Review Buku : Di Tanah Lada Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Review Buku : Di Tanah Lada Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie


Aku gabut. Lagi males nulis novel. Terus akhirnya baca buku buat nyari referensi dan nyari ide. Dalam 4 hari, aku berhasil membaca dua novel karya Kak Ziggy. Salah satunya novel Di Tanah Lada. Udah ada yang baca? Mari aku review sedikit.

Novel ini menceritakan seorang anak berusia 6 tahun yang bernama Ava. Di dalam keluarganya, dia sering dipanggil ‘ludah’ oleh Bapaknya. Sering pula mendapatkan perlakukan yang buruk. 

Suatu hari, Bapaknya yang bernama Doni memberitahu istri dan sang anak, untuk pindah ke tempat baru. Alasannya tidak jauh karena rusun itu dekat sekali dengan tempat judi. Kebetulan juga, dia baru mendapatkan uang warisan peninggalan Bapaknya. Ava menyebut Kakek nya itu; Kakek Kia. 

Di rusun, Ava bertemu dengan anak bernama P. Anak itu ternyata lebih malang dari Ava. Jika Ava masih punya Mama dan Papa (meski Papanya kejam), P justru tidak mengetahui keberadaan mamanya. Ditambah, dia selalu mendapatkan perlakuan buruk. 

Membaca novel ini bagiku, selain sebuah hiburan, tentu ada banyak hal yang menjadi poin penting yang kira-kira kalau diucapkan begini: “Gila ini novel. Gilaaaaaaaa.”

Tidak bermaksud berlebihan, tapi membaca novel ini membuat aku merasa sangat-sangat luar biasa setelah selesai membaca. Aku yang menghabiskan waktu sekitar 8 jam untuk membaca buku ini, merasa sangat puas dengan buku yang menjuarai Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian jakarta 2014, posisi kedua ini.

Mari kita kupas, apa yang membuat aku sangat-sangat suka novel ini. Terlebih sebagai bahan pelajaran kedepannya ketika aku akan membuat novel.

1. Sudut Pandang yang Tidak Biasa

Jujur, hal pertama yang langsung nempel di otak aku ketika membaca novel ini adalah sudut pandang yang unik. Ketika kebanyakan penulis (atau contohnya, aku, yang juga lagi belajar nulis), lebih sering menggunakan sudut pandang orang dewasa, kak Ziggy justru menjadikan Ava sebagai ‘aku’ di dalam novel.

Sudut pandang pertama, dalam hal ini, Ava, terlihat sangat menarik. Aku bisa merasakan kepolosan dari anak-anak seusia dia. Kak Ziggy pintar sekali meramu kata-kata menggunakan sudut pandang Ava, tanpa ada campur tangan penulis. Artinya, di sini, penulis tidak sama sekali masuk ke sosok Ava ini. Ava ya Ava.

Sebagai penulis, aku belajar banyak dari karya Kak Ziggy soal sudut pandang. Aku, atau mungkin juga kalian, sering kali bernapsu memasukan apa pun yang kita ketahui kepada isi novel yang kita tulis, padahal misal, itu sangat bertolak belakang dengan karakter si tokoh. 

2. Penyajian yang Sangat Segar

Jujur, tema dari kekerasan terhadap anak, mungkin sering kita temui. Tetapi novel ini sangat berbeda dengan novel lain yang penceritaannya lebih sering diambil dari orangtuanya misal, atau paling, anak remaja (tanpa bermaksud merendahkan, atau membandingkan ya). Ide cerita Kak Ziggy ini dibangun dari sosok anak kecil bernama Ava. Bayangkan, anak kecil. Sebenarnya, novel ini bisa sangat menyentuh, atau mungkin bikin kita sebagai pembaca sedih duluan. Tapi di novel ini, Kak Ziggy memadukan suatu hal menyedihkan, dengan hal-hal yang menyenangkan ala anak-anak. 

3. Karakter yang Unik

Karakter! Ini nih. Karakter yang kuat dan lagi-lagi unik, membuat aku melongo. Ava ini berbeda dengan anak-anak usia 6 tahun pada umumnya. Dia cerdas. Kerjaannya buka kamus kalau dia menemukan kata baru. Bayangkan kalau Ava ini misal dijelaskan sama dengan kebanyakan anak. Mungkin novelnya nggak akan semenarik ini.

Bocoran: gara-gara novel ini, aku jadi tahu banyak soal arti kata tertentu. Daebak sih. 

4. Pesan Moral yang Aduhai.

Aku sering banget nemuin buku, yang mungkin niatnya pengen ngasih tahu, tapi jadi kaya menggurui. Misal: “Sebagai manusia, kita harus … bla, bla, bla.” Di novel ini, kamu nggak bakal nemuin hal semacam itu. 

Semuanya mengalir. Aku jadi tahu juga tentang psikologi anak ketika dimarahi orangtua. Tentang kata-kata orangtua yang bisa menempel dengan sangat baik di otak mereka. Tentang kelakuan buruk yang selalu terbayang. Aku jadi ikut merasakan, bagaimana perasaan Ava atau P jika sedang dimarahi atau diperlakukan dengan tidak baik.

Aku jadi mikir gini:

Serem juga ya, kalau kita sebagai orangtua, ngomong seenaknya ke anak. Itu tersimpan lho di memori mereka. Bayangkan kalau mereka menyimpan dendam sama kita selaku orangtua sampai besar. Hal-hal buruk yang kita lakukan, menjadi hal biasa di hadapan anak. 

Dari segi lain, aku bisa mendapatkan pesan soal nikah. Bagaimana kesiapan sebelum menikah itu penting. Bagaimana cara mengajari anak, bagaimana cara berbicara yang baik kepada anak, bagaimana pula cara keluar dari masalah pelih bernama ‘kekerasan’ dan lain sebagainya. 

5. Endingnya Gila

Selama membaca novel, kukira endingnya nggak bakal begitu. Kamu tahu aku pas selesai baca? Campur aduk. Sumpah. Antara sedih, kecewa, terharu. Pokoknya campur aduk.

Untuk ending, aku nggak bisa jelasin lebih rinci. Pokoknya baca sendiri aja deh ya. Ahahaha. Mungkin tanggapan setiap orang berbeda-beda. Ada yang bakal suka, ada yang bakal benci, ada yang bakal bilang: Kok gini sih?

Sejauh aku membaca, aku nggak nemuin kekurangan sih. Secara cerita, mungkin lebih ke selera. Aku sendiri sangat terkesan dengan gaya Kak Ziggy dalam menulis novel. Bahkan di novel ini, aku nggak nemuin typo satu pun. Acungin jempol buat editor. Atau aku yang nggak nemuin karena terlalu asyik?

Kalau disuruh memberi nilai, kukasih 4,5 dari 5 bintang deh ya. 

Yang udah baca, share dong. Menurut kalian, novel ini gimana?



Belum ada Komentar untuk "Review Buku : Di Tanah Lada Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie"

Posting Komentar

Berkomentar dengan baik ya. Ditunggu masukan yang membangun.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 2

BACA ONLINE KARYAKu DI WATTPAD: