Bilangin Ke Dilan, yang Berat itu Bukan Rindu, Tapi Melepaskan


Bilangin Ke Dilan, yang Berat itu Bukan Rindu, Tapi Melepaskan
credit: wartakota.tribunews.com



Bilangin Ke Dilan, yang Berat itu Bukan Rindu, Tapi Melepaskan - Ujwar.com

Setelah sekian lama gak update di blog, akhirnya gue mutusin buat kembali. Ya, sesuatu yang kita cintai, kemudian ditinggalkan, lama-kelamaan akan mengikuti kita, meskipun kita memiliki hal baru yang mungkin lebih menyenangkan.

Benar juga kata Dilan, rindu itu berat. Eits, tapi lebih berat melepaskan kalau menurut gue.

Setelah sekian lama menganaktirikan blog pribadi ini dengan alasan stuck, dan selingkuh dengan hal baru, akhirnya gue kembali kepada blog. Mainan pertama yang sampai saat ini selalu gue rindukan. Dan puncaknya detik ini, gue kembali curat-coret blog kesayangan gue.

Dari awal buat ujwar.com, gue paling sering ngasih trik dan tips, atau review film dan buku. Lama-kelamaan, gue kok bosen ya, ngasih itu semua? Maka dari itu, mulai sekarang gue bakal nulisin sesuatu yang belum gue hadirkan sebelumnya.

Contohnya apa, Kakak?

Hahaha. Banyak sih. Gue bakal tulisin soal kegiatan ngajar gue yang konyol. Gue juga bakal nulisin rutinitas gue sebagai editor di penerbit indie sendiri. Gue bahkan bisa menuliskan hal-hal unik yang gue temui ketika jalan-jalan, atau ketika buang air besar sekalipun. Huehue.

BTW, perlu kalian ketahui, selama beberapa bulan ke belakang, kerjaan gue padet banget. Padahal, pekerjaan itu bisa aja gue lepas, atau bahkan gue kasih ke yang lain. Tapi karena rada maruk, gue ambil aja tuh job. Layout buku gue, editor gue, jadi konten writer gue, ngajar di 3 sekolah, gue juga, belum nulis novel pribadi, masih sama gue. Walhasil, gue stres berat woy. Sampai-sampai lupa makan dan anak istri. Ups, gue belum nikah yeee.

Nah, akhir Januari kemarin, gue mutusin buat ngelepas beberapa kerjaan yang udah mulai bikin bosen. Meskipun, sebenarnya kebosanan itu masih kalah besar sama perasaan gue yang gak keruan. Melepaskan itu lebih berat ternyata, daripada bosen.

Yups, gue memilih melepaskan 2 sekolah tempat gue ngajar, dan memegang satu sekolah saja. Itu juga jadwalnya cuman satu hari doang. Selebihnya, gue kuliah, ngurus Ujwart Media, nulis novel, nulis artikel (berdasarkan pesanan), dan pastinya, gue kembali mengurus blog yang udah mulai sepi kaya kuburan. Malah rencananya, gue juga mau mulai open channel YouTube. Biar kekinian gitu. Ujwar gak punya channel? Dih, ketinggalan zaman.

Gue sih, gak akan bercerita soal sekarang, tapi gue mau curhat aja soal melepaskan itu tadi. Yang sangat berat. Bahkan untuk melepaskan itu semua, gue harus mikir panjang. Sampai berbulan-bulan.

Pada dasarnya, gue itu orangnya pemikir ya guys. Gue berpikir buat risen jadi guru aja mikirnya udah dari 6 bulan lalu. Dan faktanya, gue baru bisa risen akhir Januari 2018 kemarin.

“Jwar, emangnya kenapa risen ngajar? Uangnya kecil ya?”

Gue ketawa aja saat ada yang tanya kaya gitu. Sebenarnya, kalau ditanya uang kecil, ya emang kecil, namanya juga honorer ya kan. Ngajarnya juga sedikit. Tapi suer deh, dari dulu, niat gue ngajar itu cuman mau belajar. Pertama belajar ngomong di depan orang, kedua belajar mengamalkan ilmu yang gue dapat di kampus. Ya, bagi gue, gak ada gunanya gue kuliah kalau ilmu itu gak kepake. Kalau masalah uang mah, Allah yang ngatur. Gue bisa jajan dan beli kuota aja uangnya gak tau dari mana aja.

“Lha, berarti sekarang lo gak ngajar lagi dong? Terus ilmu lo jadi mubajir karena gak kepake.”

Gue cuman melepaskan dua sekolah aja. Dan satu sekolah masih dipegang. Bagi gue, itu udah cukup. Ilmu gue bisa dimanfaatin dalam hal lain. Ya, mau sedikit atau banyak tuh ilmu, tetep bersyukur sih. Tuhan udah ngasih akal buat gue. Setidaknya gue punya sesuatu.

“Gimana caranya risen? Lo gak malu sama kepala sekolah dan rekan guru? Lo juga gak kasihan, lihat murid-murid lo pada sedih karena salah satu guru terkecenya keluar?”

Duh, malah ini lho yang paling berat. Ngomong mau risen itu rasanya ... Ah, pokoknya, kamu jangan sampai ngerasain, biar aku saja. Waktu berbicara kepada kepala sekolah yang sangat baik dan budiman itu, dia sampai bilang, “Tega kamu.” Sambil tertawa.

Ya, menurut gue, kalau mau berkembang, harus berani buat tega. Kalau gak tegaan, kelar deh hidup kita. Tapi ya, gue menjelaskan lagi ke beliau, kalau gue keluar bukan karena ada masalah tertentu, tapi karena memang ingin lebih fokus aja berada di dunia yang gue suka.

Gue juga sempat perpisahan sama anak-anak. Mereka pada nangis woy. Survey mengatakan, kalau gue adalah guru paling menyenangkan di sekolah. Wajar mereka merasa kehilangan. Dan ya, gue hanya ngemotivasi mereka.

“Bapak memang gak ngajar lagi di sekolah ini, tapi Bapak bisa main kapan saja ke sini. Atau, kalian bisa kontak Bapak kapan pun. Kita tetap sama seperti dulu.”

Halah, udah kaya Pak Mario Teguh saja nih gue. Meskipun masih unyu, tetap aja, kalau di sekolah di panggil Bapak. Biarlah, sebab salah satu menjadi orang dewasa dan tua adalah menjadi guru.Tiap hari, pasti disebut Bapak.

Nah, ketika gue gak megang jam ngajar yang banyak lagi, akhirnya gue memilih mokusin nulis dan ngurus Ujwart (seperti yang telah gue bilang sebelumnya).  Bagi gue, pertumbuhan Ujwart yang gitu-gitu aja dari tahun ke tahun patut dipertanyakan. Salah satu yang mengganjal, ya gue terlalu sibuk. Dan membuat Ujwart Media jadi terbengkalai.

Per 2018 ini, Ujwart Media mulai kembali bangkit dengan berbagai pembaruan. Gue dan team mencoba melakukan yang terbaik untuk para penulis yang menerbitkan buku di Ujwart Media. Inilah yang gue sebuat bermanfaat selain ngajar. Cara kita menjadi bermanfaat tidak dalam satu sisi saja, tetapi ada sisi-sisi lain.

Gue juga semakin enjoy buat jadi penulis. Setelah menerbitkan dua buku secara indie, awal 2018 kemarin, kumpulan cerpen psikopat yang ditulis oleh 5 penulis keren (termasuk gue, anggap aja keren) akhirnya terbit dan sudah bisa didapatkan di toko buku. Gila, 3 tahun gue nulis fiksi, baru 2018 gue bisa lihat salah satu karya gue ada di rak toko buku. Pencapaian yang bagus sih menurut gue. Sebab, suatu proses yang gue lakuin gak sia-sia. Nulis terus, akhirnya ada juga yang nyangkut di penerbit.

Judul buku tersebut adalah DARAH, terbitan Scrittobooks. Kalian bisa mendapatkannya dari gue, atau toko buku. Tenang, kalau order lewat gue, nanti dikasih bonus tanda tangan plus cap bibir pakek iler.

Oh iya, gue juga semakin mantap buat fokus nulis,  karena novel horor misteri pertama gue akan terbit mayor juga April atau Mei 2018 ini. Doakan saja, semoga prosesnya lancar, kemudian, jadi buku best seller. Ehehehe. Kalau itu sih memang impian semua orang ya?

Okey, intinya, sekarang gue berada dalam dunia lama, tapi rasa baru. Gue makin fokus dengan apa yang gue suka. Masalah melepaskan itu berat, lupakan saja. Toh sekarang gue udah melepaskan itu semua kan?

Hal yang sekarang musti gue pikirin adalah: konsisten. Sepertinya, konsisten untuk terus ada di posisi gue sekarang adalah hal yang berat. Lebih berat dari Rindu, atau bahkan melepaskan. Benar, nggak, Dilan?

Adduh, jadi sebenarnya, yang paling berat itu apa? Rindu, melepaskan, atau konsisten? Sudahlah. Kalian pikirkan saja sendiri. Hehehehe. Selamat ketemu di postingan gue yang lain ya. Moga tetap betah ada di dunia gue.




Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Bilangin Ke Dilan, yang Berat itu Bukan Rindu, Tapi Melepaskan"

Posting Komentar

Berkomentar dengan baik ya. Ditunggu masukan yang membangun.