Senin, 24 September 2018

Beginilah Rasanya Lolos Audisi Rising Star Indonesia 2018!

Beginilah Rasanya Lolos Audisi Rising Star Indonesia 2018!


Beginilah Rasanya Lolos Audisi Rising Star Indonesia 2018!
Cerdit: RCTI


Ujwar.com – Hari Sabu, 22 September 2018, nyaris mengulang kembali kisahku 2 tahun lalu saat mengikuti audisi Rising Star Indonesia 2016. Dulu, audisi itu dilaksanakan tanggal 4 Oktober 2016. Masih ingat banget! Namanya juga pengalaman pertama. Dan ya, jelas saja akan tetap tersimpan di relung hati. Terutama saat berdiri di hadapan juri dengan badan gemetaran.

Nggak nyangka aku bisa kembali menginjakkan kaki di SABUGA ITB. Sebab, sejak audisi 2 tahun lalu itu kepercayaandiriku benar-benar down. Setelah tahu bahwa bakat menyanyiku nggak seberapa, aku sempat berpikir: mungkin jalanku bukan menyanyi!

Yeah, aku hanya berangkat atas kenekatan. Tanpa vocal yang mumpuni, tanpa ilmu musik, tanpa les vocal, dan lain-lain. Pokoknya, aku berangkat karena merasa bisa nyanyi dengan belajar sendiri. Dudududu. 

Kemarin bagaimana? Kemarin aku belajar otodidak juga. Bedanya, aku punya motivasi berbeda. Jika dulu bermimpi buat bisa ada di TV, sekarang justru hanya punya motivasi supaya ada peningkatan dari tahun lalu. Kalau ada peningkatan, secara otomatis, hal-hal yang berhubungan dengan lolos audisi, dan lain-lain pasti akan datang. Benar kan?

Baiklah. Mari ikuti ceritaku mengikuti audisi tersebut:


BERANGKAT KE SABUGA

Pukul 7 pagi, Hari Sabtu, 22 September 2018 kemarin, aku mengorbankan kuliah demi ikut audisi. Kalau kata orang: buat apa sih? Mimpi jangan terlalu besar, entar pas jatuh, sakit!

Aih, tapi aku nggak ngerasa gitu kok. Sebab keberangkatanku ke Bandung bukan benar-benar ngebet pengin viral atau terkenal. Just for menambah pengalaman. Jadi ketika nggak lolos pun, aku udah legowo sendiri.

Sepanjang jalan, aku merasa lebih tenang, karena memang sudah beberapa kali berangkat audisi. Rising Star 2016, SUCA 4, dan akhirnya Rising Star 2018. Aku rasa, keberangkatanku ke Bandung akan menjadi kebiasaan setiap tahun. Rasanya kalau nggak ikut, kaya ada yang kurang.

Waktu Idol 2018, aku nggak jadi ikut, karena ada beberapa alasan. Waktu The Voice 2018 juga nggak ikut, sebab bentrok dengan audisi Stand Up Comedy. Dan akhirnya, Rising Star ini yang kemabali menguji kemampuanku.

“Duh, Ujwar multitalent banget ya?”

Ahahaha, bukan multitalent guys, tapi aku hanya coba-coba. Alhasil, selalu kesebut banyak kemampuan. Ya, bersyukur aja sih, kata-kata sahabat semua, akan menjadi doa.





SAMPAI DI SABUGA

Aku sampai di SABUGA sekitar pukul 10. Berbeda dengan tahun lalu, audisi yang sekarang tidak terlalu ramai. Apa mungkin sudah dihabiskan di pagi hari? Ya, dulu sih, sekitar jam 10 itu masih banyak yang berlalu lalang. Bahkan ada orang yang jualan map dan spidol, dan kita harus menebus sekian puluh ribu. Katanya buat persyaratan lomba (Padahal gratis, nggak perlu beli kaya gituan). Aku tidak menemukan mereka saat aku sampai di SABUGA.

Sejenak, sambil berjalan, aku mengambil swafoto di depan banner RISING STAR Indonesia 2018. Kemudian beberapa aku upload. Ya Allah, jadi inget 2 tahun lalu, saat audisi nggak bisa foto-foto karena HP kebetulan rusak. Tahun sekarang, aku bisa mengabadikan momen itu.

Doc. Pribadi

Doc. Pribadi


Aku dipertemukan dengan 2 bapak-bapak yang sebenarnya sudah bertemu di DAMRI. Waktu di DAMRI, kami tidak bertegur sapa, sebab aku tidak tahu kalau ternyata tujuan kami sama. Justru kami bersalaman saat mengantri. Indah sekali audisi itu, kita bisa bertemu orang baru dengan impian sama.



Aku mengantri sampai pukul 2 sore. Sambil mengantri, acara diisi oleh Agung dan Rike, pasangan suami istri, finalis Rising Star, 2 tahun lalu. Jelas aku senang, sebab sambil mengantri, aku dan peserta lain mendapat wejangan dari beliau-beliau soal audisi.




Hingga akhirnya, sampailai di kursi panas. Sebelum audisi, 10 peserta diharuskan duduk di kursi, dan setelahnya akan dipanggil untuk melakukan audisi.

Kamu tahu apa yang aku pikirkan? Yups, takut penampilanku sama kaya tahun lalu, atau bahkan menurun. Aku kasih gambaran, waktu audisi tahun lalu, aku gugup, tegang dan kaku, sehingga suara jadi ilang dan blank, bahkan nadanya ke mana-mana. Aku bergidik, dan berdoa agar Allah membantu.

Well, setelah duduk di kursi-kursi itu, kami disuruh untuk berjalan ke lantai atas. Dan yeah, audisi sekarang, room-nya semakin banyak. Tahun 2016, disediakan sekitar 3-4 room audisi. Di masing-masing room itu, ada 2 juri. Tahun sekarang, ada sekitar 8 room, sementara formasi masih sama seperti tahun lalu. Sepuluh orang dari kursi panas, masing-masing nanti akan audisi di salah satu room, bergantian. Dan itu menegangkan.



Eh iya, setelah tahu room audisi, aku jadi punya kesimpulan, bahwa audisi tahun ini lebih cepat selesai karena room audisinya banyak. Pantas saja jam 10 pagi, tempat audisi udah nggak terlalu padat. Sepertinya kalau masalah peserta, nggak kalau banyak sama tahun sebelumnya.

O iya, selama menunggu, aku terus berdoa. Aku akan benar-benar merasa gagal jika seandainya penampilanku malah lebih buruk dari tahun lalu. Saat giliran aku yang masuk room audisi, aku langsung beku.

Deg!


Dada ini seperti akan copot.

“Hallo.” Aku buru-buru berusaha ramah, untuk menghilangkan nervous, sambil menyodorkan KTP.

“Namanya siapa?” Salah satu juri cowok berbaju putih bertanya ramah.

“Ujwar kak.”

“Dari mana?”

“Garut.”

“Wah, jauh juga.”

Dia bertanya naik apa aku dari Garut, terus Garutnya di kecamatan apa, dan bla-bla. Berderet pertanyaan basa-basi lain.

Setelah ditanyai banyak hal, tanganku diperiksa. Sumpah, kaya anak SD tau nggak. Aku kira, jika ada tahi-tahi kuku yang menempel di kuku, tanganku akan dipukul lidi. Ternyata juri hanya mau ngetest, apakah kita rileks dan juga tidak tegang?

“Tuh kan, gemeteran!” desah salah satu juri cewek.

Damn!

Ternyata, audisi kali ini benar-benar dinilai dari berbagai aspek. Faham aku, mereka menguji dari mental terlebih dahulu. Terus terang, dibilang seperti itu, aku malah gugup.

“Enggak,” 

“Eh iya, aku kok iri ya liat alis kamu!” Juri berjilbab tersenyum kagum.

Aku hanya mengerutkan dahi.

Jadi ingat audisi SUCA waktu di Indosiar. Jurinya juga bilang gitu lho.

“Aku iri sama alis kamu!”

Dih, apa mereka janjian? Atau mereka orang yang sama? Ahahaha. Jadi syerem.

Tapi yang aku pertanyakan justru ini: Emang, alisku semenarik apa sih?

“Kamu benang alis ya?”

Aku langsung menggeleng. Ya ampun, mana ada aku lakuin begituan. Yang bikin ngakak, emang harus ya, tuh juri ngiri bangeud lihat alis aku? Hihi. 

“Idung kamu juga agak mancung. Kamu oprasi juga ya?” Juri cowok ikut nimbrung. Kalau pertanyaan ini sepertinya hanya kebalikannya dari mancung. Dia basa-basi doang :D

Mereka sepertinya ingin membuat aku benar-benar gugup deh. Soalnya biasanya kalau diajak ngomong gitu, aku justru tambah gugup. Atau mereka memang sengaja membuat suasana supaya aku rileks? Mungkin saja sih.

Setelah basa-basi cukup lama, akhirnya aku bernyanyi.

“Aku mau nyanyi Too Say At Goodbyes dari Sam Smith.”

Kedua juri mengangguk.

Dada bergemuruh, seperti saat ketika menunggu jawaban cinta dari si doi. Ahahah, cielah.

Aku bernyanyi pada akhirnya. Namun ketika bernyanyi, aku merasa benar-benar fresh. Semua ketakutanku diawal hilang seketika. Meski gugup, suaraku tetap stabil (yang kurasakan), juga masih bisa ngehit nada sesuai dengan yang kupelajari.

Syukurlah! Pikirku.

Namun setelah bernyanyi, tidak ada apa-apa lagi.

Juri langsung ngomong:

“Selamat ya, kamu dapat kartu biru.”

Aku tersenyum, mengambil kartu biru itu, lantas keluar dari room audisi.



Duh, kok aku agak ragu ya? Masih ingat, waktu audisi 2016, aku disuruh nyanyi beberapa lagu lho. Dan itu yang bikin PD aku agak naik. Aku merasa, bahwa aku diperhitungkan. Ah, tapi aku berdoa, semoga kartu itu membawa keberuntungan.

Setelah 10 orang beres audisi, kami semua disuruh menghadap ke suatu ruangan, dari sana diumumkan, bahwa kami semua tidak lolos! Aku langsung kecewa dong. Dan ya, semua orang yang dapet kartu biru itu nggak lolos. Yang dinyatakan lolos dan akan audisi dengan juri artis di Jakarta adalah yang dapet kartu merah.

Setelah keluar dari ruangan dengan perasaan kecewa, aku melihat jam. Masih jam tiga. Rencananya kan aku memang pulang hari minggunnya (meskipun waktu itu belum kepikiran mau nginep di mana). Akhirnya, tadaaaaa, aku nyoba ulang audisi untuk kedua kalinya!

Duh, Ujwar keukeuh banget sih ya! Udah ditolak, kok audisi lagi?

Ya, aku masih penasaran. Di sana ada 8 room, siapa tahu, selain juri di room 5 yang menolakku, ada juri di room lain yang tertarik dengan suaraku? Ya, kita harus optimis kan ya? Xixixi. 

Aku muter lagi buat ngulang audisi. Untung saja, peserta audisi udah melongpong. Hanya satu dua yang datang. Padahal nih ya, tahun lalu itu sekitar pukul 4, masih sangat rame. Duh, mungkin karena hari Sabtu, banyak yang sekolah atau kuliah. Atau juga karena sebagian dari mereka sudah mengikuti audisi ajang pencarian bakat sebelumnya. Bayangin aja, tahun ini Talent show lagi naik daun. Indonesian Idol 2018 (sudah tamat), The Voice Indonesia 2018 (Tayang 1 November) dan sekarang Rising Star 2018. Belum ajang pencarian bakat yang junior. Bisa dibayangkan.

Aku optimis dong, suaraku bisa narik perhatian di room lain. Dan well, akhirnya aku kebagian lagi tampil setelah gagal audisi 1 setengah jam sebelumnya. Waktu itu, aku semakin rileks, sebab sudah tahu alurnya seperti apa.



Masuk ke dalam room, seperti biasa, aku berkata seramah mungkin. Sebab kita tidak hanya dinilai dari suara, attitude juga.

Setelah berkenalan dan lain sebagainya, juri bertanya:

“Mau nyanyi apa, Ujwar?”

“Too Say At Goodbyes, dari Sam Smith!”

“Oke, mulai.”

Duaaar! Aku menyanyi. Ahahaha, sudah seperti ada pesta hajatan yang waw aja. Entah kenapa, di audisi kedua ini, aku enjoy banger. Gugup masih ada (wajar), tetapi aku lebih rileks. Gerakkan ada, nyanyian mantep (yang kurasakan saat itu, berbeda dengan audisi 1), kemudian, klik-klik-an yang aku latih juga berhasil ditampilkan.

“Coba deh lagu lain!”

Aku tertawa dalam hati. Jika juri sudah meminta kita nyanyi lagu lain, berarti mereka penasaran. Hehehe. Well, aku nyanyi lagu Jaz - Dari Mata. Yang awalnya lagunya agak-agak mellow, selanjutnya aku harus senyum-senyum sendiri karena lagunya memang soal kasmaran.

Sama, di lagu ini, aku merasa menang. Karena emang lagunya kemakan banget. Lagu yang mudah soalnya.

“Coba deh, lagu dangdut!”

Aku langsung bungkam. Sedikit syok, sekaligus nggak nyangka. Eh, aku disuruh nyanyi lagu dangdut? Nggak salah?

Flashback ke belakang, aku memang nggak pernah fokus di genre dangdut. Suka sih lihat DA, LIDA, atau KDI, tapi nggak pernah yang benar-benar suka gitu lho. Lagu-lagunya ampir tahu dan sering denger, tapi hanya hapal setengah-setengah.

Bingung juga dong, aku mau nyanyi apa? Kenapa pula tuh juri nyuruh lagu dangdut?

Tengang langsung! Karena aku emang nggak nyiapin lagu dangdut. Argh! Aku merasa gagal. Akhirnya, tiba-tiba saja lagu Lesti yang berjudul Purnama terlintas di kepala. Belum hafal semua lho, tapi daripada kalah dan bilang: “Nggak bisa dangdut!” Akhirnya aku nyanyi lagu itu.

Sepertinya mereka sedang menguji, apa aku bisa nyanyi di berbagai genre, juga tidak gugup dan sudah memiliki persiapan? Dan jawabannya, persiapan kurang, nyanyian pun di lagu terakhir agak berantakkan. Tetapi meski begitu, rasa percaya diriku justru makin menggebu. Ingin dong ngebuktiin kalau aku bisa lagu apa pun?

Setelah beres nyanyi lagu dangdut, akhirnya juri ngasih kembali KTP, plus kartu ..... jeng, jeng, jeng, BIRUUUU!

Huah, biru lagi guys. Berarti aku belum lolos.

Tahu apa yang kurasakan? Nggak ada kecewa. Nggak tahu kenapa. Hanya saja tahu beberapa trik ketika kita akan audisi (pelajaran yang bisa kuambil, atau kamu kedepannya). Di antaranya:

-Siapkan lagu sebanyak-banyaknya. Karena juri biasanya nguji dari berbagai lagu.

-Siapin mental yang bagus.

-Jaga sikap, dan harus punya keunikan.

-Lebih baik bisa alat musik (*Dan ini yang bikin aku nggak PD, soalnya aku ngga bisa pakai satu pun alat musik).

Dan, setelahnya, lapang dada. 

Yups. Audisi itu bukan soal bagus atau tidak, tetapi perpaduan antara bakat, minat dan takdir. Ketika seseorang punya bakat, tetapi takdirnya nggak bisa jadi seorang penyanyi, mungkin saja saat nyanyi mendadak nge-blank dan suaranya ilang. Atau, seseorang yang teknik vocal biasa aja, tapi punya warna suara bagus, kemudian mentalnya bagus dan nggak maluan saat nyanyi, dia yang kemudian terpilih masuk.

So, semuanya misteri. Bener kan?

Intinya, sebagai manusia, yang harus kita lakukan adalah berusaha sebaik mungkin. Setelahnya, serahkan semuanya kepada Allah.

Baiklah, setelah beres audisi, aku merenung. Setelah kegagalan itu, aku tidak akan berhenti berjuang. Setelah gagal audisi untuk kesekian kali, adrenalinku semakin terpacu. Tahun depan dan tahun-tahun selanjutnya harus ikutan audisi. Latihan lagi, belajar lagi, perbanyak jam terbang, dan fokus.

Aku lolos?

Ya enggak-lah. Judulnya sengaja boongan. Hehehe. Eh, ndak boongan sih. Aku memang lolos. Lolos dari rasa pesimis, lolos dari rendah diri, lolos dari rasa putus asa, dan lolos dari pikiran-pikiran buruk lainnya. Ya, aku merasa menang aja meski pada nyatanya nggak lolos. Hehe. 

Setelah beres audisi, aku malah berjalan dengan penuh percaya diri. Aku merasa, setelah 2 tahun audisi, aku memiliki banyak perubahan, terutama mental. Mentalku sekarang sudah lebih baik dan bisa lebih menerima.

Di akhir audisi, aku milih makan bakso tahu bersama teman baruku dari Purwakarta. Selain makan, kami juga sempat mengobrol dengan salah satu orangtua yang anaknya lolos. Waow, alangkah bahagianya orangtua itu, karena anaknya bisa membuktikan diri.

Setelahnya, aku malah semakin termotivasi. Sebab si Ibu juga bercerita, bahwa lolosnya sang anak (yang masih kelas 2 SMA) nggak ujug-ujug lolos. Pertama, anak itu sudah les musik sejak kecil. Kedua, anak itu sudah beberapa kali juara lomba nyanyi, baik tingkat Jawa Barat, atau nasional. Dan ketiga, dia pernah jadi finalis Indonesian Idol 2014, masuk 50 besar. Waw banget kan perjuangannya?

Semua kesuksesan yang dilihat sekarang ini, adalah buah dari perjuangan yang sudah dilakukan jauh sebelum ini. 

Kalau aku baru gagal 2 kali, terus suaraku masih jelek (tapi pengin masuk), ini ngotot namanya. Yang jelas, aku akan lebih banyak latihan lagi, lebih banyak belajar memantaskan diri lagi, dan melakukan perjuangan-perjuangan. Kalau sudah pantas, ingin apa pun, pasti dapat.


PULANG DARI SABUGA!

Setelah pulang berjuang, tadinya aku mau ikut ke Purwakarta sama temen baruku itu. Kami sudah datang ke Stasiun Bandung, membeli tiket kereta, tetapi kemudian urung. Aku akhirnya nggak jadi ikut, dan memilih jalan-jalan ke toko buku. Sementara meski nggak ikut, aku memberikan satu buku TIRAH ke dia. Aku hanya ingin, suatu pertemuan itu akan terus berlanjut dengan hal-hal lain. 




Aku juga berkata: “Tahun depan kita ikut dan ketemu lagi!”

Dia mengacungkan jempol. Ah iya, sayang sekali, aku lupa poto bareng sama temanku itu. AKhirnya foto sendiri. Hehehe.



Well, sisa malam itu, aku habiskan di bawah langit kota Bandung.








0 komentar:

Posting Komentar

Berkomentar dengan baik ya. Ditunggu masukan yang membangun.

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html