Minggu, 22 April 2018

Proses Menjadi Penulis Hingga Bisa Menerbitkan Buku

Proses Menjadi Penulis Hingga Bisa Menerbitkan Buku



Proses Menjadi Penulis Hingga Bisa Menerbitkan Buku
Dokumen pribadi. Novel TIRAH karya saya dengan nama Pena Erast Yuu






Ujwar.com - Menulis? Awalnya aku nggak kepikiran buat jadi seorang penulis, dengan tingkat hayal super tinggi. Dengan segala kesendirian yang selalu dilalui saat menulis. Saat ini, justru hal tak diduga-duga itu terjadi. Aku mungkin sudah bisa disebut penulis kali ya? Yang penting, bisa menerbitkan buku dan punya karya sendiri, kan? Wekaweka.

Lucu memang. Sesuatu yang kuanggap tidak mungkin justru menjadi mungkin setelah dilalui dan dinikmati prosesnya.

Well, kali ini, aku hanya mau curhat saja. Kenapa aku bisa menjadi penulis. Kenapa aku bisa mencintai fiksi. Kenapa aku bisa menerbitkan buku hingga bisa didapatkan di toko buku. 

Waktu kecil, aku sudah terbiasa melakukan sesuatu sendiri. Cenderung pendiam dan pemalu. Bahkan, untuk mengerjakan PR saja, aku lebih memilih mengerjakan sendiri, walau pun salah, ketimbang minta bantuan. Padahal waktu itu aku masih kelas 2 SD (Seinget aku).

Kata Mama, “Ujwar itu pinter. Kalau ngerjain PR, dia selalu sendiri. Nggak pernah minta bantuan orang.”

Lucu juga sebenarnya. Maksudnya, entah aku yang terlalu PD, atau orangtuaku yang tidak mau menemaniku mengerjakan PR. Yang jelas, sejak kecil, aku memang lebih senang menyendiri. 

Beranjak ke SMP, aku mulai mengenal diri. Tetapi mengenal dari segi buruknya. Hampir setiap saat aku berpikir bahwa aku bukan pintar. Justru bodoh dan nggak bisa apa-apa. Bahkan, aku merasa benar-benar nggak bisa apa-apa dibanding Kakak dan adik-adikku.

Ceritanya, dari segi akademik, Ujwar selalu mendapatkan rangking. Bahkan Mama bangga sekali. Tapi dari segi lain, aku seolah menjadi orang paling bodoh di dunia. Dan masa SMP itu, aku nggak tahu, aku harus ngapain. Pokoknya, stuck di sana saja.

Kata Kakak begini. Aku masih ingat persis.  “Katanya, kamu selalu rangking 1. Kenapa ngerjain yang kaya gini aja nggak bisa?”

Bapak pernah bilang gini. “Dasar bodoh! Nggak punya keahlian!”

Biasanya Bapak kalau ngomong begitu selalu berhubungan dengan mesin motor (karena emang dulu buka bengkel gitu), atau berhubungan dengan bertani. 

Masa-masa mengenal diri itu bikin aku drop. Ketika aslinya aku sudah pendiam, tekanan itu membuat aku semakin pendiam, pemalu, dan minderan. Bahkan di SMP, aku nggak mampu bersosial seperti yang lain. Hanya ada perasaan malu di dalam hati.

Aku selalu berpikir gini, “Aku mah kata Bapak juga bodoh! Nggak bisa apa-apa.”

Makanya, sampai sekarang aku nggak pernah dekat sama, Bapak. Yah, entah siapa yang harus disalahkan. Yang jelas, aku sayang orangtuaku, tetapi kaya nggak bisa apa-apa aja kalau di depan mereka. Kaku dan canggung. Bayang-bayang tekanan masalalu itu terus membekas.

Selain dari keluarga, aku juga memiliki tekanan dari lingkungan. Aku baru sadar kalau aku agak gemulai sejak SMP. Maka, makanan sehari-hariku adalah cacian, makian, dan olok-olok. Kata mereka:

“Dasar kaya cewek!”

Bahkan aku punya nama panggilan yang masih melekat hingga sekarang. “Pegi Melati Sukma”

Tiap hari, aku selalu diolok-olok dengan sebutan itu “PEGI” (salah satu artis wanita). Tapi aku justru benci karena aku bukan wanita.

Sebenarnya, aku malu lho, bicara soal keresahanku selama ini. Tapi biarlah. Sudah saatnya aku bersahabat dengan diriku sendiri. Yang terpenting, aku masih menjadi diri sendiri, dengan segala kekurangan dan kelebihanku. Yang terpenting, aku nggak pakai rok, make up, dan mangkal di jalan-jalan. Hahaha. Lucu sekali.

Beranjak SMA, aku mulai punya motivasi baru. Aku mencoba mengubah image-ku sebagai orang yang kata orang kemayu. Aku mulai beorganisasi, aku mulai ikut Paskibra, ROHIS (Rohani Islam) dan banyak lagi.

Hingga, di SMA kelas 2, aku ketemu sama cewek. Teman sekelas, yang aktif menulis. Sampai sekarang, dia aktif juga nulis lho. Dan, semoga dia baca. Hehe. 

Bisa dibilang, motivasi pertama aku nulis karena dia. Aku tertarik sama dia. Aku suka sama dia. Karena dia berbeda dengan orang-orang lainnya. Well, akhirnya aku nulis juga. Meski perlu digarisbawahi, bahwa motivasi paling besar (selain cewek tadi) yaitu karena aku merasa nggak bisa apa-apa. Hanya menulis yang kubisa (aku berpikirnya gitu waktu itu).

Aku hanya bertahan satu tahun menulis cerpen karena memang motivasinya nggak kuat. Sampai akhirnya aku berhenti nulis sampai lulus SMA tahun 2015. Setelah itu, aku menulis lagi kira-kira bulan Mei karena mengisi waktu luang. Ikut event indie. Hingga, pada akhir 2016, saya memilih fokus di novel aja, hingga sekarang.

2015, aku menerbitkan kumpulan cerpen berjudul Gado-gado In Life terbitan Al Qalam Media. Dan akhir 2016, aku menerbitkan novel berjudul REMAJA ISLAMI MASA KINI dari penerbit Nerin Media.

Cerpen-cerpen itu kalau kubaca sekarang suka bikin ketawa. Entah karena tanda baca yang kurang bagus, ide yang nggak masuk akal, dan lain sebagainya. Tapi aku tetap bangga dengan tulisan itu. Kalau nggak ada tulisan itu, siapa aku sekarang? Eh, aku tetap manusia kan. Hehehehe.

Mengumpulkan sertifikat dari lomba penerbit indie, menerbitkan dua buku secara indie, ternyata belum cukup bagi aku. Aku mulai mengenal bedanya penerbit Indie dan Mayor. Aku mulai tahu, masing-masing keuntungan dan kekurangannya.

Well, setelah mengetahui soal Indie dan Mayor aku mulai lebih banyak diam. Ngga wara-wiri nerbitin buku. Semakin sini, justru aku semakin nggak PD, karena di luar sana justru banyak sekali penulis penuh talenta. Sementara aku? Aku mah apah atuh. Manusia biasa. Hehe.

Aku diam bukan berarti nggak bergerak. Aku berpikir buat nulis, nulis dan nulis. Istilahnya, aku mencoba terus memantaskan diri. Dengan banyak menulis, maka tulisanku mungkin akan lebih berkembang. Dan kenyatannya, sedikit demi sedikit memang berkembang. Terbukti saat aku berhasil dibuat ketawa ketika membaca tulisan lama.

2017, aku mulai mengubah pola pikir. Kata orang, setiap tulisan akan punya rumah masing-masing. Karena aku sudah punya stok sekitar 20 novel, aku sebarlah ke penerbit. Tapi tahu responsnya gimana? Huehue.

Ada yang nolak halus dengan memberikan pemberitahuan. Ada pula yang gantung bahkan hingga kini. Haha. Aku sudah ditolak sekitar 15 penerbit.

Oh iya, sebelum itu, pada tahun 2016, aku juga ngerintis Penerbit Indie. Ujwart Media. Aku mikirnya gini: Aku ingin bantu orang yang susah nerbitin, nambah uang jajan (tentu aja), dan juga supaya gampang nerbitin buku. Supaya kalau ditolak, tinggal lari ke indie punya sendiri. Alhamdulillah, sekarang Ujwart Media sudah memiliki team, sudah resmi juga menjadi CV. Ujwart Media, dan inshaa allah akan terus berkembang. (Bantu aminkan).


Nah, kembali ke tahun 2017.

Di tahun itu, aku nulisnya semakin rajin kan ya. Sampe punya stok 20 novel, wkwkwk. Hingga, aku ketemu sama Kak Erby, salah satu penulis yang karyanya sudah terbit di seluruh Indonesia dan di negara tetangga. Dia ngajakin nulis cerpen bareng buat project untuk Scritto Books. 

Aku terima dong. Kesempatan bisa nulis bareng orang-orang hebat. Plus akan diterbitkan dan disebar di toko buku. Itu kan cita-citaku setelah mengenal Mayor label’s. Dan dari sana, lahirlah buku DARAH Awal 2018 lalu. Kumpulan Cerpen DARAH bisa didapatkan di toko buku ya.

Tebing Breksi, Yogyakarta

Setelah lahir DARAH, kebetulan, aku nulis di WATTPAD. Dan ternyata, Pak Domi selaku Owner ScrittoBooks, tertarik buat nerbitin salah satu novel. Yups, Novel TIRAH yang sekarang lagi open pre order-lah yang aku maksud. Buku ini OPEN PRE ORDER sampai 5 Mei 2018. Dengan harga 40 ribu (Harga asli 50 ribu), dan kamu yang punya buku ini dapat kesempatan liburan ke Bromo selama 2 hari. Keren nggak tuh? Makanya, ikutan PO. WKwkwkw. Promosi Mode On.

Dokumen Penerbit


Lahirnya novel TIRAH sebenarnya nggak nyangka. Masa sih, aku yang dulu nggak PD’an, yang selalu merasa bodoh, yang selalu merasa minder, bisa nulis, terus bisa nerbitin buku?

Ya, inilah jalan dari Allah. Ketika waktu itu aku terpuruk, setelah lulus SMA, aku benar-benar ngerasain bagaimana nikmatnya jadi diri sendiri. Bayangkan, aku suka nyanyi dari kecil, tapi baru mulai merasa PD ketika lulus SMA. Aku mulai nyanyi di acara sekolah, nikahan, acara-acara islami di kampung, bahkan tahun 2016, pernah ikut Rising Star, meski nggak lolos. WKwkwk. Namanya juga mulai mengenal diri, meski suaranya belum bisa dibilang bagus, tetapi aku mulai mengenal diri, terutama soal kesukaan.

Baca juga: 

Soal menyanyi sangat sebanding dengan menulis. Aku berpikir, ketika aku nggak bisa apa-apa, maka menulis adalah salah satu cara buat menjadi diri sendiri, dengan segala kebodohan itu.  Makanya, aku bertekad buat nerbitin buku hingga 100 judul (Ini goal yang harus dicapai, hehe).

Setelah TIRAH ini, mungkin ada novel lain yang akan terbit. Scritto bahkan sudah meminta dua naskah lagi yang sempat kuupload di WATTPAD. Dari sini aku mulai bertanya: nikmat mana lagi yang harus aku dustai? Pasalnya, Allah telah membuka jalan selebar-lebarnya.

Saat ini, aku sibuk jadi singer abal-abal, hehehe. Kemarin ikut audisi di salah satu TV lokal di Garut dan dapat kesempatan latihan bareng. Kalau perkembanganku bagus, mungkin aku akan mulai nyanyi dengan skala yang lebih besar. Doakan.

Selain nyanyi, aku sekarang owner Ujwart Media yang aku cintai dan kasihi. Karena dengan penerbitan indie (yang inshaa allah akan jadi Mayor suatu saat) aku bisa jajan permen, bayar ini-itu, tanpa harus menyusahkan orangtua.

Selain jadi owner, tentu saja saya seorang author. Kerjaanku nulis. Everyday. Selain nulis, mungkin ngupil kalau lagi senggang. Nonton film kalau lagi nyari inspirasi. Nge-youtube kalau lagi pengin lihat Maria nyanyi. Hehehe. Dan masih banyak lagi.

Aku nggak hanya nulis novel, tapi sesekali nulis curhatan kaya gini buat dipasang di blog-ku tercintah.  Pokoknya, menulis sudah bagian dari hidupku. Nggak nulis sekali saja, hampa hatiku.
BTW, alhamdulillah, orangtua selalu mendukung apa yang kukerjakan. Sesuatu hal yang pernah membuat aku sakit telah aku simpan dan kukenang. Bagiku, hal itu adalah motivasi untukku supaya lebih maju.

Bagiku, prosesku menulis dari latar belakang kehidupanku, hingga sekarang, merupakan proses yang panjang. Meskipun proses ini belum cukup. Faktanya, aku masih mau mengejar cita-cita. Salah satunya menjadikan Ujwart penerbit yang professional dan besar. Hingga aku bisa jadi blogger traveller. Yang bisa mengunjungi berbagai tempat dengan aroma sejuknya.

Sekian curhat kali ini. Curhatan ini disponsori oleh rasa syukur yang teramat besar. Semoga, apa yang menjadi jalan dan cita-citaku bisa berjalan dengan baik. Tentu saja, aku juga mendoakan cita-cita kalian yang membaca cerita ini. Semoga segera terwujud. Semangaaaaat. 

Eh iya, jangan nanya Ujwar masih gemulai atau enggak. Mending kita ketemu yak. Aku akan tunjukkan kemacoanku. Wkwkwkwk. Sekian dan terima gaji.







0 komentar:

Posting Komentar

Berkomentar dengan baik ya. Ditunggu masukan yang membangun.

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html