15 Cara Ampuh Agar Tulisan Kita Tembus Penerbit Mayor

15 Cara Ampuh Agar Tulisan Kita Tembus Penerbit Mayor
credit: becomingpeculiar.com


Ujwar.com – Holaaa, aku mau ngasih tau dulu, kalau di bulan ini, aku agak malas nulis blog. Dan karena lagi ngirimin naskah ke penerbit mayor, jadi deh punya ide buat ngasih tips tembus penerbit mayor. 

Oke, pertama-tama, sebelum benar-benar maju ke tips tembus mayor, aku harapkan teman-teman sudah punya tulisannya untuk kemudian dikirimkan ke penerbit. Kalau pun yang belum punya, minimalnya sudah punya niat buat nulis sesuatu yang keren. Oke? Hehehe.

Terus terang, naskah soloku belum pernah tembus mayor, padahal sudah mengirim ke lebih dari 10 penerbit mayor dengan naskah berbeda-beda, dan semuanya ditolak. Tapi alhamdulillah, ada satu naskah keroyokan yang lolos. Inshaa allah tersebar di seluruh toko buku Indonesia awal 2018 ini. Mungkin Allah ngasih cara lain untuk buat aku bahagia. Salah satunya ngasih kesempatan buat kerjasama nulis sama Kak Erby, kak Baiq, Genda dan Kak Damar. 

Di balik aku yang ditolak sekian belas kali oleh penerbit, tentu saja aku tidak bosan untuk memperbaiki yang salah. Aku merivisi naskah, meminta bantuan orang-orang yang sudah pernah menerbitkan mayor, hingga mengetahui beberapa trik dan tips dasar agar naskah kita tembus. Mau tau kan tipsnya?

Baca juga:


Oke, daripada terlalu lama, saya tuliskan 15 tips agar naskah tembus penerbit mayor:

1. Punya Tulisan

Ini sudah sedikit aku singgung ya guys. Kalau mau tembus mayor ya punya naskah, kemudian kirim. Banyak diantara para penulis pemula, yang sering nanya, “Cara tembus mayor gimana sih?”

Lalu pas saya tanya balik, “Naskahnya udah ada belum?”

Malah senyum dan berkata, “Baru mau nulis!”

Yaelah. Mulai sekarang, mending nulis dulu yang banyak. Baru kemudian cari tahu soal cara mengirimkan naskah ke penerbit mayor.  Intinya, siapkan senjata dulu sebelum bertempur. Moso pengen jadi penulis, tapi naskah belum ada? Oalah. Siap menulis? Oke, siaaap.

Baca juga:

2. Tulis Naskah yang Populer

Yups. Penulis bukan hanya bertugas untuk menulis, tetapi juga menjual bukunya setelah terbit. Kalau kita bisa menulis, tulislah sesuatu yang memiliki pangsa pasar yang luas. Alias berpeluang jadi buku best seller atau minimalnya laku deh meski gak best seller. Bukan apa-apa, penerbit itu pasti melihat peluang tersebut. 

Contoh tulisan yang sedang populer menurut kacamata saya adalah novel remaja ala-ala badboy. Kemudian tulisan-tulisan horor atau misteri. Lihat saja film-film yang diangkat dari novel tahun ini. kebanyakan horor dan novel remaja.

3. Aktif Bermedia Sosial

Media sosial sekarang seakan jadi tolak ukur untuk suksesnya suatu usaha atau bisnis. Begitupun dalam dunia menulis. Kebanyakan penerbit akan melihat biodata penulis. Apakah dia aktif di medsos? Punya blog? Atau punya followers banyak di medsos?

Sebut saja blog pribadi, instagram, twitter, bahkan wattpad yang sekarang mendapatkan tempat yang amat luas di sisi penerbit. Mereka yang punya tulisan menarik, punya pembaca banyak, tentu saja memiliki peluang besar untuk bisa memaksimalkan penjualan buku. Lihat deh di toko buku, buku-buku wattpad sekarang mendominasi. Bagi yang aktif di wattpad sejak tiga tahun, empat tahun, atau bahkan lima tahun lalu, pasti sekarang sedang menerima hasil. Artinya, mereka mencoba menyalurkan hobbi di media, dan di waktu yang indah, buku mereka bisa dikonsumsi juga secara lebih luas dalam bentuk cetak. Keren kan?

Aku pun nyesel guys. Tahun 2015 udah buat akun wattpad, tapi gak aktif. Dan yaaaa, sekarang giliran ngiri. Tapi gak hanya ngiri sih, diimbangi dengan perjuangan dan doa. Nulis sebanyak-banyaknya, bersosial dengan baik, menggunakan media sebaik-baiknya. Inshaa Allah, apa yang kita tanam akan kita panen dikemudian hari. Jangan takut.

Baca juga:

4. Memiliki Peran Penting

Disadari atau tidak, orang yang punya peran besar dalam kehidupan cenderung lebih cepat diterima. Alasannya tetap sama: peluang. Contohnya, penerbit akan sangat senang menerbitkan buku orang-orang penting. Misal gubernur, presiden, ketua komunitas terkenal, artis, dan lain sebagainya.

Kamu punya peran penting gak dalam kehidupan?

Punya, min. Aku punya peran penting di hati, Doi.

Eaaaa. Haha.

Intinya, bangunlah image dari sekarang. Lakukan sesuatu yang bisa membuat kita lebih luar biasa. Inshaa Allah, kita akan diterima orang orang-orang luas. 

5. Punya Attitude Baik

Penerbit tidak suka sama orang yang memiliki sifat tidak sopan. Bagaimana bentuk ketidaksopanan itu?

Kamu pernah ngirim naskah kan ke penerbit? Ngasih kata pengantar gak?

Sebenanrya, hal itu amat simpel. Tapi coba pikirkan, kalau kita masuk ke rumah orang, tanpa salam, tentu saja itu hal buruk. Begitupun dengan mengirim tulisan meskipun lewat email. Kasih salam di badan email, jelaskan maksud dan tujuan.

Hal lain yang kadang membuat penerbit tidak suka adalah bom email, bom DM dan bom inbox di akun-akun media sosial mereka. Kadang banyak penulis yang tidak sabaran. Baru mengirim naskah dua hari sudah inbox ke penerbit. Duh, mninimal sebulan, dan maximal tiga bulan. Malah aku sampai sekarang digantung sama penerbit mayor. Gak ada kepastikannya. Sudah hampir setahun. Sakit kan? Intinya, ngirim naskah itu harus benar-benar sabar.

Baca juga:

6. Perbanyak Link

Salah satu yang buat dua cerpenku terbit bersama 4 penulis lain di penerbit mayor, itu karena link. Aku kenal sama salah satu penulis mayor yang naskahnya sudah sering terbit. Bukan hanya sekala nasional, tetapi internasional. Aku diajak nulis bareng sama dia. Dan karena dia juga mayan kenal sama pihak penerbit, jadi lumayan gampang buat sekadar tanya-tanya. Naskah yang dibutuhkan apa? Tipenya bagaimana. Ini amat penting, supaya tulisan yang kita tulis bisa membidik sasaran dengan tepat. 

Nah, bagi kamu yang aktif di media sosial, sering-seringlah aktif mengikuti akun medsos penerbit. Jadi ketika ada suatu info, kalian bisa melakukan sesuatu lebih luas ketimbang yang tidak mengikuti. Intinya, harus pandai memanfaatkan peluang.

Baca juga:

7. Pelajari Buku yang Diterbitkan

Ssaya pernah baca tulisan ka Arumi. Salah satu tips agar tulisan kita di-ACC penerbit adalah dengan cara riset, buku apa yang sering diterbitkan? Tipe tulisan apa yang disukai mereka?  Salah satu caranya adalah membeli buku penerbit yang dibidik.

Misal, kita ingin menerbitkan buku di Gramedia, cobalah baca-baca buku hasil terbitan Gramedia. Setidaknya ada gambaran soal bukunya. Kalau gak bisa beli, bisa kok jalan-jalan ke toko buku, mencoba membaca bagian back cover  buku-buku terbitan penerbit tertentu.

8. Mengirimkan Naskah Ke Penerbit yang Tepat

Nah, nomor delapan ini bisa jadi sering kita lakukan. Misal, sebuah penerbit menerima naskah islami, tapi kita malah kirim naskah romance remaja yang terkesan menye-menye, alay, atau remaja banget. Bisa saja akan ditolak, sebab, hal itu tidak sesuai dengan visi misi penerbit.

Sebagai penulis, kita harus benar-benar cerdas memilihkan rumah untuk tulisan kita. Tentunya yang sesuai dengan karakter tulisan kita.

9. Tulis, Kirim, Tulis, Kirim Lagi

Jangan pernah puas dengan satu naskah yang dikirim. Cobalah mengirim tulisan ke banyak penerbit. Jadi, kamu harus punya banyak stock naskah. Ketika sedang menunggu info dari penerbit, apakah di ACC atau tidak, maka pergunakan waktu tersebut untuk menulis lagi. Sehingga bisa terus mengirim ke penerbit. Jangan pernah bosan. Kalau pun misal ditolak, perbaiki, kirim lagi ke penerbit berbeda.

Baca juga:

10. Naskah Rapi

9 hal di atas, adalah hal-hal yang berhubungan dengan sikap, sosial, serta kehidupan kita. Sementara, nomor 10  sampai akhir, saya akan bahas soal naskah itu sendiri.

Kawan-kawan, salah satu hal yang bisa menarik perhatian penerbit adalah tulisan yang rapi. Biasanya, hal pertama yang akan dilihat sebelum dibaca adalah tulisan. Apakah rapi? Penulisannya benar? Tidak banyak typo? Hoho. Silakan koreksi lagi tulisannya.

Satu lagi nih yang kadang mengganggu, banyak bingkai dan font berbelit-belit yang digunakan. Pakai font standar aja ya. Jangan gunakan bingkai-bingkai alay. Itu mempersulit penilaian editor penerbit.

11. Judul Menarik

Ini juga jadi pertimbangan ketika kita mengirimkan naskah. Salah satu hal yang membuat editor tertarik sama naskah kita adalah judul. So, buatlah judul yang benar-benar menarik perhatian orang. Jangan sampi kamu menyesal. Sudah punya naskah oke, eh, judulnya gak nendang. Hihihi. Ayoooh.

Baca juga:


12. Story Telling yang Oke

Wah, ini nih yang perlu benar-benar dipelajari. Kadang ada penulis yang nulis hal rumit, tema yang benar-benar waw, tapi ditolak sama penerbit. Bisa saja salah satu alasannya adalah story telling yang biasa saja. Story telling itu adalah cara penyampaian penulis. Tapi kadang, ada juga, yang mungkin kata sebagian orang, idenya pasaran, atau sudah sering diterbitkan, tetapi justru malah terpilih. Bisa saja karena story telling-nya baik.

Story Telling yang baik itu seperti apa? Salah satunya bisa bikin baper orang. 

Baca juga:

13. Ide yang Unik

Ide yang unik bisa jadi pertimbangan. Buatlah setidaknya ide-ide segar. Meski tema sama, misal tentang remaja, tetapi buatlah hal-hal baru. Kalau misalkan ceritanya tentang pertemuan dua anak remaja. Coba bumbui dengan hal lain. Ah, kamu pasti tahu caranya. Intinya, buat sesuatu yang baru, jangan itu-itu saja. Okeeey?

Baca juga:


14. Bikin Karakter Tokoh yang Hidup

Sebenarnya, elemen atau unsur dari novel semuanya penting. Seperti tema, latar, sudut pandang, gaya bahasa, amanat, dll. Tapi, ada satu yang perlu lebih ditonjolkan, yaitu tokoh. Buatlah tokoh yang unik, punya karakter, dan pastinya hidup. Buatlah seolah-olah tokoh tersebut ada. Bukan hanya membuat tokoh sebagai tempelan. Tetapi harus benar-benar dipikirkan.

15. Dan yang terakhir Adalah Doa

Mungkin  kamu yang baca ini, komen di dalam hati, “Elah, doa aja pakek dituliskan di tips.”

Doa kelihatan sepele, padahal apa pun yang kita lakukan, salah satunya akibat doa. Entah doa diri sendiri, atau doa dari orangtua. Orang yang berusaha, tapi tidak berdoa, berarti sombong. Sementara orang yang terus-terusan berdoa, tapi gak berusaha berarti ... Ya, kalian pasti tahu. Intinya, jangan sepelekan doa. Setelah semuanya kamu praktekan, dari 1 sampai 14. Giliran praktekkan hal yang penting dan pamungkas, berdoa. Mulailai sering bangun malam, meminta pertolongan.

Saya jadi ingat salah satu penulis yang naskahnya sudah terbit di luar negeri. Hal yang tak pernah dia lupakan adalah berdoa, mengaji, dan shalat lima waktu. Satu lagi, doa orangtua. Kalau mau ngirim naskah ke mayor, dia senantiasa meminta doa dulu kepada Mamanya. Dan terbukti, sekarang sudah menulis lebih dari 26 novel, beberapa diantaranya terbit di Malaysia. Keren kan?

Baca juga:

Nah, itulah 15 cara top buat nembus penerbit mayor. Ayo praktekkan. Ayo kita sama-sama menuju sesuatu yang kata orang itu indah. Semangaaaat!

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "15 Cara Ampuh Agar Tulisan Kita Tembus Penerbit Mayor"

Posting Komentar

Berkomentar dengan baik ya. Ditunggu masukan yang membangun.