Kamis, 09 Agustus 2018

10 Tips Menerbitkan Buku Untuk Penulis Pemula


10 Tips Menerbitkan Buku Untuk Penulis Pemula



10 Tips Menerbitkan Buku Untuk Penulis Pemula
credit: Pixabay.com

Ujwar.com – Hello, aku kembali lagi nih, buat berbagi hal menarik soal buku. Yups, cara menerbitkan buku untuk kawan-kawan yang baru masuk dunia menulis. Bagi yang sudah master dan ngerti, jauhi saja, hempas sana, hehehehe.

Kawan-kawan, di era sekarang, makin banyak penulis baru yang muncul di permukaan. Eh, aku juga baru sih, tapi nggak baru-baru amat. Setidaknya aku sudah masuk dari 2014 lalu. Mungkin yang dikategorikan baru itu adalah penulis yang masuk tahun 2018. Hihi.

Banyak yang bertanya, bagaimana sih, cara menerbitkan buku? Saya sempat membahas soal cara supaya naskah kita diterima di penerbit mayor. Namun kali ini, saya akan membahas menerbitkan buku secara umum.

Siap untuk menyimak? Berikut 10 Langkah Menerbitkan Buku Untuk Penulis Pemula, Ala Ujwar:

1. Punya Tulisan

Well, banyak nih tipe penulis yang wara-wiri, nanyain gimana cara nerbitin naskah, tapi kemudian, setelah ditanya naskahnya, dia baru mau nulis. Aduhai, mending perbanyak dulu tulisan deh, biar nanti pas nyari penerbit, bisa bantu. Hehehe. Kalau belum ada naskah udah nanya gimana cara nerbitin buku, yang ada, orang yang ditanyai malah ikut eneg. Weka. 

2. Editing Tulisan

Menurut aku, self editing adalah hal nomor satu yang harus dipikirkan. Sebagai penulis yang mungkin baru masuk ke dunia literasi, banyak diantaranya yang belum mengerti, bahwa self editing itu amatlah penting. Banyak di sekelilingku yang justru langsung mengirimkan tulisan ke penerbit tanpa self editing.

Kata mereka, “Kan ada editor.”

Hem, benar sih, ada editor. Tapi editor juga akan memilih tulisan yang tingkat kerapihannya lebih tinggi dong. Tentu saja, kalau tulisan kita acak-acakkan, penerbit akan memilih melempar naskah tersebut ke tong sampah. Hem, terdengar kejam ya. Tapi, mau gimana lagi?

Terbit di penerbit mana pun, buku yang kita tulis memang harus rapi. Sama halnya ketika kamu ngelamar kerja. Moso acak-acakkan? Ya, ndak akan menarik perhatian orang dong ya?

3. Mencari Penerbit

Nah, setelah naskah ada, editing udah, baru nanya soal penerbit. Aku bisa jawab dan bisa bantu kok, menjelaskan penerbit itu ada apa aja. Seperti yang kita kenal, ada dua jenis penerbit. Yaitu Indie dan juga Mayor. 

Kamu bebas memilih mau menerbitkan di mana saja. Cuma, kamu harus tahu, kalau indie itu bisa menerbitkan naskah, tanpa harus memalui seleksi. Biasanya kita akan diminta memilih paket penerbitan yang mereka sendiri. Banyak pula, penerbit indie yang menyediakan penerbitan gratis dan beberapa di antaranya mengikuti sistem mayor. Sementara, mengirim naskah ke penerbit mayor itu diseleksi guys. Jadi ya, sebelum mengirimkan ke penerbit mayor, mari mempersiapkan tulisan terbaik kita.

Cara pengiriman tulisan biasanya melalui email untuk saat ini. Ada juga yang harus dikirimkan ke alamat redaksi. Tapi ya, setiap penerbit berbeda-beda aturan. Kamu bisa lihat ada 50 Penerbit Mayor yang aku tuliskan.

Jika menerbitkan secara mayor masih terasa susah, bisa juga kok nerbitin di penerbit indie. Misal di Ujwart Media. Penerbit Indie ini sudah berdiri sejak 2016. Jadi jangan ragu untuk bisa bersinergi dengan UM.



4. Siapkan Diri

Anggap saja naskahmu diterima sebuah penerbitan. So, langkah selanjutnya adalah mempersiapkan diri. Naskah diterima penerbit itu masih gerbang lho. Belum apa-apanya. Kamu harus melakukan banyak hal yang memang menguras waktu, tenaga dan fikiran.

Setelah di-ACC, biasanya ada tahap revisi. Jangan malas untuk revisi. Dalam tahap revisi inilah, kamu tahu, apa yang kurang ditulisanmu. Karena biasanya nih ya, ediror akan memberikan masukan.

Seandainya naskahmu tidak diterima, siapkan diri juga untuk berlapang dada. Untuk tidak menyerah. Untuk tidak menye-menye. Masa baru sau kali naskah ditolak penerbit sudah galau. Meskipun kalau menerbitkan indie, kebanyakan diterima sih. Hihi.


5. Jangan Jadi Penulis Nyebelin

Banyak penulis yang sok idealis. Mmm, beda ya, antara orang yang beneran idealis sama sok idealis. Kalau idealis itu emamng udah tahu naskah sendiri. Udah tahu kekurangan dan kelebihan. Udah tahu, mau di ke manakan. Dan tahu, bagaimana caranya tulisan tersebut akan laku di pasaran. Kalau sok idealis, mereka merasa naskahnya sudah bagus, mereka merasa nggak perlu revisi, mereka merasa bahwa apa-apa yang terjadi harus berdasarkan dirinya.

Misal nih ya: pihak penerbit udah buatin cover menarik, sesusai naskah. Eh, penulisnya ngotot pengin ganti cover. Disuruh ngejelasin kenapa harus ganti, ngga bisa. Katanya kurang menarik. Lha, penerbit biasanya sudah tahu, bagaimana bentuk cover yang dibuat sesuai isi tulisan.

Atau, seorang editor memberi tahu kepada penulis untuk mengganti, atau juga untuk merevisi. Namun kadang ada penulis yang ngotot bahwa tulisan tersebut nggak perlu direvisi. Kalau nggak mau direvisi, yaudah, nerbitin sendiri aja. Edit sendiri, cover sendiri, layout sendiri. Beres. Hehe.


So, jangan jadi penulis nyebelin ya. Soalnya redaksi biasanya kapok ketemu penulis yang kek gitu.


6. Siapkan Strategi

Well, jika naskahmu benar-benar sudah diterima, saatnya kamu siapkan strategi. Banyak banget yang tidak tahu, bahwa di waktu sekarang ini, penulis jadi salah satu pendongkrak suksesnya buku. Aku kasih tahu ya, bagi kalian yang baru menerbitkan buku, jangan malas untuk promosi. Promosi adalah hal penting dalam suksesnya buku.

Siapkanlah strategi yang akan kamu gunakan supaya bukumu itu sukses. Apa saja promosi yang akan dilakukan si penulis agar karyanya dikenal dan bisa dibaca semua orang. 

Ini menjadi hal penting dan krusial. Banyak diantara penulis yang tidak mengerti pentingnya promosi.

“Kan ada penerbit.”

Hei, penerbit nggak hanya ngurus naskahmu. Apalagi penerbit indie, yang jaringannya bisa dibilang kecil, kemungkinan buku terjual itu minim. So, penulis juga harus bantu jualan dong. Sekarang itu, penulis yang nggak bisa jualan susah untuk bertahan. Sebab, kebanyakan penerbit bahkan melihat dari sisi pasar dan penulis itu sendiri.

Kecuali kamu udah terkenal sih, mungkin tulisanmu akan laku keras. Eh, penulis terkenal juga kan sering banget ngadain promosi. Yey, penulis terkenal aja promo, masa kita enggak?

7. Bangun Personal Branding

Sebenarnya, ini masih masuk terhadap strategi, tetapi guys, sengaja aku pisahkan. Sebab ini lebih penting menurutku. Pandangan pertama seseorang kebanyakan kepada penulisnya. Maka inilah yang harus dibangun.

Emang, personal Branding itu apa sih?

Personal Branding itu adalah suatu proses membangun diri kita di depan umum. Duh, bener nggak ya? Ya, intinya Personal Branding itu, bagaimana diri kita di hadapan calon-calon pembaca kita.

Ketika kita berhasil membangun personal Branding, maka akan timbul rasa percaya dari calon pembaca buku itu. Mau tidak mau, mereka akan membeli buku kita untuk kemudian mereka baca.

Personal Branding tidak bisa dibangun dalam sekejap. Butuh banyak proses. Kamu bisa memulainya dari sekarang.  Ini penting. Sebab banyak naskah keren, tapi kadang nggak diminati karena brand kita buruk di hadapan orang.

Kalau kata gaulnya mah, sebelum jual produk, kita harus jual diri dulu. Seseorang yang sudah mahal dan dikagumi, pasti akan berdampak juga pada sesuatu yang kita buat dan kita bangun.

8. Aktif Bermedia Sosial

Siapa sih yang nggak kenal media sosial? Hampir setiap oranng punya media sosial. Dan well, media sosial, terutama facebook dan instagram menjadi salah satu pendongkrak, terkenalnya kita, atau pun karya kita.

Ketika seseorang tidak bisa bersosial dengan baik, susah juga untuk bukunya laku.

So, bagi kalian yang kurang aktif, mulailah aktif bersosial media. Jangan merasa eksis di sosial media itu alay. Justru kamu harus tahu, banyak yang mendapatkan keuntungan menggunakan media sosial. Banyak kok yang viral, yang laku, yang best seller gara-gara media sosial. 

9. Bangun Kepercayaan Diri

Sebelum dan sesudah terbit, kepercayaan ini amat penting. Kepercayaan diri seseorang akan memberikan energi positif. Bayangin aja, kalau saja kita nggak PD dengan buku kita, gimana orang mau beli. Lha, penulisnya aja nggak PD? 

Ya, kita harus mengenal karya kita. Kita harus tahu kelebihan dan kekurangannya.

Kalau pun masih ada kekurangan, kita bisa memperbaiki di cetakan selanjutnya, atau di buku selanjutnya, yang penting kita tahu, bahwa tulisan kita memiliki manfaat yang luar biasa. Untuk semuanya.



10. Selagi Bukumu Sudah Jadi, Jangan Gampang Puas

Guys, setelah naskahmu terbit, kebanyakan langsung berpuas diri. Padahal masih banyak yang perlu dilakukan. Salah satunya dengan menulis buku baru. Perbaiki tulisan lewat menulis buku baru. Buatlah waktu menulis yang konsisten, agar tidak ketinggalan orang lain.

Tulisan seseorang akan semakin bagus, ketika seseorang semakin sering  menulis.

Itulah 10 tips Menerbitkan Buku Ala Ujwar untuk penulis. Sudah siap karyamu dikenal orang? Yauk menulis dan terbitkan.






Jumat, 20 Juli 2018

Pengalaman Audisi SUCA 4 di Bandung

Pengalaman Audisi SUCA 4 di Bandung

Pengalaman Audisi SUCA 4 di Bandung



Ujwar.com – Yuhuuu, setelah sekian lama diam tanpa update, akhirnya nulis juga. Dan tulisan ini dipersembahkan buat kawan-kawanku yang penasaran soal audisi SUCA 4.

Baiklah, semua orang yang berteman denganku di media sosial mungkin tahu bahwa aku ikut audisi Stand Up Comedya Academy 4 di Indosiar. Dan sebagai salah satu orang alay bin eksis, aku selalu update apa yang terjadi dari awal audisi sampai akhir. Well, kali ini, aku mau ceritain semuanya. Dari berangkat, sampai pulang lagi.

BTW, jangan baca bagian akhirnya aja ya. Sebab banyak kejadian lucu yang mungkin akan buat kalian ilfil sama aku.


Berangkat dari Garut, 14 Juli 2018.

Awalnya, aku mau berangkat hari Jumat, 13 Juli 2018, dan nginep di kosan teman. Tapi kemudian, aku berpikir lagi: kalau seandainya nginep, keluar lagi uang dong. Pertama buat makan satu hari, kedua buat ongkos bolakk-balik. Akhirnya aku mutusin datang audisi hari Sabtu, 14 Juli 2018.

Seperti yang telah kita ketahui, setiap audisi talent show, pasti diadakan di kota-kota besar. Sama halnya dengan SUCA. Kebetulan, audisi kali ini di Bandung, dan Bandung adalah kota terdekat dari Garut. Tetangga. 

2016, aku sempat ikut audisi Rising Star di SABUGA Bandung, dan untuk kedua kalinya, aku ikut audisi di bidang berbeda. Komedi tunggal. Dan kebetulan sekali, tempat audisi kemarin di kampus STKS Bandung. Jalan Juanda, Dago.

Aku berangkat pukul 7 pagi. Naik Elf jurusan terminal Leuwi Panjang, Bandung. Seperti biasa, karena terlalu PD dengan kesehatan, aku makan sebanyak-banyaknya dari rumah. Saking antusiasnya, pagi itu aku nggak boker dulu. Padahal jadwalnya memang pagi.

Waktu audisi Rising Star, aku deg-degan banget karena pertama kali ke Bandung. Sendiri lagi. Di jalan, waktu itu nggak berhenti berdoa, sambil pura-pura baca buku. Masih inget, waktu itu aku bawa buku Matahari, karya Tere Liye.

Sementara, audisi kemarin lebih tenang-lah. Aku merasa bahwa aku sudah memiliki pengalaman dalam audisi. Meski berbeda jenis. Kebetulan, kemarin aku juga bawa buku karya Tere Liye. Masih seri Bumi, judulnya Ceroz dan Batozar. Wih, kok bisa kebetulan ya, setiap audisi bawa buku Tere Liye? Terus buku seri yang sama lagi. Pokoknya, aku padamu, Bang Tere.

Balik lagi ke berangkat.

Kamu masih ingat, bahwa aku nggak boker dulu?

Jadi beban. Suer. Dan etakutan itu kejadian juga. Sekitaran Jalan Leles, Garut, perut mules. Muleeeees. Nggak bisa jelasin. Aku udah nyenderin badan, udah nunduk, udah ngapa-ngapain, pokoknya mules. Waktu itu aku berpikir: Masa aku harus turun di sini? Sayang. Ongkos double.

Menahan boker lebih tersiksa dari sakit gigi. Ampun dah, untung nggak tembus. 

Setelah aku memejamkan mata sejenak, mules itu mulai hilang. Aku agak tenang. Sementara elf masih di Nagreg. Hadeuh, gimana kalau mules itu datang lagi? Ya ampun, apa karena aku jomblo, tuh mules ngedatangin mulu? Huhu. 

Perlu kalian ketahui, kalau ke mana-mana, aku paling anti mabuk kendaraan. Suer deh. Nggak pernah muntah di kendaraan. Dan audisi kemarin? Kalian bisa tebak!

Sepanjang jalan Nagreg, mules itu kembali datang. Yang satu mules pengin BAB, yang satu mules pengin muntah. Mereka seolah-olah bertarung di dalam perut. Berebut, yang mana yang akan keluar.

Sugesti juga mungkin, di dalam otak, aku berpikir untuk tidak BAB. Gimana mungkin aku BAB di dalam elf? Mungkin itu akan jadi aib terbesar selama aku hidup. Akhirnya, mules pengin muntahlah yang menang. Setelah di Jalan Soekarno Hatta, aku tumbang. Mabuk kendaraan. 

Untung saja aku masih waras, aku buka jendela, dan langsung muntah saat itu juga. Gilaaaa, kalau tahu gitu, aku bawa kresek deh. Sayangnya, karena dari rumah udah PD nggak bakalan muntah, aku nggak siapin apa-apa.

Muntah sudah, dan masalah terakhir adalah mules pengin BAB.

Untung saja, setelah benar-benar yang bawah pengin dikeluarin, elf sampai di depan terminal Leuwi Panjang. Aku ngacir ke toilet. Dan dari sana, lega sudah. Berasa lagi panas diberi air es. Segerrrr.

Masih ingat, tahun lalu aku nyasar di Terminal. Nyari-nyari bus jurusan Dago. Sampai kemudian, ada satpam yang ngasih tahu, kalau ke Dago itu biasanya naik Damri. Tentu saja untuk perjalanan kali ini nggak pakek muter-muter nyari Damri. Aku udah hapal, dalam lima menit, setelah keluar dari toilet, aku nemu Damri, dan langsung naik. Waktu itu setengah sepuluh.

Aku kira, Damri itu terus melaju sampai Jalan Juanda nomor 367 (Alamat tempat audisi), namun belum sampai sana, kalau nggak salah di Simpang Dago, DAMRI belok ke arah UNIKOM Bandung, duh, aku lupa alamatnya.

Aku langsung panik. Lho, lho, gimana?

Akhirnya aku minta turun sebelum melaju jauh. Dan penderitaan sepertinya memang belum habis.

Aku kembali ke jalan Juanda. Waktu itu masih nomor 90 kalau nggak salah. Dan akhirnya aku memilih jalan kaki sampai Jalan Juanda No. 367. Sekitar 4 kilo kali ya. Lupa juga. Tapi nggak capek dan nggak tepar sama sekali. Mungkin karena saking semangatnya.




Aku udah kaya orang Bandung aja yang lagi ngelurusin kaki dengan jalan kaki. Padahal mah orang Garut, yang sok-sok-an pengin audisi.

Kamu tahu gimana rasanya setelah sampe di tempat tujuan? Plong. Lebih dari bucat bisul plongnya. Pokoknya tenang banget. Akhirnya aku nggak nyasar lagi, pikirku saat itu.






Di Tempat Audisi, STKS Bandung

Masuk ke tempat audisi, masih banyak yang antri. Hadeuh, ada teman, pikirku. Namun pas ke sana, gabung di barisan dengan kawan-kawan yang lain, tetep aja kikuk. Nggak berani kenalan. Dan akhirnya diem sendirian. Gini nih nasib audisi nggak bawa rombongan.


Selama ngantri, aku hanya diam. Sesekali liat HP, lihat buku TIRAh yang memang sengaja aku poto-potoin. Kata orang-orang: tuh orang ngapain yaaa? (Mungkin).

Stand Up Comedy itu identik dengan orang-orang banyak omong, nyablak dan punya selera humor tinggi. Kebukti sih, soalnya di sekelilingku pada doyan ngomong. Aku hanya diem. Senyum, senyum, nguap, ada laler, dimakan deh.

Sampai pada akhirnya, aku ketemu Bang Uus. Omaygat. Itu  orang emang tinggi benar. Sayang, aku nggak minta foto. Antrian udah panjang. Kalau minta foto, entar diserobot orang. Dan well, aku hanya liatin orang-orang yang happy bisa foto ma komika absurd kek dia. Hadeuh, jadi kepikiran sama dia. Bang, kenapa gue nggak bisa foto sama lo, Bang. Huhuhu.



Sampai ke tempat audisi pukul 10. Dan ngantri buat dapet nomor audisi pukul 12. 30. Daebak. Setelah mendapakan nomor peserta, aku memilih ke mesjid kampus. Nenangin diri dulu. Dan Bang Uus udah nggak ada. Eh, masih ada ding. Tapi aku malu pas mau minta foto. 


Jadi guys, kamu musti tahu, aslinya, aku tuh pemalu banget. Suer. Tapi aku tipe orang yang keukeuh. Kalau pengin sesuatu, pasti akan berusaha dilakuin. Terwujud atau nggak terwujud. Dan kesukaan terhadap Stand Up pun hanya terjadi karena aku penikmat stand up. Pernah sih open Mic, dihadapan murid-muridku. Mereka ketawa aja meski aku tahu, bahwa materiku nggak lucu. Wkwkwk. Sayangnya minta foto memang bukan goalsku yang pertama, akhirnya nggak maksain nyamperin tuh artis.

Dalam proses audisi, aku menunggu sampai pukul setengah sepuluh malam. Bayangin men, aku udah boker dua kali di toilet kampus, udah jajan bakso tahu satu porsi, udah nguap puluhan kali, udah ngedumel, udah ketawa liat kekonyolan orang-orang. Bahkan udah ngantuk banget.

Dan ketika audisi, itu hanya 3 menit. Waw, nunggunya beberapa jam. Kan gilaaa ya.


Keputusan Lolos Atau Enggak




Ini yang kalian tunggu-tunggu guys. Jadi, satu menit sebelum audisi, aku deg-degan banget. Setelah ngedumel bareng Nanda, temen yang kebetulan ketemu di sana, akhirnya nomor peserta aku dan dia, juga 3 teman lain dipanggil. Ah, plong, sekaligus, masalah baru.

Jadi, tipe audisi SUCA ini nggak jauh beda sama audisi nyanyi waktu dulu. Ada room kecil, yang di dalamnya terdapat juri. Waktu nyanyi, jurinya ada 2, dan waktu SUCA kemarin, jurinya ada 1. Bayangin, aku harus ngelucu di depan satu orang saja? Kabarnya, jurinya juga jutek-jutek.

Sistem dalam SUCA 4 ini ada beberapa tahap. Audisi pertama, itu di room, yang aku bilang barusan, jurinya lokal. Jika lolos, maka akan melaju ke tahap 2, jurinya kru indosiar, plus satu atau dua komika terkenal. Setelah itu, baru tahap 3. Tahap 3 dilakukan hari Minggu, 15 Juli 2018 di sebuah kafe di Bandung. Ini ditonton puluhan orang, dijuriin komika asli, dan video yang ini yang akan ditayangin di TV entar.


Pertanyaannya, apakah aku lolos?

“Ujwar ...”

Deg! Aku langsung tegang saat nama dipanggil. Haduh, penyakit gugup aku nggak pernah hilang guys. Padahal aku udah sering manggung, nyanyi di hadapan orang-orang. Tapi tetap aja, untuk pertama kalinya, aku akan benar-benar stand up comedy di hadapan orang professional.

Masuk ke dalam room, lalu ....

“Namanya siapa?”

“Ujwar, Kak,” kataku dengan senyum kaku, sambil memberikan formulir ke juri.

Jurinya cewek, cantik, ramah. Kata orang-orang jutek, tapi juriku di room 2 ini, ramah-lah lumayan.

“Kalau sudah siap, bisa dimulai.”

Aku langsung mnegembuskan napas.

Akhirnya aku mulai bercerita. Dan aku ngerasa banget, bahwa aku terlalu tergesa saat tampil, plus kurang lepas. Di rumah, materiku mencapai 5 menit, sepertinya pas tampil hanya 2,5 menit – 3 menit. Cepet banget kan?

Setelah selesai, aku mengangguk.

“Materi kamu bagus Ujwar,” katanya. Dia menatapku sejenak dengan senyum ramahnya. “Tapi buat lolos ke tahap berikutnya, belum deh.” Dia mengangkat satu tangan. “Kamu hanya kurang lepas, masih agak takut pas nyampein. Sementara materinya udah bagus.”

Aku mengangguk dengan senyum legowo, meski sakit.

“Kalau kamu mau benar-benar di stand up, coba ikutan komunitas. Asah kemampuanmu di sana. Nggak apa-apa kan nggak lolos?”

“Nggak apa-apa, Kak, makasih banyak ya.”

Aku akhirnya salaman sama dia. Masih tersenyum lebar. Dan ya, aku keluar dari ruang audisi dengan perasaan campur aduk.

Ada bangga. Bangganya, aku bisa mengalahkan kemaluanku. Eh, rasa maluku. Kedua, aku juga kecewa, sebab tidak lolos.

“Nanda, kamu lolos?”

Nanda menggeleng.

“Aku juga ....”

“Pulang aja yuk?” kata Nanda dengan nada kecewa.

Aku mengangguk, sambil melangkah keluar.

Yaaaaaa, jadi kalian tahu kan jawabannya. Aku nggak lolos. Wajar, nggak pernah strand up comedy, tapi masih untung dapet pujian dan apresiasi dari juri. Yang penting aku udah menang dalam ngalahin diri sendiri untuk bisa melangkah seperti orang-orang. Menjemput harapan.

Selesai audisi jam 10. Dari sana aku tidur di mesjid kampus seperti orang terdampar. Tadinya mau nginep dikosan Edo, tapi dia kerja malem, jadi nggak bisa. Kasihan juga kalau tempat dia aku ambil alih. 

Untung saja ada mamang satpam yang ngijinin nginep di mesjid. Nggak malu juga sih. Sebab ada puluhan orang peserta yang nginep di audisi itu.



Pulang ke Garut, 15 Juli 2018

Paginya, aku jalan kaki menyusuri jalan Juanda untuk pulang. Sengaja, sambil olahraga. Lagian, hari minggu banyak yang lari, bersepeda, juga berkuda. Ternyata Bandung seru juga ya. Bahkan aku kepincut nasi kuning di pinggir jalan, sampai akhirnya makan dulu. Setelahnya, aku naik Gojek dan ketemu Yuli di Jalan Asia Afrika sebelum pulang.


BTW, aku mengobrol dengan si Yuli hampir dua jam. Dari jam 9 sampe jam 11-san di Alun-alun Bandung. Ngobrolin penerbitan, buku, curhat, segala macem dah. Pokoknya dimanfaatin aja. Biasanya ngerusuh di FB, akhirnya ketemu di dunia nyata.







Setelah ketemu Yuli, aku pulang beneran. Hari minggu, setelah naik Damri, aku naik elf menuju Garut. Dalam perjalanan itu, ada bongkahan rasa bangga. Aku bangga dengan diriku sendiri. Sebab mampu melangkah sampai sejauh ini. Perkara menang atau enggak, itu mah belakangan, yang penting melakukan sesuatu. Melakukan hal  di takuti, tetapi di sisi lain juga kita inginkan.


Sekian cerita pengalaman audisi SUCA. Bagi kalian yang punya impian, lakuin. Lebih baik melakukan sesuatu lalu gagal, daripada gagal melakukan sesuatu. Wassalam.









Minggu, 13 Mei 2018

9 Perbedaan Antara Penerbit Mayor dan Penerbit Indie

9 Perbedaan Antara Penerbit Mayor dan Penerbit Indie

9 Perbedaan Antara Penerbit Mayor dan Penerbit Indie
sumber: bukuonlinestore.com



Ujwar.com – Sebagai seorang penulis atau pembaca, tentu saja kita sering mendengar jenis-jenis penerbit. Ada yang namanya Mayor labels, ada juga indie label. Nah, apakah teman-teman sudah mengerti tentang perbedaan dua jenis penerbit di atas? Well, kali ini, aku akan membahas 10 perbedaan antara Penerbit Mayor dan Penerbit Indie.

Berikut adalah 9 Perbedaan Antara Penerbit Mayor dan Penerbit Indie:

1. Segi Penerbitan

Jika kita hobi menulis, kemudian sangat percaya diri dengan tulisan kita untuk bisa dikonsumsi publik, kamu bisa menerbitkan novel atau tulisan di Penerbit Mayor tanpa bayar penerbitan. Kamu hanya tinggal kirim naskah, kemudian menunggu review dari pihak redaksi antara 1-3 bulan (paling cepat) atau maksimal selama 1 tahun. Pengiriman naskah sendiri bisa dilakukan melalui email, atau juga versi cetak yang bisa dikirim langsung ke alamat penerbit.

Sementara, untuk penerbit Indie, penerbitan sebuah naskah umumnya berbayar. Ya, jika ingin menerbitkan buku, maka penulis harus mengeluarkan modal terlebih dahulu untuk bisa memeluk karya sendiri dalam bentu cetak. 


2. Segi Royalti

Menerbitkan di penerbit Mayor akan mendapatkan royalti dari penjualan. Dalam penerbit mayor, marketing tidak terlalu ditekankan, karena dibantu oleh pihak marketing penerbit. Meskipun, penulis juga sangat berperan. Semakin banyak buku terjual, maka semakin banyak kemungkinan untuk mendapatkan royalti. Biasanya, royalti antara 10-15 persen.

Untuk Indie sendiri, penulis juga dapat royalti, tetapi penjualan lebih ditekankan kepada penulis. Dan penjualan berfokus secara online. Sukses tidaknya buku, biasanya tergantung penulis. Seberapa gencar dia dalam mempromosikan buku. Namun, perlu digarisbawahi, bahwa menerbitkan secara indie, memiliki royalti yang sangat bisar, bisa mencapa 50% per satu buku terjual.

3. Dari Segi Percetakkan

Penerbit Mayor lebih banyak dalam mencetak buku. Dalam satu kali cetak, biasanya antara 1000 – 5000 exemplar buku, yang kemudian akan dijual dalam sistem apa pun. Baik online, maupun offline di seluruh toko buku. Mayor sendiri, mendistribusikan buku ke beberapa toko buku raksasa seperti Gramedia, Togamas, atau Gunung Agung.

Sementara, Indie biasanya mencetak buku dalam jumlah sedikit. Biasanya, penulis atau penerbit akan mengadakan pre order terlebih dahulu. Nah, setelah ada pemesan, maka buku baru dicetak. Sistem ini sering disebut dengan Print On Demand. Artinya, pencetakannya bisa dilakukan satuan, berdasarkan kebutuhan.

4. Dari Segi Kontrak

Di Penerbit Mayor, biasanya kontrak penerbitan lebih ketat. Artinya, penulis akan mendapatkan MOU untuk kemudian dipatuhi bersama antara penerbit dan juga penulis. Sehingga hukum-hukumya sangat jelas.

Penerbit Indie sendiri, biasanya tidak terlalu ketat. Ada sebagian yang tidak memakai MUO. Namun ada juga yang menggunakan MOU seperti penerbit Mayor. Tergantung sistem dari pengurus penerbit itu sendiri.

5. Segi Marketing Dan Penjualan

Penerbit Mayor lebih terbuka dalam segi promosi. Mereka akan melakukan berbagai promosi baik melalui toko buku, bedah buku, seminar, meet and great, atau melalui online, seperti melalui jasa blogger, bookstagrammer, dan lain sebagainya.

Sebenarnya, dari segi promosi, Indie juga bisa melakukan promosi besar-besaran seperti di Mayor. Namun mungkin, untuk beberapa promosi seperti di toko buku, itu sulit untuk dilakukan. Karena indie sendiri tidak melakukan distribusi ke toko-toko buku.

6. Dari Segi Naskah

Dari segi tulisan yang dikirim ke Penerbit Mayor, biasanya banyak pertimbangan antara penulis dan editor. Akan banyak sekali perubahan. Misal, naskah asli sekian ratus halaman, maka bisa saja halamannya bisa berkurang. Ada yang dihilangkan beberapa PART, atau beberapa scene. Sesuai kebutuhan penerbitan. 


Sementara untuk penulis yang agak idealis, bisa saja menerbitkan di penerbit Indie agar naskahnya bisa diterbitkan secara keseluruhan tanpa ada pemangkasan. Namun, sekarang, Indie juga mulai memperhatikan soal naskah. Mereka akan tetap membiarkan naskah tanpa diubah jika sesuai. Sementara jika tidak masuk akal, maka akan mencoba didiskusikan dengan penulisnya.

7. Segi Proses

Banyak sekali yang mengeluhkan menerbitkan di Mayor ini agak lama. Banyak sekali proses yang dilakukan jika menerbitkan buku secara Mayor. Dari mulai tahap review beberapa bulan, pembuatan cover, pendiskusian naskah, dll. Sehingga, dari awal naskah di review sampai terbit bisa memakan waktu satu tahun.Tapi sebenarnya, itu juga tergantung Penerbit Mayor itu sendiri. Ada pula yang cepat tanpa menunggu lama.

Sementara, untuk Indiebisa langsung terbit dalam waktu max. 3 bulan. Tentu saja itu sangat cepat. Karena tidak ada proses pendistribusian ke toko buku, dan lain sebagainya.


8. Dari Segi Penerimaan Naskah

Di Penerbit Mayor, setelah naskah dari penulis diterima melalui email, naskah tersebut tidak langsung diterbitkan, melainkan diseleksi dan di-review terlebih dahulu. Apakah sesuai dengan visi misi mereka? Biasanya, kalau masuk kriteria, maka naskah akan diterima dan kemudian diterbitkan.

Sementara, untuk penerbit Indie, tidak ada penyeleksian. Ketika sudah ada deal antara penulis dan penerbit, maka naskah sudah bisa diterbitkan. Namun, memang ada beberapa penerbit indie yang penerimaan naskahnya hampir sama dengan Mayor, yaitu dengan sistem seleksi.


9. Dari Segi Penulis

Di Penerbit Mayor, penulis memang ikut promosi, tetapi biasanya penerbit akan lebih banyak membantu. Karena, sukses tidaknya buku, biasanya bergantung kepada penerbit buku juga. Mereka akan melakukan berbagai hal supaya bukunya menjadi best seller.

Sementara, untuk penerbit Indie, biasanya penjualan lebih besar diserahkan kepada penulis. Mereka menerbitkan sendiri, mengeluarkan uang sendiri, dan juga menjual sendiri. Namun, Indie pun juga membantu menjual, tetapi biasanya tidak terlalu gencar. Kembali lagi kepada sistem dari Penerbit Indie itu sendiri.

So, guys, itulah 9 perbedaan antara penerbit Mayor dan Indie secara garis besar. Sekarang, kalian bisa memilih akan menerbitkan di Mayor lebel, atau Indie lebel.



Sabtu, 12 Mei 2018

15 Cara mengatasi Bau Mulut Saat Bulan Puasa

15 Cara mengatasi Bau Mulut Saat Bulan Puasa


credit: garudanews.id


Ujwar.com – Bulan puasa memang identik dengan bau mulut. Sebab, kita yang sedang melaksanakan puasa tidak makan dan minum dalam waktu yang lama. Sehingga akan ada pengurangan air liur. Dan itu semua, akan menyebabkan beberapa dampak yang berlari ke mulut kita.

Sering sekali, orang banyak mengeluh karena tidak percaya diri. Ya, bau mulut menjadi momok menakutkan bagi sebagian orang. Meskipun sebagian orang lain merasa wajar dengan itu semua, karena memang sedang melaksanakan puasa.

Maka dari itu, saya menuliskan 15 cara agar tidak bau mulut ketika bulan puasa:

1. Menggosok Gigi

Sudah pasti ya. Meski bulan puasa, jangan lupa untuk menggosok gigi. Biasakan menggosok gigi sebelum tidur dan juga sebelum subuh. Hal ini akan sedikit mengurangi bau mulut. Sebab kita telah berupaya mmebersihkannya.

Menyikat gigi sendiri bisa menggunakan berbagai pasta gigi. Nah, kamu bisa memilih pasta gigi terbaik yang bisa memaksimalkan hasil kerjanya.

2. Kumur-kumur

Bagi sebagian orang, menyikat gigi di siang hari ketika bulan puasa sangat dihindari, sebab takut batal karena merasakan manisnya pasta gigi. Atau takut tertelan gara-gara pasta gigi. Tapi kalau kumur-kumur, sepertinya tidak ya?

Kita bisa berkumur-kumur juga di siang hari. Bisa dilakukan saat wudhu. Itu bisa menyegarkan mulut. Dan juga bisa sedikit mengurangi bau mulut. Tentu saja, jangan sampai kamu menelan air kumurnya. Bisa saja mengganggu proses puasa kamu.

3. Hindari Makanan yang Memiliki Bau Khas

Guys, salah satu kelemahan manusia saat berbuka puasa adalah makan sebanyak-banyaknya tanpa memikirkan, apa yang dimakan. Contoh dari makanan yang memiliki bau khas adalah jengkol. Nah, bagi kamu yang tidak mau memiliki bau mulut. Kurangi memakan jengkol. Hal ini akan sedikit mengurangi bau mulut.

4. Gunakan Mouthwash Anti Bakteri

Yups, salah satu cara supaya kita bisa mencegah bau mulut adalah dengan berkumur menggunakan mouthwash yang dipercaya bisa dengan cepat menghilangkan bau mulut. Dan bertahan lama dalam memelihara mulut kita. Mouthwash sendiri terdapat beberapa merk, maka kamu tinggal memilih merk yang kamu percayai untuk digunakan.

5. Bersihkan Lidah

Hal ini juga sangat penting. Membersihkan lidah harus menjadi agenda yang tidak boleh terlewatkan. Sebab, jika terlewat saja, maka akan menambah kesan bau mulut. Membersihkan lidah setidaknya membuat mulut terasa lebih segar dari biasanya. 

6. Mengkonsumsi Teh Hijau

Wah, ternyata, teh hijau memiliki peran aktif dalam mulut kita. Teh hijau memiliki suatu zat yang bisa membantu dalam membersihkan mulut dan juga tenggorokkan dari bakteri. Hal ini bisa mengurangi bau mulut. Konsumsilah teh ini setelah berbuka puasa.

7. Membersihkan Karang Gigi

Berbicara soal gigi, karang gigi bisa menjadi salah satu bagian yang menyebabkan bau mulut. Ya, sisa-sisa makanan yang menempel, dan tidak terbersihkan akan mengeras dan membentuk karang gigi. Tentu saja, karang gigi mengganggu dan membuat tidak percaya diri.

Salah satu cara untuk menghilangkan karang gigi adalah membersihkannya langsung ke dokter gigi. Sebab, karang gigi susah dibersihkan sendiri. Butuh alat dan juga obat untuk bisa melepaskan karang yang menempel di gigi kita.

Sudahkah memeriksa gigi dan membersihkan karang gigi?

8. Jangan Banyak Tidur

Sadarkah kamu, salah satu alasan mengapa terjadi bau mulut adalah kebanyakan tidur. Bayangkan, hari-hari biasa saja, ketika bangun tidur, pasti akan merasakan bau tak sedap. Sama halnya dengan ini. Sudah pasti bulan puasa itu sering bau mulut, ditambah tidur yang berlebihan sejak siang hari.

Usahakan, jangan terlalu banyak tidur. Isilah dengan aktivitas yang bisa mengunggah rasa semangat dan percaya diri kita. Percaya deh, hal itu akan mengurangi bau mulut.

9. Hindari Makanan Lengket

Kamu sering makan permen, cokelat, atau makanan lengket lainnya? Kemungkinan makanan tersebut menempel di mulut sangatlah besar. Ketika makanan itu menempel, kemungkinannya akan membusuk di dalam mulut dan menghasilkan bau yang tidak sedap.

Cobalah untuk menghindari memakan makanan yang susah dibersihkan seperti itu. Sehingga, kemungkinan bau mulut pun akan semakin kecil.

10. Melakukan Pergerakkan

Salah satu hal yang bisa membuat sehat adalah bergerak dan berolahraga. Hal ini menyebabkan sistem dalam tubuh bergerak, tidak pasif. Sehingga akan sedikit menghilangkan bau yang tidak sedap dari dalam mulut.

11. Kumur-kumur dengan Garam

Tadi, saya sempat menuliskan, bahwa cara untuk menghilangkan bau mulut adalah berkumur dengan mouthwash. Nah, berkumur dengan garam adalah salah satu cara lain yang patut dicoba. Garam terkenal sebagai pembunuh bakteri dalam mulut.  Sehingga bisa ikut menjaga.

12. Makan Buah Segar

Salah satu cara untuk membersihkan gigi adalah makan buah segar. Contohnya jeruk, lemon, apel, dan makanan lain. Hal ini akan mencoba membuat mulut lebih segar dan mengikis sisa makanan yang menempel di mulut.

13. Hindari Makanan yang mengandung Gula Tidak Alami

Salah satu indikasi bakteri menempel di dalam mulut adalah gula. Contoh makanan yang mengandung gula berlebih adalah permen, cokelat, eskrim, manisan, dan lain-lain. Boleh memakan itu semua, tetapi jangan berlebihan. Dan usahakan, berkumurlah setelah memakan makanan tersebut.

14. Bersihkan Gigi dengan benang/Tusuk Gigi

Ya, benang gigi berperan penting dalam pembersihan sisa makanan di gigi. Gunakan pula tusuk gigi untuk mengeluarkan sisa makanan yang menempel di sela-sela gigi.

15. Konsumsi Sayuran Segar

Selain buah-buahan, ternyata sayuran juga berperan penting dalam mengurangi bau mulut. Semakin sehat dan bergiji makanan yang dikonsumsi, maka semakin bagus pula kesehatan dalam tubuh kita. Termasuk kesehatan mulut. Cobalah konsumsi secara rutin sayuran selama bulan puasa.

Nah, ituklah 15 cara dalam menghilangkan bau mulut ketika sedang berpuasa. Semoga bermanfaat.


Jumat, 11 Mei 2018

Inilah 10 Jenis Pekerjaan yang Bisa Dilakukan di Rumah

Inilah 10 Jenis Pekerjaan yang Bisa Dilakukan di Rumah


Inilah 10 Jenis Pekerjaan yang Bisa Dilakukan di Rumah
credit: tunggu.com


Ujwar.com – Pekerjaan menjadi salah satu hal pokok dalam kehidupan. Dengan bekerja, kita bisa memenuhi kebutuhan hidup. Untuk makan, memenuhi kebutuhan personal, atau juga membeli barang-barang yang diinginkan.

Makna bekerja lebih banyak dikenal sebagai suatu kegiatan, yang dilakukan di suatu tempat, dengan baju resmi atau seragam resmi, yang rapi dan juga bersih. Namun, semakin berkembangnya teknologi, pekerjaan tidak diartikan seperti itu lagi. Di rumah, dengan hanya memakai singlet bolong, dan kolor belel, kita sudah bisa menghasilkan uang. Bahkan penghasilannya bisa melebihi pegawai yang bekerja di kantor.

Di sini, saya akan membahas 10 pekerjaan yang bisa dilakukan di rumah:

1. Menjadi Penulis

Menulis adalah salah satu pekerjaan yang menjanjikan saat ini. Jenis tulisan sendiri banyak sekali. Mulai dari fiksi (novel, cerpen, puisi, dll) atau non fiksi seperti artikel, ulasan, report, dan lain sebagainya.


Sejauh ini, menjadi penulis fiksi bisa dilakukan di rumah. Kita membuat sebuah novel, ditawarkan kepada penerbit, jika diterima, kita akan mendapatkan royalti dari buku tersebut. Selain novel, membuat puisi atau cerpen, kemudian dikirim ke media cetak atau elektronik pun akan mendapatkan fee atau honor. Semakin sering menulis, semakin sering mendapatkan kesempatan itu.

Menjadi content writer juga sangat menjanjikan. Kamu bisa menerima pesanan tulisan dari berbagai perusahaan, dan akan mendapatkan uang hasil menulis. Jika jam terbang sudah tinggi, pasti akan banyak perusahaan yang mencari. Apalagi kualitas tulisannya sangat bagus.

Selain menulis untuk perusahaan, kamu juga bisa menulis di suatu web. Biasanya bayarannya berdasarkan view. Semakin banyak view, semakin tinggi bayaranmu.


2. Menjadi Blogger

Sebenarnya, sesuatu yang dijual di dalam blog adalah tulisan. Dalam artian, sebagian blogger pasti penulis. Namun, bukan tulisan secara langsung yang dijual di dalam blog. Melainkan pengunjung itu sendiri.

Ketika blog yang kita miliki ramai, dengan pengunjung di atas rata-rata, maka akan bisa menjadi sebuah kekuatan untuk kita. Kita bisa memasang iklan di blog kita. Baik adsense, atau iklan lain. Selain iklan dari google, kamu juga memasang iklan dari suatu perusahaan. Kamu akan dicari jika memang memiliki kualitas blog yang bagus.

Menjadi seorang reviewer juga keren. Biasanya, sebuah perusahaan, komunitas, atau intansi perusahaan akan memberikan konten untuk dipromosikan, kemudian kamu harus mempromosikan konten itu di blog kamu. Tentu saja sekali jadi, minimal 100 ribu sudah ada di tangan. Bagaimana jadinya jika dalam sehari, kamu mereview berbagai hal?

3. Penjual Online

Menjadi seorang owner bisnis online adalah salah satu hal yang perlu dicoba. Dengan menjadi penjual online, kamu tidak perlu bekerja di tempat orang lain. Cukup menggunakan ponsel android, diam di rumah, maka kamu sudah bisa mendapatkan hal baru. Tidak usah khawatir karena belum memiliki produk sendiri, sebab, kamu bisa menjadi seorang dropsipper atau reseller terlebih dahulu.


4. Endorsement

Kamu pernah berpikir kenapa seseorang rela mempromosikan sesuatu di media sosialnya? Yups, mereka diendors oleh perusahaan yang memiliki produk. Bayarannya besar, tergantung dari banyak tidaknya followers. Di masa sekarang, memiliki followers memang sangat penting. Sebab, dengan begitu, makin banyak orang yang mempercayakan produknya kepada kita.

Untuk saat ini, artis menjadi top position untuk menjadi seorang endorsement, karena memiliki banyak followers. Dan fee-nya pun jutaan, sampai puluhan juta, bahkan ratusan juta. Waw, jadi, ayo bangun medsos sosialmu dari sekarang. 

5. Menjadi Selebgram

Selebgram ini pekerjaan juga lho. Menurutmu, Mimi Peri, melakukan hal-hal konyol itu untuk apa sih? Ya untuk uang. Semakin dia menjadi trending topik, semakin banyak yang mengenalnya. Kesempatannya semakin besar.  Mereka akan ditawari berbagai hal, yang juga akan saling menguntungkan untuk kedua belah pihak.

Menjadi selebgram bisa dilakukan di mana saja. Biasanya, seorang selebgram konsisten membuat sesuatu karya yang bisa dinikmati, baik berubah parody, atau hal-hal positif.

6. Menjadi Youtuber

Sejauh ini, youtuber yang awalnya bukan pekerjaan, kini berubah menjadi sebuah pekerjaan. Menyediakan konten menarik di youtube bisa menjadi perhatian publik. Apalagi, youtube menjadi media yang sangat besar saat ini. Hal ini menambah kesempatan untuk konten-konten kita dikenang.

Dari mana penghasilan bisa didapatkan? Dari viewers. Semakin banyak, semakin besar bayaran kita dari youtube. Tidak heran, jika seorang youtuber memiliki team hebat dalam membuat konten-konten menarik.

Bagi kamu yang akan memulai terjun ke dunia youtube, tidak usah harus memiliki team dulu. Mulailah sendiri. Ketika sudah memiliki banyak hal, maka kamu bisa memulai merekrut team untuk mendukung dalam pembuatan konten.

7. Menjadi Pelatih 

Makna pelatih ini sangatlah luas. Saya sendiri adalah seorang penulis, maka, jika diambil dari sudut pandang saya, pelatih di sini bisa berhubungan dengan menulis. Misal: pelatihan cara membuat novel, dan lain sebagainya.

Nah, menjadi pelatih di media sosial, tidak harus dilaksanakan di luar. Kita bisa melakukannya di rumah dengan santai. Bahkan bisa smabil bermain dengan anak dan adik-adik kita.

Menjadi seorang pelatih tentu saja harus memiliki kompetensi yang bagus. Jika sudah memiliki kemampuan, maka kamu tidak perlu khawatir jasamu tidak akan digunakan. Mereka akan menilai kepada kita.

Kalau kamu berkecimpung dalam dunia bisnis, bisa saja kamu menjadi pelatih bisnis untuk para owner UKM yang baru memulai bisnis. Itu sangat menyenangkan dan sesuai dengan apa yang kamu miliki.

8. Desainer Grafis

Salah satu pekerjaan yang sangat penting, dan tidak akan pernah lepas dari kehidupan adalah desainer. Jika kamu seorang desainer grafis, sebuah pekerjaan tidak harus dilakukan di perusahaan yang berhubungan dnegan hal itu. Namun, di rumah pun bisa dilakukan. Anda bisa bekerja untuk perorangan atau perusahaan yang memesan jasa kamu. Untuk pengembangan di media, yang terpenting adalah hasil dan juga kejujuran. Jika hasil karyamu bagus, dijamin, bakal banyak yang datang.

Salah satu hal yang sering ditemui adalah buku. Kita, yang memiliki kemampuan sebagai seorang desainer, maka kamu bisa mencoba menjadi desainer cover book untuk penerbit. Ini adalah pekerjaan yang sangat efektif dan bisa dilakukan di rumah.

9. Editor

Waw, editor adalah salah satu pekerjaan yang rumit juga. Kamu bisa menjadi editor, baik foto, video, atau buku. Menjadi editor juga bisa dilakukan di rumah. Kita bisa mengambil pekerjaan dari perorangan atau suatu perusahaan.

10. Ilustrator

Menjadi seorang ilustrator adalah suatu kebanggaan tersendiri. Kita bisa melakukan pekerjaan ini di rumah. Ilustrator sendiri biasanya berhubungan dnegan gambar yang dibuat secara langsung menggunakan tangan, atau menggunakan aplikasi. Bayarang seorang ilustrator sangatlah besar. Tentu saja, pekerjaan ini efektif dilakukan di mana saja, yang pastinya nyaman sebagai tempat untuk mencari inspirasi.

Nah, itulah sedikitnya 10 pekerjaan yang bisa dilakukan di rumah. Bagaimana dengan kamu? Apa pekerjaanmu? Apa kamu juga bekerja di rumah? Yuk tuliskan pengalaman menarikmu bekerja di rumah.









http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html