Belajar Jadi Orang Bule di Desa Bahasa Borobudur



Belajar Jadi Orang Bule di Desa Bahasa Borobudur – Ujwar.com

Pada tanggal 8 Februari 2018 kemarin, gue kebetulan ada kegiatan kampus. Bisa dibilang study trip yang diadakan untuk liburan, sekaligus belajar. Tujuan study trip tersebut adalah Yogyakarta selama 3 hari. Yups, gue dan teman-teman menjajal beberapa tempat keren di Jogja.

Salah satu tujuan kami adalah Desa Bahasa Borobudur, yang berada di Kab. Magelang. Kebetulan, hal ini sangat berkaitan dengan jurusan kuliah, yaitu Pendidikan Bahasa Inggris. Tentu saja, gue sangat exited. Kalau soal belajar mah, di mana aja pasti seneng. Apalagi berkunjung ke tempat-tempat baru.

Desa Bahasa Borobudur terletak di Dusun Parakan Kidul, RT 02, RW 02, Desa Ngargogondo, Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Untuk menuju ke tempat tersebut, kami melewati Candi Borobudur, dan melakukan perjalanan sekitar 20 menit dari lokasi candi dengan melewati jalan yang membelah perkebunan. Jarang sekali ada rumah di sekitar sana.

Setelah sampai di lokasi terdekat, gue dan seluruh peserta diharuskan berjalan sekitar 1 kilometer dari tempat bus berhenti. Di sekitaran jalan, banyak sekali pohon rambutan yang bikin gue pengen meloncat dan mengambil. Hadeuh, padahal di Garut juga banyak tuh buah berambut. Namanya juga jalan kaki, panas, eh, disodori pohon rambutan yang buahnya besar-besar dan merah, bikin ngiler. Untungnya, gue gak jadi loncat dan ambil rambutannya. Entar gue dikira maling sama pemiliknya.



Selama perjalanan menuju Desa Bahasa, sesekali gue selfie bersama buku DARAH yang kemana-mana selalu dibawa. Maklum, kumpulan cerpen yang sudah tersebar di toko buku itu adalah salah satu hasil pencapaian berarti dalam kehidupan gue. Namanya juga penulis, kalau anaknya lahiran, pasti dibawa ke mana-mana.



Sampai di Desa Bahasa Borobudur





Ketika gue dan kawan-kawan sampai di depan Desa Bahasa, kami disambut hangat oleh pengelola. Kebetulan, pada waktu kami datang, mereka mengenakan batik hijau dan celana bahan hitam. Beberapa diantaranya menggunakan iket atau bendo khas Jogja. Membuat mereka terkesan ramah dan sopan.

Gue seneng banget. Apalagi pas mendengar pertunjukan yang dipersembahkan buat para pengunjung. Di depan kami, ada pertunjukkan musik yang menggunakan alat-alat tradisional yang dipadukan dengan lagu-lagu kekinian. Malahan, baru pertama datang, dua peserta ikut nyanyi di atas panggung.


Setelah masuk, hal pertama yang gue lakukan adalah mengambil foto DARAH yang menghadap ke tulisan “Desa Bahasa Borobudur” di atas panggung. Wih, gaul sekali si DARAH ini. Setiap menemukan spot menarik, pasti di foto. Hadeuh. Lebih narsis dari penulisnya.


Kami disambut dengan pembagian snack. Tau aja nih kalau gue lagi laper. Akhirnya, setelah pembagian snack, gue lahap habis tuh sambil foto-foto dan wifi-an gratis. Jangan salah, meskipun di desa, internet tetap masuk dan lancar jaya. Yuhuuu.



Belajar Bahasa Inggris Ala Anak TK

Setelah istirahat sebentar, kami segera berkumpul di aula tempat untuk melakukan pembelajaran sebagaimana tujuan awal kami datang. Gue agak nervous, serius. Malu gitu. Meskipun gue anak bahasa, tapi bahasa inggris gue masih belepotan. Takut diketawain sama trainer di sana. Tapi, tapi .... ternyata apa yang ditakutkan gak terjadi sama sekali. Kami malah belajar dengan menyenangkan.

Kami dipandu salah satu trainer yang bahasanya udah keren banget. Ya, namanya juga trainer ya. Namanya Azis, umurnya sepertinya gak jauh beda sama gue. Entah lebih tua atau lebih muda, yang jelas, dia menyenangkan dalam menyampaikan materi.

Sebelum kepada pembelajaran, kami dikenalkan dulu dengan asal-usul Desa Bahasa Borobudur yang memang dipimpin oleh seseorang asli Borobudur. Motivasinya keren banget. Awalnya, dia jualan di sekitaran Candi Borobudur, dengan kata-kata Khas “Buy Me” untuk menawarkan produk yang dibawa. Dan hal itu justru menjadi daya tarik wisatawan untuk membeli.

Setelah menjelaskan asal-usul Desa Bahasa, kami dibawa Happy dengan belajar ala anak TK. Kami disuruh menghafal tenses dalam 20 menit, hanya dnegan gerakkan dan lagu. Widih, gue aja yang gak hapal semua (ketuker dan lupa), akhirnya bisa hafal dalam sekali duduk. Hebat ya?

Kami juga diajarkan untuk melakukan pembiasaan penghafalan pronoun, seperti i, pasangannya am, you pasangannya are, dan seterusnya. Metode ini dilakukan dengan contoh, sambil bernyanyi. Wuhuy, gue yang gak pernah masuk TK, akhirnya ngerasian juga gimana belajar anak-anak TK. Huehue.

Pembelajaran lain, kami dusuruh menyiapkan 5 pertanyaan sehari-hari dalam bahasa inggris, kemudian ditanyakan kepada orang-orang sekitar sana, baik peserta, pemandu, atau dosen pembimbing. Setelahnya, harus mengumpulkan 10 tanda tangan dari setiap orang yang kita tanya. Metode ini lebih kepada pembiasaan.  Baru setelahnya, kegiatan lapangan.

Sebelum melakukan kegiatan lapangan, ada sesi kuis. Dua orang dari kami berhasil mendapatkan iket dan juga buku belajar bahasa inggris. Sayang, wkatu itu gue pura-pura pendiem, jadi gak ngacung dan ke depan. Males aja, hehe. (Padahal emang gak bisa).

Kegiatan belajar bahasa inggris seperti itu disebut sebagai English Revolution. Di mana, pembelajaran bahasa inggrisnya selalu berubah-ubah, sesuai dengan metode yang diadakan. Tentu saja, berbeda dengan tempat-tempat belajar lainnya.

Oh iya, Desa Bahasa Borobudur ini hanya dikelola oleh satu orang, dan hanya satu-satunya di sekitaran Borobudur. Jika di Kampung Inggris Pare tersedia ratusan lembaga, sementara Desa Bahasa hanya satu saja. Selain tempat les bahasa inggris, Desa Bahasa juga diberdayakan sebagai tempat belajar masyarakat sekitar. Hebat kan? Bahkan orang-orang sana aja diharuskan mahir berbahasa.



Melakukan Permainan Menyenangkan di Halaman Desa Bahasa

Setelah melakukan pembelajaran selama kurang lebih 2 jam, kami pun diajak bersenang-senang di halaman. Masih dengan menggunakan bahasa inggris. Permainannya sederhana saja. Permainan yang bahkan sering digunakan dalam acara-acara outbone atau kegiatan siswa.

Mencari Kelompok

Permainan pertama yang dilakukan adalah mencari kelompok atau pasangan. Pemandu akan berkata angka untuk memulai. Ketika menyebutkan One, maka kita hanya sendiri, tidak mencari pasangan. Ketika mneyebut two, maka kami harus mencari satu orang, sehingga kita menjadi berdua. Begitu seterusnya sampai nomor-nomor yang banyak. Bagi orang yang tidak menemukan pasangan, maka akan dihukum dengan dicoreti lipstik. Si Kakak tahu aja kalau cowok-cowok di kampus kami pengin merasakan dilipstik, sapa tahu malah lebih canti dari cewek-cewek yang ikut. Hehehe.

Depan, Belakang, Kanan, Kiri

Ini juga permainan sederhana. Dibentuk beberapa kelompok, kemudian disuruh untuk memegang bagian pundak. Memanjang ke depan. Ketika pemandu bilang back, maka harus ke belakang, right ke kanan, left ke kiri. Btw, kalau bahasa inggrisnya ke depan apa ya? Hahahay, gue lupa. Buka kamus sendiri aja yeee.

Berjalan di atas Kain 

Permainan ini unik sekali. Disediakan kain panjang yang menyambung  dan membentuk bulatan sepanjang kurang lebih 2 meter. Peserta harus berjalan di atasnya tanpa jatuh. Permainan ini dibutuhkan keseimbangan yang kuat. Siapa yang paling cepat berjalan, dialah pemenangnya. Di permainan ini, cukup menguras tenaga, sebab harus berjalan sambil mengatur keseimbangan. Dan yang paling parah, sepatu gue jebol. Huhu. Untung bukan hati gue yang jebol, ya. (Jangan baper).

Setelah permainan selesai, diakhiri keringat yang membanjiri badan, dan bau ketek yang menyeruak di antara para peserta, akhirnya sampailah kepada penutupan yang diisi dengan sambutan dari pihak sana, juga pihak kampus. Kami juga meminta tanda tangan di lembaran yang disediakan dosen untuk penilaian. Terakhir, kami foto bersama. Sayang, foto itu belum dikirim dari kamera kampus, jadi gak ada deh di sini. Hehehe.

Sayang sekali, saat seminar dan juga permainan lapangan, kami tidak diperbolehkan menghidupkan ponsel. jadi ya, nggak ada gambarnya. Tapi nggak apa-apa, beberapa gambar di atas telah cukup menggambarkan, bagaimana suasana dari Desa Bahasa Borobudur.

Setelah semuanya beres, kita kembali ke bus untuk melakukan perjalanan menuju Candi Parambanan. Yuhuuu, nantikan cerita gue cari bule di Prambanan dengan berbagai rintangan dan penolakan. Pokoknya, kalian bakal ngakak denger cerita gue.

See you .... (Duh, mentang-mentang dari Desa Bahasa, gue langsung sok Inggris). 














Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Belajar Jadi Orang Bule di Desa Bahasa Borobudur"

Posting Komentar

Berkomentar dengan baik ya. Ditunggu masukan yang membangun.