Jumat, 28 Juli 2017

Kalau Lagi Butuh Motivasi, Gue Suka Buka Ulang Film 5 CM

Kalau Lagi Butuh Motivasi, Gue Suka Buka Ulang Film 5 CM


Kalau Lagi Butuh Motivasi, Gue Suka Buka Ulang Film 5 CM
credit: Wikipedia


Ujwar.com - Siapa sih yang gak tau film 5 CM? Gue yakin, kalian tahu film ini. Film yang sangat terkenal dengan quotes uwedannya. Quotes yang sampai sekarang masih sering gue sebut-sebut pas sedang down. Tentu saja, filmnya pun sering gue buka ketika gue lagi butuh motivasi.

Baca juga: 

Gue tahu film ini sangat pas ada di dunia kepenulisan. Dunia literasi itu selalu kental dengan yang namanya novel. Dan 5 CM (Novel Donny Dhirgantoro) merupakan salah satu novel yang menginspirasi gue, disusul filmnya yang gue cari di youtube waktu itu.

Mungkin, gue termasuk orang yang telat tahu film ini. Karena gue mulai cari itu sekitar tahun 2014, sedangkan film ini dirilis tahun 2012, ketinggalannya jauh banget. Dulu, mana tahufilm-film menarik macam begiitu? Untungnya, gue baca novelnya, dan dari sana, gue cari filmnya.

Ketika pertama kali nonton film yang dibintangi Junot, Raline Shah, Fedi Nuril, Deni Sumargo, Pevita Pearce dan juga Igor Saykoji ini, gue ketawa, merasa bersemangat dan terakhir ... mewek. Haha. Serius. Apalagi pas berhasil naik gunung Semeru, kemudian mengibarkan bendera dan hormat. Bulu romaku merinding. 

Dari sana, gue mulai benar-benar jatuh cinta sama film 5 CM. Kalau lagi inget, gue pasti buka momen lucu di film itu. Misal, ketika Ian makan mie di malam hari, atau ketika Ian membeli CD yang sebenarnya bukan CD sembarangan. Hehehe.

Gue juga selalu buka ulang tuh film disaat gue down, hilang semangat, pesimis. Terus terang, film tersebut mengajarkan banyak hal. Dari mulai persahabatan, daya juang yang tinggi, impian, tekad, hati yang bersih, juga kedekatan kepada Tuhan.

Film ini lengkap sekali. All in one-lah. Percintaannya pun ada. Dan itu twist ending banget kalau menurut gue. Gue kira, Riani itu bakal sama Genta, nyatanya, dia justru suka sama Zafran (maaf Spoiler, karena sudah pada tahu juga). Dan yeah, film itu membuat emosiku campur aduk. Antara senang, sedih, merasa konyol, juga perassaan-perasaan lain.

Ketika gue selesai nunton film 5 CM, semangat gue bisa tiba-tiba kembali melambung. Gue selalu inget quotes terkenal dalam film tersebut. “Mimpi-mimpimu, cita-citamu, keyakinanmu, apa saja yang kau mau kejar, biarkan ia menggantung, mengambang 5 cm di depan keningmu. Jadi dia tidak akan pernah lepas dari matamu. Dan kau bawa mimpi dan keyakinanmu itu setiap hari, kau lihat setiap hari, dan percaya bahwa kau bisa.” 

Hoah, rasanya, itu adalah quotes terhebat yang pernah gue denger.

Gue juga suka karakter dari tiap tokoh di film tersebut. Gue paling cinta sama Riani. Cantik, pinter, kalau makan indomie, cuma makan kuahnya doang. Kalau gue punya pacar kek gitu kan keren. Kalau lagi bokek, beli aja kuahnya yang banyak. Pertanyaannya, emang ada yang jualan kuah mie? Sudahlah. Lupakan.

Kalau karakter Genta, gue suka semangat dan juga kedewasaannya. Di film tersebut, dia menjadi seorang pendorong bagi kawan-kawannya. Dan sifat dia itu impian gue banget. 

Kalau si Juple, gue suka omes-nya. Emang cowok omes model gitu bisa bikin ketawa. Apalagi adegan pas Dinda kembali naik tangga untuk menuju kamar. Disitulah semua terjadi. Pikiran joroknya muncul dikala melihat Dinda yang seksi dari belakang.

Si Ian itu penghibur diantara yang lain. Dia juga lucu. Hobbinya nonton bokep. Sedangkan, buat Arial, dia cowok yang unik. Meski kebiasannya GYM, tetapi dia gugupan. Padahal punya muka dan badan bagus. 

Film ini salah satu film yang terkenang sampai sekarang. Suer. Dan sampai detik ini, 2017, gue masih buka tuh film kalau lagi benar-benar down. 

Bagaimana dengan lo? Punya film kesukaan yang bisa bikin naikin rasa semangat atau bahagia? Share di sini ya.

Kamis, 27 Juli 2017

Iqbal CJR Jadi Pemeran Dilan? Fans Dilan: Gak Rela!

Iqbal CJR Jadi Pemeran Dilan? Fans Dilan: Gak Rela!

Iqbal JCR Jadi Pemeran Dilan? Fans Dilan: Gak Rela!
credit: tribunnews.com


Ujwar.com - Setelah menarik perhatian dengan karakter Dilan yang membuat baper para pembacanya, kini penggemar novel tersebut kembali dikejutkan setelah mendengar pengumuman Falcon Fictures bahwa Dilan adalah Iqbal.


Pertama-tama, mereka berharap bahwa Gusti Rayhan yang akan menjadi pemeran utama Dilan, kemudian Adipati Dolken, juga menyuarakan Jefri Nicol (pemeran Nathan dalam film Dear Nathan). Namun, terpilihnya Iqbal CJR justru membuat pro dan kontra. Bahkan, ketika saya melihat IG ayah Pidibaiq, kolom komentarnya berisi bentuk kekecewaan dari mereka.

Kenapa mereka sebagai penggemar Dilan kecewa Iqbal yang malah terpilih?

Menurut sebagain orang, Iqbal tidak cocok untuk memerankan Dilan. Dilan ini masuk ke dalam sosok yang nakal, berambut acak-acakan, kemudian berjiwa romantis dengan kekonyolannya ketika mendekati Milea. Sedangkan menurut mereka, Iqbal terlalu muda, terlalu lembut, sangat berbeda dengan karakter Dilan.

Bagaimana tanggapan Pidibaiq?

Dalam IG-nya, Ayah Pidi menjelaskan semua kepada para penggemar bukunya, terutama buku Dilan, bahwa terpilihnya Iqbal sudah merupakan keputusan dari berbagai aspek. Juga pilihan dari Bunda Lia sendiri. Yang jelas, dia akan mengarahkan Iqbal, juga bagian produksi film supaya filmnya sesuai dengan novel.

Saya sendiri memang ikut mengerutkan dahi ketika mendengar Iqbal yang malah terpilih. Sebagai orang yang juga menggemari novel Dilan, tentu saja saya dapat melihat karakter Dilan. Dan kata saya; karakter Iqbal tidak cocok dengan karakter Dilan. Penjelasannya sama dengan yang lain; Iqbal terlihat lembut, juga terlalu baik untuk karakter Dilan.

Namun, pihak penulis maupun bagian produksi tentu saja sudah memikirkan matang-matang sehingga memilih Iqbal. Pastilah ada beberapa hal yang bisa menguntungkan kesuksesan film tersebut. Baik dari kepopuleran, atau pula hasil dari film itu sendiri.

Kalau menurut saya, Iqbal itu salah satu artis yang digandrungi remaja di Indonesia, jadi dari segi pasar, dia sangat menjual (Ini menurut pandangan saya sendiri ketika melihat sosok Iqbal). Kemudian, dari segi wajah, dia tampan, dan sangat berbeda ketika sedang di CJR dulu--yang masih unyu-unyu. Sekarang dia berubah menjadi pemuda yang gahol. Hehe.

Kemudian dari karakter sendiri, tentu saja bisa diubah dan diarahkan. Namanya juga akting. Gak mungkin Iqbal ber-akting sesuai kehendaknya. Tentu dong bakal mengikuti arahan berdasarkan novel atau sekenario yang ada. Saya percaya, Iqbal adalah salah satu aktor yang kemampuan aktingnya tak diragukan. Bukankah dia beberapa kali membintangi sinetron dan juga film?

Sebagai penonton, saya dan yang lain mungkin hanya bisa berkomentar atau memberikan opini. Seperti halnya saya yang kurang srek dengan pemilihan Iqbal. Ya, manusia memang selalu ingin melihat sesuatu yang sempurna berdasarkan imajinasi sendiri.

Namun, meski kurang suka, saya justru semakin tertarik dengan akting Iqbal. Tidak sabar ingin mengetahui filmnya seperti apa. Saya percaya, Iqbal bisa menjadi karakter Dilan. Ya, saya yakin. Meskipun, jarang ada novel dan film yang sama persis. Semua tahu itu.

Mengenai penggemar yang pada baper karena gak rela Dilannya harus sama Iqbal, ya itu hak mereka. Mereka lebih tau cara mengimajinasikan tokoh dalam novel yang dibacanya. Setiap orang memang memiliki persepsi atau keinginan yang berbeda-beda. Terutama antara penggemar, penulis buku, dan juga pihak yang akan memproduksi film.

Saya sendiri hanya mampu berkata: sukses untuk pembuatan filmnya. Saya akan selalu suka film apa pun kalau itu buatan Indonesia. Karya anak negeri  lebih menarik perhatian. Siapa pun pemeran utamanya saya tidak peduli, yang terpenting film tersebut memberikan inspirasi dan motivasi keren. [.]

Rabu, 26 Juli 2017

Dari Dear Nathan, Gue Tahu Cara Menghargai Orang



Dari Dear Nathan, Gue Tahu Cara Menghargai Orang
credit: Hipwee



Ujwar.com - Dear Nathan adalah salah satu novel yang terkenal di kalangan masyarakat, terutama anak muda. Cerita yang ditulis di wattpad oleh Erisca Febriani, dan telah dibaca jutaan pengunjung ini menyita banyak perhatian ketika diterbitkan dalam bentuk cetak, kemudian diangkat ke layar lebar oleh Rapi Film.

Kesan pertama gue baca novel ini adalah bangga. Sebab, cerita ini mewakili perasaan gue yang rindu masa SMA. Rindu masa-masa nakal (meskipun gue termasuk anak teladan sih dulu), kangen rumpi sama teman, kangen ngerjain PR bareng-bareng di kelas, juga kangen hal-hal konyol yang gak gue dapetin saat ini.

Dalam segi penceritaan, novel ini ringan dan bisa dipahami dengan baik. Penulisnya saja masih belia, ya pantas saja. Dia mungkin mewakili dirinya sendiri dalam menulis cerita itu. Sementara dari segi isi, lumayanlah. Sehari-hari banget, meskipun gue agak ribet karena bukunya tebal. Lebih dari 500 halaman.

Setelah membaca novel itu, gue jadi suka sama karakter Nathan, tokoh utama cowoknya. Gue dulu termasuk ke dalam cowok cupu dan pendiem di sekolah. Gue merasa terwakili aja sama si Nathan ini, bahwa meski dia terkenal sebagai orang yang  badung dan preman sekolah, tapi dia memiliki sisi yang baik. Sama juga kaya teman-teman gue dulu. Yang selalu gue anggap sebagai sampah dan orang yang gak punya masa depan (gue jahat banget ya?).

Gue juga iri sama Nathan. Kadang ingin sekali kembali ke masa SMA. Masalahnya, gue juga pengin ngerasain jadi orang nakal kek dia. Nakal itu menyenangkan. Dan gue, dulu hidup gue lempeng. Gak ada satu hal pun yang ngebuat istimewa. 

Intinya, novel ini memberikan banyak pelajaran. Gak melulu soal cinta, tapi gue juga bisa belajar banyak tentang arti menghargai, menilai, persahabatan juga keluarga. 

Oke, mungkin banyak yang ngritik novel Dear Nathan. Isi kritikannya macam-macam. Dari mulai bahasa cerita, penokohan, plot dan lain-lain. Tapi di balik itu, banyak juga yang suka, bahkan baper baca novelnya, termasuk gue. Pada dasarnya, kritikan yang mereka utarakan mengenai isi cerita itu ga akan mengubah orang yang udah benar-benar jatuh cinta sama novelnya. Lagian, kali ini gue hanya mau nulis apa yang gue rasa aja pas kenal novel ini, bukan hal-hal yang orang lain anggap buruk. Terima kasih juga kepada penulisnya, Erisca Febriani, yang telah menulis cerita ini.

Nah, setelah beberapa bulan baca novelnya, muncullah filmnya yang juga mengundang perhatian. Terus terang, gue nonton pada hari Sabtu, 22 Juli 2017 di salah satu web film. 

Kenapa gue gak nonton secara langsung? Di tempat gue gak ada bioskop, jadi gue hanya bisa nonton pas udah muncul di web, TV, atau youtube. 

Perasaan gue pas nonton film ini pastinya senang banget. Sumpah. Ini yang gue tunggu-tunggu. Gue nunggu Dear Nathan muncul di TV, atau Internet, dan akhirnya, muncul juga. Gue tertawa bahagia.

Filmnya tak kalah seru. Karakter Salma dan Nathan di film gak terlalu beda sama di novelnya. Tentu saja ada perbedaan dalam novel atau film. Banyak scene yang gak dimasukin ke film. Namanya juga film, kalau satu novel dimasukin, bagaimana pembiayaan produksinya? Ngertilah. Lagian, novel  dan film gak bisa disamain meskipun ceritanya sama. Akan ada perbedaan. Yang terpenting, nikmati apa yang kita baca dan lihat. Dan yang paling oke, ambil pelajarannya.

Terus terang, gue lebih terharu pas nonton film ketimbang baca novelnya. Mungkin karena langsung kita lihat dan dengar.  Dari awal, gue senyum, ketawa, sampai mewek. Terutama pas adegan Nathan pelukan sama Bapaknya. So Sweet. Haha. Kenapa gue bilang kek gitu?

Gue sama Bapak gak terlalu deket. Kadang kalau lihat orang yang deket banget sama Bokapnya, selalu merasa iri. Gue ini kan emang pendiem, jadi jarang komunikasi sama Bapak. Tapi di dalam hati, pengin banget ngobrol panjang lebar.

Maka dari itu, gue ikut baper ketika Nathan ini hubungannya kurang baik sama sang Bapak, kemudian menjadi lebih baik ketika ada sesuatu yang menyadarkan mereka berdua.

Bagi yang belum nonton atau baca novelnya, mungkin gue perlu menceritakan sedikit mengenai Dear Nathan. Siapa tahu dengan begitu, lo jadi penasaran, kemudian beli novelnya, atau ikutan nonton filmnya. 

Jadi gini:

Namanya Salma. Dia anak baru di SMA. Pindahan dari Bandung. Dia kesiangan di hari pertama sekolah. Untung dibantu oleh Nathan, cowok yang terkenal badung di sekolah. Dia membawa Salma ke jalan rahasia menuju sekolah. Dan ya, semenjak pertemuan itu, banyak hal-hal yang mereka alamin, sampai tumbuh benih-benih cinta.

Nathan menunda perhatian, Salma pemalu dan mendiam. Nathan selalu menggoda dengan gombalannya yang bikin senyum-senyum, sementara Salma selalu kaku. 

Nathan memang badung, tetapi dia sebenarnya baik. Dia hanya mendapatkan tempaan berbagai masalah. Dari mulai adik kembarnya yang meninggal, orangtuanya yang bercerai, disusul meninggalnya sang Mama. Lengkap sudah. Makanya, dia seperti sedang mencari perhatian orang dengan jadi remaja nakal. Masalah itu mungkin hanya sebagian kecil. Ada masalah hati yang lebih besar. Yaitu berkaitan dengan lika-liku hubungan percintaannya dengan Salma.

---

Segitu cukup kali ya? Hahaha. Intinya, kalau mau tahu cerita ini, silakan cari di toko buku terdekat kesayanganmu, atau kalau mau nonton filmnya, tonton di web penyedia film tersebut. Gue takut terlalu spoiler kalau jelasin terlalu panjang. Biar lo semua deh yang nilai sendiri cerita atau filmnya.

Nah, hubungannya dengan judul review ini memang ada. Gue sadar, atau mungkin elo juga sadar.

Kadang kita selalu nilai orang dari tingkah lakunya, atau fisik yang buruk. Tapi kita gak tahu lebih lanjut orang yang kita nilai buruk itu. Kita  gak tahu hatinya kaya gimana. 

Kadang, kita selalu menganggap orang bandel dan  badung  (Di cerita ini, contohnya Nathan) sebagai sampah atau virus dalam lingkungan kita. Padahal, gak sepantesnya kita seperti itu. Ketika ada orang semacam itu, rangkullah. Barangkali dia memiliki masalah yang besar, sehingga melampiaskan ke dalam kehidupannya? Who know?

Makannya, sebagai manusia, kita dituntut buat peka sama orang lain. Kita harus banyak melakukan pendekatan kepada orang-orang semacam itu. Ketika tahu sifat aslinya, dijamin, kita bakal nyesel pernah ngehina orang tersebut (bagi yang pernah ngehina).

Bukannya gue sok atau bagimana. Gue cuman pengin menuliskan apa yang gue tangkep dari film atau bacaan gue. Seenggaknya, apa yang kita lihat bisa memberian effek bagi diri sendiri. Effek baik tentunya. Apalagi bisa memberikan banyak manfaat bagi pembaca blog gue juga.

Mungkin elo akan bilang; sesuatu yang kita baca atau lihat belum tentu baik.

Benar. Benar sekali. Bahkan, kalau cerita romance atau cinta-cintaan, pasti banyak adegan yang, apalah-apalah. Pasti tahu. Tapi gue hanya ingin berpikiran positif dari apa yang gue lihat. Buruk atau baik, tetap akan memberikan hikmah dalam hidup. 

Oke, dicukupkan sekian dulu coretan gue kali ini. Oh iya, blog gue yang dulu (www*ujwart*com) udah gue hapus. Alasannya simpel; pengin mulai menulis dari hati, juga sesuai dengan yang gue alami, atau seenggaknya yang tertarik gue bahas. Mau itu tips, trik, review, wisata, atau apa pun yang sedang pengin gue tulis.

See you di review berikutnya ya guys. Jangan lupa bagikan dan tinggalkan komentar.
http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html