Nyari Bule di Candi Prambanan Yogyakarta

foto teman lagi pegang buku DARAH


Nyari Bule di Candi Prambanan Yogyakarta – ujwar.com

Wisata Candi Prambanan memang tempat yang gue tunggu-tunggu. Setelah kemarin menulis soal Desa Bahasa Borobudur, saatnya gue nyeritain pengalaman soal jalan-jalan di Prambanan. Gak hanya jalan-jalan sih, tapi nyari bule sebagai tugas akhir untuk penilaian.

Terus terang, pas di perjalanan, gue deg-deg-an banget. Kebayang, orang kampung kaya gue harus ngobrol sama bule. Di tempat gue juga banyak bule, terutama yang mau berkunjung ke Kawah Papandayan, tapi gue gak pernah berani nyapa. Dan di Prambanan, mau gak mau gue harus lakuin itu.

Perjalanan menuju Prambanan sekitar 1 jam. Sebelum ke Prambanan, kami memang istirahat dulu di salah satu rumah makan di Jogja. Menyiapkan amunisi dan tenaga takut-takut ditolak sama para turis. 


Sampai di Prambanan Yogyakarta




Pertama kali turun dari bus, gue langsung excited. Semenarik apa sih candi yang mengisahkan kisah cinta Roro Jonggrang itu? Kenapa gue tanya begitu? Sebab gue baru pertama kali datang ke Prambanan.

Dari parkiran bus, gue dan kawan-kawan harus berjalan jauh. Sebelum masuk, kami foto-foto bareng dulu di tulisan Prambanan. Ceritanya mau pamer sama orang-orang yang belum pernah ke sana, hehe. 

Setelah puas melakukan foto-foto, akhirnya kami masuk. Kirain, setelah masuk gerbang pembayaran, kami akan langsung menemui Candi, tetapi ternyata tidak. Candi-nya lumayan jauh dari sana. Harus jalan dulu selama beberapa menit.

Meski begitu, gue langsung awas memperhatikan wisatawan. Di sana bahkan ada 3 bule yang sedang nongkrong.

Ada kakak tingkat yang menghampiri mereka, tetapi ternyata ditolak. Bule-bule itu pada gak mau diganggu. Dan setelah melihat kejadian itu, gue makin takut euy. Takut ditolak. Ditolak itu berat. Dan muncul-lah image orang luar, kalau mereka pada sombong.

Bercerita soal turis luar negeri, sebenarnya wajah sih mereka menolak. Mereka menolak juga dengan halus. Kedatangan mereka ke Prambanan untuk berwisata dan menikmati tempat. Mereka jarang sekali mau diganggu. Tapi banyak juga yang welcome melayani orang-orang lokal.

Akhirnya, gue dan ketiga sahabat (kelompok) berjalan menuju Candi dengan perasaan was-was. Masing-masing dari kami menenteng buku catatan. Tak lupa, DARAH selalu dipelukan. Ya, dia juga sepertinya pengin foto bareng sama Prambanan.


Bangunan Kokoh Prambanan yang Menghipnotis Mata






Ketika bangunan Prambanan dari kejauhan sudah terlihat, gue langsung menelan ludah. Gila, keren banget. Biasanya, gue lihat bangunan itu di buku-buku IPS. Ini? Widih, bisa lihat secara langsung.

Kami terus berjalan hingga berada di gerbang masuk ke Candi. Nggak lama-lama, gue langsung minta foto sama orang-orang. Foto bareng DARAH dan sahabat-sahabat gue yang lain. 

Diperhatikan dari kejauhan, bangunan dan puncak-puncak Prambanan terlihat sangat elegan. Tumpukkan batu-batu itu bisa rapi dan sekeren istana. Gimana ya cara buatnya? Halah, kalau di zaman sekarang, mana bisa buat kaya gituan?

Kami memutuskan untuk masuk ke lingkungan Candi. Masih sama, nyari-nyari bule. Yah, kasihan sekali si bule ini, jadi bahan pencarian. Emang dia buronan? Kenapa nggak Pale yang dicari? Huehue.

Setiap ada spot menarik, gue langsung foto sama DARAH. Pokoknya narsis abis. Gue tahu, gue bakal tulis kisah itu di blog, makanya harus banyak gambar. Selain itu, gue juga mau pamer sama orang-orang rumah. Gak pamer itu rasanya kurang afdhal. 

Sambil menikmati suasana candi, kami terus tetap mencari turis. Melihat kelompok lain, membuat kami semakin iri. Baru datang udah pada dapat. Sementara kelompok gue? Hadeuh, belum nemu-nemu.

Sebelum menemukan bule, gue masuk dulu ke dalam candi. Tentu saja sama geng. Hahaha. Dan ternyata, di dalamnya itu kaya kamar ya. Yang selalu dipertanyakan, rapi banget tuh bangunan. Padahal terbuat dari batu. Keren gak tuh? Itu buatan Bandung Bondowoso kan waktu mau dapetin Roro Jonggrang? Duh, romantis banget ya. Dilan juga kalau romantis sama dia.

Setelah sekian lama muter-muter. Ambil foto, lihatin orang yang lagi ngobrol sama bule, akhirnya gue bergerak. Nggak mau kalah dong sama yang lain. Gila aja kalau kalah. Gengsi dong.

Akhirnya, kami nemuin satu bule cowok yang sepertinya ramah. Gue langsung samperin dia.

“Hello, Mister ...,” kata gue sok-sok-an sambil menjabat tangan.

Wih, tebakan gue benar, dia ramah. Dia langsung jawab sapaan sambil tersenyum.

Gue langsung basa-basi aja. Bahkan sebelum nanya soal tempat itu, gue sok-sok-an udah kenal sama dia. Ternyata dia memang kembaran gue sih. Namanya Aa David. Kami adalah kembar yang terpisah.

Banyak sekali yang gue tanyakan. Salah satunya pendapat dia soal Indonesia dan Prambanan.

Dan kalian tahu jawabannya?

Dia menyukai Indonesia karena orangnya ramah-ramah. Terus, dia menyukai makanan Indonesia, yaitu nasi. Bercerita soal candi, dia sangat kagum sama temple itu. Katanya, Prambanan sangat unik. Memadukan antara sejarah, agama, dan juga kebudayaan. 

Oh iya, ternyata dia orang Jerman. Dia bekerja di adidas yang kerjaannya travelling ke seluruh dunia. Wih, keren banget pokoknya. 

Setelah beres ngobrol, kami minta foto. Tentu saja gue yang paling heboh. Selfong, wefong, dan juga di foto dari depan. Udah kaya artis.

Dan well, setelah selesai, gue semakin exited buat cari bule lain. Ternyata ngomong sama bule nggak serumit dan semenakutkan yang dipikirkan ya? Apalagi pembicaraannya sederhana dan nggak berat. Bisa-lah, handle itu semua.

Karena belum puas, kami nyari lagi bule yang mau ditanya-tanya dan dikepoin. Kami bertemu bule cantik yan memang sudah jadi incaran. Dia sedang asyik memfoto Prambanan.




“Jwar, jangan,” larang temen gue.

Gue nggak dengerin dia. Ngotot nemuin dan nyapa dengan anggun, “Hello, Miss.”

“No, I’m sorry.”

Gleek! Hoaaaah, gue langsung gondok pas ditolak sama tuh bule. Bilangin ke Dilan, ternyata, yang berat itu ketika ditolak, bukan rindu.  Akhirnya, gue diketawain sama yang lain. 

Setelah itu, kami memutuskan untuk jalan-jalan. Kalau ada bule yang nganggur, kami bermaksud buat ngobrol lagi.


Pasar Murah di Sekitaran Prambanan

Sampai mau pulang, ternyata gue gak nemuin bule yang benar-benar bisa diajak ngobrol. Padahal masih mau ngobrol panjang lebar. Yowis, akhirnya gue pergi dari Prambanan, bermaksud pulang. BTW, di jalan, gue nemuin beberapa hal. Misal: foto bareng sama burung hantu, foto sama ular dan hewan lain. Kalau nggak salah, bayarnya 5 ribu saja. Gue gak mau foto sama burung hantu, toh wajah gue juga udah nyeremin.

Sampailah kami di wilayang pasar. Widih, kalau bawa banyak uang, gue pengin belanja banyak. Sayangnya, uangnya minim, jadi lihat-lihat aja.

Di pasar itu, banyak sekali pernak-pernik khas Prambanan. Dari mulai cincin, gelang, gantungan kunci, patung-patung kecil, batik, kaus bergambar prambanan, hingga makanan khas seperti Bakpia.

Sebenarnya, alasan gue nggak beli sama sekali karena memang sudah beli sebelumnya. Gue udah beli 20 gantungan kunci yang harganya serebuan. Haha. Murah meriah. Gue juga udah beli beberapa makanan buat oleh-oleh.

Di pasar tersebut, pokoknya lengkap, plus murah. Kalau lo ke Prambanan, jangan sampai nggak lewat dan beli barang-barang di sana ya. Lumayan lho. Daripada beli di tempat lain.


Tarif Masuk ke Candi Prambanan



Sebenarnya, gue  nggak bayar langsung. Kan sudah di handle sama pihak kampus. Tapi ketika jalan-jalan, gue nemuin beberapa foster harga masuk. Ternyata, harga masuk prambanannya sebesar 30 ribu buat orang dewasa. Sementara, ada pengurangan bagi anak kecil.

Nah, itulah cerita gue selama di Prambanan. Tujuan tempat setelah Prambanan adalah Tebing Breksi. Wah, menarik nih. Seperti biasa, gue bakal ceritain pengalaman dan spot menarik yang ada di tempat tersebut.

Selamat jalan-jalan lagi.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Nyari Bule di Candi Prambanan Yogyakarta"

Posting Komentar

Berkomentar dengan baik ya. Ditunggu masukan yang membangun.