8 Cara Menjadi Editor Buku di Penerbit Indie ataupun Penerbit Mayor

Ujwar.com - 8 Cara Menjadi Editor Buku di Penerbit Indie ataupun Penerbit Mayor


8 Cara Menjadi Editor Buku di Penerbit Indie ataupun Penerbit Mayor
pixabay.com


Menjadi editor adalah salah satu pekerjaan yang didambakan banyak orang. Kenapa? Banyak yang menganggap, bekerja sebagai editor itu terlihat sangat keren, terutama di lingkungan yang berhubungan dengan dunia perbukuan.

Namun, banyak orang yang berkata, bahwa mejadi editor tidak semudah yang dipikirkan, banyak yang harus dilakukan, terutama ketika harus menembus salah satu penerbit, untuk kemudian bisa bekerja di dalamnya.

Baiklah, saya akan membagikan pengalaman saya dalam menerima beberapa editor di penerbit indie saya, mungkin ini juga cocok bagi kamu yang ingin melamar kerja ke penerbit indie dan mayor (a.k.a besar).

1. Hal Mendasar, kamu Harus Faham EBI dan KBBI

Hal pertama yang harus dipersiapkan oleh kamu sebagai calon editor adalah mengetahui tata bahasa dan aturan-aturan dalam bahasa indonesia. EBI (Ejaan Bahasa Indonesia) adalah salah satu panduan mengenai bahasa yang baik dan benar untuk Bahasa Indonesia. Sementara KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah kamus, atau panduan untuk bisa menemukan kata-kata bahasa Indonesia dan juga artinya.

Jika tidak faham dengan EBI, bagaimana mungkin bisa bekerja sebagai penyunting naskah orang lain? Ya, dengan mengerti EBI, kita sudah faham tentang sesuatu yang harus dikerjakan.

2. Suka Menulis dan Membaca

Apakah ada editor yang bukan penulis? Ada sajalah. Tapi sejauh yang kutahu, kebanyakan editor adalah mereka yang awalnya adalah seorang penulis, atau mereka yang juga terjun menjadi seorang penulis. Kenapa ini bisa terjadi?

Faham saya, membaca dan menulis adalah proses pertama sebelum bisa menyunting karya orang. Kita rajin melahap banyak buku, kita rajin menulis, dan tahu bagaimana susahnya menulis. Maka setelah 2 hal itu terus dilakukan, menjadi editor biasanya akan lebih mudah. Dan si editor akan tahu cara nge-klik naskah supaya menjadi tulisan yang lebih baik. Kebanyakan penerbit pasti mencari calon editor yang suka menulis dan juga suka membaca.

3. Diutamakan Berpendidikan Minimal S1

Sejauh yang kutahu, banyak penerbit yang memilih untuk menerima karyawan yang sudah lulus S1. Baik jurusan yang sesuai dengan pekerjaan, atau pun tidak sekali pun. Ya, jelas saja, penerbit akan mencari orang terbaik dalam penerbitannya. Tidak mungkin mencari yang biasa-biasa saja.

Namun kalau di penerbit indie (saya sendiri), tidak terlalu mementingkan lulusan mana. Editor Ujwart Media sekarang, masih kuliah, belum lulus S1. Tapi sudah bekerja di Ujwart Media sejak masuk kuliah. Yang terpenting bagi aku sih, orang tersebut mencintai dunia buku, sehingga tetap enjoy ketika melakukan pekerjaannya sebagai penyunting buku.

Baca juga:

4. Editor yang Kekinian

Terus terang, kalau disuruh memilih, aku lebih suka editor yang fleksibel, kekinian dan tahu dengan keadaan lingkungan saat ini. Kenapa bisa begitu? Karena, ini akan sangat berhubungan dengan naskah yang diedit suatu saat. Juga hubungannya dengan penulis. Apalagi penulis muda yang baru masuk dunia kepenulisan. Editor tersebut tahu cara berkolaborasi dengan penulis tersebut.

5. Editor yang Sudah Berpengalaman

Di penerbit indie, salah satu penilaian yang sering saya lakukan jika ada yang melamar menjadi editor, salah satunya: pernah mengedit naskah. Baik naskah orang, atau naskah pribadi. Biasanya akan saya minta naskah yang pernah digarap oleh dirinya.

Kalau seandainya tidak memenuhi syarat, dengan terpaksa, tidak akan menerima. Karena bagaimana pun, menjadi editor bagiku adalah tonggak dari sebuah penerbitan. Sedangkan, orang yang sudah pernah mengedit atau sudah pernah punya buku sendiri, pasti akan memiliki sesuatu yang lebih.

6. Jadilah Seseorang yang Pintar Berbicara

Apakah editor harus pintar public speaking? Ya jelas dong kekawan. Mungkin bagi teman-teman, kerjaan editor hanya di ruangan, kemudian sendiri dan menyepi. Adakalanya, editor akan bertugas untuk ikut dalam acara-acara launching, talkshow, meet and greet penulis, dan acara-acara lain.

Hal ini jelas dibutuhkan keberanian. Jika editornya pintar berbicara, sudah bisa dipastikan, dia akan gampang dibawa ke mana-mana, dalam kegiatan apa pun. Bagi kamu yang ingin menjadi editor, pintar komunikasi bisa menjadi salah satu nilai plus.

7. Editor Harus Teliti

Jelas guys, editor itu sangat-sangat berpengaruh terhadap sebuah buku. Semakin bagus editornya, semakin bagus pengerjaan buku. Jika ada sesuatu yang tidak ter-cek, atau ada hal yang bertentangan, di sini editor juga akan menjadi sorotan. Maka, pastikan dirimu teliti. Sehingga bisa terus berkomunikasi dengan penulisnya jika ada kejanggalan.

8. Menjadi Editor, Harus Berpengetahuan Luas

Menjadi editor bukan perkara mudah. Kerjaanya tidak hanya editing, dan selesai. Setelah editing, akan ada proses hasil editing tersebut disebar dan dikonsumsi. Ketika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan (atau hal yang bertentangan), maka editor akan menjadi salah satu orang yang disalahkan.

“Editornya nggak tahu ya, kalau Bandung itu terletak di Jawa Barat?” (misalkan :D)

Hal-hal tersebut berhubungan dengan pengetahuan si editor. Jika saja pengetahuannya luas, maka hal-hal semacam itu bisa dihindari. Maka dari itu, calon editor memang harus serba tahu.

Dan ya, membaca adalah salah satu kunci. Makanya disebuatkan di poin-poin sebelumnya, bahwa membaca dan menulis sangat berkaitan.

Nah guys, Itulah 8 Cara Menjadi Editor Buku di Penerbit Indie ataupun Penerbit Mayor. Sudah siap menjadi editor penerbitan buku? Ayooooo, kejar cita-cita dan keinginan.

1 Komentar untuk "8 Cara Menjadi Editor Buku di Penerbit Indie ataupun Penerbit Mayor"

  1. Wah bener banget tuh tipsnya. Menurut aku sih lulusan apa itu tidak terlalu penting. Yang penting harus mempunyai skill atau ketrampilan

    BalasHapus

Berkomentar dengan baik ya. Ditunggu masukan yang membangun.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel