Rabu, 11 Oktober 2017

Jangan Berani Berekspektasi Kalau Masih Takut Gagal

Jangan Berani Berekspektasi Kalau Masih Takut Gagal
sumber: google.com


Ujwar.com – Setiap orang pasti ingin sukses. Kesuksesan itu dicapai dengan cara bekerja keras dan melakukan apa pun yang bisa dilakukan untuk tercapainya sebuah usaha. Ketika kita merasa sudah bekerja dengan baik, mempersiapkan segalanya dengan matang, maka akan muncul hal yang bernama ekspektasi. Tentu saja, ekspektasi ini berhubungan dengan pencapaian atas apa yang telah diperjuangkan.

Ekspektasi sendiri berasal dari Bahasa Inggris, yaitu expectation, yang artinya harapan. Jadi, sederhananya, ekspektasi itu harapan seseorang yang berhubungan dengan hasil.

Pernah berekspektasi?

Saya yakin, kamu pernah bereskpektasi. Contohnya: ketika kamu sudah tampil dengan baik, kemudian akan muncul ekspektasi untuk menjadi juara. 

Ekspektasi di sini sebenarnya bermakna baik. Sebab, ketika ada ekspektasi yang tinggi, berarti seseorang  memiliki rasa percaya diri yang tinggi, juga merasa bahwa dirinya benar-benar optimis dengan apa yang telah dilakukan.

Ketika sesuatu sesuai dengan ekspektasi, tak jarang kita akan merasakan kebanggaan tersendiri. Sebab harapan yang didambakan akhirnya berujung ke dalam hal nyata.

Tapi nyatanya, ekspektasi kadang selalu berbanding terbalik dengan kenyataan. Ketika harapan kita A, maka bisa jadi yang terjadi malah B. Dan ketika seseorang bisa berekspektasi, tetapi kemudian tidak bisa menerima hasil di luar espektasi, maka itulah yang disebut gagal.

Baca juga:

Pernah gagal?

Saya yakin, semua pernah.

Pernah takut gagal?

Kalau yang ini, saya rasa bukan hanya pernah, tetapi selalu mneghantui setiap saat. Takut gagal adalah penyakit. Maka, ketika kamu sudah menaruh ekspektasi yang besar, jangan pernah takut gagal. Karena hal itu menggambarkan, bahwa dirimu tidak bermental kompetisi. Bukankah seseorang yang senang berkompetisi harus senantiasa menerima kegagalan?


Ilustrasinya begini:

Suatu hari, seseorang mengikuti lomba pidato. Dia sudah berlatih dengan sangat giat, bahkan telah menonton berbagai macam pidato yang dijadikan sebagai sumber dan referensi. Baik dari cara penyampaian, atau pun hanya sebatas pembanding.

Ketika latihan, dia sudah merasa cukup baik, bahkan sangat baik. Sebab banyak menuai pujian dari orang yang menontonnya pertama kali. Contoh pengajar atau pelatih. Hal tersebut menjadikan dia percaya bahwa dirinya akan menjadi pemenang.

Singkat cerita, sampailah kepada hari H lomba. Dia antusias sekali mengikuti acara lomba, terlebih ketika melihat peserta lain. 

Dalam hati, muncul pikiran bahwa penampilan mereka tidak cukup baik dibanding penampilannya sendiri. Sehingga dia benar-benar yakin 100%, bahwa dirinya akan menjadi juara dalam perlombaan tersebut. Dalam kata lain, dia bereskpektasi sangat tinggi.

Selain itu, dia juga memiliki pikiran yang cenderung beremosi. Semacam sombong. Karena disadari atau tidak, dia telah menyepelekan penampil lain.

Hingga sampailah kepada dirinya yang tampil. Dengan sangat bercaya diri, dia berdiri di podium, dengan tegap dan berwibawa. Dia sangat yakin dengan apa yang disampaikan.

Baca juga:

Setelah itu, sampailah kepada waktu pengumuman. Semua orang berharap bahwa masing-masing dari dirinya ingin menang. Pun dengan orang yang berekspektasi tadi. Dia bahkan cenderung memaksa, bahwa dirinya harus menjadi juara.

Namun, apa yang terjadi?

Ternyata dia tidak menjadi juara dalam perlombaan tersebut. Tentu saja syok. Padahal, dirinya merasa sangat baik menyampaikan apa yang telah dipelajari. Tapi kenapa malah tidak menang?

Dia merasa kecewa, bahkan cenderung menyalahkan juri, bahwa mereka tidak melakukan penilaian dengan baik. Dia menuduh orang telah bermain belakang. Dia berpikiran buruk kepada setiap peserta yang memenangkan lomba.

Apakah salah? 

Salah.

Tanpa disadari, dia memiliki  ekspektasi, tapi ternyata masih takut gagal. Bukan hanya takut gagal, bahkan dia tidak ridho dirinya gagal.

Apa yang kurang dari dia?

Jawabannya adalah kurang ikhlas dan kurang menerima.

Ketika menyampaikan pidato, dia tidak sedang dalam keadaan ikhlas, tetapi sedang dalam keadaan ngotot, emosi, bahwa dia akan menang. Sementara, dia tidak memikirkan isi dari pidato itu sendiri. Dia tidak memerhatikan, apakah pendengar ikut merasakan apa yang dia sampaikan? Apakah juri terkesima atas apa yang dia sampaikan?

Baca juga:

Kesombongan akan terlihat. Ketidakikhlasan akan terpampang meski kita tak menjelaskan sekalipun. Sebab, sebuah penampilan sama halnya dengan seni. Seni akan bisa dinikmati jika si penyampai telah merasuk bersama apa yang ingin disampaikan.

Ikhlaslah dalam menyampaikan sesuatu. Kadang ketulusan akan mengalahkan sesuatu kata pamungkas seperti “bagus” sekalipun. Konteks bagus dan tulus jelas berbeda. Tulus, sudah pasti bagus karena bisa menyampaikan dengan baik, juga bisa menyeret pendengar untuk memberikan apresiasi yang lebih. Sementara bagus, belum tentu tulus. Sebab bagus bisa dilihat dari teknik, tetapi tidak bisa dirasakan dengan perasaan.

Sementara, selain tidak ikhlas, orang tadi tidak menerima. Alias takut gagal. Seharusnya, ketika mengikuti sebuah kompetisi, seseorang harus siap untuk gagal dan kalah. Ketika kita sudah berharap akan menang, jangan lupa, bahwa kemenangan itu pun belum tentu. Meskipun dalam segi penampilan, banyak yang bilang bagus.

Saya pernah mendengar kalimat motivasi dari guru tercinta saya. Kurang lebih katanya seperti ini, “Menang itu bukan tujuan utama. Yang penampilannya buruk bisa saja menang, yang penampilannya keren bisa saja kalah. Tujuan utama kita adalah menampilkan yang terbaik dari diri kita. Berdasarkan apa yang kita rasa, berdasarkan tingkat dari rasa menerima yang begitu besar.”

Pernah menang lomba, padahal tak pernah berharap menang?

Pernah tidak menang lomba padahal kita sudah berharap tinggi?

Itulah bagian dari ikhlas dan menerima. Ketika seseorang tidak bisa menerima, maka akan terjadi keburukan. Yaitu berburuk sangka kepada orang lain.

Maka, ketika ingin mengiikuti lomba, sangat boleh berekspektasi tinggi. Ekspektasi bagian dari diri yang harus ada. Tapi di balik itu, jangan takut untuk gagal. Sebab, ketika ekspektasi tersebut tidak tercapai, maka kita akan menjadi orang buruk.

“Kok dia menang ya, padahal aku lebih bagus!”

“Jangan-jangan dia nyogok juri!”

Ketika kita tak menerima kegagalan, maka akan ada hal-hal negatif dalam diri.

Mulai sekarang, kita harus belajar menjadi seseorang yang lebih ikhlas dalam melakukan sesuatu. Yang lebih menerima ketika ada kegalan. Dengan begitu, semangat kita tidak akan pudar. Kita tidak akan jatuh ke dalam jurang kegagalan yang lain.

Mari berharap, mari berekspektasi, tapi ingat, tunjukkan kalau kita adalah seorang petarung tangguh. Yang tetap tersenyum meski tidak ada dalam deretan terbaik. Sebab, hal tersebut yang akan membuat kita terus kuat untuk mengejar mimpi-mimpi lain dalam kehidupan.

Fighting! 

2 komentar:

  1. kadang memang begitu, tapi dengan ekspetasi kita bisa mendapat semangat juang juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. sip. Memang. Ekspektasi tinggi boleh banget

      Hapus

Berkomentar dengan baik ya. Ditunggu masukan yang membangun.

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html