Jumat, 16 November 2018

Lintang Langit Pada Senja, Sebuah Novel yang Mengajarkan Kita Untuk Terus Berjuang

Lintang Langit Pada Senja, Sebuah Novel yang Mengajarkan Kita Untuk Terus Berjuang


Credit: dokumen pribadi




Ujwar.com - Setelah sekian lama buku ini sampai, baru kali ini aku review. Sebenarnya sudah selesai baca sejak beberapa hari lalu, tapi kebetulan, baru kali ini aku leluasa bikin tulisan.

Well, kali ini, aku akan review sebuah novel Islami yang menurutku paket lengkap. Gimana nggak paket lengkap coba, selain soal cinta, novel ini juga membahas soal perjuangan kehidupan dan konflik keluarga, yang jelas-jelas  membuat dadaku sesak saat membaca.

Benar, judul novelnya adalah: Lintang Langit Pada Senja, Karya Mbak Ririn Astutiningrum, terbitan Elex Media Komputindo. Seneng deh, dapat kesempatan review buku ini. Nah, sebelum benar-benar ngasih review, aku akan kasih tahu dulu blurb dari novel ini:

***

Lintang dan Langit selalu merasa dunia tak adil hingga mereka melangkah bersama. Lintang dan langit serupa dua tapak tangan yang tak akan bisa menjabat tanpa satu sama lain. Indahnya cinta dan dunia mereka genggam dalam batin yang sejatinya kelam. Mereka bersama menepis sunyi, tak peduli bagaimana hari nanti.

Satu ketika, kenyataan pahit merenggut paksa kebersamaan mereka. Tiada lagi Lintang pada Langit. Getir demi getir dijalani masing-masing hingga takdir kelak mempertemukan mereka kembali dalam keadaan yang berbeda.

Ada senja di antara langit dan bintang-bintang. Senja yang mengajarkan arti hidup, cinta sejati, dan perjuangan. Senja yang senantiasa setia. Senja yang sekejap muncul lalu sirna, namun senantiasa berkorban dalam kerlip cahaya bintang.

“Lintang, aku adalah Langit. Langit yang senantiasa menaungimu, mendekapmu, memayungimu, hingga pagi tiba. Andaipun mentari memaksamu pergi, bukankah ada senja yang selamanya mempertemukan kita?”

***

Sekilas setelah baca back cover, terus terang aku langsung tertarik. Kelihatan sekali, kalau Mbak Ririn jago memilih diksi dari kalimat-kalimat menyentuh yang dia buat. Well, aku terhanyut, bahkan sebelum membuka isinya.

Ketika membuka isi, aku langsung dihadapkan dengan misteri menghilangnya Langit secara tiba-tiba dari kehidupan Lintang. Padahal, bukankah mereka sudah janji akan saling membersamai? 

Setelahnya, mulai muncul misteri. Mulai muncul jawaban. Dan bahkan, mulai muncul sesuatu, yang memang tak dikehendaki. Baik secara pribadi si tokoh, atau secara sosial dan agama. Jelas ini menguras emosi. 

Ada satu hal yang juga menonjol dalam novel Lintang Langit pada Senja. Yups, latar. Aku sangat senang ketika Mbak Ririn menjelaskan latar dengan amat detail. Terutama soal Bandung. Aku yang kebetulan pernah ke tempat-tempat yang diceritakan dalam novel, senyum-senyum sendiri. Berasa nostalgia. Memang, aku seperti berada di tempat kejadian seperti tokoh-tokoh di dalam novel.

Selain soal alur, aku juga mencintai tokoh-tokohnya, terutama Lintang. Lintang adalah gambaran remaja yang mungkin banyak saat ini. Dia yang kurang kasih sayang, dia yang memiliki segalanya, tetapi kering. Hingga sesuatu menimpanya. Syukurlah, di sini tak hanya soal kepedihan yang dijelaskan, penulis juga menunjukkan, bagaimana bangkit dari lubang paling gelap. 

Setelah latar dan alur, aku kembali dibuat jatuh cinta terhadap kalimat indah yang menyejukkan.

“Walau lautan menjadi tinta dan pohon-pohon di dunia ini menjadi pensilnya tak akan cukup untuk menuliskan betapa banyaknya nikmat Allah.”
-Senja- (Hal, 98-99)

Ya, novel ini tidak hanya menceritakan sebuah perjuangan cinta dua insan, tetapi memberikan pula pelajaran soal bagaimana rasa syukur itu bisa membuat hidup tenang.

Semakin ke sini, aku semakin terharu, sebab, sebuah keajaiban muncul. Antara Langit, Lintang dan Senja, semuanya punya cara masing-masing untuk melihat sudut pandang dari sebuah pengorbanan. Ketika orang lain menganggap berkorban adalah hal sulit dan menyakitkan, mereka memiliki cara untuk tetap melihat pengorbanan sebagai sebuah kebahagiaan.



Di ending, aku ternganga. Jadi endingnya gini? Menurutku sih nggak nyangka, endingnya bakal secetar itu. Yeah, aku cukup puas.


Setelah selesai membaca keseluruhan novel, aku mengembuskan napas. Mengulas senyum sejenak, lantas beristigfar. Ya ampun, novel ini benar-benar menginspirasi. Tidak hanya soal cerita fiksi, tetapi soal ilmu dan hal-hal manis tentang islam, yang memang membuat pembaca (khususnya aku) sadar akan nikmat dan kebesaran-Nya.

Jika diberi kesempatan untuk menilai, aku akan memberikan nilai 8/10 dari novel ini. Dan yeah, novel ini recomended banget buat dibaca. 

Aku beruntung pernah baca novel Lintang Langit Pada Senja. Kamu sudah baca karya Mbak Ririn Astutiningrum, belum? 








0 komentar:

Posting Komentar

Berkomentar dengan baik ya. Ditunggu masukan yang membangun.

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html