Jumat, 20 Juli 2018

Pengalaman Audisi SUCA 4 di Bandung

Pengalaman Audisi SUCA 4 di Bandung

Pengalaman Audisi SUCA 4 di Bandung



Ujwar.com – Yuhuuu, setelah sekian lama diam tanpa update, akhirnya nulis juga. Dan tulisan ini dipersembahkan buat kawan-kawanku yang penasaran soal audisi SUCA 4.

Baiklah, semua orang yang berteman denganku di media sosial mungkin tahu bahwa aku ikut audisi Stand Up Comedya Academy 4 di Indosiar. Dan sebagai salah satu orang alay bin eksis, aku selalu update apa yang terjadi dari awal audisi sampai akhir. Well, kali ini, aku mau ceritain semuanya. Dari berangkat, sampai pulang lagi.

BTW, jangan baca bagian akhirnya aja ya. Sebab banyak kejadian lucu yang mungkin akan buat kalian ilfil sama aku.


Berangkat dari Garut, 14 Juli 2018.

Awalnya, aku mau berangkat hari Jumat, 13 Juli 2018, dan nginep di kosan teman. Tapi kemudian, aku berpikir lagi: kalau seandainya nginep, keluar lagi uang dong. Pertama buat makan satu hari, kedua buat ongkos bolakk-balik. Akhirnya aku mutusin datang audisi hari Sabtu, 14 Juli 2018.

Seperti yang telah kita ketahui, setiap audisi talent show, pasti diadakan di kota-kota besar. Sama halnya dengan SUCA. Kebetulan, audisi kali ini di Bandung, dan Bandung adalah kota terdekat dari Garut. Tetangga. 

2016, aku sempat ikut audisi Rising Star di SABUGA Bandung, dan untuk kedua kalinya, aku ikut audisi di bidang berbeda. Komedi tunggal. Dan kebetulan sekali, tempat audisi kemarin di kampus STKS Bandung. Jalan Juanda, Dago.

Aku berangkat pukul 7 pagi. Naik Elf jurusan terminal Leuwi Panjang, Bandung. Seperti biasa, karena terlalu PD dengan kesehatan, aku makan sebanyak-banyaknya dari rumah. Saking antusiasnya, pagi itu aku nggak boker dulu. Padahal jadwalnya memang pagi.

Waktu audisi Rising Star, aku deg-degan banget karena pertama kali ke Bandung. Sendiri lagi. Di jalan, waktu itu nggak berhenti berdoa, sambil pura-pura baca buku. Masih inget, waktu itu aku bawa buku Matahari, karya Tere Liye.

Sementara, audisi kemarin lebih tenang-lah. Aku merasa bahwa aku sudah memiliki pengalaman dalam audisi. Meski berbeda jenis. Kebetulan, kemarin aku juga bawa buku karya Tere Liye. Masih seri Bumi, judulnya Ceroz dan Batozar. Wih, kok bisa kebetulan ya, setiap audisi bawa buku Tere Liye? Terus buku seri yang sama lagi. Pokoknya, aku padamu, Bang Tere.

Balik lagi ke berangkat.

Kamu masih ingat, bahwa aku nggak boker dulu?

Jadi beban. Suer. Dan etakutan itu kejadian juga. Sekitaran Jalan Leles, Garut, perut mules. Muleeeees. Nggak bisa jelasin. Aku udah nyenderin badan, udah nunduk, udah ngapa-ngapain, pokoknya mules. Waktu itu aku berpikir: Masa aku harus turun di sini? Sayang. Ongkos double.

Menahan boker lebih tersiksa dari sakit gigi. Ampun dah, untung nggak tembus. 

Setelah aku memejamkan mata sejenak, mules itu mulai hilang. Aku agak tenang. Sementara elf masih di Nagreg. Hadeuh, gimana kalau mules itu datang lagi? Ya ampun, apa karena aku jomblo, tuh mules ngedatangin mulu? Huhu. 

Perlu kalian ketahui, kalau ke mana-mana, aku paling anti mabuk kendaraan. Suer deh. Nggak pernah muntah di kendaraan. Dan audisi kemarin? Kalian bisa tebak!

Sepanjang jalan Nagreg, mules itu kembali datang. Yang satu mules pengin BAB, yang satu mules pengin muntah. Mereka seolah-olah bertarung di dalam perut. Berebut, yang mana yang akan keluar.

Sugesti juga mungkin, di dalam otak, aku berpikir untuk tidak BAB. Gimana mungkin aku BAB di dalam elf? Mungkin itu akan jadi aib terbesar selama aku hidup. Akhirnya, mules pengin muntahlah yang menang. Setelah di Jalan Soekarno Hatta, aku tumbang. Mabuk kendaraan. 

Untung saja aku masih waras, aku buka jendela, dan langsung muntah saat itu juga. Gilaaaa, kalau tahu gitu, aku bawa kresek deh. Sayangnya, karena dari rumah udah PD nggak bakalan muntah, aku nggak siapin apa-apa.

Muntah sudah, dan masalah terakhir adalah mules pengin BAB.

Untung saja, setelah benar-benar yang bawah pengin dikeluarin, elf sampai di depan terminal Leuwi Panjang. Aku ngacir ke toilet. Dan dari sana, lega sudah. Berasa lagi panas diberi air es. Segerrrr.

Masih ingat, tahun lalu aku nyasar di Terminal. Nyari-nyari bus jurusan Dago. Sampai kemudian, ada satpam yang ngasih tahu, kalau ke Dago itu biasanya naik Damri. Tentu saja untuk perjalanan kali ini nggak pakek muter-muter nyari Damri. Aku udah hapal, dalam lima menit, setelah keluar dari toilet, aku nemu Damri, dan langsung naik. Waktu itu setengah sepuluh.

Aku kira, Damri itu terus melaju sampai Jalan Juanda nomor 367 (Alamat tempat audisi), namun belum sampai sana, kalau nggak salah di Simpang Dago, DAMRI belok ke arah UNIKOM Bandung, duh, aku lupa alamatnya.

Aku langsung panik. Lho, lho, gimana?

Akhirnya aku minta turun sebelum melaju jauh. Dan penderitaan sepertinya memang belum habis.

Aku kembali ke jalan Juanda. Waktu itu masih nomor 90 kalau nggak salah. Dan akhirnya aku memilih jalan kaki sampai Jalan Juanda No. 367. Sekitar 4 kilo kali ya. Lupa juga. Tapi nggak capek dan nggak tepar sama sekali. Mungkin karena saking semangatnya.




Aku udah kaya orang Bandung aja yang lagi ngelurusin kaki dengan jalan kaki. Padahal mah orang Garut, yang sok-sok-an pengin audisi.

Kamu tahu gimana rasanya setelah sampe di tempat tujuan? Plong. Lebih dari bucat bisul plongnya. Pokoknya tenang banget. Akhirnya aku nggak nyasar lagi, pikirku saat itu.






Di Tempat Audisi, STKS Bandung

Masuk ke tempat audisi, masih banyak yang antri. Hadeuh, ada teman, pikirku. Namun pas ke sana, gabung di barisan dengan kawan-kawan yang lain, tetep aja kikuk. Nggak berani kenalan. Dan akhirnya diem sendirian. Gini nih nasib audisi nggak bawa rombongan.


Selama ngantri, aku hanya diam. Sesekali liat HP, lihat buku TIRAh yang memang sengaja aku poto-potoin. Kata orang-orang: tuh orang ngapain yaaa? (Mungkin).

Stand Up Comedy itu identik dengan orang-orang banyak omong, nyablak dan punya selera humor tinggi. Kebukti sih, soalnya di sekelilingku pada doyan ngomong. Aku hanya diem. Senyum, senyum, nguap, ada laler, dimakan deh.

Sampai pada akhirnya, aku ketemu Bang Uus. Omaygat. Itu  orang emang tinggi benar. Sayang, aku nggak minta foto. Antrian udah panjang. Kalau minta foto, entar diserobot orang. Dan well, aku hanya liatin orang-orang yang happy bisa foto ma komika absurd kek dia. Hadeuh, jadi kepikiran sama dia. Bang, kenapa gue nggak bisa foto sama lo, Bang. Huhuhu.



Sampai ke tempat audisi pukul 10. Dan ngantri buat dapet nomor audisi pukul 12. 30. Daebak. Setelah mendapakan nomor peserta, aku memilih ke mesjid kampus. Nenangin diri dulu. Dan Bang Uus udah nggak ada. Eh, masih ada ding. Tapi aku malu pas mau minta foto. 


Jadi guys, kamu musti tahu, aslinya, aku tuh pemalu banget. Suer. Tapi aku tipe orang yang keukeuh. Kalau pengin sesuatu, pasti akan berusaha dilakuin. Terwujud atau nggak terwujud. Dan kesukaan terhadap Stand Up pun hanya terjadi karena aku penikmat stand up. Pernah sih open Mic, dihadapan murid-muridku. Mereka ketawa aja meski aku tahu, bahwa materiku nggak lucu. Wkwkwk. Sayangnya minta foto memang bukan goalsku yang pertama, akhirnya nggak maksain nyamperin tuh artis.

Dalam proses audisi, aku menunggu sampai pukul setengah sepuluh malam. Bayangin men, aku udah boker dua kali di toilet kampus, udah jajan bakso tahu satu porsi, udah nguap puluhan kali, udah ngedumel, udah ketawa liat kekonyolan orang-orang. Bahkan udah ngantuk banget.

Dan ketika audisi, itu hanya 3 menit. Waw, nunggunya beberapa jam. Kan gilaaa ya.


Keputusan Lolos Atau Enggak




Ini yang kalian tunggu-tunggu guys. Jadi, satu menit sebelum audisi, aku deg-degan banget. Setelah ngedumel bareng Nanda, temen yang kebetulan ketemu di sana, akhirnya nomor peserta aku dan dia, juga 3 teman lain dipanggil. Ah, plong, sekaligus, masalah baru.

Jadi, tipe audisi SUCA ini nggak jauh beda sama audisi nyanyi waktu dulu. Ada room kecil, yang di dalamnya terdapat juri. Waktu nyanyi, jurinya ada 2, dan waktu SUCA kemarin, jurinya ada 1. Bayangin, aku harus ngelucu di depan satu orang saja? Kabarnya, jurinya juga jutek-jutek.

Sistem dalam SUCA 4 ini ada beberapa tahap. Audisi pertama, itu di room, yang aku bilang barusan, jurinya lokal. Jika lolos, maka akan melaju ke tahap 2, jurinya kru indosiar, plus satu atau dua komika terkenal. Setelah itu, baru tahap 3. Tahap 3 dilakukan hari Minggu, 15 Juli 2018 di sebuah kafe di Bandung. Ini ditonton puluhan orang, dijuriin komika asli, dan video yang ini yang akan ditayangin di TV entar.


Pertanyaannya, apakah aku lolos?

“Ujwar ...”

Deg! Aku langsung tegang saat nama dipanggil. Haduh, penyakit gugup aku nggak pernah hilang guys. Padahal aku udah sering manggung, nyanyi di hadapan orang-orang. Tapi tetap aja, untuk pertama kalinya, aku akan benar-benar stand up comedy di hadapan orang professional.

Masuk ke dalam room, lalu ....

“Namanya siapa?”

“Ujwar, Kak,” kataku dengan senyum kaku, sambil memberikan formulir ke juri.

Jurinya cewek, cantik, ramah. Kata orang-orang jutek, tapi juriku di room 2 ini, ramah-lah lumayan.

“Kalau sudah siap, bisa dimulai.”

Aku langsung mnegembuskan napas.

Akhirnya aku mulai bercerita. Dan aku ngerasa banget, bahwa aku terlalu tergesa saat tampil, plus kurang lepas. Di rumah, materiku mencapai 5 menit, sepertinya pas tampil hanya 2,5 menit – 3 menit. Cepet banget kan?

Setelah selesai, aku mengangguk.

“Materi kamu bagus Ujwar,” katanya. Dia menatapku sejenak dengan senyum ramahnya. “Tapi buat lolos ke tahap berikutnya, belum deh.” Dia mengangkat satu tangan. “Kamu hanya kurang lepas, masih agak takut pas nyampein. Sementara materinya udah bagus.”

Aku mengangguk dengan senyum legowo, meski sakit.

“Kalau kamu mau benar-benar di stand up, coba ikutan komunitas. Asah kemampuanmu di sana. Nggak apa-apa kan nggak lolos?”

“Nggak apa-apa, Kak, makasih banyak ya.”

Aku akhirnya salaman sama dia. Masih tersenyum lebar. Dan ya, aku keluar dari ruang audisi dengan perasaan campur aduk.

Ada bangga. Bangganya, aku bisa mengalahkan kemaluanku. Eh, rasa maluku. Kedua, aku juga kecewa, sebab tidak lolos.

“Nanda, kamu lolos?”

Nanda menggeleng.

“Aku juga ....”

“Pulang aja yuk?” kata Nanda dengan nada kecewa.

Aku mengangguk, sambil melangkah keluar.

Yaaaaaa, jadi kalian tahu kan jawabannya. Aku nggak lolos. Wajar, nggak pernah strand up comedy, tapi masih untung dapet pujian dan apresiasi dari juri. Yang penting aku udah menang dalam ngalahin diri sendiri untuk bisa melangkah seperti orang-orang. Menjemput harapan.

Selesai audisi jam 10. Dari sana aku tidur di mesjid kampus seperti orang terdampar. Tadinya mau nginep dikosan Edo, tapi dia kerja malem, jadi nggak bisa. Kasihan juga kalau tempat dia aku ambil alih. 

Untung saja ada mamang satpam yang ngijinin nginep di mesjid. Nggak malu juga sih. Sebab ada puluhan orang peserta yang nginep di audisi itu.



Pulang ke Garut, 15 Juli 2018

Paginya, aku jalan kaki menyusuri jalan Juanda untuk pulang. Sengaja, sambil olahraga. Lagian, hari minggu banyak yang lari, bersepeda, juga berkuda. Ternyata Bandung seru juga ya. Bahkan aku kepincut nasi kuning di pinggir jalan, sampai akhirnya makan dulu. Setelahnya, aku naik Gojek dan ketemu Yuli di Jalan Asia Afrika sebelum pulang.


BTW, aku mengobrol dengan si Yuli hampir dua jam. Dari jam 9 sampe jam 11-san di Alun-alun Bandung. Ngobrolin penerbitan, buku, curhat, segala macem dah. Pokoknya dimanfaatin aja. Biasanya ngerusuh di FB, akhirnya ketemu di dunia nyata.







Setelah ketemu Yuli, aku pulang beneran. Hari minggu, setelah naik Damri, aku naik elf menuju Garut. Dalam perjalanan itu, ada bongkahan rasa bangga. Aku bangga dengan diriku sendiri. Sebab mampu melangkah sampai sejauh ini. Perkara menang atau enggak, itu mah belakangan, yang penting melakukan sesuatu. Melakukan hal  di takuti, tetapi di sisi lain juga kita inginkan.


Sekian cerita pengalaman audisi SUCA. Bagi kalian yang punya impian, lakuin. Lebih baik melakukan sesuatu lalu gagal, daripada gagal melakukan sesuatu. Wassalam.









0 komentar:

Posting Komentar

Berkomentar dengan baik ya. Ditunggu masukan yang membangun.

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html