Jumat, 09 Maret 2018

Catatan Guru Alay - Gue Ngajar? Pingsan di Tempat!


Catatan Guru Alay - Gue Ngajar? Pingsan di Tempat!






Catatan Guru Alay - Gue Ngajar? Pingsan di Tempat!
credit: majalahouch.com



Februari 2016

Setelah lulus SMK, gue milih kerja. Ya, motivasi utama lanjut ke SMK kan emang mau cepet dapet kerjaan. Dan ternyata, pemikiran itu sungguh salah. Contohnya gue. Anak kejuruan, berubah jadi anak keguruan. Gak nyambung kan? Awalnya gue emang kerja, tapi malah nyemplung  ke dunia pendidikan. Sepertinya itu memang takdir. Gue mungkin dilatih sama Allah supaya gak jadi orang alay, dan lebay. 

Sebelum lanjut  ke cerita, gue mau ngenalin diri dulu. Tak kenal maka tak kenyang. Hooh, kalau gak kenal sama gue, elo gak akan bisa minta makanan atau minta traktir. Setidaknya, kalau lo kenal gue, nanti gue bisa kasih lo traktiran pake duit gope.

Nama gue Ujang Wardani. Jangan bilang kalau nama gue Sunda banget. Karena kenyataannya emang gitu. Waktu zaman sekolah, kadang suka gak bersyukur punya nama itu. Gimana enggak. Ujang itu nama gue. Sedangkan panggilan anak lelaki pun kalau gak tau namanya juga Ujang. Maka, mau gak mau gue harus dipanggil Ujang Ujang, atau double Ujang. Ih, gak lucu banget kan?

Maka, setelah suka menulis, gue baru tahu ada yang namanya “nama pena”. Gue singkat aja tuh Ujang Wardani jadi Ujwar. Gue ngerasa, nama itu lebih simpel dan unik. Coba lo cari di dunia ini, ada gak yang namanya Ujwar? Jarang sekali kan? Bahkan gue belum pernah nemuin. Dan gue berasa bangun kembali dari liang lahat. Eh, maksudnya, berasa seperti baru keluar melewati anunya Emak.

Nah, setelah Ujwar, gue tambahin nama pena menjadi Ujwar Firdaus. Kenapa ngasih nama itu? Karena cita-cita gue dari lahir itu pengin masuk surga. Bisa minum susu sepuasnya, madu sepuasnya, kemudian ngerasain bidadari sepuasnya. Hehe. Alhasil, gue punya nama pena, Ujwar Firdaus. Gue ganti nama fb dengan nama tersebut.

“Gaya banget ini putra Pak Endang. Pakek ganti nama!” komen salah satu temen facebook yang kebetulan satu kampung.

“Ditunggu ya nasi kuningnya. Kan udah ganti nama!” komen yang lain.

Idih. Kedua komen itu bikin gue kesel. Yang komen pertama, dia udah buka kartu tentang keluarga gue. Terus yang kedua, alay banget, kelihatan kalau dia lagi lapar. Emang sih di kampung gue, kalau mau ngasih nama anak, mau ganti nama, pasti ada acara syukurannya. Dan dalam acara syukuran itu biasanya si orang rumah ngebuat nasi kuning. 

Gue baru tahu maksud dari komentar kedua di status gue. Hey, bilang aja lo mau makan gratis. Pakek bilang ditunggu nasi kuningnya. Emang gue tukang nasi kuning?

Gue asli sunda. Garut. Tapi gue gak setangguh domba Garut. Atau gak semanis jeruk Garut. Gue hanya tangguh dan manis menurut nyokap gue. Meskipun kalau ngaca, gue justru merasa pahit sendiri lihat diri ini yang begitu alay nan lemah.

Lulusan? Udah gue bilang. Gue lulusan SMK. Meskipun udah lulus dari SMK, ujian gue belum lulus bro. Gue masih jomblo. Meskipun gue bilangnya single. Hehehe. Biar agak elit sedikit lah.

Oke, lupakan semua itu. Pertanyaannya sekarang, lo udah kenal gue kan?

Kalau sudah kenal, mari lanjut cerita gue.

Setelah  balik dari Bekasi (sebagai pekerja di salah satu perusahaan retail), gue jadi PENGACARA. Pengangguran banyak acara. Maklum, balik dari kota, masih banyak uang-lah. Dan gue jadi orang gak jelas. Ke sana-sini. Wara-wiri. Padahal tiga bulan selanjutnya, gue jadi pengangguran beneran. Gue mulai ngerasa malu sama orangtua. Uang habis, jadi bahan perbincangan tetangga. Ya, kalau nganggurnya kelamaan, entar gue dikutuk jadi batu. Gak ada manfaatnya kan bagi keluarga?

Selama itu, gue memang berusaha ngelamar kerja. Tapi gak ada yang hasil. Sampai suatu hari, ada kakak kelas yang inbox gue.

“Minat jadi guru gak?”

Gue langsung melotot. Gila. Guru? Gue aja masih perlu dibimbing, gimana mau jadi guru? Apalagi sifat gue itu rada-rada introvert. Pemalu. Mana bisa?

Awalnya, gue gak bales, tapi akhirnya, gue bales juga. “Ngajar apa? Di mana?”

“Ngajar IPA. Di SMP.”

Gue langsung diem lagi. Ngajar IPA di SMP. Aduhai. IPA itu merupakan pelajaran langka semasa gue SMK. Masa gue harus ngajar IPA?

Gue mikir panjang guys. Sampai bilang sama ortu dan konsultasi. Akhirnya, justru mereka malah setuju. Dan mereka bilang, gue emang harus timggal di kampung. Soalnya kalau di kota lagi, mereka takut. Iya, takut gue malah balik lagi. Kan sama aja bohong. Buat apa ke kota kalau pada akhirnya balik lagi ke kampung halaman? Dengan alasan nggak betah seperti sebelumnya.

Gue akhirnya ngebalas chat dia, “Tapi Teh, aku kan bukan anak IPA. Kalau anak SMA masih masuk lah ngajar IPA. Nah aku? Aku kan anak manajemen.”

“Gak apa-apa. Bisa sambil belajar.”

Gue menganggu-angguk. Kalau gak salah, waktu itulagi tiduran, sambil lihat cicak yang lagi pacaran. Huehue.

Setelah itu, gue mutusin buat nerima tawaran itu. Dan ya ... gue resmi jadi guru beberapa hari setelahnya.

Perlu kalian ketahui, di daerah gue, agak susah nyari guru. Sumber daya manusianya relatif kurang. Dan akhirnya, meski lulusan SMA, gue yang masuk. Ya, lulusan SMA pun siap adu sama lulusan S1. Iya gak? Iya –lah. Gue akan menang di otak. Otak coba-coba.

Sebelum benar-benar ngajar, gue disuruh datang ke sekolah buat ngasih lamaran kerja, juga beberapa intruksi dari sekolah.

Dari rumah, gue pakek celana jeans pensil, kemudian baju kaos dilapisi jaket berwarna merah. Terus terang, waktu itu gue kagak mandi. Soalnya lagi musim dingin. Palingan, gue mandi setelah ngerasa ada minyak dan kutu-kutu di kepala. Sebelum mandi pun, kadang gue cari tuh kutu, terus digigit sampai penyok.

Gue semangat sekali datang ke sekolah. Secara, orang alay, hobinya teriak-teriak di kamar mandi, bisa jadi guru juga. Sebelum berangkat ke sekolah untuk sesi interview, gue berdoa dulu. Semoga, kalau terpilih jadi guru, anak-anak didik gue gak kebawa alaynya. Kalau baiknya, itu wajib. Hehe.

Setelah setengah jam, akhirnya sampe di halaman sekolah dengan bangunan sederhana. Terdapat tiga kelas dan satu kantor berukuran mini. Cat bangunan itu berwarna biru putih lusuh. Mungkin belum dicat lagi sejak sekolah itu berdiri beberapa tahun silam. Gue juga lihat, bahwa di pinggir-pinggir pintu, ada kayu yang mulai lapuk.

Gue menggeleng. Bukan karena kecewa sama sekolah. Justru merasa gak habis pikir. Meski sekolah sederhana, tetapi anak-anak yang berkerumun dan bersalaman di hadapan gue terlihat semangat. Gue juga tersenyum, pasalnya, meski belum mengajar, mereka sudah sun tangan. Uuh, berkahnya jadi guru itu ya begitu. Bisa dihormati anak-anak didiknya.

Gue disambut cewek cantik yang chat dan rekomendasiin gue. Namanya Risna, cewek yang lebih tua satu tahun dari gue. Dia berjilbab, berkacamata, juga berwajah putih. Pokoknya, kalau lo cari calon istri, dia pasti mau. Sayangnya, dia lebih suka cowok yang sepadan dengannya. Bagi yang ngerasa nggak ganteng, jauh-jauh sana. Weka.

“Selamat pagi, Pak,” sapanya. Dia mempersilakan gue duduk.

Gue bersalaman sambil mesem-mesem. Perlu lo ketahui, gue itu emang tipe orang gugupan. Apalagi, gue ketemu sama dua cewek di ruangan itu. Satunya sih kenal, satunya lagi, gak kenal sama sekali.

“Kok lama, Pak?” tanya Risna.

“Iya nih, Teh. Tadi gak tahu sekolahnya di mana. Eh, ternyata masuk gang.”

Ya ampun, gue kenal Risna itu sudah sekitar empat tahunan. Kita se-SMK. Dia kakak kelas. Biasanya, kalau di sekolah, gue nyebut Teteh, dia nyebut nama. Dan pas sampai di sekolah, dia nyebut gue bapak? Amboooy, gue jadi merasa tua banget disebut bapak. Padahal unyu-unyu begini. Tapi ya, sebutan bapak di sini memang professional seorang guru kepada guru lain. Secara otomatis, gue emang udah diterima di sana.

Kemudian, gue juga berkenalan dengan guru cewek berjilbab satunya lagi. Dia lebih dewasa dari gue. Sekitar lima tahunan-lah. Namanya Fina. Lulusan STKIP Garut, jurusan Bahasa Indonesia.

Jir, gue langsung minder guys. Dia aja lulusan kuliahan, nah gue? Tapi, untungnya dia ramah. Dan elo tahu gak? Dia itu single loh. Gue makin suka lah. Sayang, dia nyari yang serius dan langsung mau nikah. Gue? Boro-boro nikah, buat bensin dari rumah ke sekolah aja minta bokap. Meskipun Cuma sepuluh rebu. Dan lagi, kalau gue beneran sama dia. Gue nikah sama yang lebih tua dong?  Bisa-bisa gue digosipkan orang-orang yang kenal gue. Mereka mungkin bakal bilang, gue dan Bu Fina adalah Rafi dan Yuni Sara versi kedua.

“Jangan heran ya, Pak.  SMP IT CINTA RAYA memang segini adanya, jadi mohon dimaklum. Kami baru memiliki dua angkatan. Dan segala urusan yang berhubungan dengan fasilitas, pun gaji guru, hanya mengandalkan BOS.”

“Gak apa-apa, Teh. Aku maklum kok.”

Hal itu membuat gue merasa terdorong untuk lebih bersemangat. Sebab, salah satu hal yang bisa dilakuin saat itu adalah maju, dan menjadi salah satu bagian dari mereka. Calon penerus bangsa. Ya, meskipun gue kadang gak serius, tapi berhubungan dengan hal tersebut, gue ikut terenyuh.

“Ya sudah, Pak. Hayu atuh, kenalan dulu sama anak-anak.” Ajak Teh Risna sambil berdiri dari duduk.

“Iya, hayu,” ajak Bu Fina yang awalnya diam saja.

Sebelum ikut berdiri, awalnya gue ragu. Kalau tahu bakal kenalan dulu, gue mau dandan agak formal lah. Seenggaknya, gue pakek sepatu pantopel, celanan kain hitam, kemeja. Nah ini? Gaya gue kaya mau karaokean sama temen. Emang dasar demen nyanyi.

Gue akhirnya ikut berdiri. Menengekor di belakang kedua wanita cantik itu. Oh iya, kebetulan, kepala sekolah sedang gak ada di tempat. Jadi gue agak lega. Soalnya gak didesak dan ditanya ini itu.

Langkah pertama masuk kelas, dada gue langsung berderu. Bayangin, mungkin darah gue mendidih di saluran peredaran darah. Badan gue mendadak panas men. Kalau gak ditahan, gue bisa kencing di tempat.

Sampai di tengah ruangan, gue memberikan senyum gugup. Mereka ada sekitar 40 orang. Kelas 1 dan kelas 2. Sikap mereka pun berbeda-beda. Ada yang tertawa, tersenyum, bahkan ada yang melototi gue. DikiranyA gue Syahrini mungkin, karena jalan gue manjah. maju mundur cantik.

Sebelum berbicara, tiba-tiba gue ingat masa SMK. Masa-masa paling buruk selama gue hidup. Waktu itu, gue sebagai MC di acara MOPD. Dan ya, ketika pertama kali gue ngomong, ada hal di luar dugaan. Dan gue benci sampe sekarang.

Waktu itu, gue berkata, “Assalamualaikum.”

Semua orang yang ada di ruangan aula SMK malah tertawa. Gue heran. Ada apa? Apa wajah gue terlalu hitam bagi mereka. Soalnya, gue juga kurang pede sama kulit gue yang gelap gulita. Namun, gue mengerti setelah ada yang berteriak.

“Woy, suara lu perlu dipermaks!”

“Suaranya mirip cewek!”

Deg! Gue langsung membeku mamen. Kaya es gitu. Ya, mereka menertawakan suara gue yang cempreng. Ampun dah. Padahal gue calon artis masa depan. Meski gue malu sama suara sendiri yang selalu disebut cempreng atau mirip cewek, gue selalu membela diri dan menghibur diri sendiri. Bahwa suara gue justru menjual.

Pas di hadapan calon anak-anak didik pun, gue ngerasa ragu untuk berbicara. Takut diketawain. Tapi gue berpikir lagi, kalau mereka ngetawain, gue ketawain balik deh. Lihat aja, ingus mereka masih pada nempel di atas bibir. Bekasnya maksudnya. Mereka udah pada besar. Malu kali kalau ada ingus.

“Assalamualaikum,” teriak gue.

Semua menjawab seperti koor.

Gue mengusap dada lega. Akhirnya gak ada yang nertawain. Ya, suara gue mungkin udah membesar. Gue udah benar-benar puber.

Gue akhirnya basa-basi sambil gugup. Gue ngerasa panas di wajah. Muka gue pastinya kaya bekas penggorengan. Hitam, panas, berminyak lagi. Tapi ya, untung aja masih bisa berbicara.

Sampai pada akhirnya, gue sedikit ngelucu. Ya, niruin acara-acara TV.

“Kalian bisa menghubungi nomor di bawa ini!” teriak gue sambil nunjuk bawah.

Mereka kontan tertawa. Karena, mana ada nomor di bawah pusar gue. yang ada ....

Oh, gue ngerti? Apa mungkin, mereka ketawa karena ngelihat nomor sempak gue ya? Entahlah. Gue jadi malu sendiri.

Akhirnya, gue bisa berkenalan dengan lancar jaya. Gak ada hambatan apa pun. Dan gue udah fiks, akan belajar serius waktu itu. Soalnya ini berhubungan dengan image gue sebagai guru. Yah, intinya gue harus bisa nempatin mimik wajah. Gimana mimik lagi nyanyi, gimana mimik lagi ngajar, dan gimana mimik lagi nabung di WC. Kan pasti beda.

Oke, intinya, cerita gue gak nyambung sama judulnya. Gak ada yang pingsan. Yang ada, gue mulai ngerasa, bahwa justru mereka yang akan pingsan lihat wajah gue di hari pertama saking kelamnya warna kulit.
***

Sabtu, 03 Maret 2018

12 Langkah Sederhana Membuat Novel


12 Langkah Sederhana Membuat Novel – Ujwar.com

12 Langkah Sederhana Membuat Novel
credit: pixabay.com



Pertama kali saya buat novel itu ketika selesai membaca novel orang lain. Waktu itu, saya jatuh cinta terhadap novel tersebut, hingga berpikir begini: kalau seandainya aku yang membuat cerita seperti ini, bakal menarik nggak ya? Dan well, setelah sekian lama berkecimpung dengan cerpen, akhirnya saya membuat novel pertama. Meskipun novel pertama itu nggak terlalu sempurna, tapi saya bangga membuat sebuah novel. Hingga saat ini, draf novel saya sudah ada sekitar 20. 5 novel diupdate di wattpad @ujwarf, 2 naskah terbit dan akan tersebar di toko buku tahun ini, dan sisanya masih ngendap. Belum tau mau digimanain.

Saya amat yakin, kalian yang juga pembaca novel pasti pernah merasakan hal yang sama. Ingin menuliskan sebuah kisah, seperti layaknya yang pernah kamu baca. Namun, sebelum menulis, kamu pasti berpikir: Gimana cara buatnya?

Dulu, saya nggak tahu, harus membuat novel dari mana dulu. Alhasil, hasilnya agak ngawur. Saat ini, saya tidak ingin mengulangi apa yang saya rasakan. Setidaknya, saya bisa membagikan hal-hal tentang langkah membuat novel yang diketahui.


Baca juga:



Langsung saja ya, simak saja, 12 cara membuat novel:


Mengerti Pengertian Novel

kita akan membuat sesuatu, tetapi sesuatu yang akan dibuat justru tidak kita ketahui. Hanya sebatas tahu nama. Sementara, arti dari nama tersebut tidak dimengerti sama sekali. 

Sama halnya dengan novel. Sebelum membuat novel, alangkah baiknya kita tahu, pengertian novel. Bedanya novel dan cerpen. Bedanya novel dan dongeng. Bedanya novel dan naskah drama. Juga perbedaan lain.

Menurut faham saya, novel adalah suatu karya yang biasanya ditulis dalam bentuk prosa, alias karangan bebas. Namun, memiliki masalah yang lebih kompleks. Biasanya akan ada kombinasi genre. Misal: romance, religi, horor, misteri, dan lain sebagainya. Meskipun, dalam campuran tersebut ada genre yang dikuatkan. Misalkan: romance.

Novel berbeda dengan cerpen. Novel lebih panjang. Bisa lebih dari 50 halaman. Sementara cerpen, ada juga yang ditulis 4-5 halaman.

Jadi, sudahkah kamu mengerti pengertian novel? Monggo cari sejelas-jelasnya sebelum benar-benar terjun membuat novel.


Mencari Premis

Sebuah novel atau cerita apa pun tidak akan jadi kalau belum ada premis. Premis itu semacam ide dasar, yang membuat cerita kita menarik dan layak untuk terus dibaca. Premis bisa dibilang masalah utama yang diangkat untuk cerita akan kita buat. 

BTW, kemarin-kemarin, saya membuat video tentang cara membuat novel di youtube “Ujwar Menulis” tapi bagian premis ini nggak saya jelaskan. Maka lengkapnya, kamu bisa baca di blog saya ya.

Oke, kembali ke premis. 

Dalam pembuatan premis, kemarin saya tidak sengaja nonton youtube-nya Kokoh Ernest. Ilmu penting yang dia sampaikan akan saya sampaikan lagi menurut bahasa saya ya.

Jadi, ketika kita membuat premis, hal yang dibutuhkan pertama adalah Who, What dan But.

Who

Kita harus tahu, siapa tokoh utama yang akan ada dalam sebuah cerita. 

What

Apa yang akan dilakukan. Atau, apa yang menjadi perjalanan cerita itu seru.

But

Di akhir, ada But. But ini adalah hambatannya. Jadi masalah yang membuat cerita semakin seru.


Sederhananya seperti ini:


Who:  Anak kampus yang jarang berkomunikasi

What: Dia mencoba bergabung dengan anak-anak gaul.

But: Namun, bergabung dengan anak gaul nggak semudah yang dipikirkan. Dia banyak mendapatkan hal rumit dan cenderung tidak membuatnya bahagia.


Itu sederhananya soal premis. Kita setidaknya harus sudah tahu, siapa tokoh utama, apa yang akan dilakukan, dan apa hambatan yang terjadi. Jelas ya?


Menentukan Tema

Tema ini bisa ditentukan sebelum premis, atau setelah. Tema ini berhubungan dengan cerita yang akan dibawa. Apakah menuju komedi, fiksi remaja, atau romance? Atau bahkan genre lainnya? Nah, Kamu sebagai penulis harus tahu, tema yang akan diambil.

Tema itu apa kak? Oke, boleh langsung cus ke video saya di youtube aja. Di sana, saya sedikit menjelaskan. Kalau kurang jelas, bisa search hal-hal yang berhubungan dengan tema.


Menentukan Tokoh dan Penokohan

Ini adalah hal penting dalam sebuah cerita. Coba bayangkan, apa yang akan terjadi jika seandainya kita tidak memiliki tokoh? Bagaimana cerita akan berjalan jika tidak ada tokoh.

Menentukan tokoh gampang-gampang susah. Buatlah tokoh yang benar-benar kamu sudah pikirkan dengan matang. Jangan sampai, kamu membuat tokoh karena asal-asalan.

“Namanya Angela. Itu nama favorit aku. Aku jadikan aja tokoh utama. Meskipun Angela itu anak yang berasal dari kalangan bawah.”

Artinya, membuat tokoh itu harus sesuai. Nama Angela biasanya hidup sebagai orang kaya, cantik, pintar, lembut, dan lain-lain. Sesuaikan dengan keadaan sekitar.

Kalau ada tokoh, sudah pasti ada penokohan, alias karakter. Saya sarankan, buatlah karakter yang tersusun rapi. Artinya, sebelum membuat novel, kamu harus matang menentukan sifat tokoh dan perawakannya. 


Menentukan Latar atau Tempat

Latar adalah salah satu hal yang harus ada dan termasuk ke dalam unsur novel. Kalau nggak ada latar, mau di mana cerita kita dieksekusi?

Jadi kawan, buatlah latar yang masuk akal. Sesuai. Jangan sampai, kita membuat latar di Jakarta, tetapi bahasa tokohnya Sunda. Kan tidak nyambung. Jakarta itu cocok sama Betawi. Seperti itulah contohnya sesuai.


Menentukan Sudut Pandang

Ada 2 sudut pandang dalam membuat karya. Ada sudut pandang pertama, penggunaannya aku dan saya. Ada sudut pandang ketiga, penggunaannya: Dia, Ia, Nya, atau nama seorang tokoh. Lalu, ke manakah sudut pandang kedua? Kok langsung ke sudut pandang ketiga?

Aku juga bingung. Ke mana tuh hilangnya sudut pandang kedua. BTW, kalau di sekolah, nggak diajarkan tuh. Tapi di dunia kepenulisan, ternyata ada juga lho sudut pandang kedua. Contohnya melibatkan pembaca ke dalam cerita. Misal: Waktu itu, kamu memandangku. Matamu agak sipit dan berkaca-kaca, tapi bibirmu tersenyum. Sementara, kamu tak berbicara apa-apa.

Penggunaan, KAMU, dalam contoh di atas adalah sudut pandang kedua.



Menentukan Alur

Sebagai calon penulis, kita harus pintar dalam menentukan alur. Ada 3 jenis alur. Alur maju, mundur, dan campuran. Biasanya, banyak yang menulis menggunakan alur maju. Sementara, alur campuran digunakan oleh para penulis professional.

Alur maju menceritakan seseorang dari awal sampai akhir. Kalau bayi, dari dia lahir sampai besar. Dari seseorang miskin, sampai kaya. Dari seseorang mencari tahu, sampai mengetahui apa yang dia cari.

Sementara, untuk alur mundur, itu kebalikan dari alur maju. Biasanya, sebabnya dulu dibicarakan, baru ditulis akibat-akibatnya. Misal: kesuksesan seseorang dibicarakan,  kemudian beralih mundur ke masa-masa si tokoh yang belum sukses.

Kalau alur campuran, biasanya ada flashback di dalam cerita. Awalnya alur maju, ditengah-tengah misal ada flashback ke masa lalu, maju lagi, mundur lagi, dan seterusnya. Untung saja nggak maju mundur cantik ya. Hehehehe.


Memiliki Ciri Khas dalam Gaya Bahasa

Nah, sebelum membuat novel juga, kamu harus sudah memiliki ciri khas dalam menulis. Setiap orang memiliki gaya bahasa berbeda-beda. Contoh kecilnya, misal kamu akan menggunakan gaya bahasa gaul di novel. Atau gaya bahasanya formal. Itu tergentung penulis. Sesuai dengan keinginan dan kesesuaian dengan cerita.


Menyelipkan Amanat

Tujuan kamu nulis apa sih? Apa hanya ingin populer? Atau hanya iseng? Atau mungkin, karena mengisi waktu luang saja?

Sebisa-bisa, milikilah niat kuat dalam menulis. Jika memiliki niat untuk bermanfaat bagi orang, maka kamu harus menyiapkan amanat dari cerita kamu untuk pembaca. Meskipun sih, amanat sebenarnya ditentukan dan disimpulkan pembaca. 


Membuat Sinopsis

Waktu belum tahu, saya nulis sinopsis setelah beres novel. Padahal, sinopsis bisa dibilang jalan cerita novel yang dibuat. Sinopsis berbeda dengan blurb atau back cover. Kalau back coverkan sesuatu yang mengundang penasaran dan terletak di belakang buku. Sementara sinopsis, itu adalah hal-hal yang ada di novel yang tidak boleh ditutup-tutupi.

Apa fungsi Sinopsis?

Fungsinya untuk membuat kerja kita semakin mudah. Ketika alur dari novel sudah ada di sinopsis, secara otomatis, kita mengerti, cerita yang akan ditulis. Hal ini juga menghindari diri dari yang namanya lupa.



Membuat Outline

Ketika kita sudah mengetahui hal-hal yang telah dipelajari sebelumnya, apakah kita bisa langsung menulis?

Sebenarnya, bisa langsung menulis, bisa juga tidak. Kalau saya  sering menggunakan outline. Outline ini semacam kerangka karangan. Kita menuliskan  ringkasan bab per bab yang kemudian akan dikembangkan menjadi sebuah novel. Ringkasnya saja. Outline lebih rumit dari sinopsis. Sinopsis bisa ditulis dalam beberapa lembar. Kalau outline, kita tuliskan juga sesuatu yang akan terjadi di dalam setiap bab novel kita. Bahkan, karakter tokoh juga bisa dimasukkan.

Apa Fungsi Outline?

Fungsinya untuk mengingatkan kita terhadap rancangan awal yang sudah dibuat. Juga menghindar dari kebiasaan menulis yang kebablasan. Dengan ada outline, kita akan semakin bisa menyusun cerita dari awal sampai akhir.

Lantas, bagaimana jika di tengah-tengah, tiba-tiba ada ide muncul, tapi nggak ada di outline?

Nah, ini yang sering terjadi. Saya juga sering mengalami hal tersebut. Jawabannya ada dua. Bisa merombak outline secara keseluruhan, atau menyisipkan ide itu di outline yang dibuat. Biasanya, saya akan menyisipkan, tanpa merubah outline awal. Pernah juag merombak outline karena mendapatkan ide yang dirasa lebih keren. Itu tergantung kebijakan penulis.


Mulailah Menulis Dengan Konsisten

Yuhuuu, setelah sudah faham dengan langkah-langkah di atas. Saatnya kamu menulis. Menulislah dengan konsisten. Biasakan untuk memiliki jadwal menulis. Misal: satu jam per hari. Lebih lama waktu yang kamu punya, lebih keren dan menyenangkan.

Banyak yang menggebu-gebu di awal, tetapi ciut di tengah-tengah. Alasannya, kebanyakan nggak punya waktu. So, hindari hal tersebut. Mau meluk karya sendiri kan? Ayolah, mulai konsisten dari sekarang.

Itulah 12 tips sebelum membuat novel. Saya harap, apa yang dituliskan bisa dicerna dengan bagi. Selamat bertemu di artikel selanjutnya.





http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html