Selasa, 17 Oktober 2017

Benarkah Orang yang Banyak Omong di Medsos Memiliki Sifat Pendiam di Kehidupan Nyata?

Benarkah Orang yang Banyak Omong di Medsos Memiliki Sifat Pendiam di Kehidupan Nyata?
credit: cognitivebehaviortherapycenter.com


Ujwar.com – Sikap seseorang kadang emang gak bisa ditebak. Sama halnya dalam kehidupan nyata, dan media sosial. Bisa saja berbanding terbalik dengan yang sebenarnya. Setuju?

Tidak usah berbicara jauh-jauh, saya akan membicarakan diri saya sendiri. Perbedaan saya di media sosial dan dunia nyata.

Kata warga medsos, saya itu ramah, homoris dan menyenangkan. Tapi sebaliknya, kata sebagian orang yang mengenal saya dalam keseharian, saya ini orangnya cenderung diam, cuek dan sombong.

Baca juga:

Kenapa bisa berbeda?

Terus terang, menjadi orang dengan image sombong adalah hal yang paling saya takuti. Suer. Saya paling gak mau disebut sombong hanya karena jarang bergabung dengan teman-teman lain, atau jarang berinteraksi di keseharian.

Saya memang salah satu orang yang susah bersosial di lingkungan masyarakat. Sangat susah. Menarik diri dari lingkungan bukan berarti saya tidak mau bergabung dengan mereka, atau bahkan sombong, melainkan sifat saya memang begitu. Kaku.

Hal tersebut membuat saya mengidam-ngidamkan sosok seperti mereka. Yang ramah, juga punya selera humor dan pintar bersosial. Saya menginginkan itu. Kadang saya mengeluh, kenapa tidak seperti mereka?

Baca juga:

Well, kehadiran media sosial menurut saya adalah salah satu cara menyalurkan kemauan itu. Media sosial tidak harus bertatap muka. Media sosial tidak harus berbicara empat mata. Tidak ada kontak secara langsung. Media sosial hanya bermodal kecepatan tangan dalam menulis.

Maka, saya bebas melakukan apa yang saya mau. Termasuk menjadi orang yang benar-benar didambakan.

Kalau begitu, saya tidak menjadi diri sendiri, dong?

Gak juga. Justru, ketika kita memiliki sikap berbeda, hal itu menggambaran karakter asli. Sebenarnya kalau mau, saya bisa menjadi seseorang yang banyak omong, sama dengan di media sosial. Kalau mau, saya bisa jadi orang yang sering melucu, sama dengan di media sosial.

Di beberapa situasi, kadang saya memunculkan itu. Misal di lingkungan sekolah. Biasanya, saya akan sedikit mengeluarkan selera humor kepada anak didik ketika mengajar. Membuat suasana belajar tidak terlalu beku dan kaku.

Saya kadang memunculkan sisi banyak omong di kampus. Bersama teman-teman saya. Saya terkenal dengan image orang yang suka teriak-teriak gak jelas. Kadang bikin mereka tertawa.

Tapi itu tadi, hanya beberapa situasi yang bisa mendorong saya bersikap semacam itu. Sedangkan di lingkungan keluarga, biasa saja. Saya bahkan jarang ngomong kalau gak ada hal yang benar-benar ingin disampaikan. Di masyarakat juga begitu, saya tidak terlalu banyak berinteraksi. Padahal itu perlu kan? Ya, itulah yang sekarang menjadi PR. Bagaimana pun, saya adalah makhluk sosial.

Atau ada yang bisa bantu saya?

Bagaimana supaya sikap banyak omong saya di media sosial bisa menular di dunia nyata?

Kalau berinteraksi di lingkungan masyarakat, saya merasa risi banget. Mungkin karena pernah punya masa terpuruk. Orang-orang kampung tahu saya dari kecil. Jadi saya segan sama mereka. Padahal ni ya, saya pengin banget ikut berbaur.

Mungkin juga ini masalah kedewasaan. Saya sepertinya masih kaya anak kecil. Masih memikirkan ego, masih memikirkan ucapan-ucapan orang yang sebenarnya tak penting buat dipikirkan. Saya masih sering berasumsi, padahal belum tentu kenyataannya semacam itu.

Intinya, pertanyaan kita semua memang benar. Orang yang sering banyak berinteraksi di medsos nyatanya tidak sama dengan dunia nyata. Kenapa saya berbicara begitu? Karena saya mengalaminya. Orang-orang akan sering menemui saya di media sosial ketimbang di keseharian.

Tapi, tidak semuanya begitu. Banyak kok, orang yang di medsos menyenangkan, di dunia nyata juga menyenangkan, bahkan lebih menyenangkan.

Untuk sifat, sebenarnya kita bisa memilih. Mau jadi humoris, mau jadi pendiam, mau jadi apa pun, kita bisa. Tapi yang susah itu nyaman. Kita nyamannya di mana? Kalau nyamannya jadi orang pendiam, ya udah, nikmati. Kalau nyamannya jadi orang yang suka banyak ngomong, ya udah nikmati juga.

Manusia itu variatif. Gak semuanya harus sama. Gak semuanya harus bersikap sama. Tiap-tiap orang punya ciri khas masing-masing. Yang gak mungin bisa dipatahkan.

Pertanyaan selanjutnya, wajarkah perbedaan sikap tersebut?

Wajar-wajar saja menurut saya. Setiap orang punya keinginan masing-masing. Semua manusia itu menurutku aktor dan aktris. Pandai bersandiwara. Pandai menjadi apa dan siapa saja. Yang terpenting, tidak merugikan orang lain kan?

Lantas, bagaimana denganmu? Apakah sikapmu di media sosial dengan keseharian berbeda? Coba ceritakan di kolom komentar ya. Hihi.

8 komentar:

  1. Menurut saya sih emang pendiam
    soalnya dia lebih ke dalam hati

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ih si agan komennya gak jelas. Aku gagak faham. Haha

      Hapus
  2. Hampir prilaku Agan sama dengan saya dimana ketika bermain Sosmed selalu aktif dan humoris tapi didunia nyata malah kebalikannya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya gan. Agan sendiri nyaman gak dengan sifat semacam itu?

      Hapus
  3. Balasan
    1. Agan berarti sifatnya sama kek akuu. Hahay.

      Hapus
  4. Aku sih normal normal aja heheh tetap ganteng

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe. Pede amat nih abang Dylan. ganteng sih. Soalnya kan cowok? Ya kan :D

      Hapus

Berkomentar dengan baik ya. Ditunggu masukan yang membangun.

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html