Catatan Guru Alay - Gue Ngajar? Pingsan di Tempat!


Catatan Guru Alay - Gue Ngajar? Pingsan di Tempat!






Catatan Guru Alay - Gue Ngajar? Pingsan di Tempat!
credit: majalahouch.com



Februari 2016

Setelah lulus SMK, gue milih kerja. Ya, motivasi utama lanjut ke SMK kan emang mau cepet dapet kerjaan. Dan ternyata, pemikiran itu sungguh salah. Contohnya gue. Anak kejuruan, berubah jadi anak keguruan. Gak nyambung kan? Awalnya gue emang kerja, tapi malah nyemplung  ke dunia pendidikan. Sepertinya itu memang takdir. Gue mungkin dilatih sama Allah supaya gak jadi orang alay, dan lebay. 

Sebelum lanjut  ke cerita, gue mau ngenalin diri dulu. Tak kenal maka tak kenyang. Hooh, kalau gak kenal sama gue, elo gak akan bisa minta makanan atau minta traktir. Setidaknya, kalau lo kenal gue, nanti gue bisa kasih lo traktiran pake duit gope.

Nama gue Ujang Wardani. Jangan bilang kalau nama gue Sunda banget. Karena kenyataannya emang gitu. Waktu zaman sekolah, kadang suka gak bersyukur punya nama itu. Gimana enggak. Ujang itu nama gue. Sedangkan panggilan anak lelaki pun kalau gak tau namanya juga Ujang. Maka, mau gak mau gue harus dipanggil Ujang Ujang, atau double Ujang. Ih, gak lucu banget kan?

Maka, setelah suka menulis, gue baru tahu ada yang namanya “nama pena”. Gue singkat aja tuh Ujang Wardani jadi Ujwar. Gue ngerasa, nama itu lebih simpel dan unik. Coba lo cari di dunia ini, ada gak yang namanya Ujwar? Jarang sekali kan? Bahkan gue belum pernah nemuin. Dan gue berasa bangun kembali dari liang lahat. Eh, maksudnya, berasa seperti baru keluar melewati anunya Emak.

Nah, setelah Ujwar, gue tambahin nama pena menjadi Ujwar Firdaus. Kenapa ngasih nama itu? Karena cita-cita gue dari lahir itu pengin masuk surga. Bisa minum susu sepuasnya, madu sepuasnya, kemudian ngerasain bidadari sepuasnya. Hehe. Alhasil, gue punya nama pena, Ujwar Firdaus. Gue ganti nama fb dengan nama tersebut.

“Gaya banget ini putra Pak Endang. Pakek ganti nama!” komen salah satu temen facebook yang kebetulan satu kampung.

“Ditunggu ya nasi kuningnya. Kan udah ganti nama!” komen yang lain.

Idih. Kedua komen itu bikin gue kesel. Yang komen pertama, dia udah buka kartu tentang keluarga gue. Terus yang kedua, alay banget, kelihatan kalau dia lagi lapar. Emang sih di kampung gue, kalau mau ngasih nama anak, mau ganti nama, pasti ada acara syukurannya. Dan dalam acara syukuran itu biasanya si orang rumah ngebuat nasi kuning. 

Gue baru tahu maksud dari komentar kedua di status gue. Hey, bilang aja lo mau makan gratis. Pakek bilang ditunggu nasi kuningnya. Emang gue tukang nasi kuning?

Gue asli sunda. Garut. Tapi gue gak setangguh domba Garut. Atau gak semanis jeruk Garut. Gue hanya tangguh dan manis menurut nyokap gue. Meskipun kalau ngaca, gue justru merasa pahit sendiri lihat diri ini yang begitu alay nan lemah.

Lulusan? Udah gue bilang. Gue lulusan SMK. Meskipun udah lulus dari SMK, ujian gue belum lulus bro. Gue masih jomblo. Meskipun gue bilangnya single. Hehehe. Biar agak elit sedikit lah.

Oke, lupakan semua itu. Pertanyaannya sekarang, lo udah kenal gue kan?

Kalau sudah kenal, mari lanjut cerita gue.

Setelah  balik dari Bekasi (sebagai pekerja di salah satu perusahaan retail), gue jadi PENGACARA. Pengangguran banyak acara. Maklum, balik dari kota, masih banyak uang-lah. Dan gue jadi orang gak jelas. Ke sana-sini. Wara-wiri. Padahal tiga bulan selanjutnya, gue jadi pengangguran beneran. Gue mulai ngerasa malu sama orangtua. Uang habis, jadi bahan perbincangan tetangga. Ya, kalau nganggurnya kelamaan, entar gue dikutuk jadi batu. Gak ada manfaatnya kan bagi keluarga?

Selama itu, gue memang berusaha ngelamar kerja. Tapi gak ada yang hasil. Sampai suatu hari, ada kakak kelas yang inbox gue.

“Minat jadi guru gak?”

Gue langsung melotot. Gila. Guru? Gue aja masih perlu dibimbing, gimana mau jadi guru? Apalagi sifat gue itu rada-rada introvert. Pemalu. Mana bisa?

Awalnya, gue gak bales, tapi akhirnya, gue bales juga. “Ngajar apa? Di mana?”

“Ngajar IPA. Di SMP.”

Gue langsung diem lagi. Ngajar IPA di SMP. Aduhai. IPA itu merupakan pelajaran langka semasa gue SMK. Masa gue harus ngajar IPA?

Gue mikir panjang guys. Sampai bilang sama ortu dan konsultasi. Akhirnya, justru mereka malah setuju. Dan mereka bilang, gue emang harus timggal di kampung. Soalnya kalau di kota lagi, mereka takut. Iya, takut gue malah balik lagi. Kan sama aja bohong. Buat apa ke kota kalau pada akhirnya balik lagi ke kampung halaman? Dengan alasan nggak betah seperti sebelumnya.

Gue akhirnya ngebalas chat dia, “Tapi Teh, aku kan bukan anak IPA. Kalau anak SMA masih masuk lah ngajar IPA. Nah aku? Aku kan anak manajemen.”

“Gak apa-apa. Bisa sambil belajar.”

Gue menganggu-angguk. Kalau gak salah, waktu itulagi tiduran, sambil lihat cicak yang lagi pacaran. Huehue.

Setelah itu, gue mutusin buat nerima tawaran itu. Dan ya ... gue resmi jadi guru beberapa hari setelahnya.

Perlu kalian ketahui, di daerah gue, agak susah nyari guru. Sumber daya manusianya relatif kurang. Dan akhirnya, meski lulusan SMA, gue yang masuk. Ya, lulusan SMA pun siap adu sama lulusan S1. Iya gak? Iya –lah. Gue akan menang di otak. Otak coba-coba.

Sebelum benar-benar ngajar, gue disuruh datang ke sekolah buat ngasih lamaran kerja, juga beberapa intruksi dari sekolah.

Dari rumah, gue pakek celana jeans pensil, kemudian baju kaos dilapisi jaket berwarna merah. Terus terang, waktu itu gue kagak mandi. Soalnya lagi musim dingin. Palingan, gue mandi setelah ngerasa ada minyak dan kutu-kutu di kepala. Sebelum mandi pun, kadang gue cari tuh kutu, terus digigit sampai penyok.

Gue semangat sekali datang ke sekolah. Secara, orang alay, hobinya teriak-teriak di kamar mandi, bisa jadi guru juga. Sebelum berangkat ke sekolah untuk sesi interview, gue berdoa dulu. Semoga, kalau terpilih jadi guru, anak-anak didik gue gak kebawa alaynya. Kalau baiknya, itu wajib. Hehe.

Setelah setengah jam, akhirnya sampe di halaman sekolah dengan bangunan sederhana. Terdapat tiga kelas dan satu kantor berukuran mini. Cat bangunan itu berwarna biru putih lusuh. Mungkin belum dicat lagi sejak sekolah itu berdiri beberapa tahun silam. Gue juga lihat, bahwa di pinggir-pinggir pintu, ada kayu yang mulai lapuk.

Gue menggeleng. Bukan karena kecewa sama sekolah. Justru merasa gak habis pikir. Meski sekolah sederhana, tetapi anak-anak yang berkerumun dan bersalaman di hadapan gue terlihat semangat. Gue juga tersenyum, pasalnya, meski belum mengajar, mereka sudah sun tangan. Uuh, berkahnya jadi guru itu ya begitu. Bisa dihormati anak-anak didiknya.

Gue disambut cewek cantik yang chat dan rekomendasiin gue. Namanya Risna, cewek yang lebih tua satu tahun dari gue. Dia berjilbab, berkacamata, juga berwajah putih. Pokoknya, kalau lo cari calon istri, dia pasti mau. Sayangnya, dia lebih suka cowok yang sepadan dengannya. Bagi yang ngerasa nggak ganteng, jauh-jauh sana. Weka.

“Selamat pagi, Pak,” sapanya. Dia mempersilakan gue duduk.

Gue bersalaman sambil mesem-mesem. Perlu lo ketahui, gue itu emang tipe orang gugupan. Apalagi, gue ketemu sama dua cewek di ruangan itu. Satunya sih kenal, satunya lagi, gak kenal sama sekali.

“Kok lama, Pak?” tanya Risna.

“Iya nih, Teh. Tadi gak tahu sekolahnya di mana. Eh, ternyata masuk gang.”

Ya ampun, gue kenal Risna itu sudah sekitar empat tahunan. Kita se-SMK. Dia kakak kelas. Biasanya, kalau di sekolah, gue nyebut Teteh, dia nyebut nama. Dan pas sampai di sekolah, dia nyebut gue bapak? Amboooy, gue jadi merasa tua banget disebut bapak. Padahal unyu-unyu begini. Tapi ya, sebutan bapak di sini memang professional seorang guru kepada guru lain. Secara otomatis, gue emang udah diterima di sana.

Kemudian, gue juga berkenalan dengan guru cewek berjilbab satunya lagi. Dia lebih dewasa dari gue. Sekitar lima tahunan-lah. Namanya Fina. Lulusan STKIP Garut, jurusan Bahasa Indonesia.

Jir, gue langsung minder guys. Dia aja lulusan kuliahan, nah gue? Tapi, untungnya dia ramah. Dan elo tahu gak? Dia itu single loh. Gue makin suka lah. Sayang, dia nyari yang serius dan langsung mau nikah. Gue? Boro-boro nikah, buat bensin dari rumah ke sekolah aja minta bokap. Meskipun Cuma sepuluh rebu. Dan lagi, kalau gue beneran sama dia. Gue nikah sama yang lebih tua dong?  Bisa-bisa gue digosipkan orang-orang yang kenal gue. Mereka mungkin bakal bilang, gue dan Bu Fina adalah Rafi dan Yuni Sara versi kedua.

“Jangan heran ya, Pak.  SMP IT CINTA RAYA memang segini adanya, jadi mohon dimaklum. Kami baru memiliki dua angkatan. Dan segala urusan yang berhubungan dengan fasilitas, pun gaji guru, hanya mengandalkan BOS.”

“Gak apa-apa, Teh. Aku maklum kok.”

Hal itu membuat gue merasa terdorong untuk lebih bersemangat. Sebab, salah satu hal yang bisa dilakuin saat itu adalah maju, dan menjadi salah satu bagian dari mereka. Calon penerus bangsa. Ya, meskipun gue kadang gak serius, tapi berhubungan dengan hal tersebut, gue ikut terenyuh.

“Ya sudah, Pak. Hayu atuh, kenalan dulu sama anak-anak.” Ajak Teh Risna sambil berdiri dari duduk.

“Iya, hayu,” ajak Bu Fina yang awalnya diam saja.

Sebelum ikut berdiri, awalnya gue ragu. Kalau tahu bakal kenalan dulu, gue mau dandan agak formal lah. Seenggaknya, gue pakek sepatu pantopel, celanan kain hitam, kemeja. Nah ini? Gaya gue kaya mau karaokean sama temen. Emang dasar demen nyanyi.

Gue akhirnya ikut berdiri. Menengekor di belakang kedua wanita cantik itu. Oh iya, kebetulan, kepala sekolah sedang gak ada di tempat. Jadi gue agak lega. Soalnya gak didesak dan ditanya ini itu.

Langkah pertama masuk kelas, dada gue langsung berderu. Bayangin, mungkin darah gue mendidih di saluran peredaran darah. Badan gue mendadak panas men. Kalau gak ditahan, gue bisa kencing di tempat.

Sampai di tengah ruangan, gue memberikan senyum gugup. Mereka ada sekitar 40 orang. Kelas 1 dan kelas 2. Sikap mereka pun berbeda-beda. Ada yang tertawa, tersenyum, bahkan ada yang melototi gue. DikiranyA gue Syahrini mungkin, karena jalan gue manjah. maju mundur cantik.

Sebelum berbicara, tiba-tiba gue ingat masa SMK. Masa-masa paling buruk selama gue hidup. Waktu itu, gue sebagai MC di acara MOPD. Dan ya, ketika pertama kali gue ngomong, ada hal di luar dugaan. Dan gue benci sampe sekarang.

Waktu itu, gue berkata, “Assalamualaikum.”

Semua orang yang ada di ruangan aula SMK malah tertawa. Gue heran. Ada apa? Apa wajah gue terlalu hitam bagi mereka. Soalnya, gue juga kurang pede sama kulit gue yang gelap gulita. Namun, gue mengerti setelah ada yang berteriak.

“Woy, suara lu perlu dipermaks!”

“Suaranya mirip cewek!”

Deg! Gue langsung membeku mamen. Kaya es gitu. Ya, mereka menertawakan suara gue yang cempreng. Ampun dah. Padahal gue calon artis masa depan. Meski gue malu sama suara sendiri yang selalu disebut cempreng atau mirip cewek, gue selalu membela diri dan menghibur diri sendiri. Bahwa suara gue justru menjual.

Pas di hadapan calon anak-anak didik pun, gue ngerasa ragu untuk berbicara. Takut diketawain. Tapi gue berpikir lagi, kalau mereka ngetawain, gue ketawain balik deh. Lihat aja, ingus mereka masih pada nempel di atas bibir. Bekasnya maksudnya. Mereka udah pada besar. Malu kali kalau ada ingus.

“Assalamualaikum,” teriak gue.

Semua menjawab seperti koor.

Gue mengusap dada lega. Akhirnya gak ada yang nertawain. Ya, suara gue mungkin udah membesar. Gue udah benar-benar puber.

Gue akhirnya basa-basi sambil gugup. Gue ngerasa panas di wajah. Muka gue pastinya kaya bekas penggorengan. Hitam, panas, berminyak lagi. Tapi ya, untung aja masih bisa berbicara.

Sampai pada akhirnya, gue sedikit ngelucu. Ya, niruin acara-acara TV.

“Kalian bisa menghubungi nomor di bawa ini!” teriak gue sambil nunjuk bawah.

Mereka kontan tertawa. Karena, mana ada nomor di bawah pusar gue. yang ada ....

Oh, gue ngerti? Apa mungkin, mereka ketawa karena ngelihat nomor sempak gue ya? Entahlah. Gue jadi malu sendiri.

Akhirnya, gue bisa berkenalan dengan lancar jaya. Gak ada hambatan apa pun. Dan gue udah fiks, akan belajar serius waktu itu. Soalnya ini berhubungan dengan image gue sebagai guru. Yah, intinya gue harus bisa nempatin mimik wajah. Gimana mimik lagi nyanyi, gimana mimik lagi ngajar, dan gimana mimik lagi nabung di WC. Kan pasti beda.

Oke, intinya, cerita gue gak nyambung sama judulnya. Gak ada yang pingsan. Yang ada, gue mulai ngerasa, bahwa justru mereka yang akan pingsan lihat wajah gue di hari pertama saking kelamnya warna kulit.
***

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Catatan Guru Alay - Gue Ngajar? Pingsan di Tempat!"

Posting Komentar

Berkomentar dengan baik ya. Ditunggu masukan yang membangun.