Saya Sadar Bisa Bernyanyi Setelah Lulus SMA

Saya Sadar Bisa Bernyanyi Setelah Lulus SMA


Saya Sadar Bisa Bernyanyi Setelah Lulus SMA
credit: dream.co.id


Ujwar.com

Judulnya keren ya. Seolah-olah, suara saya itu mantcap, tcakep, juga petcah. Padahal? Hoho.

Sejak kecil saya itu tumbuh jadi orang introvert, kaku, atau apalah namanya (mungkin pengakuan ini sudah ribuan kali saya tulis di media sosial). Maka dari itu, sangat aneh jika orang introvert seperti saya menyukai hal-hal berbau seni. Seperti menari, drama, atau musik. Tapi ya, kenyataannya, saya memang suka salah satu dari hal itu, yaitu musik, lebih tepatnya, menyanyi.


Dari SMp, saya memang gemar mendengarkan musik. Gemar pula bernyanyi di kamar atau kamar mandi. Namun, saya tidak pernah bisa tampil di hadapan orang, karena saya memang pemalu sekali. Bahkan, ketika orang-orang lebih suka ikut joget atau nyumbang lagu di acara nikahan, saya cuman bisa nyumbang nyanyi di dalam hati. Kan sedih.

Waktu SMA, saya masih pemalu. Saya tidak ikut ekskul musik yang sebenarnya membuat saya tertarik. Saya masih tetap mkenjadi artis kamar mandi dan kamar tidur. Tanyakan saja kepada orangtua saya kegiatanku sehari-hari. Ya, mereka pasti tahu betapa suaraku bisa membuat isi rumah bergetar dan pecah. Hehehe.

Hingga kelas sebelas, saya mulai berani tampil. Dulu itu saya nyanyi di hadapan murid baru ketika masa MOPD. Kebetulan jadi panitia, jadi ya bebas lah mau ngapain. Lagu pertama saya tamnpil: Grenade, Bruno Mars. Waktu lagi musim Fatin yang nyanyiin. Hehe.

Dan ya?  Langsung trauma. Gila. Kenapa saya gak pernah tampil dari dulu? Jawabannya suara saya yang agak aneh. Pas lagi berani-beraninya, memupuk untuk terus PD, eh akhirnya dijatuhin juga. Saya ditertawakan ketika menyanyi. Memang, suara saya itu terkenal cempreng. Dan dari sana, rasa percaya diri kembali mengendur. Saya gak minat lagi nyanyi di hadapan orang.

Singkat cerita, saya lulus SMA. Dari sanalah semua dimulai.

Saya lupa kapan tepatnya mulai sadar bahwa sebenarnya saya sangat suka bernyanyi. Yang jelas, satu tahun saya lulus SMA, saya mulai merasakan atmosfer yang berbeda ketika menonton ajang pencarian bakat. Saya selalu mengikuti The Voice, Rising Star, atau Dangdut Academy. Dan entah, saya mulai suka dengan bernyanyi.

Finalnya, saya ikut audisi Rising Star 2016 di Sabuga Bandung. Berangkat sendiri dengan segala keterbatasan. Waktu diterminal LeuwiPanjang, saya pun pernah kepusingan nyari angkutan umum buat ke sabuga, meski akhirnya ketemu juga.

Saya juga berangkat audisi dengan musikalitas yang amat sangat rendah. Saya tidak bisa bermain alat musik, saya tidak tahu tekinik bernyanyi, saya tidak tahu pitch control, dan hal-hal yang berhubungan dengan musik, tetapi saya hanya punya keberanian dan rasa percaya diri.

Well, awal yang baik meski saya tidak lolos. Aduh, kalau saya lolos, berarti kuping jurinya lagi keganggu. Hehe. Saya nyadar diri kok kalau saya belum pantas masuk ke sana.

Namun, saya memndapakan banyak pengalaman guys. Dari mulai tahu Sabuga, haha, maklum. Saya itu anak rumahan banget. Saya juga merasakan bagaimana antri dengan orang-orang yang juga memiliki tujuan yang sama, dan ya, yang terpenting, saya mendapatkan banyak teman dari sana.

Pulang audisi, saya mulai lebih percaya diri guys. Masih ingat sekali bahwa juri di room audisi itu bilang cuco dan keren (Entah suaranya yang cuco, atau saya yang cuco, haha). Dan setelah itu, saya mulai menekan rasa malu dan mencoba tampil di berbagai kesempatan.

Waktu ada acara di sekolah, saya tampil meski sudah jadi alumni. Waktu ada teman nikah, saya ikut nyumbang nyanyi. Waktu di kampungku ada acara, saya nyumbang juga. Pokoknya, saya mencoba memperbanyak jam terbang.

Kompetisi lainnya yang saya ikuti adalah Audisi Nasyid Se-Priangan Timur. Waktu itu saya buat grup. Namanya bertiga. Ada saya, Kang Cepi, juga Kang Shilmi. Ini juga lomba yang tanpa persiapan. Alhasil, kami juga hanya mendapatkan pengalaman dan juga tepuk tangan. Lumayanlah. Untung saja kami gak dilempari botol bekas.

Nah, di bulan Agustus ini, saya juga akan ikut Audisi Nasyid yang diadakan oleh Universitas Garut. Sudah mulai latihah sih. Dan tahun ini juga, inshaa allah mau ikut audisi Indonesian Idol di Bandung.

Entahlah, saya ini tipe orang yang kalau sudah punya kemauan, pasti akan terus dikejar. Padahal, sudah banyak orang yang bilang kalau suara saya jelek. Kata Bapak saya, suara saya “beberekbekan” Kalau secara jelasnya, mungkin suara saya semacam kenalpot motor yang bising. Dan tentu saja ada rasa minder setelah dikatai seperti itu. Namun, saya hanya tersenyum.

Ssaat ini, saya terkenal sebagai orang yang suka nyanyi. Makanya, kalau ada lomba, atau nikahan, teman-teman berbondong-bondong nyuruh nyanyi atau ikutan lomba. Entah untuk memotivasi saya, atau untuk bahan tertawaan ketika saya tampil. Tapi sih, sejauh ini ada rasa bangga. Kebanyakan dari teman-teman saya tetap mendukung, bahkan suka memberi masukan-masukan yang membangun.

Saya suka menulis, dan saya juga suka bernyanyi. Saya kadang suka berpikir, kalau nanti jadi novelis beneran, terus terkenal, kalau ada meet and great, bisa sekalian nyanyi. Hahaha. Atau kalau jadi artis, nanti bisa sekalian promosi novel.

Oke, terlalu tinggi kali ya impiannya. Tapi sih, saya hanya ingin mencoba menjadi orang yang bisa bermanfaat bagi orang, contohnya menghibur. Baik melalui tulisan atau musik. Dan ya, mungkin hal-hal yang tak terduga, yang dianggap mustahil akan terjadi jika Allah mneghendaki. Yang terpenting adalah:  cintai apa yang kita lakukan. Setuju?


Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "Saya Sadar Bisa Bernyanyi Setelah Lulus SMA"

Berkomentar dengan baik ya. Ditunggu masukan yang membangun.