Review Novel Di Simpang Jalan (Dody dan Rhe) Karya Titi Sanaria

Review Novel Di Simpang Jalan (Dody dan Rhe) Karya Titi Sanaria



Ujwar.com – Hai. Aku kembali lagi nih, mau ngebacod santai dengan ngobrolin novel yang aku baca. Bacod santai ini dipersembahkan oleh hati yang senang dan juga pikiran yang melayang-layang. Eaaaa. Gara-gara baca novel Di Simpang Jalan (Dody dan Rhe) Karya Titi Sanaria.

Note: review ini berdasarkan pengalaman baca aku ya. Tidak ada tuntutan buat nge-review dari penulis atau penerbit. So, aku pastikan, kalau review-ku jujur berdasarkan kacamata pembaca. 

SEDIKIT TENTANG DI SIMPANG JALAN (Dody dan Rhe)

Novel ini bercerita tentang rumitnya hubungan perjodohan. Rhe yang putus dengan Ray, dijodohkan dengan Dody, anak dari sahabat mamanya Rhe. Awalnya Rhe menolak, tetapi karena keisengan dia membuat Ray (sang mantan) cemburu di sebuah acara, dengan mengucapkan bahwa dirinya akan segera menikah dengan Dody, semuanya girang. Padahal itu hanya akal-akalan Rhe saja.

Mau bagaimana? Ucapan yang didengar Dody dan calon mertuanya itu telanjur diberitahukan juga kepada Mama Rhe. Mau tidak mau, Rhe harus tetap menikah dengan orang yang baru dikenalnya. Apalagi dia mengetahui riwayat calon mertua yang memiliki penyakit.

Pernikahan itu terjadi. Hubungan suami istri berjalan cukup baik. Tetapi kebahagiaan sepertinya ingin menguji Rhe. Sebab orang dari masa lalu Dody datang kembali. Di sana, Rhe mendapatkan masalah rumit soal keluarga yang baru dibina. Terutama saat dia sadar, bahwa ternyata dia benar-benar mencintai Dody.

Bagaimana kelanjutannya? Eaaaa. Udah kaya film aja yess. Baca aja novelnya langsung. Sekarang, mari masuk ke pandangan umum soal novel ini.

PERASAAN TUMBUH DALAM IKATAN PERJODOHAN

Mungkin bagi kalian, novel dengan tema serupa sudah sering ditemukan. Namun bagi aku, kisah-kisah semacam itu selalu manis. Kenapa? Sebab aku yakin, tidak semua perjodohan harus berakhir buruk. Nah, di dalam novel ini, Mbak Titi Sanaria selaku penulis mengemas dengan baik novel terbitan Elex Media Komputindo ini. 

Bocoran nih ya, aku baca novel ini hampir 6 jam saking serunya. Dari jam 17.30 – 22.30 wakakaka. Sesekali hanya berhenti saat laper dan pengin minum aja. Padahal bukunya cukup tebal lho, yaitu sekitar 346.

Well, aku sendiri merasa puas dengan novel ini. Sudut pandang pertama, yang dalam hal ini adalah sudut pandang Rhe, yang nyablak, yang ngomongnya sarkas, yang kalau ngomong juga kadang nggak dipikirin, cewek jutek, tapi baperan, membuat aku betah baca. Penceritaan si ‘aku’ alias Rhe di sini benar-benar bikin aku suka. 

Di tambah, opening dalam novel ini bikin gemes. Tahu banget ya Mbak Titi bikin pembaca penasaran. Wkwkwk. Prolog yang aduhai membuat aku bisa baca ke halaman, dua, tiga, dan seterusnya.

Novel ini benar-benar unik dan seru. Mbak Titi punya gaya menulis dan story telling yang bikin pembaca nggak bisa berhenti. Kadang kala nih ya, kita sebagai pembaca suka tahu kalau misal penceritaannya membosankan. Nah, di novel ini, penceritaan itu ngalir puol. Nggak bisa berhenti dari bab ke bab.

KARAKTER TIAP TOKOH YANG KUAT, BIKIN BETAH BACA

Satu hal yang aku highlight lagi di novel Di Simpang Jalan adalah karakter-karakternya yang hidup. Rhe di sini cukup konsisten dengan kalimat-kalimat sarkasnya. Becca, sahabat Rhe bikin ngocok perut. Bahasannya kadang-kadang ada soal hubungan ranjang, atau sex, tapi aku yang baca lebih menggarisbawahi kepada lelucon dan kalimat-kalimat Becca yang susah diprediksi.

Dialog antar tokoh itu, daebak sih Mbak Titi. Pinter banget bikin tektokan dan kalimat-kalimat yang mungkin nggak terpikir oleh pembaca. Dan kalimatnya memang pas, kemudian related dan mengaduk-aduk perasaan pembaca.

By the way, ini cerita pernikahan. Jadi nggak heran ada adegan-adegan ciuman satu dua, juga kemesraan yang lebih dalam. Tapi sumpah sih, hal-hal manis itu melengkapi novel ini. Jadinya kemesraan di sini dijadikan sebagai salah satu yang bisa memicu, atau meredakan masalah. Sehingga kalau adegan-adegan itu dihapus dari isi cerita, bakal kurang nampol. Satu lagi, Mbak Titi lihai dalam membuat adegan kemesraan dengan kata dan pemilihan diksi yang pas, sehingga nggak bikin horny, tapi malah bikin terasa sangat-sangat elegan. Uwanjay, maaf ya bahasanya agak nganu. Jujur-jujuran, jomblo harus tahan baca novel ini, karena lu bakal baper sebaper-bapernya. Bukan hanya karena satu dua pemanis tadi ya, tapi memang, novel ini  mengaduk perasaan. 

BTW, aku jomblo, jadi aku baper  banget  (Kata kalian: bodo amat!)

Karakter Ben cukup bikin kesel. So ganteng anjir. Haha. Tapi memang cocok sih. Dia kan pengacara, jadinya banyak ngomong dan kadang-kadang ngeselin. Tapi dia baik. Peduli gitu. 

Dody apalagi, karakternya itu diem-diem gimana gitu. Padahal kalau kata Rhe, di atas ranjang, dia yang paling nyosor. Nggak bisa ditebak emang antara sifat dan juga hubungan suami istri. Awakaka. Dari awal sampai akhir konsisten juga dengan karakternya yang penyayang. 

Satu lagi, bacotan dan seluruh lelucon di novel ini pecah banget sih. Sumpah. Aku ngakak.

Tapi nih ya, ada satu dua hal yang kalau menurut aku ini rada-rada bikin aku penasaran. Kaya si Nana yang nggak terlalu dieksplor sifatnya. Karena novel ini sudut pandangnya orang pertama, jadi nggak bisa bolah-balik nyeritain si Nana kayaknya. Sifat dan karakternya hanya diperlihatkan lewat dialog dan lewat bacotan Rhe.

Satu lagi, aku heran gitu, si Nana kan Nemuin Rhe ke kantornya yang kedua kalinya. Setelah diketahui, ternyata Dody ngeblokir nomornya kan. Tapi kok ya, malah nemuin Rhe. Kalau niat bener-bener pen ketemu Dody, bisa meureun langsung datang ke kantor Dody, tanpa harus berantem atau adu bacod dulu sama Rhe.

Ya, mungkin itu sih yang bikin seru. Kalau Nana nggak dateng ke kantor Rhe, nggak ada adegan hebat yang harus sampe bikin Rhe ke rumah sakit, padahal lukanya hanya kecil di bibir. 

Selebihnya, kisah ini manis banget. Aku suka, aku suka. Next, aku akan cari lagi Karya Mbak Titi. Semoga. 

Makasih buat Mbak Titi Sanaria yang udah bikin cerita sekeren dan sengalir ini. Sumpah ini, pantes aja banyak pembacanya. Novel Mbak Titi emang nagih.

Well, kalau dikasih kesempatan buat menilai novel, kukasih 3.8 dari 5 bintang ya. Aku belum nemuin novel pernikahan yang bikin baper seperti ini. Eh, lupa, aku kan jarang banget baca novel pernikahan. Wkwkwk. 

So, makasih teman-teman udah baca review singkat ini (eh, mayan panjang ding). Tunggu next novel yang bakal ku-review. Again.


Belum ada Komentar untuk "Review Novel Di Simpang Jalan (Dody dan Rhe) Karya Titi Sanaria"

Posting Komentar

Berkomentar dengan baik ya. Ditunggu masukan yang membangun.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 2

BACA ONLINE KARYAKu DI WATTPAD: