Inilah 5 Alasan Kuat Kenapa Penerbit Mem-blacklist Seorang Penulis

Ujwar.com - Inilah 5 Alasan Kuat Kenapa Penerbit Mem-blacklist Seorang Penulis

Inilah 5 Alasan Kuat Kenapa Penerbit Mem-blacklist Seorang Penulis
pixabay.com


Pem-blacklist-an seorang penulis oleh penerbit, cukup menjadi perbincangan hangat. Apa alasan para penerbit memilih tidak menerbitkan karya seseorang? Yaps, ini berhubungan dengan penulis yang memiliki attitude buruk.

Attitude sendiri bisa dibilang sikap, juka tatakrama kita (penulis) ketika bekerjasama dengan penerbit. Dengan attitude yang baik, maka kerjasama akan terjalin lancar. Sementara, dengan attitude yang buruk, maka akan ada konflik yang membuat penerbit mem-blacklist penulis, atau sebaliknya: penulis memutuskan untuk tidak lagi menerbitkan di penerbit buku sebelumnya.

Namun kali ini, saya akan membahas alasan kebanyakan penerbit mem-blacklist menulis. Pasti sudah penasaran kan dengan hal ini? 

Yaps, berikut 5 alasannya:

1. Penulis Rewel

Guys, menjadi penulis itu boleh aktif, tapi jangan rewel. Bedalah ya, aktif dan rewel. 

“Kak, kalau kita nanya royalti, apa itu termasuk rewel?”

Tergantung nanyanya bagaimana.

Jika dirimu menanyai royalti setiap hari, dan penerbit sudah mengatakan akan membagikan royalti paling lambat tanggal sekian, maka kamu termasuk rewel. Jika kamu menanyakan royalti sesuai waktu yang disepakati, berarti kamu penulis yang mengerti.

Banyak penulis yang seolah-olah merasa ‘wajib menagih hak’. Ya, menagih hak memang wajib, tapi kita juga harus memenuhi kewajiban kita sebagai penulis. Biasanya, penerbit akan memberikan tanggal pemberian royalti di MOU. Atau paling tidak, rentang waktu. Misal 6 bulan sekali, 3 bulan sekali, dan lain-lain.

Ketika penulis menanyakan royalti, padahal baru satu bulan, berarti telah melanggar ketentuan yang ada. Kecuali memang sangat dibutuhkan, itu bisa dibicarakan langsung ke penerbitnya.

Namun, beda halnya dengan penulis, yang sudah tahu aturannya, terus merasa sok benar dengan menjelek-jelekkan penerbit tempat naskahnya dinaungi. Apalagi diupload di media sosial dengan bahasa yang aduhai, membuat esmosi.

Pasti penerbitnya langsung mem-blacklist, bahkan jika ada penerbit lain yang melihat, akan mundur teratur dengan sikap seperti itu. 

Masalahnya, dalam suatu penerbit itu ada sistem. Untuk transper royalti pun, akan ada prosedurnya. Nggak bisa ujug-ujug transper. Mau banyak, mau sedikit jumlah uangnya, ada tahap tertentu guys. Seperti itu.

Nanya royalti boleh, tetapi sesuai kesepakatan royalti akan dibagikan kapan. Itu lebih bijak.

2. Penulis Baperan

Banyak kok penulis yang memang seperti ini. Disadari atau tidak. Dikritik sama editor, marah, nggak mau revisi. Bahkan merasa seolah-olah naskahnya sudah oke. Hey, kalau nggak mau revisi dan edit ulang mending self publishing aja. Nggak bakal dapet tugas revisi inih onoh dari editor.

Dicuekkin sedikit, baper. 

Admin penerbit itu biasanya nggak banyak kekawan. Satu orang harus menjawab ratusan chat setiap hari. Ya, sabar, jangan gampang baper. Berpikir positif aja guys.

Ketika penulis gampang marah, gampang mengumbar-ngumbar sesuatu, hanya dengan masalah sepele, ya, siap-siap aja, penerbit akan kapok menerbitkan tulisanmu.

Bukan berarti penulis harus diam bisu  ya. Ada saatnya kita harus berbicara jika perlu. Tapi ya, kalo soal-soal sepele, dan masih bisa diselesaikan secara kekeluargaan, mending jangan baper parah deh. Karena penerbit juga nggak ngurusin satu penulis saja.

3. Penulis Banyak Mau

Wakakaka, kalau ini sih, aku juga gitu. Hem, maksudku begini. Ada tipe penulis yang serba ini dan itu. Serba memberikan pendapat sesuai kehendak sendiri. Penerbit misal telah menentukan royalti sekian, tetapi penulis menawar ingin lebih besar (misal), membanding-bandingkan dengan royalti di penerbit sebelah.

Hei, siapa elo? Hahay. Kalau kamu memang penulis keren, beken dan buku-bukunya best seller, penerbit pasti akan mengusahakan yang terbaik buat penulisnya. Bisa juga menuruti keinginan penulis atas dasar pertimbangan tertentu. Namun ya, jika kamu banyak mau, tanpa bukti (salah satunya, buku tidak pasti terjual banyak), maka kamu malah bakal ditandai penerbit tersebut. Atau bahkan ada pembatalan kerjasama.

Selain soal royalti. Kadang ada penulis yang pengin gini dan pengin gitu tentang naskahnya. Seperti editing, layout, cover. 

Cover misalkan. Penulis wajib menentukan dan memilih yang terbaik buat naskahnya. Tetapi jangan lupa, desainer cover juga telah membuat cover berdasarkan banyak pertimbangan. Dari segi isi naskah, dari warna, dan lain-lain.

Covernya itu udah keren, banyak orang yang suka, dari segi artistik juga sangat menjual, tapi misal tiba-tiba pengin ganti warna hanya karena alasan kalo dirinya suka warna tertentu. Ya, itu namanya bukan buat kebaikan naskah, tapi karena kemauan tersendiri.

Penulis banyak mau ini selalu berusaha: menyetir penerbit. Sedangkan dalam kerjasama, bukankah harus sama-sama nyaman?

Kalau penerbit udah nggak merasa nyaman, ya sudah, akan ada saatnya mereka tidak mau menerbitkan naskah seorang penulis bertipe seperti itu lagi.

Sekali lagi, bukan berarti penulis harus pasif ya. Kalau memang didzolimi oleh penerbit, penulis juga wajib berbicara. Tapi kalau soal masalah yang kusebutkan di atas, rasa-rasanya memang penulis yang menyebalkan deh. 

4. Penulis yang Plagiat

Wah, udah pasti ini. Penulis plagiat pasti tidak akan diterima oleh penerbit mana pun. Banyak penulis yang plagiat karya orang, berakhir dengan dikucilkan dan mendapatkan hukuman sosial yang mengerikan dari lingkungannya. 

Jangan, jangan plagiat. Plagiat itu hina sekali. Seseorang telah mencuri karya orang lain, mencuri hak intelektual orang lain. Dan itu, itu sudah pasti diblacklist di hati penerbit, plus di hati penggemar.

5. Penulis yang Selalu Menjelek-jelekkan Penerbit

Kalau beneran penerbitnya punya salah, alangkah baiknya diselesaikan secara kekeluargaan. Sakit men, dipermalukan di muka umum. Bukan hanya untuk penerbit, tetapi juga untuk perorangan. Iya kan, dipermalukan itu sakit?

Kalau pun tidak bisa secara kekeluargaan, langsung aja laporin ke yang berwajib. Jangan sampai, wajah penerbit itu tercoreng. 

Makin buruk, kalau hanya ada masalah kecil tapi ngumbar-ngumbar seolah itu masalah terbesar dan merugikan milyaran duit.

Aduh, mulutmu harimaumu. Bagaimana pun, ketika kita merasa kesal, kita harus bisa membatasi. Jangan sampai dampak yang harusnya kecil, menjadi besar. Termasuk mengubah perspektif orang tentang penulis, pun tentang penerbit itu sendiri.

Kadang, ada kebijakan penerbit yang tak dimengerti oleh penulis,  sehingga dianggap merugikan. Ujung-ujungnya menyalahkan pihak penerbit. Ya, itu parah sih. Seharusnya kebijakan seperti itu harus benar-benar difahami terlebih dahulu.

Guys, setidaknya 5 Hal di atas yang menjadi penyebab utama sebuah penerbitan mem-blacklist penulis. Ingat, aku di sini nggak membela penerbit, atau juga penulis. Sebab di sini aku berjalan di dua dunia itu.

Aku punya penerbitan indie, sejauh ini alhamdulillah selalu lancar dan terjalin komunikasi dengan baik. Aku juga penulis dan beberapa novelku terbit di tempat lain. Aku memposisikan diri sebagai seorang yang berjalan di balik layar penerbit, plus sebagai penulis.


Belum ada Komentar untuk "Inilah 5 Alasan Kuat Kenapa Penerbit Mem-blacklist Seorang Penulis"

Posting Komentar

Berkomentar dengan baik ya. Ditunggu masukan yang membangun.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel