Jumat, 18 Januari 2019

Ini Dia 4 Kampung Peninggalan Zaman Dahulu di Garut, yang Ada Hingga Sekarang

Ini Dia 4 Kampung Peninggalan Zaman Dahulu di Garut, yang Ada Hingga Sekarang
pinterst
www.ujwar.com - Wow! Ini Dia 4 Kampung Peninggalan Zaman Dahulu di Garut, yang Ada Hingga Sekarang

1. Kampung Dukuh

tentang garut
Kampung ini didirikan oleh seorang ulama yang bernama Syekh Abdul Jalil, beliau adalah seorang ulama yang ditunjuk oleh Bupati Sumedang untuk menjadi penghulu atau kepala agama di kesultanan Sumedang pada abad ke-17. Bupati Sumedang pada kala itu adalah Rangga Gempol II, alasan menunjuk Syekh Abdul Jalil berdasarkan saran dari Raja Mataram. Ketika Syekh Abdul Jalil ditunjuk sebagai penghulu atau kepala agama, beliau mengajukan 2 syarat. Pertama, tidak boleh melanggar hukum syara yaitu hukum agama seperti membunuh, berzina, mencuri, dan sebagainya. Kedua, Bupati atau pemimpin dan rakyatnya harus bersatu. Jika ada salah satu dari kedua syarat tersebut dilanggar maka ia akan mengundurkan diri, namun setelah 12 tahun kedua syarat tersebut berjalan ada satu pelanggaran yang di lakukan oleh Rangga Gempol II. Rangga Gempol II melakukan pembunuhan utusan kerajaan Banten, pembunuhan ini didasari karena Rangga Gempol II tidak mau tunduk terhadap kerajaan Banten.

Ketika peristiwa itu terjadi Syekh Abdul Jalil sedang berada di Mekah, dan mendengar berita tersebut dari wakilnya, betapa sedihnya ia mendengar berita tersebut. Ia pun meninggalkan Sumedang dan menetap selama 3 tahun di Batuwangi, dan melanjutkan perjalananya ke arah selatan yaitu di daerah Tonjong selama setengah tahun. Pada setiap tempat yang disinggahinya ia selalu bertafakur memohon kepada Allah, agar di berikan tempat yang cocok untuk tinggal dan mengajarkan ilmunya dengan tenang. Saat ia sedang bertafakur, ia melihat sinar dan beliau mengikuti sinar tersebut, sinar itu menghilang di antara Sungai Cimangke dan Cipasarangan. Ternyata daerah tersebut sudah dihuni oleh aki dan nini candradiwangsa. Setelah kedatangan Syekh Abdul jalil, tempat tersebut di serahkankan kepadanya oleh aki dan nini Candra. Sepeninggal aki dan nini, Syekh Abdul Jalil menetap di daerah tersebut dan mengamalkan ilmu agama yang ia miliki dan terbentuklah kampung Adat Dukuh yang berdiri hingga saat ini. 

2. Kampung Albino

detikNews
Perkampungan ini terletak di Desa Pamalayan, Bayongbong, Garut, tepatnya di kampung Ciburuy. Manusia albino yang tinggal di daerah tersebut merupakan penduduk asli kampung, dan mereka memang sudah albino sejak lahir. Manusia albino Ciburuy ini memiliki perbedaan yang menonjol dengan warga Ciburuy lain, dari kulitnya yang putih pucat, wajah putih kemerahan, dan rambut pirang. Manusia albino yang tinggal di tempat ini merupakan keturanan dari Sunda – Belanda, yang dahulunya tinggal di Ciburuy. Tidak semua warga Garut tahu akan keberadaan manusia albino di Ciburuy, sebagian orang hanya tahu bahwa Ciburuy itu tempat bersejarah yang menyimpan benda dan naskah-naskah kuno. 

3. Kampung Naga

tambunan.staff.telkomuniversity.ac.id
Kampung ini terletak di jalan yang menghubungkan Tasikmalaya-Bandung melalui Garut, tepatnya berada di Desa Neglasari, kecamatan Selawu. Kampung ini dihuni hanya oleh sekelompok orang yang teguh memegang adat istiadat peninggalan para leluhurnya. Kebanyakan dari mereka yang bertempat tinggal di kampung ini, menolak campur tangan (intervensi) dari luar kampung mereka, karena hal ini dapat merusak kelestarian budaya dan tradisi kampung mereka. Rumah penduduk di kampung naga ini seperti tanaman jamur yang berjejer rapi, hal inilah yang menjadi salah satu daya tarik dan keunikan dari letak tatanan rumah di kampung ini. Atapnya terbuat dari rumbia, daun kelapa, atau ijuk. Dinding rumahnya terbuat dari anyaman bambu. Sementara itu, pintu terbuat dari serat rotan yang di depannya diberi penolak bala, dan menurut informasi ini merupakan kepercayaan dari leluhur yang hingga kini masih di jalankan oleh mereka. 

4. Kampung  Pulo

klikhotel.com
Di Garut terdapat sebuah kampung adat yang menandakan penyebaran agama islam disana, kampung itu bernama Kampung Pulo. Letaknya berada di area kompleks Candi Cangkuang, tepat sebelum pintu masuk candi. Suasana yang asri dan jauh dari hiruk-pikuk kendaraan membuat kampung ini cocok untuk dikunjungi. Penduduk kampung pulo merupakan keturunan Eyang Embah Dalem Arif Muhammad. Pada waktu itu Eyang menyebarkan agama islam di kawasan ini, beliau memiliki 7 orang anak, enam anak perempuan dan satu anak laki-laki. Sejak abad 17, di kampung ini hanya terdapat enam rumah dan satu mushola, saat ini kampung Pulo ditempati oleh generasi kedelapan, kesembilan dan kesepuluh Eyang Embah Dalem Arif Muhammad.

Mereka tinggal di kampung ini tujuannya untuk kelestarian tradisi adat kampung Pulo, jadi yang tinggal di kampung ini tidak boleh keluar apalagi meninggalkan kampung Pulo. Di kampung ini terdapat beberapa makam keramat. Kini kampung pulo dipimpin oleh sesepuh adat atau disebut Kuncen. Kuncen memiliki tugas yang berhubungan dengan makam dan candi.

Itulah 4 kampung peninggalan zaman dahulu yang ada hingga saat ini, terima kasih sudah membaca postingan ini. 

0 komentar:

Posting Komentar

Berkomentar dengan baik ya. Ditunggu masukan yang membangun.

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html