Selasa, 24 April 2018

Juara 2 Indonesian Idol Lebih Terkenal Dibanding Juara 1, Mitos Atau Fakta?

Juara 2 Indonesian Idol Lebih Terkenal Dibanding Juara 1, Mitos Atau Fakta?



credit: tribunnews.com


Ujwar.com – Setelah pada tanggal 24 April 2018, pukul 00.30 WIB, Maria dinyatakan sebagai juara Indonesian Idol 2018, semua bahagia. Bahkan aku sebagai salah satu fans Maria ikut bahagia. Dari dulu, aku nggak pernah nonton Idol sampe selesai. Tetapi Idol 2018 ini, nyaris setiap malam Selasa, selalu nonton sampai tengah malam. Ya itu tadi, karena Maria. Yeay.

Baca juga:


Dari awal, aku memang sudah ngejagoin Maria, karena memang sudah tahu sejak Idol Junior 2014 yang masuk top 5. Aku kira, Maria yang di awal tidak terlalu diekspose, justru semakin dikenal ketika memasuki babak-babak live Indonesian Idol. Bahkan disebut kuda hitam oleh Bunda Maya. Puncaknya, Maria memang Kuda Hitam. Makin sini, penampilannya selalu stabil dan spektakuler dan berhasil mendapatkan perhatian dari netizen Indonesia, bahkan dunia.

Di balik kehebatan Maria, masih banyak orang yang menganggap remeh kekuatan Maria. Berikut aku tulis salah satu komentar yang nggak akan aku sebut siapa yang komen.

“Maria cuman menang di power aja. Udah banyak yang kaya Maria. Kalau pun dia yang juara, dia nggak bakal terkenal. Juara 1 selalu kalah sama juara 2.”

Komentar itu menurutku terkesan menyudutkan banget ya. Hanya karena suara Maria powerful, dan katanya banyak yang punya. Dia langsung judge kalau Maria nggak bakal terkenal.

Hello, emangnya kamu Tuhan, yang bisa ramal-ramal kesuksesan seseorang?

Baiklah. Sebelum menuju hal lain, aku akan rangkum beberapa kelebihan Maria, menurut pandangan penonton seperti aku. Juga beberapa komentar dari musisi dan orang-orang yang selalu me-reaction penampilan Maria.

1. Maria punya power. Dia berkesempatan menjadi salah satu penyanyi yang bisa go Internasional.

2. Maria lahap semua jenis lagu. Terutama POP. Dia bisa meng-cover lagu-lagu diva dunia yang tingkat kesulitannya tinggi.

3. Kalau nyanyi, Maria ini dikategorikan penyanyi dengan tembakkan nada yang sempurna. 

4. Maria masih muda. 16 tahun men. Kalau pun setelah lulus Idol Maria nggak seterkenal yang dikatakan kalian, waktunya masih panjang. Dia masih muda. Dia masih bisa ngelakuin banyak hal.

5. Attitude dia di atas panggung luar biasa. Mentalitasnya keren sekali. Bayangkan. Anak 16 tahun bisa tampi dengan tingkat PD yang luar biasa ini bisa dibilang ajaib.

6. Suara tingginya, meski teriak-teriak, enak didenger. Percaya atau enggak, aku justru selalu nunggu bagian Maria teriak kalau nyanyi. Kalau nggak ada teriaknya, sepertinya hambar.

7. Maria juga keren kalau nyanyi lagu lembut. Tanpa teriak-teriak pun, Maria memiliki khas tersendiri.

Di sini, aku sebagai pendukung Maria memang menekankan, bahwa Abdul atau Maria yang juara. Mereka sudah hebat dua-duanya. Tinggal, mereka menjalani dunia yang sebenarnya. Ya, masalah keterkenalan, lihat saja nanti. Dan tentu saja semuanya akan kehendak Tuhan. Bukan karena kutukan yang kalian bilang. Juara 2 pasti terkenal di banding juara 1. No, aku nggak setuju atas pendapat itu. Kenapa aku nggak setuju?

Oke, aku paparkan alasannya:

1. Masalah kepopuleran sebenarnya selera. Mau dia juara 1, atau juara 2, kalau memang disukai masyarakat dan harus terkenal. Ya Bakal terkenal.

2. Sebenarnya, kata-kata “Juara 2 akan lebih terkenal dengan juara 1”, menurutku hanya pembelaan fans yang idolanya kalah. Bener nggak sih? Kalau idola kita kalah, pasti akan ada pembelaan. Wajar-wajar saja seorang fans melakukan pembelaan. Yang terpenting, jangan melakukan pembelaan sambil ngehina orang lain. Atau merendahkan lawan.

3. Masalah populer atau tidak, itu berdasarkan prestasi. Jelas saja, kalau seseorang konsisten berkarya di dunia musik setelah lulus Idol, pasti dia akan populer dan dikenal. Seseorang akan dikenal terus kalau punya prestasi, bukan sensasi. Prestasi bukan hanya soal menang atau kalah, tetapi memiliki sebuah perbedaan. Ya itu tadi, sebuah keunikan. Dan ingat, keunikan tiap orang berbeda-beda. Tiap orang punya sisi keunikan masing-masing.

4. Populer atau tidaknya orang, itu juga berdasarkan attitude. Selama sikap si artis baik, maka akan selalu dihargai siapa saja.



Berikut catatan, juara 1 yang terkenal. Dan disukai:

1. Fatin, juara 1 X Factor Indonesia. Dia dikenal banyak orang. Dan hingga sekarang tetap eksis.

2. Lesti, juara DA, sampai sekarang lagu-lagunya selalu menjadi kesukaan.

3. Evi Masamba, juara DA, sampai sekarang, dia bahkan terus wara-wiri, dan nggak hanya nyanyi, dia juga main sinetron.

Ada pun para penyanyi, juara 2 yang terkenal. Ya itu bagus. Contohnya Judika, dia juara 2, dan eksis hingga sekarang. Jangan dikaitkan dengan predikatnya juara 2. Sebab, kepopuleran seseorang bukan berdasarkan itu.

Bahkan selain juara 2, banyak juga juara-juara 3, 4, 5 dan lain-lain yang juga masih eksis. Bahkan ada yang pernah ikut Idol, nggak lolos di idol, tetapi terkenal. Contohnya, Anji, Afgan, Vidi Aldiano, KuntoAJi, dan lain-lain.



Kesimpulannya:

Kepopuleran seseorang, nggak dikukur dari Juara. Mau Juara 1, juara 2, atau nggak juara sama sekali, kalau harus terkenal, ya bakal terkenal. Tentunya, orang yang tetap eksis biasanya orang yang memiliki prestasi dan keunggulan. Bukan sensasi.

Jadi menurutku, Juara 2 lebih populer dari juara 1 adalah mitos. Sekarang misal Abdul populer, ya bagus-lah, kan 2 besar udah keren. Mereka udah juara di hati masyarakat. Kalau pun yang juara 1 yang populer, hebat juga tuh. Karena dia berhak buat terus eksis dan dikenal masyarakat.

So, berhenti banding-bandingkan juara 1 dan 2. Berhenti mengatakan juara 2 akan lebih terkenal. Kalau aku mah, meski suka Maria, aku nggak benci Abdul. Aku suka Abdul, tapi lebih suka Maria. Itu saja sih. Kedua-duanya wajib dikenal masyarakat, karena mereka punya prestasi.

Gimana tanggapanmu. Mau ikut-ikutan nyebut kalau Juara 2 akan lebih terkenal dari juara 1? Hehehehe. Salam sukses. 





Minggu, 22 April 2018

Proses Menjadi Penulis Hingga Bisa Menerbitkan Buku

Proses Menjadi Penulis Hingga Bisa Menerbitkan Buku



Proses Menjadi Penulis Hingga Bisa Menerbitkan Buku
Dokumen pribadi. Novel TIRAH karya saya dengan nama Pena Erast Yuu






Ujwar.com - Menulis? Awalnya aku nggak kepikiran buat jadi seorang penulis, dengan tingkat hayal super tinggi. Dengan segala kesendirian yang selalu dilalui saat menulis. Saat ini, justru hal tak diduga-duga itu terjadi. Aku mungkin sudah bisa disebut penulis kali ya? Yang penting, bisa menerbitkan buku dan punya karya sendiri, kan? Wekaweka.

Lucu memang. Sesuatu yang kuanggap tidak mungkin justru menjadi mungkin setelah dilalui dan dinikmati prosesnya.

Well, kali ini, aku hanya mau curhat saja. Kenapa aku bisa menjadi penulis. Kenapa aku bisa mencintai fiksi. Kenapa aku bisa menerbitkan buku hingga bisa didapatkan di toko buku. 

Waktu kecil, aku sudah terbiasa melakukan sesuatu sendiri. Cenderung pendiam dan pemalu. Bahkan, untuk mengerjakan PR saja, aku lebih memilih mengerjakan sendiri, walau pun salah, ketimbang minta bantuan. Padahal waktu itu aku masih kelas 2 SD (Seinget aku).

Kata Mama, “Ujwar itu pinter. Kalau ngerjain PR, dia selalu sendiri. Nggak pernah minta bantuan orang.”

Lucu juga sebenarnya. Maksudnya, entah aku yang terlalu PD, atau orangtuaku yang tidak mau menemaniku mengerjakan PR. Yang jelas, sejak kecil, aku memang lebih senang menyendiri. 

Beranjak ke SMP, aku mulai mengenal diri. Tetapi mengenal dari segi buruknya. Hampir setiap saat aku berpikir bahwa aku bukan pintar. Justru bodoh dan nggak bisa apa-apa. Bahkan, aku merasa benar-benar nggak bisa apa-apa dibanding Kakak dan adik-adikku.

Ceritanya, dari segi akademik, Ujwar selalu mendapatkan rangking. Bahkan Mama bangga sekali. Tapi dari segi lain, aku seolah menjadi orang paling bodoh di dunia. Dan masa SMP itu, aku nggak tahu, aku harus ngapain. Pokoknya, stuck di sana saja.

Kata Kakak begini. Aku masih ingat persis.  “Katanya, kamu selalu rangking 1. Kenapa ngerjain yang kaya gini aja nggak bisa?”

Bapak pernah bilang gini. “Dasar bodoh! Nggak punya keahlian!”

Biasanya Bapak kalau ngomong begitu selalu berhubungan dengan mesin motor (karena emang dulu buka bengkel gitu), atau berhubungan dengan bertani. 

Masa-masa mengenal diri itu bikin aku drop. Ketika aslinya aku sudah pendiam, tekanan itu membuat aku semakin pendiam, pemalu, dan minderan. Bahkan di SMP, aku nggak mampu bersosial seperti yang lain. Hanya ada perasaan malu di dalam hati.

Aku selalu berpikir gini, “Aku mah kata Bapak juga bodoh! Nggak bisa apa-apa.”

Makanya, sampai sekarang aku nggak pernah dekat sama, Bapak. Yah, entah siapa yang harus disalahkan. Yang jelas, aku sayang orangtuaku, tetapi kaya nggak bisa apa-apa aja kalau di depan mereka. Kaku dan canggung. Bayang-bayang tekanan masalalu itu terus membekas.

Selain dari keluarga, aku juga memiliki tekanan dari lingkungan. Aku baru sadar kalau aku agak gemulai sejak SMP. Maka, makanan sehari-hariku adalah cacian, makian, dan olok-olok. Kata mereka:

“Dasar kaya cewek!”

Bahkan aku punya nama panggilan yang masih melekat hingga sekarang. “Pegi Melati Sukma”

Tiap hari, aku selalu diolok-olok dengan sebutan itu “PEGI” (salah satu artis wanita). Tapi aku justru benci karena aku bukan wanita.

Sebenarnya, aku malu lho, bicara soal keresahanku selama ini. Tapi biarlah. Sudah saatnya aku bersahabat dengan diriku sendiri. Yang terpenting, aku masih menjadi diri sendiri, dengan segala kekurangan dan kelebihanku. Yang terpenting, aku nggak pakai rok, make up, dan mangkal di jalan-jalan. Hahaha. Lucu sekali.

Beranjak SMA, aku mulai punya motivasi baru. Aku mencoba mengubah image-ku sebagai orang yang kata orang kemayu. Aku mulai beorganisasi, aku mulai ikut Paskibra, ROHIS (Rohani Islam) dan banyak lagi.

Hingga, di SMA kelas 2, aku ketemu sama cewek. Teman sekelas, yang aktif menulis. Sampai sekarang, dia aktif juga nulis lho. Dan, semoga dia baca. Hehe. 

Bisa dibilang, motivasi pertama aku nulis karena dia. Aku tertarik sama dia. Aku suka sama dia. Karena dia berbeda dengan orang-orang lainnya. Well, akhirnya aku nulis juga. Meski perlu digarisbawahi, bahwa motivasi paling besar (selain cewek tadi) yaitu karena aku merasa nggak bisa apa-apa. Hanya menulis yang kubisa (aku berpikirnya gitu waktu itu).

Aku hanya bertahan satu tahun menulis cerpen karena memang motivasinya nggak kuat. Sampai akhirnya aku berhenti nulis sampai lulus SMA tahun 2015. Setelah itu, aku menulis lagi kira-kira bulan Mei karena mengisi waktu luang. Ikut event indie. Hingga, pada akhir 2016, saya memilih fokus di novel aja, hingga sekarang.

2015, aku menerbitkan kumpulan cerpen berjudul Gado-gado In Life terbitan Al Qalam Media. Dan akhir 2016, aku menerbitkan novel berjudul REMAJA ISLAMI MASA KINI dari penerbit Nerin Media.

Cerpen-cerpen itu kalau kubaca sekarang suka bikin ketawa. Entah karena tanda baca yang kurang bagus, ide yang nggak masuk akal, dan lain sebagainya. Tapi aku tetap bangga dengan tulisan itu. Kalau nggak ada tulisan itu, siapa aku sekarang? Eh, aku tetap manusia kan. Hehehehe.

Mengumpulkan sertifikat dari lomba penerbit indie, menerbitkan dua buku secara indie, ternyata belum cukup bagi aku. Aku mulai mengenal bedanya penerbit Indie dan Mayor. Aku mulai tahu, masing-masing keuntungan dan kekurangannya.

Well, setelah mengetahui soal Indie dan Mayor aku mulai lebih banyak diam. Ngga wara-wiri nerbitin buku. Semakin sini, justru aku semakin nggak PD, karena di luar sana justru banyak sekali penulis penuh talenta. Sementara aku? Aku mah apah atuh. Manusia biasa. Hehe.

Aku diam bukan berarti nggak bergerak. Aku berpikir buat nulis, nulis dan nulis. Istilahnya, aku mencoba terus memantaskan diri. Dengan banyak menulis, maka tulisanku mungkin akan lebih berkembang. Dan kenyatannya, sedikit demi sedikit memang berkembang. Terbukti saat aku berhasil dibuat ketawa ketika membaca tulisan lama.

2017, aku mulai mengubah pola pikir. Kata orang, setiap tulisan akan punya rumah masing-masing. Karena aku sudah punya stok sekitar 20 novel, aku sebarlah ke penerbit. Tapi tahu responsnya gimana? Huehue.

Ada yang nolak halus dengan memberikan pemberitahuan. Ada pula yang gantung bahkan hingga kini. Haha. Aku sudah ditolak sekitar 15 penerbit.

Oh iya, sebelum itu, pada tahun 2016, aku juga ngerintis Penerbit Indie. Ujwart Media. Aku mikirnya gini: Aku ingin bantu orang yang susah nerbitin, nambah uang jajan (tentu aja), dan juga supaya gampang nerbitin buku. Supaya kalau ditolak, tinggal lari ke indie punya sendiri. Alhamdulillah, sekarang Ujwart Media sudah memiliki team, sudah resmi juga menjadi CV. Ujwart Media, dan inshaa allah akan terus berkembang. (Bantu aminkan).


Nah, kembali ke tahun 2017.

Di tahun itu, aku nulisnya semakin rajin kan ya. Sampe punya stok 20 novel, wkwkwk. Hingga, aku ketemu sama Kak Erby, salah satu penulis yang karyanya sudah terbit di seluruh Indonesia dan di negara tetangga. Dia ngajakin nulis cerpen bareng buat project untuk Scritto Books. 

Aku terima dong. Kesempatan bisa nulis bareng orang-orang hebat. Plus akan diterbitkan dan disebar di toko buku. Itu kan cita-citaku setelah mengenal Mayor label’s. Dan dari sana, lahirlah buku DARAH Awal 2018 lalu. Kumpulan Cerpen DARAH bisa didapatkan di toko buku ya.

Tebing Breksi, Yogyakarta

Setelah lahir DARAH, kebetulan, aku nulis di WATTPAD. Dan ternyata, Pak Domi selaku Owner ScrittoBooks, tertarik buat nerbitin salah satu novel. Yups, Novel TIRAH yang sekarang lagi open pre order-lah yang aku maksud. Buku ini OPEN PRE ORDER sampai 5 Mei 2018. Dengan harga 40 ribu (Harga asli 50 ribu), dan kamu yang punya buku ini dapat kesempatan liburan ke Bromo selama 2 hari. Keren nggak tuh? Makanya, ikutan PO. WKwkwkw. Promosi Mode On.

Dokumen Penerbit


Lahirnya novel TIRAH sebenarnya nggak nyangka. Masa sih, aku yang dulu nggak PD’an, yang selalu merasa bodoh, yang selalu merasa minder, bisa nulis, terus bisa nerbitin buku?

Ya, inilah jalan dari Allah. Ketika waktu itu aku terpuruk, setelah lulus SMA, aku benar-benar ngerasain bagaimana nikmatnya jadi diri sendiri. Bayangkan, aku suka nyanyi dari kecil, tapi baru mulai merasa PD ketika lulus SMA. Aku mulai nyanyi di acara sekolah, nikahan, acara-acara islami di kampung, bahkan tahun 2016, pernah ikut Rising Star, meski nggak lolos. WKwkwk. Namanya juga mulai mengenal diri, meski suaranya belum bisa dibilang bagus, tetapi aku mulai mengenal diri, terutama soal kesukaan.

Baca juga: 

Soal menyanyi sangat sebanding dengan menulis. Aku berpikir, ketika aku nggak bisa apa-apa, maka menulis adalah salah satu cara buat menjadi diri sendiri, dengan segala kebodohan itu.  Makanya, aku bertekad buat nerbitin buku hingga 100 judul (Ini goal yang harus dicapai, hehe).

Setelah TIRAH ini, mungkin ada novel lain yang akan terbit. Scritto bahkan sudah meminta dua naskah lagi yang sempat kuupload di WATTPAD. Dari sini aku mulai bertanya: nikmat mana lagi yang harus aku dustai? Pasalnya, Allah telah membuka jalan selebar-lebarnya.

Saat ini, aku sibuk jadi singer abal-abal, hehehe. Kemarin ikut audisi di salah satu TV lokal di Garut dan dapat kesempatan latihan bareng. Kalau perkembanganku bagus, mungkin aku akan mulai nyanyi dengan skala yang lebih besar. Doakan.

Selain nyanyi, aku sekarang owner Ujwart Media yang aku cintai dan kasihi. Karena dengan penerbitan indie (yang inshaa allah akan jadi Mayor suatu saat) aku bisa jajan permen, bayar ini-itu, tanpa harus menyusahkan orangtua.

Selain jadi owner, tentu saja saya seorang author. Kerjaanku nulis. Everyday. Selain nulis, mungkin ngupil kalau lagi senggang. Nonton film kalau lagi nyari inspirasi. Nge-youtube kalau lagi pengin lihat Maria nyanyi. Hehehe. Dan masih banyak lagi.

Aku nggak hanya nulis novel, tapi sesekali nulis curhatan kaya gini buat dipasang di blog-ku tercintah.  Pokoknya, menulis sudah bagian dari hidupku. Nggak nulis sekali saja, hampa hatiku.
BTW, alhamdulillah, orangtua selalu mendukung apa yang kukerjakan. Sesuatu hal yang pernah membuat aku sakit telah aku simpan dan kukenang. Bagiku, hal itu adalah motivasi untukku supaya lebih maju.

Bagiku, prosesku menulis dari latar belakang kehidupanku, hingga sekarang, merupakan proses yang panjang. Meskipun proses ini belum cukup. Faktanya, aku masih mau mengejar cita-cita. Salah satunya menjadikan Ujwart penerbit yang professional dan besar. Hingga aku bisa jadi blogger traveller. Yang bisa mengunjungi berbagai tempat dengan aroma sejuknya.

Sekian curhat kali ini. Curhatan ini disponsori oleh rasa syukur yang teramat besar. Semoga, apa yang menjadi jalan dan cita-citaku bisa berjalan dengan baik. Tentu saja, aku juga mendoakan cita-cita kalian yang membaca cerita ini. Semoga segera terwujud. Semangaaaaat. 

Eh iya, jangan nanya Ujwar masih gemulai atau enggak. Mending kita ketemu yak. Aku akan tunjukkan kemacoanku. Wkwkwkwk. Sekian dan terima gaji.







Selasa, 10 April 2018

11 Cara Mendapatkan Rating di Wattpad

11 Cara Mendapatkan Rating di Wattpad

11 Cara Mendapatkan Rating di Wattpad
Credit: variety.com

Ujwar.com – Wattpad sekarang menjadi salah satu platform yang sangat dikenal di kalangan penulis dan pembaca Indonesia. Tak jarang, naskah-naskah wattpad kemudian dicetak dalam bentuk buku oleh penerbit. Baik Mayor, atau Indie.

Ada beberapa pertanyaan yang muncul lewat inbox facebook-ku. Bunyinya gini: Gimana sih, cara dapet rating di WATTPAD?

Mendengar pertanyaan itu, aku langsung diam seribu bahasa. Suer. Aku bukan pakar WATTPAD, aku bukan juga team dari ambassador WATTPAD Indonesia. Pokoknya, aku mah apah atuh, bukan siapa-siapa.

Terus terang, pertanyaan seperti di atas juga merupakan pertanyaanku selama ini juga. So, mari kita kupas bareng-bareng sesuai apa yang kuketahui.

Aku daftar akun WATTPAD pertengahan 2015. Beberapa kali pernah update cerita, kemudian aku hapus dan unpublish karena nggak PD. Sejak saat itu, saya nggak buka WATTPAD lagi. Kira-kira akhir 2016, aku nulis cerita pertama. Dan itu bikin aku ngakak setelah melihat karya pertama itu, yang sudah aku unpublish lagi.

 2017, aku mulai fokus nulis di WATTPAD hingga sekarang, dan mungkin selamanya. Hehehe. Aku mulai nyaman dan PD buat share tulisanku di sana. Hingga beberapa ceritaku masuk 20 besar, bahkan 10 besar, meskipun belum pernah rating #1.

Gimana cara dapat rating di wattpa? Baiklah, langsung saja, berikut 11 Cara Supaya Cerita Kita Memiliki Rating di WATTPAD.


1. Sajikan Tulisan yang Keren

Ini langkah pertamanya. Kalau mau populer, mau nggak mau naskahmu harus bagus. Definisi bagus sendiri berbeda-beda, tergantung persepsi orang. Namun menurutku, yang menjadi faktor bagus bukan hanya dari segi ide, tetapi dari banyak hal. Apakah naskahku bagus? Itu diserahkan ke pembaca yes. Yang penting, buatlah cerita semenarik mungkin. Semampu kita.


2. Sajikan Cover Menarik

Hal lain yang  juga  penting adalah cover. Don’t Judge By Cover. Benar sih, tapi mau nggak mau, orang-orang akan tetap nilai sesuatu dari luar. Karena nalurinya seperti itu. Manusia akan lebih tertarik melihat gambar ketimbang tulisannya. Jadi, buat covermu semenarik mungkin.

3. Judul

Judul. Yups, Judul akan tertera di cover. Maka buatlah judul yang bisa menarik perhatian. Beberapa tren di WATTPAD sempat aku ikuti. Di genre romance, judul yang mengandung unsur “CEO” selalu menempati posisi atas, atau paling tidak 100 besar. Judul memang sangat penting, sebab, judul merupakan identitas dari tulisan. Coba kunjungi 9 Rahasia Membuat Judul Novel Supaya Menarik Perhatian Orang

4. Tulis Deskripsi Yang Mengundang Penasaran

Deskripsi itu penting, silakan buatlah kesan pertama pembaca di deskripsi. Orang-orang akan mmebaca cerita jika deskripsinya nyantol.

5. Penggunaan HASTAG

Di mana-mana, hastag menjadi hal penting untuk memperkenalkan sesuatu. Di IG, di facebook, blog, termasuk WATTPAD. Tulislah hastag populer yang bisa mengantarkan orang-orang untuk bisa membaca tulisanmu. Tulis hastag sebanyak-banyaknya yang sesuai dan menggambarkan isi cerita.

6. Ramaikan Komentar

Banyak di antara para penulis yang malas membalas satu per satu komentar orang-orang yang hadir di tulisan kita. Sadar atau tidak, keberadaan mereka justru membuat tulisan kita terus ter-up. WATTPAD senang jika cerita kita memiliki tingkat keramaian yang tinggi. Ada interaksi antara penulis dan pembacanya.

Ingat, jangan sombong. Jangan malas juga. Mulailah membalas komentar atau sekadar berbincang-bincang. Makin ramai cerita kita, makin ada kesempatan untuk mendapatkan rating.

7. Kepiawaian Memilih Genre

Aku tanya, kalau nulis di Genre Romance, atau Tenfiction, kira-kira kesempatan dapat ratingnya besar atau kecil?

Aku sendiri, kalau nulis di romance, belum pernah masuk rating. Paling mentok rating 900. Hahay, pokoknya romance dan tenfiction memang genre yang ramai banget. Soalnya di sana, banyak juga penulis terkenal yang lahir.

Kalau menurut aku, nulis di dua genre ini perlu strategi yang benar-benar bagus supaya bisa menarik perhatian. Kalau sudah meledak di dua genre tersebut, dijamin, kamu bakal jadi seleb WATTPAD. Soalnya dua genre ini memang sering dibicarakan.

Aku sendiri memilih nulis di genre yang tidak terlalu banyak pengguna, seperti misteri dan horor. Sering dapat rating di sana. Naskahku yang berjudul Tumbal pernah masuk rating 9, meskipun kembali terjun ke 12, 20, sampai ke 100. Hingga sekarang, naskah itu masih masuk rating, meskipun nggak stabil di 100 besar.

8. Rutin Update

Ini yang penting. Sering kali, kita ngotot pengen dapet rating, tapi kita nggak disiplin dalam update cerita.

Pengalamanku sendiri, karena aku update rutin 2 kali seminggu, maka naskahku selalu masuk rating meski tidak rating satu. Semakin rutin, maka kita akan semakin cepat dapat rating. Jadi, ayo rutin, jangan seenaknya. Hehehehe.

9. Banyaknya Followers

Cerita kita berkesempatan memiliki rating ketika memiliki banyak followers. Followers kita akan mengangkat cerita kita. Mereka yang komen, vote, atau share kapada orang lain. Gimana caranya banyak followers? Bisa dibaca 15 Cara Populer di Wattpad.

10. Pentingnya Vote Dalam Cerita

Vote itu bintang kan ya. Ketika orang lain ngasih vote, secara otomatis, cerita kita memang didukung untuk terus ada, terus lanjut, dan ditunggu-tunggu kehadirannya. 

Ada yang suka minta vote nggak sama orang? Hehe. Aku sendiri, dulu sering tuh minta vote. Nggak peduli cerita dibaca atau enggak.

Sekarang, aku sadar, kalau minta vote, sebenarnya hal yang nggak terlalu baik menurutku. Orang yang membaca cerita kita, kemungkinan besar akan ngasih vote. Dan orang yang langsung ngasih vote, apalagi bomvote, belum tentu baca cerita kita. 

Intinya, jangan memikirkan bagaimana orang-orang me-vote cerita kita. Tapi pikirkan, bagaimana caranya agar orang-orang mau baca cerita kita. Itu yang paling penting. Semakin banyak yang baca, semakin banyak vote. Semakin banyak vote, semakin tinggi kesempatan untuk dapat rating.

11. Mengulang Update

Mengulang update adalah salah satu cara agar tulisan kita ter up kembali. Sebenarnya, cara ini agak membuat kesal bagi seseorang yang sudah membaca. Misal: kita sudah update bab 12, kemudian kita sengaja unpublish, lalu dipublish lagi, seolah memang cerita baru. Hal itu membuat cerita naik, sementara pembaca yang nunggu kesel. Kok sudah di-up, tapi cerita barunya nggak ada.

Intinya, cerita ini bisa digunakan untuk sekadar membuat tulisan naik, tapi nggak boleh sering-sering. Aku sendiri sudah jarang menggunakan cara ini. Tapi bagi kamu, bisa dicoba cara ini, meskipun enggak disarankan.

Nah, itulah 11 cara agar tulisan kita dapat rating di WATTPAD. Sebenarnya, aku sendiri nggak terlalu mengharapkan rating ya. Tapi kadang, bagi sebagian orang, mendapatkan rating adalah kebanggaan tersendiri. Selain itu, rating bisa ngebuat cerita kita makin populer karena terletak di posisi atas dan kemungkinan besar akan diklik dan dibaca. So, boleh dicoba cara-cara di atas. Semua berdasarkan pengalamanku ya, nggak asal.

Yuhuuu, sekian tulisanku kali ini. Semoga bermanfaat ya guys. Tetap semangat menulis meski nggak dapet rating. Hehehehe.







Senin, 02 April 2018

Catatan Guru Alay - Ujwar Kalah Fasionable

Catatan Guru Alay - Ujwar Kalah Fasionable
Catatan Guru Alay - Ujwar Kalah Fasionable
credit: Pixabay.com


Garut, Februari 2016

Sebelum ke cerita ini, bisa buka dulu: Catatan Guru Alay - Gue Ngajar? Pingsan di Tempat!




Cerita ini masih terjadi di bulan Februari 2016, awal-wal gue ngajar di SMP IT CINTA RAYA. 

Jadi ceritanya, pagi-pagi, dari rumah, gue berangkat dengan sangat semangat. Sebelum berangkat, gue siap-siap sambil nyanyti-nyanyi, berharap, gue bisa berubah seperti penyanyi yang lagunya gue nyanyikan. Ya, seenggaknya ada keajaiban gitu, udah mending lagunya gue nyanyiin terus. Dan, lagunya adalah .... lagu apa ya? Gue lupa. Saking banyaknya lagu yang sering gue nyanyiin. Oke, lupakan, kembali ke gue yang sedang ganti baju.

Jam setengah tujuh, gue habis selesai dari jamban. Gue lupa, mandi apa enggak ya waktu itu. Yang jelas, gue sikat gigi, terus basahin rambut (Berarti gak mandi). Lalu gue segera mengganti baju di kamar.

Terus terang, karena gue gak punya pengalaman tampil resmi, gue agak bingung mau makai baju apa. Gue belum pernah nikah, jadi gue gak punya kemeja plus jasnya. Gue juga belum pernah jadi penghulu, jadi gue gak punya kemeja yang tangan panjang. Alhasil, gue pakek celana hitam bekas SMK, plus kemeja lebaran gue. Entah itu resmi atau enggak.

Namun, setelah gue mematut-matutkan wajah. Melihat penampilan gue di cermin, gak terlalu buruk-lah. Gue terlihat lebih tua dewasa saat make baju biru kotak-kota lengan pendek, kemudian celana hitam yang masih layak pake. Ditambah rambut gue yang klimis, baju gue yang disemprot parfum, juga ketek gue yang dipakein deodoran.

Sampai sana, gue tertawa. Gue ngerasa bahwa gue tidak akan bikin malu di hadapan murid-murid yang ganteng dan cantik, ya, ganteng dan cantik dari belakang maksudnya, kali dari depan, ya lo pikirin sendiri aja deh.

Terus terang, waktu itu Mama gue bangga banget gue jadi guru. Sampai-sampai, gue dijadikan bahan gosip sama rekan-rekannya. Tetangga gue, juga anggota keluarga. Ya, gue bersyukur deh. Meski gaji gue 15 x lipat turun dari gaji gue per bulan di perusahaan retail di Bekasi. Oke, gue gak perlu bilang ya gaji gue berapa di Bekasi, yang jelas UMR. Silakan itung perbandingan gaji gue sebelum dan setelah jadi guru honorer.  Tapi meski begitu, pengalaman gak bisa dibandingkan sama uang. Benarkan?

Gue kemudian pamit sama keluarga. Cus menggunakan motor untuk menuju tempat kerja. Eh iya, sekolah termpat gue ngajar cukup jauh lho. Beda kecamatan. Gue itu di kecamatan Cisurupan. Sementara, sekolah tempat gue ngajar, di kecamatan Cikajang. Jaraknya sekitar 20 km. Untung ada si biru punya bokap gue. Si bebek merek jupiter.

Setengah jam selanjutnya, gue sampai di sekolah. Gue mengembuskan napas. Angin pagi seolah menembus badan gue ketika mengendarai motor. Maklum, gue pakek jeket tipis, kemudian gak pakek helm. Aduuh, maaf ya, kalau gue guru yang gak taat peraturan. Terus terang, waktu itu gue belum punya helm, jadi deh gak pakek. Maaf juga kalau malah curhat. Gue hanya berharap, siapa tahu ada yang pengin beliin gue helm. 

Dengan ceria, gue masuk ke ruangan kantor. Keceriaan gue langsung hilang ketika masuk, lalu menemukan seorang cowok sedang duduk. Perfect. Dia rapi, ganteng, putih, tinggi. Badan gue langsung gemetar. Gue jatuh cinta?

Eh, bukan ding, maksudnya, gue jatuh cinta sama gayanya. Dan gue baper tingkat tinggi saat lihat gaya gue yang apa adanya.

Nih ya, meski gak ngerti-ngerti amat sama fashion, tapi gue tahu, kalau guru yang entah siapa namanya itu orangnya fashionable. Gayanya itu enak dipandang deh pokoknya. Kemeja lengan panjang dengan kain tebal, kemudian kancing-kancing yang terbuat dari alumunium yang mengilat, Sepatu pentopel mengilat, celana kain yang tebal dan hampir ketat. Ah, pokoknya sempurnaaaaa.

Setelah sadar bahwa beberapa menit terdiam, gue akhirnya mengulurkan tangan, bersalaman.

“Pak Ujang ya?” tanyanya.

Gue langsung mengangguk. Ya ampun, nama gue, ditambah kata Pak di depannya terlihat tua banget. Kaya nama tahun sembilan puluhan. Setelah itu, gue ikut bicara, “Eh, ini pak siapa ya?”

“Saya Irfan, guru matematika,” katanya.

Gue manggut-manggut.

Dia perfect banget. Jomblo lagi. Iya, ini kesempatan lo lo pada buat deketin dia. Dia juga lulusan STKIP Garut, jurusan matematika.

Sebelum masuk, gue duduk-duduk di kursi kantor. Baru kami berdua di sana. Suasananya dingin sekali. Gue diem, sesekali lihat HP, padahal baterenya lowbet. Formalitas aja. Atau kalau enggak, gue lihat sepatu pentopel yang pinggir-pinggirnya udah sobek. Pengin nangis. Suer. Sementara, dia juga cuek dengan ponselnya. Gue tahu, ponselnya itu lumayan mahal. Ponsel merk ternama itu lho. Samsung. Dan gue kembali ciut.

Selama belasan menit, gue memutar otak. Ingin sekali memulai pembicaraan, tapi gak bisa. Dasar gue emang pemalu dan pendiem, apalagi kalau sudah ada rasa minder, pasti susah berkata-kata. Padahal, kalau disuruh kentut, pasti jelas.

Ah, untung saja, waktunya belajar dimulai. Gue segera keluar dari kantor. Gerah. Lari dari Pak Irfan bikin gue tenang. Entah kenapa, dada gue deg-degan kalau lihat dia. Apakah ini yang dinamakan cinta? Ah, lupakan. Gue cinta sama penampilan dan wajahnya. Kenapa gue diciptain melebihi dia? Malah lebih buruk dari dia. Hooh, gue ngerasa gitu waktu itu. Gak bersyukur banget kan? Dan waktu itu gue gak nyadar kalau gue udah gak bersyukur, baru sadar sekarang, setelah setahun ngajar.

Nah, masuk kelas, gue dismbut sama anak-anak kelas satu. Anak-anak yang terlihat ceria. Entah karena lihat wajah gue, atau lihat rambut gue yang bersinar-sinar. Ya, meskipun hanya rambut gue yang dikagumi, gue tetap bersyukur kok (Nangis dipojokan).

Seperti biasa. Gue malakukan pembukaan. 

Waktui itu, gue masih berkata dengan bahasa indonesia. Beda dengan sekarang yang dikit-dikit inggris, dikit-dikit inggris. Padahal gue juga belum ngerti bener tuh bahasa asing. Waktu itu, gue melakukan perkenalan secara detail. Kemudian, prestasi yang pernah gue raih.

“Bapak pernah meraih lomba cerpen, juara satu!”

Tepuk tangan menyeruak.

“Bapak pernah mengikuti lomba pidato bahasa inggris!”

Tepuk tangan lagi

“Bapak pernah mendapatkan predikat cowok paling lama jomblo!”

Hoho, kalimat ketika, hanya hyalan. Gue gak sebut itu. Hehe. tapi sih, gue jadi baper gara-gara kata jomblo. Sampai saat ini, belum ada yang bisa gue gaet. Hem.

Setelah perkenalan panjang lebar, giliran mereka yang berkenalan. Ini yang bikin gue seneng. Gue ingin berkenalan dengan mereka yang jumlahnya sekitar 13 orang kalau gak salah. Memang sedikit. Sebab, belum banyak yang tahu akan keberadaan sekolah tempatku mengajar.

Hal yang paling lucu dalam perkenalan, gue bisa melihat langsung gaya anak-anak. Terutama cowok. Dan gue langsung kembali minder, ketika ada anak cowok bernama Ridwan yang rambutnya dicukur rapi, terus atasnya di cukur pakek gunting jig-jag gitu. Dicancung ke atas.

Aje gila, murid aja gayanya ngalahin gue. Haduh. Padahal mereka baru kelas satu.

Anak cowok lain, yang namanya Ari tak kalah keren. Rambutnya yang tebal di golep ke belakang. Basah dan mengilat dengan minyak rambut. Pasti pakek satu set minyak rambut. Gue tahu, karena gue juga makek yang itu. Yang harganya gope itu lho.

***

Jam istirahat, gue ngobrol-ngobrol sama Pak Irfan. Dia tanya-tanya soal tempat tinggal gue. Dan kebetulan, ternyata dia juga dari Cisurupan. Bedanya hanya di Desa. Dan rumah dia lebih jauh dari rumah gue.

Kebetulan, ada Bu Risna juga. Gue gak terlalu canggung sekarang, karena ada yang benar-benar gue kenal.

Hal yang bikin gue iri dan ditambah mupeng adalah kegiatan promosi.

Pantes saja Pak Irfan fashionable banget. Dia itu jualan baju, celana, sandal, dan lain-lain. Pokoknya segala yang berhubungan dengan kebutuhan personal, dia jual. Mungkin juga dia make baju bagus gara-gara gak laku. Jadi dipakek. Hehe. 

“Ayo pak, di pilih,” kata Bu Risna. Dia sedang milih gaun dan baju model cewek.

Gue melongo aja. Bu Risna nyuruh gue milih-milih? Milih-milih gaun? Masa iya?

Ternyata, ada dua kresek putih besar. Yang satu berisi baju cewek kaya gaun dan busan muslim gitu. Dan yang satu berisi kemeja cowok. Di sinilah bagian mupengnya.

“Ini nih yang cocok buat Bapak mah,” kata Pak Irfan, dia menyodorkan keresek putih.

Di dalam kresek sana, ada berbagai macam kemeja. Gue pilih-pilih.

“Berapa harganya Pak?” Gue iseng nanya.

“Tiga ratus ribu,” jawabnya santai.

Gue langsung bengong? Amboy. Buat beli kemeja model gitu aja musti dua kali gajian jadi guru dulu. 

Dari sana, gue menyimpan kembali kemeja itu. Sementara, mulai mendengar percakapan Bu Risnaadan Pak Irfan tentang baju-baju itu. Tuhan, gue bener-bene kalah dari segi apa pun di banding Pak Irfan. Terutama kalah fasionable.

Akhirnya, gue kembali masuk kelas setelah istirahat. Sujud syukur, sebab gue gak lagi dihantui rasa iri. Halah, gue lihat kemeja lusuh yang gue pakek, kemudian menggosok mata. Mencoba tegar. Mendadak, gue semakin minder dengan penampilan gue.

***





http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html