Saya dan Ujwart Media Publisher

Saya dan Ujwart Media Publisher
Ujwart Media Publisher


Ujwar.com – Bisa menerbitkan buku adalah cita-cita saya dari dulu. Tak peduli indie atau mayor. Lagian, waktu itu saya tidak tahu bahwa ada dua jenis penerbit. Dan ya, yang ada di pikiranku saat itu hanya bisa memegang karya sendiri, tak lebih.

Baca juga:

2015, saya berhasil menerbitkan karya pertama, kumpulan cerpen, yang justru menelan banyak kekecewaan karena hasil cetak yang buruk. Benar. Meski saya tidak tahu menahu soal buku, tetapi dengan melihat hasil cetakan yang tidak sesuai dengan buku-buku yang pernah saya lihat tentu menjadi tanda tanya. Pernah mem-fotocopy buku? Yups, cetakan bukuku persis seperti itu. Bahkan, lem dan potongan bukunya sangat tidak rapi. Namun, waktu itu saya memilih bungkam. Mencetak 10 exemplar buku pun saya simpan. Beberapa dibagikan kepada teman-teman, juga kepada murid-murid saya di sakolah. Saya tidak menjualnya, sebab merasa tidak sesuai. Saya juga tidak memberitahukan masalah tersebut kepada owner penerbit. Saya tahu, dia sudah memperjuangkan naskah, tetapi hanya bermasalah di percetakkan.

Setelah buku itu terbit, saya kembali menerbitkan buku di salah satu penerbit indie. Waktu itu novel. Hasilnya bagus, tetapi harganya mahal menurut tangan saya. Sedangkan saya hanya mendapatkan royalti 10 persen. Dan lagi, buku hanya terjual beberapa exemplar saja. 

Dari sana, setelah menerbitkan dua buku, saya justru merasa tidak cukup puas. Sebab, kedua buku yang telah terbit ternyata tidak sesuai ekspektasi. Hingga memutar otak. Bagaimana caranya agar saya bisa menerbitkan buku, tanpa harus mengeluarkan uang banyak. Bagaimana pula, saya bisa membantu orang-orang yang mau menerbitkan buku dengan biaya penerbitan yang murah.

Terpikirkanlah untuk membuat sebuah penerbitan. Saya sangat antusias. Terus terang, yang ada dipikiranku saat itu bukan hanya tentang ingin cepat menerbitkan buku, tetapi juga mencoba mengubah tarap hidup. Mencoba bisnis di usia muda? Kenapa tidak?

Kebetulan, waktu itu saya habis pulang merantau. Memiliki sedikit uang untuk modal ini dan itu. Dan pada tanggal 3 Januari 2016, berdirilah Ujwart Media Publisher. Lini dari salah satu penerbit Indie yang sudah memiliki akta notaris.

Dari sana, saya melakukan usaha dengan sangat bersemangat. Mulai membuat akun facebook, membuat grup, mengadakan lomba menulis kecil-kecilan, dan mengadakan latihan menulis dengan langsung praktek di grup Ujwart Media Publisher.

Dalam pengerjaan layout, editing, dan cover, saya mengerjakannya sendiri. Saking semangatnya. Dan yaa, pengerjaan itu hanya bertahan selama kurang lebih 10 bulan. Lama-lama bosan juga. Pekerjaan lain pun terbengkalai.

Keuntungan dari penerbitan?

Ya, lumayanlah. Saya waktu itu hanya mengandalkan pemasukan dari hasil penjualan buku event. Meskipun, kadang hanya satu dua orang yang beli. Itu juga orang-orang yang ikut event-nya. Tetap disyukuri, sebab niat awalnya memang karena ingin membantu mereka mengasah  kemampuan menulis.

Saya tidak pernah mewajibkan para peserta untuk membeli buku. Siapa yang mau, ya boleh beli. Sementara juara-juara dari event yang Ujwart adakan biasanya akan diberikan paket penerbitan. Saya ingin memberi mereka kesempatan untuk bisa menerbitkan buku secara solo stau buku terbit gratis. 

Dengan Ujwart Media, saya sudah bisa jajan bakso dari hasil jerih payah sendiri. Dan itu menyenangkan.


Masalah Di Ujwart Media

Jangan dikira, membangun sebuah usaha itu adem ayem. Tidak ada halangan. Tidak ada rintangan. Nyatanya, banyak sekali yang menjadi pelajaran bagi kelangsungan proses pendewasaan hidup saya.

Salah satu masalah yang kadang sering buat stres adalah menghadapi penulis yang cerewet. Mereka selalu bertanya setiap saat.  Aduhai, saya yakin, mereka sangat antusias dengan proses bukunya. Dan hal itu tentu saya alami ketika menunggu proses pengiriman buku. 

Namun, justru penulis-penulis cerewet itu yang menjadi penyemangat bagi saya. Suer. Di sisi lain, mereka mengajarkan bagaimana harus menjadi orang yang tangggung jawab dan professional. Merekalah yang membuat saya, pun usaha yang dijalani sedikit-sedikit mulai berkembang.

Bulan Agustus 2016, teman dekat, yang sudah saya anggap sebagai kakak sendiri menawarkan peroses penawaran CV yang murah. Kurang dari satu juta. Karena memang ingin segera berdiri sendiri, maka saya berjuang mengumpulkan uang. Kemudian dibayarkan kepadanya dengan segala persyaratan yang diminta. Impianku akan segera terwujud, pikir saya waktu itu.

Hari berjalan hari, bulan berjalan bulan, terdengarlah kabar mengejutkan. Orang yang amat sangat saya percayai ternyata mendapatkan terpaan masalah yang mengakibatkan dia harus pergi dari Garut. Saya tidak akan menyebut masalahnya apa. Yang jelas, saya hanya mempertanyaan, bagaimana nasib CV Ujwart yang diurus olehnya? Sementara dia susah dikontek.

Sampai pada bulan Agustus 2017 kemarin, saya tersenyum. Satu tahun sudah saya bermimpi memiliki CV, lalu sukses atas nama Ujwart sendiri, ternyata sia-sia. Dan lagi, proses pembuatan CV tersebut masih saya pikirkan sampai saat ini.

Apa kabar orang itu?

Saya kembali menjalin komunikasi saat ini. Waktu itu, dia ada di Jakarta. Dan dia minta maaf kepada saya dengan segala kesalahan. Ya, kecewa tetap ada, namun saya harus belajar untuk ikhlas. Saya memaafkannya, tapi tetap menunggu itikad baiknya untuk menyelesaikan masalah CV.

Kembali ke tahun lalu,  November 2016, Ujwart dilanda masalah yang lebih besar. Berkenaan dengan buku-buku cetakan. Dalam waktu 3 bulan, buku cetakan Ujwart belum kunjung beres. Dan hal itu membuat para penulis yang memesan buku atau menerbitkan buku merasa ditipu. Hingga sebagian demo, dan sebagian koar-koar di media sosial. Perlu diketahui, karena Ujwart itu lini, maka saya diwajibkan cetak di induk.

Dari masalah itu, saya melepaskan diri dari induk penerbitan karena merasa dikecewakan. Bagaimana mungkin, selama tiga bulan itu, ketika saya tanya bukunya sudah selesai atau belum, jawabannya sudah. Dan ketika dimintai resi tidak membalas. Bahkan, (mungkin) karena kesal saya terus inbox dan WA, owner induk dari penerbit saya tak membalas. 

Namun, kembali lagi kepada takdir. Saya rasa, masalah semacam itu adalah proses pendewasaan. Dan tetap saya syukuri. Saya tidak menyalahkan siapa pun, termasuk Induk Ujwart yang dulu. Saya berpikir untuk mengikhlaskan semuanya. Meskipun, tak ada kontak antara saya dan dia. Saya sudah telanjur kecewa waktu itu, sehingga memutuskan untuk mengakhiri pertemanan facebook. Lantas memulai kembali dari awal.

Tahun baru 2017, setelah melepaskan diri dari induk, saya kepusingan kembali. Ternyata tidak mudah berdiri sendiri. Sebab Ujwart media belum punya CV, dan tidak bisa mendaftar ISBN ke PERPUSNAS. Akhirnya, ada malaikat penolong. Saya meminta bantuan kepada Kak Musafir Kelana, owner dari CV SAWEU PENA PUBLISHER. Dialah yang menolong saat saya benar-benar di bawah. Beberapa buku yang telanjur diterbitkan di-Ujwart, akhirnya didaftarkan ISBN oleh Kak Lana, dengan sistem kerjasama. Saya bersyukur waktu itu. Sangat amat bersyukur. Terima kasih Kak Lana atas kebaikkannya. Semoga Allah membalas dengan hal yang lebih.

Setelah ISBN dari beberapa buku terdaftarkan menggunakan CV SAWEU PENA PUBLISHER, saya kira masalah sudah selesai. Ujwart kembali adem. Nyatanya?

Waw, justru masalah kembali muncul. Lagi-lagi berhubungan dengan percetakkan. Ya, setelah ISBN terdaftar, banyak orang yang memesan buku, akhirnya saya mencetak buku di salah satu percetakkan besar di Yogyakarta. 

Awalnya, percertakkan itu fast respon. Sampai pada akhirnya saya percaya dengan kinerja percetakkan tersebut. Namun, lama-kelamaan, percetakkan itu kembali menunjukkan hal-hal aneh. Ketika Ujwart mencetak, buku tersebut tidak kunjung selesai. Sampai tiga bulan. Bayangkan, tiga bulan. Persis ketika saya cetak di Induk Ujwart sebelumnya. Walhasil, para pemesan buku-buku Ujwart kembali heboh. Menganggap saya tidak bertanggung jawab, menganggap Ujwart menipu.

Saya terima pernyataan mereka, sebab, itu semua memang kesalahan saya sendiri. Saya kurang teliti dalam memilih mitra usaha. Sehingga, hasilnya tidak memuaskan.

Sampai pada akhirnya, saya ikut koar-koar di facebook. Meng-klarifikasi masalah di sana sini, bahkan mencoba menggertak pihak percetakkan dengan mentag nama FB-nya. Dan apa yang terjadi? Banyak sekali orang yang malah tidak percaya atas indikasi tersebut. Mereka lebih percaya kepada percetakkan yang memang sepak terjangnya sudah sangat lama. Dan menjadi langganan mereka.

Dari sana, saya disudutkan oleh beberapa pihak. Termasuk owner dari percetakkan itu sendiri. Mereka mengancam, katanya akan menyeret saya atas pencemaran nama baik. Lha, bukannya mereka yang tak professional? Kenapa malah saya yang diancam. Justru seharusnya hak saya dipenuhi sebagai pelanggan.

Di balik itu, ada beberapa orang yang menguatkan saya. Diantaranya Yuli Triyuliani. Saya curhat ke dia masalah penerbitan. Dan dia salah satu orang yang tau seluk-beluk Ujwart seperti apa. Dia tahu bagaimana stres-nya saya. Dia tahu bagaimana down-nya saya atas masalah tersebut. Selain Yuli, juga ada Teh Rizka Pipit Elawati (salah satu penulis yang menerbitkan buku di Ujwart) yang sangat-sangat baik. Ya Allah, saya selalu berdoa agar orang-orang baik seperti mereka diberi hal-hal yang lebih baik. 

Sampai akhirnya, buku selesai. Alhamdulillah, saya mengucap syukur waktu itu. Buku sampai ketangan saya. Iya, sebelumnya, saya memang mengantisipasi buat cetak ulang di tempat lain, walhasil, ada dua cetakkan alias double. Mau bagaimana lagi, ini risiko. Dan uang tabungan Ujwart untuk membuat CV pun kekuras habis. 

Buku-buku cetakkan yang ada sebagian menjadi koleksi Ujwart. Sebagian lainnya saya sumbangkan kepada anak-anak didik di sekolah dengan izin terlebih dahulu kepada penulisnya. Dan sisanya, masih saya jual bersama penulis buku tersebut.

Namun lagi-lagi, saya memilih memutus hubungan dengan mitra usaha yang telah membuat saya kecewa. Saya hanya ingin tenang. Dan tidak ingin mengenal orang-orang semacam itu. Saya bertekad untuk memilih percetakkan yang benar-benar amanah. Dengan segala keterbukaan jika ada masalah.

Ujwart sudah cukup lega dengan terselesaikannya masalah tersebut. Para penulis kembali memaklumi. Dan saya bisa membuktikan ke mereka, bahwa saya tidak menipu. 

Setelah masalah itu kuanggap clear, saya kembali kebingungan berhadapan dengan ISBN. Saya masih belum memiliki CV. Saya juga bukan lini dari siapa-siapa. Akhirnya, saya iseng inbox teman facebook. Namanya Ariny Nurul Haq. Salah satu motivasi saya juga.

Kak Ariny ini adalah seorang novelis yang sudah menghasilkan puluhan novel meskipun dia memiliki kekurangan. Dia seorang difabel yang tangguh dengan segala prestasinya. Selain itu, dia juga pernah diundang ke Anugrah Tsel, Hitam Putih, dan beberapa TV lokal dan media cetak.

Dan yang paling hebat, Kak Ariny juga punya penerbitan indie. Namanya Arshaa Teen. Ya, saya iseng tanya ke dia, siapa tahu ujwart bisa jadi lini dari AT. Ternyata, AT juga masih sistem kerjasama dengan penerbit lain, yaitu Multisia.

Atas bantuannya, Ujwart akhirnya tetap berdiri sendiri, sedangkan untuk ISBN, saya melakukan sistem kerjasama dengan Multisia atas bantuan Kak Ariny. Thanks a lot Kak Ariny, sukses terus. Thanks juga buat Mbak Vanny selaku owner Multisia. Mbak Vanny ini seorang novelis yang buku-bukunya sudah mejeng di toko buku.

Alhamdulillah, sampai saat ini Ujwart masih ada. Terus terang, segala hal mengenai sistem penerbit indie yang kukelola masih diperbaiki sambil berjalan. Sedikit-sedikit. Meskipun masih ada yang kutunggu. Apak kabar CV yang kubuat? 

Oke, saya hanya menunggu itikad baik dari orang yang benar-benar saya anggap sebagai seorang motivator ketika saya terpuruk. Sampai saat ini pun, saya masih menjaga hubungan baik dengannya. Dengan segala rasa kecewa yang pernah dirasakan, saya masih sedikit berharap bahwa dia akan menyelesaikan masalah itu.

Saat ini, Ujwart sudah mulai dikenal. Bukan lagi saya yang mempromosikan penerbit, namun mereka yang mengontak saya jika ada naskah yang mau diterbitikan. Syukur saya panjatkan. Hal ini membuat saya semakin semangat untuk terus berjuang.

The next, saya yang awalnya ngebet nerbitin mayor, akan mulai mneerbitkan buku secara indie di penerbitan yang kukelola sendiri. 

Saya sudah ditolak lebih dari 10 kali penerbit mayor lho. Dan ya, berarti kualitas tulisan saya belum mempuni. Maka, saya akan terus belajar membuat tulisan yang baik. Bersamaan dengan mengurus kelangsungan penerbit yang saya kelola, juga kelangsungan naskah-naskah yang pernah saya buat. Inshaa allah, saya akan terbitakan beberapa diantara naskah tersebut di Ujwart Media Publisher.

Oh iya, meski ditolak, Agustus kemarin, kumpulan cerpenku bersama empat kawan lain ternyata di-ACC oleh Penerbit Scritto Books. Dan alhamdulillah, inshaa allah akan tersebar di toko buku gramedia seluruh Indonesia. Terima kasih Pak Dominic dan kawan-kawanku. Kak Erby, kak Damar, Genta dan Kak Baiq. Kalau tidak ada kalian, dua cerpen saya mungkin sekarang tidak akan bersanding dengan cerpen-cerpen kalian yang keren. Next, naskah soloku yang akan mejeng di toko buku. Yeay .... (semoga). Bagi yang mau pesen kumcer DARAH, boleh inbox saya di facebook ya (sekalian promosi gak apa-apa, kan, hehe).

Itulah perjuangan saya dalam mendirikan Ujwart Media. Lumayan ruwet. Tapi, itu bukan apa-apa. Masalah akan selalu ada, dan ya, saya hanya akan hadapi dengan lapang dada. 

Oh iya, saya mau berterima kasih kepada teman dekat saya. Awalnya, nama penerbitku adalah Ujwar Media. Namun, Deni Safari (yang juga membuatkan logo Ujwart) menambahkan T dibelakang R. Sehingga namanya jadi terlihat lebih menarik. Ujwart Media. Terima kasih banyak sahabatku. Semoga segala bantuan dan kebaikkanmu dibalas oleh Allah. Saya tidak akan pernah lupa atas bantuan itu.

Terima kasih pula buat team Ujwart, Kak Tedy, Kak Endah, Kak Kholillah, Kak Nuning, Yuli, dan semua jajaran yang sudah ada dan membantu dalam proses penerbitan buku. 

Terima kasih juga kepada kalian yang sempat membuat saya down.

Intinya, semua orang yang mensupport, pun yang awalnya menjatuhkan adalah sama-sama orang yang ingin melihat Ujwart maju. Maka dari itu, saya ucapkan banyak terima kasih kepada kalian yang sudah ada diantara saya dan Ujwart Media. Tanpa kalian, Ujwart bukan apa-apa. Dan semoga Tuhan membalas segalanya. Aamiin. 

Saat ini? Ujwart Media  berjuang dari nol lagi. Mempersiapkan sesuatu yang berbeda dari yang lain.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Saya dan Ujwart Media Publisher"

Posting Komentar

Berkomentar dengan baik ya. Ditunggu masukan yang membangun.