Senin, 02 April 2018

Catatan Guru Alay - Ujwar Kalah Fasionable

Catatan Guru Alay - Ujwar Kalah Fasionable
Catatan Guru Alay - Ujwar Kalah Fasionable
credit: Pixabay.com


Garut, Februari 2016

Sebelum ke cerita ini, bisa buka dulu: Catatan Guru Alay - Gue Ngajar? Pingsan di Tempat!




Cerita ini masih terjadi di bulan Februari 2016, awal-wal gue ngajar di SMP IT CINTA RAYA. 

Jadi ceritanya, pagi-pagi, dari rumah, gue berangkat dengan sangat semangat. Sebelum berangkat, gue siap-siap sambil nyanyti-nyanyi, berharap, gue bisa berubah seperti penyanyi yang lagunya gue nyanyikan. Ya, seenggaknya ada keajaiban gitu, udah mending lagunya gue nyanyiin terus. Dan, lagunya adalah .... lagu apa ya? Gue lupa. Saking banyaknya lagu yang sering gue nyanyiin. Oke, lupakan, kembali ke gue yang sedang ganti baju.

Jam setengah tujuh, gue habis selesai dari jamban. Gue lupa, mandi apa enggak ya waktu itu. Yang jelas, gue sikat gigi, terus basahin rambut (Berarti gak mandi). Lalu gue segera mengganti baju di kamar.

Terus terang, karena gue gak punya pengalaman tampil resmi, gue agak bingung mau makai baju apa. Gue belum pernah nikah, jadi gue gak punya kemeja plus jasnya. Gue juga belum pernah jadi penghulu, jadi gue gak punya kemeja yang tangan panjang. Alhasil, gue pakek celana hitam bekas SMK, plus kemeja lebaran gue. Entah itu resmi atau enggak.

Namun, setelah gue mematut-matutkan wajah. Melihat penampilan gue di cermin, gak terlalu buruk-lah. Gue terlihat lebih tua dewasa saat make baju biru kotak-kota lengan pendek, kemudian celana hitam yang masih layak pake. Ditambah rambut gue yang klimis, baju gue yang disemprot parfum, juga ketek gue yang dipakein deodoran.

Sampai sana, gue tertawa. Gue ngerasa bahwa gue tidak akan bikin malu di hadapan murid-murid yang ganteng dan cantik, ya, ganteng dan cantik dari belakang maksudnya, kali dari depan, ya lo pikirin sendiri aja deh.

Terus terang, waktu itu Mama gue bangga banget gue jadi guru. Sampai-sampai, gue dijadikan bahan gosip sama rekan-rekannya. Tetangga gue, juga anggota keluarga. Ya, gue bersyukur deh. Meski gaji gue 15 x lipat turun dari gaji gue per bulan di perusahaan retail di Bekasi. Oke, gue gak perlu bilang ya gaji gue berapa di Bekasi, yang jelas UMR. Silakan itung perbandingan gaji gue sebelum dan setelah jadi guru honorer.  Tapi meski begitu, pengalaman gak bisa dibandingkan sama uang. Benarkan?

Gue kemudian pamit sama keluarga. Cus menggunakan motor untuk menuju tempat kerja. Eh iya, sekolah termpat gue ngajar cukup jauh lho. Beda kecamatan. Gue itu di kecamatan Cisurupan. Sementara, sekolah tempat gue ngajar, di kecamatan Cikajang. Jaraknya sekitar 20 km. Untung ada si biru punya bokap gue. Si bebek merek jupiter.

Setengah jam selanjutnya, gue sampai di sekolah. Gue mengembuskan napas. Angin pagi seolah menembus badan gue ketika mengendarai motor. Maklum, gue pakek jeket tipis, kemudian gak pakek helm. Aduuh, maaf ya, kalau gue guru yang gak taat peraturan. Terus terang, waktu itu gue belum punya helm, jadi deh gak pakek. Maaf juga kalau malah curhat. Gue hanya berharap, siapa tahu ada yang pengin beliin gue helm. 

Dengan ceria, gue masuk ke ruangan kantor. Keceriaan gue langsung hilang ketika masuk, lalu menemukan seorang cowok sedang duduk. Perfect. Dia rapi, ganteng, putih, tinggi. Badan gue langsung gemetar. Gue jatuh cinta?

Eh, bukan ding, maksudnya, gue jatuh cinta sama gayanya. Dan gue baper tingkat tinggi saat lihat gaya gue yang apa adanya.

Nih ya, meski gak ngerti-ngerti amat sama fashion, tapi gue tahu, kalau guru yang entah siapa namanya itu orangnya fashionable. Gayanya itu enak dipandang deh pokoknya. Kemeja lengan panjang dengan kain tebal, kemudian kancing-kancing yang terbuat dari alumunium yang mengilat, Sepatu pentopel mengilat, celana kain yang tebal dan hampir ketat. Ah, pokoknya sempurnaaaaa.

Setelah sadar bahwa beberapa menit terdiam, gue akhirnya mengulurkan tangan, bersalaman.

“Pak Ujang ya?” tanyanya.

Gue langsung mengangguk. Ya ampun, nama gue, ditambah kata Pak di depannya terlihat tua banget. Kaya nama tahun sembilan puluhan. Setelah itu, gue ikut bicara, “Eh, ini pak siapa ya?”

“Saya Irfan, guru matematika,” katanya.

Gue manggut-manggut.

Dia perfect banget. Jomblo lagi. Iya, ini kesempatan lo lo pada buat deketin dia. Dia juga lulusan STKIP Garut, jurusan matematika.

Sebelum masuk, gue duduk-duduk di kursi kantor. Baru kami berdua di sana. Suasananya dingin sekali. Gue diem, sesekali lihat HP, padahal baterenya lowbet. Formalitas aja. Atau kalau enggak, gue lihat sepatu pentopel yang pinggir-pinggirnya udah sobek. Pengin nangis. Suer. Sementara, dia juga cuek dengan ponselnya. Gue tahu, ponselnya itu lumayan mahal. Ponsel merk ternama itu lho. Samsung. Dan gue kembali ciut.

Selama belasan menit, gue memutar otak. Ingin sekali memulai pembicaraan, tapi gak bisa. Dasar gue emang pemalu dan pendiem, apalagi kalau sudah ada rasa minder, pasti susah berkata-kata. Padahal, kalau disuruh kentut, pasti jelas.

Ah, untung saja, waktunya belajar dimulai. Gue segera keluar dari kantor. Gerah. Lari dari Pak Irfan bikin gue tenang. Entah kenapa, dada gue deg-degan kalau lihat dia. Apakah ini yang dinamakan cinta? Ah, lupakan. Gue cinta sama penampilan dan wajahnya. Kenapa gue diciptain melebihi dia? Malah lebih buruk dari dia. Hooh, gue ngerasa gitu waktu itu. Gak bersyukur banget kan? Dan waktu itu gue gak nyadar kalau gue udah gak bersyukur, baru sadar sekarang, setelah setahun ngajar.

Nah, masuk kelas, gue dismbut sama anak-anak kelas satu. Anak-anak yang terlihat ceria. Entah karena lihat wajah gue, atau lihat rambut gue yang bersinar-sinar. Ya, meskipun hanya rambut gue yang dikagumi, gue tetap bersyukur kok (Nangis dipojokan).

Seperti biasa. Gue malakukan pembukaan. 

Waktui itu, gue masih berkata dengan bahasa indonesia. Beda dengan sekarang yang dikit-dikit inggris, dikit-dikit inggris. Padahal gue juga belum ngerti bener tuh bahasa asing. Waktu itu, gue melakukan perkenalan secara detail. Kemudian, prestasi yang pernah gue raih.

“Bapak pernah meraih lomba cerpen, juara satu!”

Tepuk tangan menyeruak.

“Bapak pernah mengikuti lomba pidato bahasa inggris!”

Tepuk tangan lagi

“Bapak pernah mendapatkan predikat cowok paling lama jomblo!”

Hoho, kalimat ketika, hanya hyalan. Gue gak sebut itu. Hehe. tapi sih, gue jadi baper gara-gara kata jomblo. Sampai saat ini, belum ada yang bisa gue gaet. Hem.

Setelah perkenalan panjang lebar, giliran mereka yang berkenalan. Ini yang bikin gue seneng. Gue ingin berkenalan dengan mereka yang jumlahnya sekitar 13 orang kalau gak salah. Memang sedikit. Sebab, belum banyak yang tahu akan keberadaan sekolah tempatku mengajar.

Hal yang paling lucu dalam perkenalan, gue bisa melihat langsung gaya anak-anak. Terutama cowok. Dan gue langsung kembali minder, ketika ada anak cowok bernama Ridwan yang rambutnya dicukur rapi, terus atasnya di cukur pakek gunting jig-jag gitu. Dicancung ke atas.

Aje gila, murid aja gayanya ngalahin gue. Haduh. Padahal mereka baru kelas satu.

Anak cowok lain, yang namanya Ari tak kalah keren. Rambutnya yang tebal di golep ke belakang. Basah dan mengilat dengan minyak rambut. Pasti pakek satu set minyak rambut. Gue tahu, karena gue juga makek yang itu. Yang harganya gope itu lho.

***

Jam istirahat, gue ngobrol-ngobrol sama Pak Irfan. Dia tanya-tanya soal tempat tinggal gue. Dan kebetulan, ternyata dia juga dari Cisurupan. Bedanya hanya di Desa. Dan rumah dia lebih jauh dari rumah gue.

Kebetulan, ada Bu Risna juga. Gue gak terlalu canggung sekarang, karena ada yang benar-benar gue kenal.

Hal yang bikin gue iri dan ditambah mupeng adalah kegiatan promosi.

Pantes saja Pak Irfan fashionable banget. Dia itu jualan baju, celana, sandal, dan lain-lain. Pokoknya segala yang berhubungan dengan kebutuhan personal, dia jual. Mungkin juga dia make baju bagus gara-gara gak laku. Jadi dipakek. Hehe. 

“Ayo pak, di pilih,” kata Bu Risna. Dia sedang milih gaun dan baju model cewek.

Gue melongo aja. Bu Risna nyuruh gue milih-milih? Milih-milih gaun? Masa iya?

Ternyata, ada dua kresek putih besar. Yang satu berisi baju cewek kaya gaun dan busan muslim gitu. Dan yang satu berisi kemeja cowok. Di sinilah bagian mupengnya.

“Ini nih yang cocok buat Bapak mah,” kata Pak Irfan, dia menyodorkan keresek putih.

Di dalam kresek sana, ada berbagai macam kemeja. Gue pilih-pilih.

“Berapa harganya Pak?” Gue iseng nanya.

“Tiga ratus ribu,” jawabnya santai.

Gue langsung bengong? Amboy. Buat beli kemeja model gitu aja musti dua kali gajian jadi guru dulu. 

Dari sana, gue menyimpan kembali kemeja itu. Sementara, mulai mendengar percakapan Bu Risnaadan Pak Irfan tentang baju-baju itu. Tuhan, gue bener-bene kalah dari segi apa pun di banding Pak Irfan. Terutama kalah fasionable.

Akhirnya, gue kembali masuk kelas setelah istirahat. Sujud syukur, sebab gue gak lagi dihantui rasa iri. Halah, gue lihat kemeja lusuh yang gue pakek, kemudian menggosok mata. Mencoba tegar. Mendadak, gue semakin minder dengan penampilan gue.

***





0 komentar:

Posting Komentar

Berkomentar dengan baik ya. Ditunggu masukan yang membangun.

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html