Minggu, 01 Oktober 2017

Gara-gara Ikut Lomba Baca Puisi


W S Rendra - Credit: hipwee.com

Ujwar.com – Siapa sih yang nggak kenal puisi? Semua orang pasti tahu, apa dan bagaimana bentuk puisi. Kemudian, siapa saja penyair-penyair yang terkenal dan terkenang hingga kini. Ada berbagai jenis puisi, dari mulai puisi lama, sampai puisi modern. Dari mulai puisi sederhana, sampai puisi benar-benar butuh pemahaman mendalam.

Terus terang, aku nggak terlalu tertarik sama puisi. Sejauh berkecimpung di dunia literasi, aku belum pernah buat puisi. Serius. Ketika orang-orang pada ramai ikut lomba puisi di penerbit indie, aku malah cuek. Sama sekali gak tertarik.

Baca juga:


Namun, semua pemikiran itu mulai hilang. Sikap cuek terhadap puisi mulai terkalahkan oleh rasa kagum terhadap karya sastra yang satu ini. Tepatnya setelah aku mengikuti lomba baca (deklamasi) puisi pada tanggal 17 September lalu.

Awalnya, aku sama sekali tak tertarik buat ikut lomba baca puisi. Seperti yang kubilang, aku tidak suka puisi. Apalagi kalau disuruh baca? Ih, mana ada Ujwar bisa bermain peran ketika membacakan puisi? Yang ada, pas aku baca puisi, semua lemparin aku pakek botol.

Ketidaktertarikan itu akhirnya terpatahkan oleh diriku sendiri. Aku berpikir ulang. Setidaknya, ketika aku pernah merasakan bagaimana rasanya baca puisi, ya aku tidak penasaran lagi. Ketika kita sudah pernah melakukan sesuatu, secara otomatis, kita akan menilai sesuatu yang pernah dilakukan dengan objektif. Sementara awalnya, aku gak terlalu suka puisi, padahal tidak tahu persis alasan aku tidak meyukainya. Padahal puisi gak salah. Malah dibenci sama aku. Hahay.

Di balik itu, aku juga memang rada termotivasi oleh teman yang memang sudah jauh terjun ke dunia baca puisi sejak SMA (sementara sekarang sudah di bangku kuliah). Dia ternyata ingin merasakan kembali atmosfir persaingan dalam membaca puisi. Kebetulan sekali, ada lomba puisi yang diadakan oleh salah satu Perguruan Tinggi di Garut yang pesertanya umum. Akhirnya, dia dan aku memutuskan untuk ikut. Pengalaman, pikirku.

Aku sama sekali tidak ada basic dalam membaca puisi. Bahkantidak tahu, bagaimana membaca puisi yang bagus, bagaimana pula latihan membaca puisi yang bisa menghantarkan kita pada kemenangan. Alhasil, aku mulai cari tahu di mbah googgle dan youtube. Dan akhirnya, ada sedikit gambaran tentang baca puisi.

Sampai di hari H, aku masih cuek bebek. Maksudnya, ya biasa aja. Tidak ada excited, tidak ada hal yang membuat istimewa. Namun, perasaan cuek itu berubah ketika peserta lomba puisi remaja dimulai. Oke, lomba waktu itu memang ada dua kategori. Remaja dan Umum. Nah, pas mendengar para peserta membaca puisi, kok ada ketertarikan ya. Mungkin karena aku pertama kali ikut lomba puisi, kemudian ikut membaca berulang-ulang puisi yang dilombakan. Aku merasakan bahwa puisi itu adalah karya sastra yang istimewa.

Sampai pada peserta yang berhasil membuat aku merinding. Dia membacakan puisi Doa Seorang Serdadu Sebelum Berperang Karya W.S Rendra. Peserta ini memang sudah kukenal. Dia adik kelas di SMA tempat aku sekolah dulu. Dan ya, dia memang terkenal langgananan ikut lomba puisi. Dan puncaknya saat itu, aku menyaksikan langsung perjuangannya.

Pembawaannya yang keren membuat saya terhanyut. Beberapa kali bulu roma berdiri. Bahkan aku menggeleng-geleng. Merasakan atmosfir yang berbeda. Ruangan pun tiba-tiba berubah menjadi panas. Sampai kepada pengumuman final bagi kategori remaja.

Di sinilah awal mulanya. Sebelum para juri mengatakan 5 peserta yang lolos final, mereka memberikan kalimat-kalimat motivasi, wejangan, atau masukan tentang membaca puisi.

Kata salah satu juri (aku lupa namanya, yang jelas teman dekatnya Almarhum W.S Rendra), puisi itu sangat mahal. Amat sangat mahal. Dia sendiri pernah dibayar 150 juta untuk membaca puisi. Jadi dia berpesan untuk tetap menjaga budaya dan sastra Indonesia. Dia bukan berbicara soal nominal uangnya. Soal materinya. Melainkan soal mahalnya sebuah karya. Dan ketika seseorang sudah bisa berkarya, maka karya tersebut akan dihargai dengan tinggi, pun dikenang meski si penyair telah meninggal sekalipun.

Dari sana, aku mulai merasa tertarik dengan puisi. Meskipun sampai detik ini, aku belum kunjung membuat. Hanya sesekali membaca puisi karya teman-teman. 

Setelah beres acara remaja, sekitar pukul empat sore, dilanjut oleh peserta dewasa. Nah, di sanalah ada muncul semacam kekuatan yang membuat saya percaya diri. Terlebih setelah mendengar wejangan juri tentang membaca puisi yang benar.

Kata juri, membaca puisi itu bukan soal kita pintar berekting. Karena kelihatan sekali, mana yang berekting, mana yang benar-benar tulus. Bacalah puisi dari hati, supaya tersampaikan kepada pendengar. Dari gaya pun, para juri memberikan tips, bahwa ketika membaca puisi, kita jangan terkungkung oleh aturan lama. Artinya aturan yang harus ini, itu.  yang terpenting menurut mereka adalah ciri khas dalam pembacaan puisi.

Setelah melihat penampilan dari remaja SMP dan SMA, aku jutsru semakin exited ketika melihat penampilan para peserta dewasa. Unik. Ya, mereka membawakannya dengan cara dan ciri masing-masing. Ada yang bernyanyi (lagu daerah) dulu, ada yang menambahkan gerakkan-gerakkan semacam silat, ada yang membuat lelucon di hadapan juri, dan lain-lain. 

Aku? Merasa seru sekaligus minder. Sebab, aku merasa belum memiliki apa-apa. Hanya baca puisi. Merasa tidak punya keistimewaan apa-apa. 

Dan akhirnya, tibalah giliranku untuk membaca puisi. Ada nervous sedikit. Tapi ya, setelah berdiri di hadapan audience, rasa nervous itu hilang perlahan-lahan. Sampai aku membacakan suatu puisi. Yang aku rasakan ketika membaca puisi adalah; tidak tahu apa-apa yang terjadi di hadapanku. Apakah itu bentuk sebuah penghayatan? Bisa jadi. Sebab, pas aku membaca, aku merasa merasuk ke dalam puisi itu. Meski aku tidak tahu, bagaimana penerimaan pendengar.

Di akhir lomba, apakah aku menang? 

Tidak. Bahkan pikiranku tidak sampai ke sana. Aku hanya menang melawan ego yang tak terlalu peduli dengan karya sastra. Berkat lomba itu, banyak sekali pejaran yang dapat kuraih. Salah satunya mulai peduli dengan puisi. Dan suatu saat, mungkin aku akan mulai merambah ke dunia poetry. Tidak hanya di fiksi. Dan ya, ketika kita mulai melakukan hal baru, ada semacam penyemangat yang terus mendorong untuk mencoba hal-hal baru.

Sejak saat itu pula, aku merasa bahwa aku telah jatuh hati kepada puisi.

0 komentar:

Posting Komentar

Berkomentar dengan baik ya. Ditunggu masukan yang membangun.

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html