Minggu, 06 Agustus 2017

Saya Menulis Karena Saya Merasa Bodoh

Saya Menulis Karena Saya Merasa Bodoh


Saya Menulis Karena Saya Merasa Bodoh
credit: kompasiana.com


Ujwar.com

Setiap orang memiliki alasan mengapa mereka memilih suatu hobby atau profesi. Sama halnya dengan saya. Saya pun memiliki alasan, mengapa saya memilih menulis sebagai salah satu hal yang saya tekuni sampai sekarang.


Baca juga:


Pertama-tama, mungkin saya harus jelaskan dulu, bahwa tulisan ini hanya sebatas curhatan. Saya hanya ingin menjelaskan, kenapa saya bisa terjun ke dunia menulis, bisa berjuang untuk menerbitkan karya, hingga bisa menuliskan artikel-artikel baik di blog pribadi, atau web online.

Entah kenapa, saya tumbuh menjadi orang yang kaku. Saya tidak pernah bisa mengobrol panjang lebar dengan orang yang tak saya percayai, atau lebih jelasnya; saya tidak pernah bisa mengobrol dengan orang yang tidak klop menurut pandangan saya. 

Mungkin bagi sebagian orang, saya itu orang yang pendiam dan pemalu, tetapi bagi sebagian lainnya, saya adalah salah satu orang humoris sekaligus banyak omong. Kenapa bisa berbeda seperti itu? Ya tadi itu, saya bisa becanda dan mengobrol panjang kali lebar hanya dengan orang-orang tertentu. Hanya dengan orang yang benar-benar saya anggap sebagai orang yang cocok.

Pilih-pilih? Tentu saja tidak. Saya sendiri tidak bisa menjelaskan, kenapa saya begitu. Tetapi mungkin hati saya selalu merasa, bahwa orang yang tepat akan membuat saya terpancing, dan kemudian bisa membuat saya masuk ke dalam sebuah lingkaran, hingga membuat saya bisa mengeluarkan karakter saya yang lain.

Seperti halnya di SMA, saya menemukan teman cewek yang sebenarnya bisa dibilang moodboster hingga saya bisa terjun ke dunia literasi seperti sekarang. Tidak usah disebut nama kali ya. Yang jelas, dia berhasil membuat saya suka menulis.

Dia ini memang type cewek pendiam, dan cewek penyuka Korea. Maka tidak heran, kalau kebannyakan cerita yang dia buat adalah Fanfiction, yang tokoh utamanya adalah seorang artis yang dia idolakan. Dan dia adalah salah satu teman terbaik saya sampai saat ini.

Ketika saya tahu bahwa dia suka menulis fanfiction, maka tidak tahu kenapa, saya jadi ingin seperti dia. Suka menulis. Waktu itu saya duduk di kelas 2 SMA (Tahun 2014). Dari sana, saya mulai menulis beberapa cerpen. Dan sumpah, ketika baca ulang itu cerpen, maka saya akan terkekeh karena banyak sekali kesalahan. Jauh berbeda dengan sekarang yang sudah banyak berubah.

Setelah menulis kurang lebih sepuluh cerpen, maka saya berhenti menulis karena memang belum tahu motivasi awal dalam merangkai kata. Ya, awalnya kan karena memang temanku itu. Hingga saya melupakan menulis sampai lulus SMA.

Bulan Mei 2015, saya kembali menulis dan ikut event-event dari penerbit indie yang berkeliaran di facebook. Dari sana, saya masuk sebagai kontributor di beberapa penerbit, dan mendapatkan sertifikat kepenulisan.

Setelah terjun, saya memang merasa lebih nyaman menulis. Sebab, kapasitas saya untuk berbicara jauh lebih kecil. Seperti yang sudah saya jelaskan, bahwa saya terkesan kaku kepada kebanyakan orang. Hingga saya benar-benar berpikir bahwa menulis adalah kegiatan terbaik.

Terus terang, motivasi pertama saya menulis cerpen waktu itu adalah juara dan juga uang. Munafik memang kalau ada orang yang melakukan sebuah pekerjaan atau sesuatu yang bisa menghasilkan uang, tetapi berkata bahwa bukan uang yang dia cari.

Sampai, sejauh saya menulis, cerpen-cerpen saya tak kunjung bisa menjuarai lomba. Atau tak kunjung di-ACC untuk tembus media cetak. Dari sana, saya memutuskan berhenti dan fokus bekerja. Karena waktu itu saya memang sibuk, kebetulan juga merantau ke Bekasi.

Selang beberapa bulan, saya kemudian pulang ke Garut. Memulai hidup baru sebagai seorang pengangguran. Haha. Ya, dan hal pertama yang saya pilih adalah menulis. Saya fokus menulis cerpen, dan juga berhasil membuat satu novel. Percaya atau tidak, ketika saya membaca ulang novel pertama itu, saya masih sering tertawa. Memang, menjalani sebuah proses itu indah. Dan ya, saya bisa berkembang setelah sekian lama menulis dan belajar Bahasa Indonesia secara otodidak.

Sampai suatu hari, saya mengenal blog, dan mulailah terjun dan membuat blog pribadi. Waktu itu blogspot, kemudian berganti menjadi domain sendiri. Dan orientasi utamanya tetap; uang. Dulu lagi semangat-semangatnya ngeblog karena kata orang, blog bisa ngasilin duit besar hanya dengan bermodal tulisan kita. Nyatanya? Oalah, prosesnya tidak mudah. Selama itu pula, saya banyak makan hati karena cita-cita menjadi blogger sukses tidak terwujud.

Sampai, saya mulai merenung, mengapa hanya capek yang saya dapat dari menulis. Saya mulai memikirkan kesalahan yang saya buat. Dan setelah sekian lama berpikir, saya baru tahu, bahwa apa pun yang kita lakukan adalah tergantung niat.

Awalnya, saya menulis karena uang. Maka ketika keadaan itu tidak tercapai, ya stres. Bayangkan guys. Di Indonesia ini banyak sekali penulis novel atau cerpen berbakat, yang karyanya keren-keren, dikenal orang, lalu (mungkin) bisa memenuhi kebutuhan dengan menulis. Saya? Saya hanya anak kampung, yang kenal menulis kemarin sore, lalu sok-sok-an ingin dapat uang dari nulis. Sama saja kaya mimpi di siang bolong.

Nah, akhir 2016, saya mulai fokus. Di samping saya kuliah dan juga mengajar di salah satu SMP di Garut, saya memantapkan niat  dalam menulis. Bukan lagi soal uang, melainkan soal diri saya sendiri.

Sekali lagi, saya itu orangnya kaku, pendiam, pemalu, dan susah banget bersosialisasi. Maka ketika saya berpikir bisa apa, saya kadang stres dan depresi. Mengapa saya tidak se-friendy orang lain? Padahal, di dalam hati, saya itu pengin kaya mereka yang gampang akrab sama orang. 

Dari sana, saya memutuskan  menulis sebagai cara saya menghilangkan kekecewaan. Kenapa menulis? Karena saya merasa bodoh. Oke? Saya itu bodoh. Bahkan, kadang saya suka sedih kalau dalam suatu sisi, saya itu menjadi orang yang lemot kalau disuruh, sering salah, dan ya ... padahal, kalau di sekolah (Semasa SMA) saya termasuk orang yang sering masuk tiga besar. Saya juga merasa, bahwa orangtua saya tak pernah percaya terhadap saya karena kebodohan itu. Mungkin hal tersebut terjadi karena saya gugupan, maka belum apa-apa selalu nervous terlebih dahulu.

Hal itulah yang mungkin membuat saya semakin kaku. Ada rasa rendah diri dalam hati saya. Dan ya, saya memutuskan untuk menjadi seorang penulis saja. Dengan niat ingin bermanfaat bagi orang lain.

Ketika saya selalu merasa tak bisa apa-apa, maka saya mencoba peruntukkan di dunia menulis. Siapa tahu tulisan-tulisan saya setidaknya bisa membuat orang tertawa? Atau lebih bagusnya termotivasi? Suer. Kadang, kalau lagi sendirian suka mewek. Merasa saja bahwa saya itu cowok lemah yang gak bisa apa-apa. 

Tahun 2017, saya fokus menulis novel. Mencoba peruntukan di dunia mayor labels.  Saya pernah mengirim novel ke penerbit mayor kurang lebih sepuluh kali. Dan sebagian diantaranya ditolak. Saat ini, saya sedang menunggu keputusan 3 penerbit sekaligus. Hoah. Menunggu itu menyenangkan juga. hehe.

Pertama-tama, saya memang sedang ingin membuktikan kepada diri sendiri, bahwa saya juga bisa bermanfaat selain perasaan-perasaan negatif yang sering mengantui. Saya mencoba terus menulis dan mengirimkan ke penerbit mayor. Mengenai di-ACC, atau bahkan entar laku keras (aamiin), berarti sedikitnya hidup saya masih memiliki arti. Tentu saja arti bagi diri sendiri. Karena menurut saya, membangun rasa puas terhadap diri sendiri kadang lebih sukar ketimbang rasa puas kepada orang lain.

Sampai, satu bulan yang lalu, saya memilih menghapus blog yang pernah saya bangun selama dua tahun (dari 2015), kemudian saya memulai dengan blog baru ini. www.ujwar.com. Salah satu alasannya adalah; saya ingin menulis dari hati, tanpa ada sesuatu yang membuat pikiran saya berbelok ke dalam sebuah tujuan lain. Saya hanya ingin menyampaikan apa yang saya rasa, atau apa yang sedang ingin saya bahas sebagai fungsi utama dari blog pribadi.

Dan sekarang, perasaan saya lebih positif lagi ketika berhasil memupuk diri bahwa bukan hanya uang yang harus saya pikirkan, tetapi kepuasan diri tentang seberapa bermanfaat diri ini bagi orang lain. Kalau suatu saat tulisan saya terkenal, kemudian saya bisa mneghasilkan uang dari sana, tentu akan saya syukuri. Karena niat awal saya (yang dulu) terwujud. Tapi tentu saja saya akan mempertahankan niat hati terdalam saya menulis, yaitu untuk bermanfaat bagi orang. Ya, setidaknya, saya bisa menghapus pikiran tentang diri sendiri yang bodoh.

Untuk saat ini, saya sedang ingin menikmati proses. Ketika dulu saya berhasil memulai, maka saya juga harus berhasil menjalankan, kemudian menghasilkan tulisan-tulisan yang bisa dikonsumsi. Syukur-syukur bisa membuat orang termotivasi. Ya, sebenarnya bukan hanya orang-orang yang terhibur, tetapi lebih kepada pengobat jiwa untuk diri saya sendiri. Ketika saya sudah berhasil, mungkin saya akan lebih mensyukuri keadaan saya sebagai seorang menusia yang apa adanya. 

Saya juga baru sadar, bahwa perasaan negatif saya selama ini hanya bentuk kekecewaan dan kurangnya rasa syukur. Untuk saat ini, saya mencoba untuk lebih bersyukur menjadi diri saya sendiri yang kaku, bodoh, atau mungkin hal-hal yang dianggap buruk. Sebab dengan itu, saya tahu bagaimana cara untuk berjuang mencari sisi lain dari diri saya. Yang mungkin tersembunyi, atau bahkan terabaikan karena saya terlalu fokus kepada kekurangan-kekurangan saya.

Ketika kita ingin bertahan dalam suatu hal, maka yang harus dilakukan adalah merenung dan memperbaiki nilai diri. Ketika saya merasa tidak berguna, maka saya berusaha memberdayakan apa yang saya bisa, supaya bisa berguna bagi diri sendiri, dan tentunya semua orang yang mengenal saya. [.]

20 komentar:

  1. duhh baca cerita diatas ane merasa terharu apalagi yang pas penerbitan novel itu, ane juga bakalan nerbitin novel mas :D keep semangat

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe.... semangat juga bang buat novelnya. hihi

      Hapus
  2. mantap gan kreatif yang penting tetep nulis aja , dulu saya juga gitu kok

    BalasHapus
  3. wah insfiratif banget gan artikelnya

    BalasHapus
  4. sedih baca nya gan, jadi pengen nangis :(

    BalasHapus
  5. sepertinya kita setipe gan, saya juga kaku, jarang ngobrol panjang dengan orang baru,sbagian nilai pendiam dan pemalu juga, tapi sbagian orang lagi menilai orang yang terlalu berlebihan kalo berbicara. tapi perjuangan agan buat nulis super duper ya.. apalah saya yang cuma buat iseeng aja

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihi. Oya? Salam kenal ya? iya. lumayanlah perjuanganku.

      Hapus
  6. wah sama gan.. saya juga suka menulis

    BalasHapus
  7. Balasan
    1. iya getooh. gak ada komentar lain apa? wkwkwkiwk

      Hapus

Berkomentar dengan baik ya. Ditunggu masukan yang membangun.

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html