aku berangkat pukul 7 pagi. Naik Elf jurusan terminal Leuwi Panjang, Bandung. Seperti biasa, karena terlalu PD dengan kesehatan, aku makan sebanyak-banyaknya dari rumah. Saking antusiasnya, pagi itu aku nggak boker dulu. Padahal jadwalnya memang pagi.

Waktu audisi Rising Star, aku deg-degan banget karena pertama kali ke Bandung. Sendiri lagi. Di jalan, waktu itu nggak berhenti berdoa, sambil pura-pura baca buku. Masih inget, waktu itu aku bawa buku Matahari, karya Tere Liye.

Sementara, audisi kemarin lebih tenang-lah. Aku merasa bahwa aku sudah memiliki pengalaman dalam audisi. Meski berbeda jenis. Kebetulan, kemarin aku juga bawa buku karya Tere Liye. Masih seri Bumi, judulnya Ceroz dan Batozar. Wih, kok bisa kebetulan ya, setiap audisi bawa buku Tere Liye? Terus buku seri yang sama lagi. Pokoknya, aku padamu, Bang Tere.

Balik lagi ke berangkat.

Kamu masih ingat, bahwa aku nggak boker dulu?

Jadi beban. Suer. Dan etakutan itu kejadian juga. Sekitaran Jalan Leles, Garut, perut mules. Muleeeees. Nggak bisa jelasin. Aku udah nyenderin badan, udah nunduk, udah ngapa-ngapain, pokoknya mules. Waktu itu aku berpikir: Masa aku harus turun di sini? Sayang. Ongkos double.

Menahan boker lebih tersiksa dari sakit gigi. Ampun dah, untung nggak tembus. 

Setelah aku memejamkan mata sejenak, mules itu mulai hilang. Aku agak tenang. Sementara elf masih di Nagreg. Hadeuh, gimana kalau mules itu datang lagi? Ya ampun, apa karena aku jomblo, tuh mules ngedatangin mulu? Huhu. 

Perlu kalian ketahui, kalau ke mana-mana, aku paling anti mabuk kendaraan. Suer deh. Nggak pernah muntah di kendaraan. Dan audisi kemarin? Kalian bisa tebak!

Sepanjang jalan Nagreg, mules itu kembali datang. Yang satu mules pengin BAB, yang satu mules pengin muntah. Mereka seolah-olah bertarung di dalam perut. Berebut, yang mana yang akan keluar.

Sugesti juga mungkin, di dalam otak, aku berpikir untuk tidak BAB. Gimana mungkin aku BAB di dalam elf? Mungkin itu akan jadi aib terbesar selama aku hidup. Akhirnya, mules pengin muntahlah yang menang. Setelah di Jalan Soekarno Hatta, aku tumbang. Mabuk kendaraan. 

Untung saja aku masih waras, aku buka jendela, dan langsung muntah saat itu juga. Gilaaaa, kalau tahu gitu, aku bawa kresek deh. Sayangnya, karena dari rumah udah PD nggak bakalan muntah, aku nggak siapin apa-apa.

Muntah sudah, dan masalah terakhir adalah mules pengin BAB.

Untung saja, setelah benar-benar yang bawah pengin dikeluarin, elf sampai di depan terminal Leuwi Panjang. Aku ngacir ke toilet. Dan dari sana, lega sudah. Berasa lagi panas diberi air es. Segerrrr.

Masih ingat, tahun lalu aku nyasar di Terminal. Nyari-nyari bus jurusan Dago. Sampai kemudian, ada satpam yang ngasih tahu, kalau ke Dago itu biasanya naik Damri. Tentu saja untuk perjalanan kali ini nggak pakek muter-muter nyari Damri. Aku udah hapal, dalam lima menit, setelah keluar dari toilet, aku nemu Damri, dan langsung naik. Waktu itu setengah sepuluh.

Aku kira, Damri itu terus melaju sampai Jalan Juanda nomor 367 (Alamat tempat audisi), namun belum sampai sana, kalau nggak salah di Simpang Dago, DAMRI belok ke arah UNIKOM Bandung, duh, aku lupa alamatnya.

Aku langsung panik. Lho, lho, gimana?

Akhirnya aku minta turun sebelum melaju jauh. Dan penderitaan sepertinya memang belum habis.

Aku kembali ke jalan Juanda. Waktu itu masih nomor 90 kalau nggak salah. Dan akhirnya aku memilih jalan kaki sampai Jalan Juanda No. 367. Sekitar 4 kilo kali ya. Lupa juga. Tapi nggak capek dan nggak tepar sama sekali. Mungkin karena saking semangatnya.




Aku udah kaya orang Bandung aja yang lagi ngelurusin kaki dengan jalan kaki. Padahal mah orang Garut, yang sok-sok-an pengin audisi.

Kamu tahu gimana rasanya setelah sampe di tempat tujuan? Plong. Lebih dari bucat bisul plongnya. Pokoknya tenang banget. Akhirnya aku nggak nyasar lagi, pikirku saat itu.






Di Tempat Audisi, STKS Bandung

Masuk ke tempat audisi, masih banyak yang antri. Hadeuh, ada teman, pikirku. Namun pas ke sana, gabung di barisan dengan kawan-kawan yang lain, tetep aja kikuk. Nggak berani kenalan. Dan akhirnya diem sendirian. Gini nih nasib audisi nggak bawa rombongan.


Selama ngantri, aku hanya diam. Sesekali liat HP, lihat buku TIRAh yang memang sengaja aku poto-potoin. Kata orang-orang: tuh orang ngapain yaaa? (Mungkin).

Stand Up Comedy itu identik dengan orang-orang banyak omong, nyablak dan punya selera humor tinggi. Kebukti sih, soalnya di sekelilingku pada doyan ngomong. Aku hanya diem. Senyum, senyum, nguap, ada laler, dimakan deh.

Sampai pada akhirnya, aku ketemu Bang Uus. Omaygat. Itu  orang emang tinggi benar. Sayang, aku nggak minta foto. Antrian udah panjang. Kalau minta foto, entar diserobot orang. Dan well, aku hanya liatin orang-orang yang happy bisa foto ma komika absurd kek dia. Hadeuh, jadi kepikiran sama dia. Bang, kenapa gue nggak bisa foto sama lo, Bang. Huhuhu.



Sampai ke tempat audisi pukul 10. Dan ngantri buat dapet nomor audisi pukul 12. 30. Daebak. Setelah mendapakan nomor peserta, aku memilih ke mesjid kampus. Nenangin diri dulu. Dan Bang Uus udah nggak ada. Eh, masih ada ding. Tapi aku malu pas mau minta foto. 


Jadi guys, kamu musti tahu, aslinya, aku tuh pemalu banget. Suer. Tapi aku tipe orang yang keukeuh. Kalau pengin sesuatu, pasti akan berusaha dilakuin. Terwujud atau nggak terwujud. Dan kesukaan terhadap Stand Up pun hanya terjadi karena aku penikmat stand up. Pernah sih open Mic, dihadapan murid-muridku. Mereka ketawa aja meski aku tahu, bahwa materiku nggak lucu. Wkwkwk. Sayangnya minta foto memang bukan goalsku yang pertama, akhirnya nggak maksain nyamperin tuh artis.

Dalam proses audisi, aku menunggu sampai pukul setengah sepuluh malam. Bayangin men, aku udah boker dua kali di toilet kampus, udah jajan bakso tahu satu porsi, udah nguap puluhan kali, udah ngedumel, udah ketawa liat kekonyolan orang-orang. Bahkan udah ngantuk banget.

Dan ketika audisi, itu hanya 3 menit. Waw, nunggunya beberapa jam. Kan gilaaa ya.


Keputusan Lolos Atau Enggak




Ini yang kalian tunggu-tunggu guys. Jadi, satu menit sebelum audisi, aku deg-degan banget. Setelah ngedumel bareng Nanda, temen yang kebetulan ketemu di sana, akhirnya nomor peserta aku dan dia, juga 3 teman lain dipanggil. Ah, plong, sekaligus, masalah baru.

Jadi, tipe audisi SUCA ini nggak jauh beda sama audisi nyanyi waktu dulu. Ada room kecil, yang di dalamnya terdapat juri. Waktu nyanyi, jurinya ada 2, dan waktu SUCA kemarin, jurinya ada 1. Bayangin, aku harus ngelucu di depan satu orang saja? Kabarnya, jurinya juga jutek-jutek.

Sistem dalam SUCA 4 ini ada beberapa tahap. Audisi pertama, itu di room, yang aku bilang barusan, jurinya lokal. Jika lolos, maka akan melaju ke tahap 2, jurinya kru indosiar, plus satu atau dua komika terkenal. Setelah itu, baru tahap 3. Tahap 3 dilakukan hari Minggu, 15 Juli 2018 di sebuah kafe di Bandung. Ini ditonton puluhan orang, dijuriin komika asli, dan video yang ini yang akan ditayangin di TV entar.


Pertanyaannya, apakah aku lolos?

“Ujwar ...”

Deg! Aku langsung tegang saat nama dipanggil. Haduh, penyakit gugup aku nggak pernah hilang guys. Padahal aku udah sering manggung, nyanyi di hadapan orang-orang. Tapi tetap aja, untuk pertama kalinya, aku akan benar-benar stand up comedy di hadapan orang professional.

Masuk ke dalam room, lalu ....

“Namanya siapa?”

“Ujwar, Kak,” kataku dengan senyum kaku, sambil memberikan formulir ke juri.

Jurinya cewek, cantik, ramah. Kata orang-orang jutek, tapi juriku di room 2 ini, ramah-lah lumayan.

“Kalau sudah siap, bisa dimulai.”

Aku langsung mnegembuskan napas.

Akhirnya aku mulai bercerita. Dan aku ngerasa banget, bahwa aku terlalu tergesa saat tampil, plus kurang lepas. Di rumah, materiku mencapai 5 menit, sepertinya pas tampil hanya 2,5 menit – 3 menit. Cepet banget kan?

Setelah selesai, aku mengangguk.

“Materi kamu bagus Ujwar,” katanya. Dia menatapku sejenak dengan senyum ramahnya. “Tapi buat lolos ke tahap berikutnya, belum deh.” Dia mengangkat satu tangan. “Kamu hanya kurang lepas, masih agak takut pas nyampein. Sementara materinya udah bagus.”

Aku mengangguk dengan senyum legowo, meski sakit.

“Kalau kamu mau benar-benar di stand up, coba ikutan komunitas. Asah kemampuanmu di sana. Nggak apa-apa kan nggak lolos?”

“Nggak apa-apa, Kak, makasih banyak ya.”

Aku akhirnya salaman sama dia. Masih tersenyum lebar. Dan ya, aku keluar dari ruang audisi dengan perasaan campur aduk.

Ada bangga. Bangganya, aku bisa mengalahkan kemaluanku. Eh, rasa maluku. Kedua, aku juga kecewa, sebab tidak lolos.

“Nanda, kamu lolos?”

Nanda menggeleng.

“Aku juga ....”

“Pulang aja yuk?” kata Nanda dengan nada kecewa.

Aku mengangguk, sambil melangkah keluar.

Yaaaaaa, jadi kalian tahu kan jawabannya. Aku nggak lolos. Wajar, nggak pernah strand up comedy, tapi masih untung dapet pujian dan apresiasi dari juri. Yang penting aku udah menang dalam ngalahin diri sendiri untuk bisa melangkah seperti orang-orang. Menjemput harapan.

Selesai audisi jam 10. Dari sana aku tidur di mesjid kampus seperti orang terdampar. Tadinya mau nginep dikosan Edo, tapi dia kerja malem, jadi nggak bisa. Kasihan juga kalau tempat dia aku ambil alih. 

Untung saja ada mamang satpam yang ngijinin nginep di mesjid. Nggak malu juga sih. Sebab ada puluhan orang peserta yang nginep di audisi itu.



Pulang ke Garut, 15 Juli 2018

Paginya, aku jalan kaki menyusuri jalan Juanda untuk pulang. Sengaja, sambil olahraga. Lagian, hari minggu banyak yang lari, bersepeda, juga berkuda. Ternyata Bandung seru juga ya. Bahkan aku kepincut nasi kuning di pinggir jalan, sampai akhirnya makan dulu. Setelahnya, aku naik Gojek dan ketemu Yuli di Jalan Asia Afrika sebelum pulang.


BTW, aku mengobrol dengan si Yuli hampir dua jam. Dari jam 9 sampe jam 11-san di Alun-alun Bandung. Ngobrolin penerbitan, buku, curhat, segala macem dah. Pokoknya dimanfaatin aja. Biasanya ngerusuh di FB, akhirnya ketemu di dunia nyata.







Setelah ketemu Yuli, aku pulang beneran. Hari minggu, setelah naik Damri, aku naik elf menuju Garut. Dalam perjalanan itu, ada bongkahan rasa bangga. Aku bangga dengan diriku sendiri. Sebab mampu melangkah sampai sejauh ini. Perkara menang atau enggak, itu mah belakangan, yang penting melakukan sesuatu. Melakukan hal  di takuti, tetapi di sisi lain juga kita inginkan.


Sekian cerita pengalaman audisi SUCA. Bagi kalian yang punya impian, lakuin. Lebih baik melakukan sesuatu lalu gagal, daripada gagal melakukan sesuatu. Wassalam.









http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html