Kamis, 15 Februari 2018

Nyari Bule di Candi Prambanan Yogyakarta

foto teman lagi pegang buku DARAH


Nyari Bule di Candi Prambanan Yogyakarta – ujwar.com

Wisata Candi Prambanan memang tempat yang gue tunggu-tunggu. Setelah kemarin menulis soal Desa Bahasa Borobudur, saatnya gue nyeritain pengalaman soal jalan-jalan di Prambanan. Gak hanya jalan-jalan sih, tapi nyari bule sebagai tugas akhir untuk penilaian.

Terus terang, pas di perjalanan, gue deg-deg-an banget. Kebayang, orang kampung kaya gue harus ngobrol sama bule. Di tempat gue juga banyak bule, terutama yang mau berkunjung ke Kawah Papandayan, tapi gue gak pernah berani nyapa. Dan di Prambanan, mau gak mau gue harus lakuin itu.

Perjalanan menuju Prambanan sekitar 1 jam. Sebelum ke Prambanan, kami memang istirahat dulu di salah satu rumah makan di Jogja. Menyiapkan amunisi dan tenaga takut-takut ditolak sama para turis. 


Sampai di Prambanan Yogyakarta




Pertama kali turun dari bus, gue langsung excited. Semenarik apa sih candi yang mengisahkan kisah cinta Roro Jonggrang itu? Kenapa gue tanya begitu? Sebab gue baru pertama kali datang ke Prambanan.

Dari parkiran bus, gue dan kawan-kawan harus berjalan jauh. Sebelum masuk, kami foto-foto bareng dulu di tulisan Prambanan. Ceritanya mau pamer sama orang-orang yang belum pernah ke sana, hehe. 

Setelah puas melakukan foto-foto, akhirnya kami masuk. Kirain, setelah masuk gerbang pembayaran, kami akan langsung menemui Candi, tetapi ternyata tidak. Candi-nya lumayan jauh dari sana. Harus jalan dulu selama beberapa menit.

Meski begitu, gue langsung awas memperhatikan wisatawan. Di sana bahkan ada 3 bule yang sedang nongkrong.

Ada kakak tingkat yang menghampiri mereka, tetapi ternyata ditolak. Bule-bule itu pada gak mau diganggu. Dan setelah melihat kejadian itu, gue makin takut euy. Takut ditolak. Ditolak itu berat. Dan muncul-lah image orang luar, kalau mereka pada sombong.

Bercerita soal turis luar negeri, sebenarnya wajah sih mereka menolak. Mereka menolak juga dengan halus. Kedatangan mereka ke Prambanan untuk berwisata dan menikmati tempat. Mereka jarang sekali mau diganggu. Tapi banyak juga yang welcome melayani orang-orang lokal.

Akhirnya, gue dan ketiga sahabat (kelompok) berjalan menuju Candi dengan perasaan was-was. Masing-masing dari kami menenteng buku catatan. Tak lupa, DARAH selalu dipelukan. Ya, dia juga sepertinya pengin foto bareng sama Prambanan.


Bangunan Kokoh Prambanan yang Menghipnotis Mata






Ketika bangunan Prambanan dari kejauhan sudah terlihat, gue langsung menelan ludah. Gila, keren banget. Biasanya, gue lihat bangunan itu di buku-buku IPS. Ini? Widih, bisa lihat secara langsung.

Kami terus berjalan hingga berada di gerbang masuk ke Candi. Nggak lama-lama, gue langsung minta foto sama orang-orang. Foto bareng DARAH dan sahabat-sahabat gue yang lain. 

Diperhatikan dari kejauhan, bangunan dan puncak-puncak Prambanan terlihat sangat elegan. Tumpukkan batu-batu itu bisa rapi dan sekeren istana. Gimana ya cara buatnya? Halah, kalau di zaman sekarang, mana bisa buat kaya gituan?

Kami memutuskan untuk masuk ke lingkungan Candi. Masih sama, nyari-nyari bule. Yah, kasihan sekali si bule ini, jadi bahan pencarian. Emang dia buronan? Kenapa nggak Pale yang dicari? Huehue.

Setiap ada spot menarik, gue langsung foto sama DARAH. Pokoknya narsis abis. Gue tahu, gue bakal tulis kisah itu di blog, makanya harus banyak gambar. Selain itu, gue juga mau pamer sama orang-orang rumah. Gak pamer itu rasanya kurang afdhal. 

Sambil menikmati suasana candi, kami terus tetap mencari turis. Melihat kelompok lain, membuat kami semakin iri. Baru datang udah pada dapat. Sementara kelompok gue? Hadeuh, belum nemu-nemu.

Sebelum menemukan bule, gue masuk dulu ke dalam candi. Tentu saja sama geng. Hahaha. Dan ternyata, di dalamnya itu kaya kamar ya. Yang selalu dipertanyakan, rapi banget tuh bangunan. Padahal terbuat dari batu. Keren gak tuh? Itu buatan Bandung Bondowoso kan waktu mau dapetin Roro Jonggrang? Duh, romantis banget ya. Dilan juga kalau romantis sama dia.

Setelah sekian lama muter-muter. Ambil foto, lihatin orang yang lagi ngobrol sama bule, akhirnya gue bergerak. Nggak mau kalah dong sama yang lain. Gila aja kalau kalah. Gengsi dong.

Akhirnya, kami nemuin satu bule cowok yang sepertinya ramah. Gue langsung samperin dia.

“Hello, Mister ...,” kata gue sok-sok-an sambil menjabat tangan.

Wih, tebakan gue benar, dia ramah. Dia langsung jawab sapaan sambil tersenyum.

Gue langsung basa-basi aja. Bahkan sebelum nanya soal tempat itu, gue sok-sok-an udah kenal sama dia. Ternyata dia memang kembaran gue sih. Namanya Aa David. Kami adalah kembar yang terpisah.

Banyak sekali yang gue tanyakan. Salah satunya pendapat dia soal Indonesia dan Prambanan.

Dan kalian tahu jawabannya?

Dia menyukai Indonesia karena orangnya ramah-ramah. Terus, dia menyukai makanan Indonesia, yaitu nasi. Bercerita soal candi, dia sangat kagum sama temple itu. Katanya, Prambanan sangat unik. Memadukan antara sejarah, agama, dan juga kebudayaan. 

Oh iya, ternyata dia orang Jerman. Dia bekerja di adidas yang kerjaannya travelling ke seluruh dunia. Wih, keren banget pokoknya. 

Setelah beres ngobrol, kami minta foto. Tentu saja gue yang paling heboh. Selfong, wefong, dan juga di foto dari depan. Udah kaya artis.

Dan well, setelah selesai, gue semakin exited buat cari bule lain. Ternyata ngomong sama bule nggak serumit dan semenakutkan yang dipikirkan ya? Apalagi pembicaraannya sederhana dan nggak berat. Bisa-lah, handle itu semua.

Karena belum puas, kami nyari lagi bule yang mau ditanya-tanya dan dikepoin. Kami bertemu bule cantik yan memang sudah jadi incaran. Dia sedang asyik memfoto Prambanan.




“Jwar, jangan,” larang temen gue.

Gue nggak dengerin dia. Ngotot nemuin dan nyapa dengan anggun, “Hello, Miss.”

“No, I’m sorry.”

Gleek! Hoaaaah, gue langsung gondok pas ditolak sama tuh bule. Bilangin ke Dilan, ternyata, yang berat itu ketika ditolak, bukan rindu.  Akhirnya, gue diketawain sama yang lain. 

Setelah itu, kami memutuskan untuk jalan-jalan. Kalau ada bule yang nganggur, kami bermaksud buat ngobrol lagi.


Pasar Murah di Sekitaran Prambanan

Sampai mau pulang, ternyata gue gak nemuin bule yang benar-benar bisa diajak ngobrol. Padahal masih mau ngobrol panjang lebar. Yowis, akhirnya gue pergi dari Prambanan, bermaksud pulang. BTW, di jalan, gue nemuin beberapa hal. Misal: foto bareng sama burung hantu, foto sama ular dan hewan lain. Kalau nggak salah, bayarnya 5 ribu saja. Gue gak mau foto sama burung hantu, toh wajah gue juga udah nyeremin.

Sampailah kami di wilayang pasar. Widih, kalau bawa banyak uang, gue pengin belanja banyak. Sayangnya, uangnya minim, jadi lihat-lihat aja.

Di pasar itu, banyak sekali pernak-pernik khas Prambanan. Dari mulai cincin, gelang, gantungan kunci, patung-patung kecil, batik, kaus bergambar prambanan, hingga makanan khas seperti Bakpia.

Sebenarnya, alasan gue nggak beli sama sekali karena memang sudah beli sebelumnya. Gue udah beli 20 gantungan kunci yang harganya serebuan. Haha. Murah meriah. Gue juga udah beli beberapa makanan buat oleh-oleh.

Di pasar tersebut, pokoknya lengkap, plus murah. Kalau lo ke Prambanan, jangan sampai nggak lewat dan beli barang-barang di sana ya. Lumayan lho. Daripada beli di tempat lain.


Tarif Masuk ke Candi Prambanan



Sebenarnya, gue  nggak bayar langsung. Kan sudah di handle sama pihak kampus. Tapi ketika jalan-jalan, gue nemuin beberapa foster harga masuk. Ternyata, harga masuk prambanannya sebesar 30 ribu buat orang dewasa. Sementara, ada pengurangan bagi anak kecil.

Nah, itulah cerita gue selama di Prambanan. Tujuan tempat setelah Prambanan adalah Tebing Breksi. Wah, menarik nih. Seperti biasa, gue bakal ceritain pengalaman dan spot menarik yang ada di tempat tersebut.

Selamat jalan-jalan lagi.

Rabu, 14 Februari 2018

Belajar Jadi Orang Bule di Desa Bahasa Borobudur



Belajar Jadi Orang Bule di Desa Bahasa Borobudur – Ujwar.com

Pada tanggal 8 Februari 2018 kemarin, gue kebetulan ada kegiatan kampus. Bisa dibilang study trip yang diadakan untuk liburan, sekaligus belajar. Tujuan study trip tersebut adalah Yogyakarta selama 3 hari. Yups, gue dan teman-teman menjajal beberapa tempat keren di Jogja.

Salah satu tujuan kami adalah Desa Bahasa Borobudur, yang berada di Kab. Magelang. Kebetulan, hal ini sangat berkaitan dengan jurusan kuliah, yaitu Pendidikan Bahasa Inggris. Tentu saja, gue sangat exited. Kalau soal belajar mah, di mana aja pasti seneng. Apalagi berkunjung ke tempat-tempat baru.

Desa Bahasa Borobudur terletak di Dusun Parakan Kidul, RT 02, RW 02, Desa Ngargogondo, Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Untuk menuju ke tempat tersebut, kami melewati Candi Borobudur, dan melakukan perjalanan sekitar 20 menit dari lokasi candi dengan melewati jalan yang membelah perkebunan. Jarang sekali ada rumah di sekitar sana.

Setelah sampai di lokasi terdekat, gue dan seluruh peserta diharuskan berjalan sekitar 1 kilometer dari tempat bus berhenti. Di sekitaran jalan, banyak sekali pohon rambutan yang bikin gue pengen meloncat dan mengambil. Hadeuh, padahal di Garut juga banyak tuh buah berambut. Namanya juga jalan kaki, panas, eh, disodori pohon rambutan yang buahnya besar-besar dan merah, bikin ngiler. Untungnya, gue gak jadi loncat dan ambil rambutannya. Entar gue dikira maling sama pemiliknya.



Selama perjalanan menuju Desa Bahasa, sesekali gue selfie bersama buku DARAH yang kemana-mana selalu dibawa. Maklum, kumpulan cerpen yang sudah tersebar di toko buku itu adalah salah satu hasil pencapaian berarti dalam kehidupan gue. Namanya juga penulis, kalau anaknya lahiran, pasti dibawa ke mana-mana.



Sampai di Desa Bahasa Borobudur





Ketika gue dan kawan-kawan sampai di depan Desa Bahasa, kami disambut hangat oleh pengelola. Kebetulan, pada waktu kami datang, mereka mengenakan batik hijau dan celana bahan hitam. Beberapa diantaranya menggunakan iket atau bendo khas Jogja. Membuat mereka terkesan ramah dan sopan.

Gue seneng banget. Apalagi pas mendengar pertunjukan yang dipersembahkan buat para pengunjung. Di depan kami, ada pertunjukkan musik yang menggunakan alat-alat tradisional yang dipadukan dengan lagu-lagu kekinian. Malahan, baru pertama datang, dua peserta ikut nyanyi di atas panggung.


Setelah masuk, hal pertama yang gue lakukan adalah mengambil foto DARAH yang menghadap ke tulisan “Desa Bahasa Borobudur” di atas panggung. Wih, gaul sekali si DARAH ini. Setiap menemukan spot menarik, pasti di foto. Hadeuh. Lebih narsis dari penulisnya.


Kami disambut dengan pembagian snack. Tau aja nih kalau gue lagi laper. Akhirnya, setelah pembagian snack, gue lahap habis tuh sambil foto-foto dan wifi-an gratis. Jangan salah, meskipun di desa, internet tetap masuk dan lancar jaya. Yuhuuu.



Belajar Bahasa Inggris Ala Anak TK

Setelah istirahat sebentar, kami segera berkumpul di aula tempat untuk melakukan pembelajaran sebagaimana tujuan awal kami datang. Gue agak nervous, serius. Malu gitu. Meskipun gue anak bahasa, tapi bahasa inggris gue masih belepotan. Takut diketawain sama trainer di sana. Tapi, tapi .... ternyata apa yang ditakutkan gak terjadi sama sekali. Kami malah belajar dengan menyenangkan.

Kami dipandu salah satu trainer yang bahasanya udah keren banget. Ya, namanya juga trainer ya. Namanya Azis, umurnya sepertinya gak jauh beda sama gue. Entah lebih tua atau lebih muda, yang jelas, dia menyenangkan dalam menyampaikan materi.

Sebelum kepada pembelajaran, kami dikenalkan dulu dengan asal-usul Desa Bahasa Borobudur yang memang dipimpin oleh seseorang asli Borobudur. Motivasinya keren banget. Awalnya, dia jualan di sekitaran Candi Borobudur, dengan kata-kata Khas “Buy Me” untuk menawarkan produk yang dibawa. Dan hal itu justru menjadi daya tarik wisatawan untuk membeli.

Setelah menjelaskan asal-usul Desa Bahasa, kami dibawa Happy dengan belajar ala anak TK. Kami disuruh menghafal tenses dalam 20 menit, hanya dnegan gerakkan dan lagu. Widih, gue aja yang gak hapal semua (ketuker dan lupa), akhirnya bisa hafal dalam sekali duduk. Hebat ya?

Kami juga diajarkan untuk melakukan pembiasaan penghafalan pronoun, seperti i, pasangannya am, you pasangannya are, dan seterusnya. Metode ini dilakukan dengan contoh, sambil bernyanyi. Wuhuy, gue yang gak pernah masuk TK, akhirnya ngerasian juga gimana belajar anak-anak TK. Huehue.

Pembelajaran lain, kami dusuruh menyiapkan 5 pertanyaan sehari-hari dalam bahasa inggris, kemudian ditanyakan kepada orang-orang sekitar sana, baik peserta, pemandu, atau dosen pembimbing. Setelahnya, harus mengumpulkan 10 tanda tangan dari setiap orang yang kita tanya. Metode ini lebih kepada pembiasaan.  Baru setelahnya, kegiatan lapangan.

Sebelum melakukan kegiatan lapangan, ada sesi kuis. Dua orang dari kami berhasil mendapatkan iket dan juga buku belajar bahasa inggris. Sayang, wkatu itu gue pura-pura pendiem, jadi gak ngacung dan ke depan. Males aja, hehe. (Padahal emang gak bisa).

Kegiatan belajar bahasa inggris seperti itu disebut sebagai English Revolution. Di mana, pembelajaran bahasa inggrisnya selalu berubah-ubah, sesuai dengan metode yang diadakan. Tentu saja, berbeda dengan tempat-tempat belajar lainnya.

Oh iya, Desa Bahasa Borobudur ini hanya dikelola oleh satu orang, dan hanya satu-satunya di sekitaran Borobudur. Jika di Kampung Inggris Pare tersedia ratusan lembaga, sementara Desa Bahasa hanya satu saja. Selain tempat les bahasa inggris, Desa Bahasa juga diberdayakan sebagai tempat belajar masyarakat sekitar. Hebat kan? Bahkan orang-orang sana aja diharuskan mahir berbahasa.



Melakukan Permainan Menyenangkan di Halaman Desa Bahasa

Setelah melakukan pembelajaran selama kurang lebih 2 jam, kami pun diajak bersenang-senang di halaman. Masih dengan menggunakan bahasa inggris. Permainannya sederhana saja. Permainan yang bahkan sering digunakan dalam acara-acara outbone atau kegiatan siswa.

Mencari Kelompok

Permainan pertama yang dilakukan adalah mencari kelompok atau pasangan. Pemandu akan berkata angka untuk memulai. Ketika menyebutkan One, maka kita hanya sendiri, tidak mencari pasangan. Ketika mneyebut two, maka kami harus mencari satu orang, sehingga kita menjadi berdua. Begitu seterusnya sampai nomor-nomor yang banyak. Bagi orang yang tidak menemukan pasangan, maka akan dihukum dengan dicoreti lipstik. Si Kakak tahu aja kalau cowok-cowok di kampus kami pengin merasakan dilipstik, sapa tahu malah lebih canti dari cewek-cewek yang ikut. Hehehe.

Depan, Belakang, Kanan, Kiri

Ini juga permainan sederhana. Dibentuk beberapa kelompok, kemudian disuruh untuk memegang bagian pundak. Memanjang ke depan. Ketika pemandu bilang back, maka harus ke belakang, right ke kanan, left ke kiri. Btw, kalau bahasa inggrisnya ke depan apa ya? Hahahay, gue lupa. Buka kamus sendiri aja yeee.

Berjalan di atas Kain 

Permainan ini unik sekali. Disediakan kain panjang yang menyambung  dan membentuk bulatan sepanjang kurang lebih 2 meter. Peserta harus berjalan di atasnya tanpa jatuh. Permainan ini dibutuhkan keseimbangan yang kuat. Siapa yang paling cepat berjalan, dialah pemenangnya. Di permainan ini, cukup menguras tenaga, sebab harus berjalan sambil mengatur keseimbangan. Dan yang paling parah, sepatu gue jebol. Huhu. Untung bukan hati gue yang jebol, ya. (Jangan baper).

Setelah permainan selesai, diakhiri keringat yang membanjiri badan, dan bau ketek yang menyeruak di antara para peserta, akhirnya sampailah kepada penutupan yang diisi dengan sambutan dari pihak sana, juga pihak kampus. Kami juga meminta tanda tangan di lembaran yang disediakan dosen untuk penilaian. Terakhir, kami foto bersama. Sayang, foto itu belum dikirim dari kamera kampus, jadi gak ada deh di sini. Hehehe.

Sayang sekali, saat seminar dan juga permainan lapangan, kami tidak diperbolehkan menghidupkan ponsel. jadi ya, nggak ada gambarnya. Tapi nggak apa-apa, beberapa gambar di atas telah cukup menggambarkan, bagaimana suasana dari Desa Bahasa Borobudur.

Setelah semuanya beres, kita kembali ke bus untuk melakukan perjalanan menuju Candi Parambanan. Yuhuuu, nantikan cerita gue cari bule di Prambanan dengan berbagai rintangan dan penolakan. Pokoknya, kalian bakal ngakak denger cerita gue.

See you .... (Duh, mentang-mentang dari Desa Bahasa, gue langsung sok Inggris). 














Selasa, 13 Februari 2018

Bilangin Ke Dilan, yang Berat itu Bukan Rindu, Tapi Melepaskan


Bilangin Ke Dilan, yang Berat itu Bukan Rindu, Tapi Melepaskan
credit: wartakota.tribunews.com



Bilangin Ke Dilan, yang Berat itu Bukan Rindu, Tapi Melepaskan - Ujwar.com

Setelah sekian lama gak update di blog, akhirnya gue mutusin buat kembali. Ya, sesuatu yang kita cintai, kemudian ditinggalkan, lama-kelamaan akan mengikuti kita, meskipun kita memiliki hal baru yang mungkin lebih menyenangkan.

Benar juga kata Dilan, rindu itu berat. Eits, tapi lebih berat melepaskan kalau menurut gue.

Setelah sekian lama menganaktirikan blog pribadi ini dengan alasan stuck, dan selingkuh dengan hal baru, akhirnya gue kembali kepada blog. Mainan pertama yang sampai saat ini selalu gue rindukan. Dan puncaknya detik ini, gue kembali curat-coret blog kesayangan gue.

Dari awal buat ujwar.com, gue paling sering ngasih trik dan tips, atau review film dan buku. Lama-kelamaan, gue kok bosen ya, ngasih itu semua? Maka dari itu, mulai sekarang gue bakal nulisin sesuatu yang belum gue hadirkan sebelumnya.

Contohnya apa, Kakak?

Hahaha. Banyak sih. Gue bakal tulisin soal kegiatan ngajar gue yang konyol. Gue juga bakal nulisin rutinitas gue sebagai editor di penerbit indie sendiri. Gue bahkan bisa menuliskan hal-hal unik yang gue temui ketika jalan-jalan, atau ketika buang air besar sekalipun. Huehue.

BTW, perlu kalian ketahui, selama beberapa bulan ke belakang, kerjaan gue padet banget. Padahal, pekerjaan itu bisa aja gue lepas, atau bahkan gue kasih ke yang lain. Tapi karena rada maruk, gue ambil aja tuh job. Layout buku gue, editor gue, jadi konten writer gue, ngajar di 3 sekolah, gue juga, belum nulis novel pribadi, masih sama gue. Walhasil, gue stres berat woy. Sampai-sampai lupa makan dan anak istri. Ups, gue belum nikah yeee.

Nah, akhir Januari kemarin, gue mutusin buat ngelepas beberapa kerjaan yang udah mulai bikin bosen. Meskipun, sebenarnya kebosanan itu masih kalah besar sama perasaan gue yang gak keruan. Melepaskan itu lebih berat ternyata, daripada bosen.

Yups, gue memilih melepaskan 2 sekolah tempat gue ngajar, dan memegang satu sekolah saja. Itu juga jadwalnya cuman satu hari doang. Selebihnya, gue kuliah, ngurus Ujwart Media, nulis novel, nulis artikel (berdasarkan pesanan), dan pastinya, gue kembali mengurus blog yang udah mulai sepi kaya kuburan. Malah rencananya, gue juga mau mulai open channel YouTube. Biar kekinian gitu. Ujwar gak punya channel? Dih, ketinggalan zaman.

Gue sih, gak akan bercerita soal sekarang, tapi gue mau curhat aja soal melepaskan itu tadi. Yang sangat berat. Bahkan untuk melepaskan itu semua, gue harus mikir panjang. Sampai berbulan-bulan.

Pada dasarnya, gue itu orangnya pemikir ya guys. Gue berpikir buat risen jadi guru aja mikirnya udah dari 6 bulan lalu. Dan faktanya, gue baru bisa risen akhir Januari 2018 kemarin.

“Jwar, emangnya kenapa risen ngajar? Uangnya kecil ya?”

Gue ketawa aja saat ada yang tanya kaya gitu. Sebenarnya, kalau ditanya uang kecil, ya emang kecil, namanya juga honorer ya kan. Ngajarnya juga sedikit. Tapi suer deh, dari dulu, niat gue ngajar itu cuman mau belajar. Pertama belajar ngomong di depan orang, kedua belajar mengamalkan ilmu yang gue dapat di kampus. Ya, bagi gue, gak ada gunanya gue kuliah kalau ilmu itu gak kepake. Kalau masalah uang mah, Allah yang ngatur. Gue bisa jajan dan beli kuota aja uangnya gak tau dari mana aja.

“Lha, berarti sekarang lo gak ngajar lagi dong? Terus ilmu lo jadi mubajir karena gak kepake.”

Gue cuman melepaskan dua sekolah aja. Dan satu sekolah masih dipegang. Bagi gue, itu udah cukup. Ilmu gue bisa dimanfaatin dalam hal lain. Ya, mau sedikit atau banyak tuh ilmu, tetep bersyukur sih. Tuhan udah ngasih akal buat gue. Setidaknya gue punya sesuatu.

“Gimana caranya risen? Lo gak malu sama kepala sekolah dan rekan guru? Lo juga gak kasihan, lihat murid-murid lo pada sedih karena salah satu guru terkecenya keluar?”

Duh, malah ini lho yang paling berat. Ngomong mau risen itu rasanya ... Ah, pokoknya, kamu jangan sampai ngerasain, biar aku saja. Waktu berbicara kepada kepala sekolah yang sangat baik dan budiman itu, dia sampai bilang, “Tega kamu.” Sambil tertawa.

Ya, menurut gue, kalau mau berkembang, harus berani buat tega. Kalau gak tegaan, kelar deh hidup kita. Tapi ya, gue menjelaskan lagi ke beliau, kalau gue keluar bukan karena ada masalah tertentu, tapi karena memang ingin lebih fokus aja berada di dunia yang gue suka.

Gue juga sempat perpisahan sama anak-anak. Mereka pada nangis woy. Survey mengatakan, kalau gue adalah guru paling menyenangkan di sekolah. Wajar mereka merasa kehilangan. Dan ya, gue hanya ngemotivasi mereka.

“Bapak memang gak ngajar lagi di sekolah ini, tapi Bapak bisa main kapan saja ke sini. Atau, kalian bisa kontak Bapak kapan pun. Kita tetap sama seperti dulu.”

Halah, udah kaya Pak Mario Teguh saja nih gue. Meskipun masih unyu, tetap aja, kalau di sekolah di panggil Bapak. Biarlah, sebab salah satu menjadi orang dewasa dan tua adalah menjadi guru.Tiap hari, pasti disebut Bapak.

Nah, ketika gue gak megang jam ngajar yang banyak lagi, akhirnya gue memilih mokusin nulis dan ngurus Ujwart (seperti yang telah gue bilang sebelumnya).  Bagi gue, pertumbuhan Ujwart yang gitu-gitu aja dari tahun ke tahun patut dipertanyakan. Salah satu yang mengganjal, ya gue terlalu sibuk. Dan membuat Ujwart Media jadi terbengkalai.

Per 2018 ini, Ujwart Media mulai kembali bangkit dengan berbagai pembaruan. Gue dan team mencoba melakukan yang terbaik untuk para penulis yang menerbitkan buku di Ujwart Media. Inilah yang gue sebuat bermanfaat selain ngajar. Cara kita menjadi bermanfaat tidak dalam satu sisi saja, tetapi ada sisi-sisi lain.

Gue juga semakin enjoy buat jadi penulis. Setelah menerbitkan dua buku secara indie, awal 2018 kemarin, kumpulan cerpen psikopat yang ditulis oleh 5 penulis keren (termasuk gue, anggap aja keren) akhirnya terbit dan sudah bisa didapatkan di toko buku. Gila, 3 tahun gue nulis fiksi, baru 2018 gue bisa lihat salah satu karya gue ada di rak toko buku. Pencapaian yang bagus sih menurut gue. Sebab, suatu proses yang gue lakuin gak sia-sia. Nulis terus, akhirnya ada juga yang nyangkut di penerbit.

Judul buku tersebut adalah DARAH, terbitan Scrittobooks. Kalian bisa mendapatkannya dari gue, atau toko buku. Tenang, kalau order lewat gue, nanti dikasih bonus tanda tangan plus cap bibir pakek iler.

Oh iya, gue juga semakin mantap buat fokus nulis,  karena novel horor misteri pertama gue akan terbit mayor juga April atau Mei 2018 ini. Doakan saja, semoga prosesnya lancar, kemudian, jadi buku best seller. Ehehehe. Kalau itu sih memang impian semua orang ya?

Okey, intinya, sekarang gue berada dalam dunia lama, tapi rasa baru. Gue makin fokus dengan apa yang gue suka. Masalah melepaskan itu berat, lupakan saja. Toh sekarang gue udah melepaskan itu semua kan?

Hal yang sekarang musti gue pikirin adalah: konsisten. Sepertinya, konsisten untuk terus ada di posisi gue sekarang adalah hal yang berat. Lebih berat dari Rindu, atau bahkan melepaskan. Benar, nggak, Dilan?

Adduh, jadi sebenarnya, yang paling berat itu apa? Rindu, melepaskan, atau konsisten? Sudahlah. Kalian pikirkan saja sendiri. Hehehehe. Selamat ketemu di postingan gue yang lain ya. Moga tetap betah ada di dunia gue.




http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html