REVIEW NOVEL : RUN, RISSA! Kisah Percintaan Remaja yang Nggak Lebay



Ujwar.com – Hai, aku kembali datang teman-teman, mau me-review novel karya Mbak Idha Febriana. Aku memang lagi belajar buat menuliskan tanggapanku tentang sebuah buku, setelah selesai membaca. So, sudah siap menyimak ocehanku?

Novel ini berjudul: Run, Rissa! Karya dari Mbak Idha Febriana (Terbitan Bhuana Sastra). Sebuah novel remaja yang mencuri perhatianku dan mampu aku baca dalam waktu 2 jam. Hal yang membuatku tertarik membaca novel ini antara lain: karena kenal penulisnya, pengen belajar dari beliau, dan juga karena novelnya nggak panjang-panjang banget. Hanya sekitar 176 halaman (dengan cover). Aku sebenarnya paling susah baca novel yang tebelnya ampe ngalahin bantal. Maka menemukan novel ini, adalah suatu kebahagiaan.

SEDIKIT SOAL :  RUN RISSA!

Novel ini bercerita tentang Rissa, atlit lari, ketua OSIS, yang memiliki kenangan buruk di masa lalu. Di sekolah, dia amat mengagumi kakak kelasnya bernama Dirga, mantan atlit lari. Dirga selalu ada dan mendukung Rissa, terutama dalam karirnya sebagai seorang pelari.

Selain Dirga, ada cowok bernama Ziga yang pada awalnya selalu bikin kesal, tetapi lama-kelamaan, Rissa merasakan perhatian lebih dari seorang Ziga untuknya. Apalagi ketika Ziga juga mendukung tujuan besar seorang Rissa.

Namun, jelas kehidupan Rissa tidak datar begitu. Banyak masalah yang dia alami. Apalagi jabatannya sebagai ketua OSIS membuatnya memiliki tantangan besar. Bahkan ada orang-orang tertentu yang juga ingin menjatuhkan Rissa.

Dalam memperjuangkan hal yang diinginkan dari dulu, ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Masalah silih berganti. Soal masa lalu, soal keanggotaan di OSIS, soal seleksi lari nasional, dan banyak hal yang membuat kerapuhannya harus terlihat di mata umum. Padahal, bukankah dia terkenal sebagai cewek yang tegas dan pemberani?

TANGGAPAN UNTUK RUN, RISSA!

Jujur, sebenarnya aku nggak suka-suka banget cerita remaja (padahal aku juga nulis cerita remaja). Kecuali jika openingnya menarik. Dan ceritanya memang seru. Terus terang, aku tipe orang yang kaya udah feeling duluan. Kalau dari awal seru, bikin penasaran, maka kukira, ke sananya bakal seru juga. Dan akhirnya, aku dibuat penasaran sejak lembar pertama buku ini. Buktinya, aku bisa membaca buku ini dalam waktu kurang lebih 2 jam saja. Hanya diselangi makan seblak kemarin itu, kemudian berseru ria kembali dengan novel ini.

Ada banyak hal yang menjadi poin penting bagi aku sebagai pembaca, sehingga aku bisa meneruskan membaca sampai akhir. Di antaranya story telling penulis yang menurutku sangat ringan, dan enak dibaca. Kadang-kadang, ada tulisan ringan, tapi ngebosenin. Nah novel mbak Idha ini, ringan dan enak dibaca. 

Selanjutnya, soal plot. Sebenarnya dari awal, aku nggak berekspektasi banyak sih sebelum membaca. Mengingat, ganre-nya fiksi remaja. Kukira, genre remaja memang jarang menggunakan plot belibet, karena disesuaikan dengan target pembaca juga. Tapi ketika membaca, aku cukup enjoy. Beberapa hal yang menurutku sangat segar, dimasukkan Mbak Idha ke sini. Seperti soal OSIS. Aku terpaku terhadap cara Mbak Idha dalam menjelaskan dan menunjukkan soal OSIS di buku ini. Aktivitas kegiatan OSIS ditunjukkan, aktivitas lari dan latihan, ditunjukkan juga. Anak-anak di novel ini kelihatan professional banget. Mengingat, aku sempat baca buku fiksi remaja (beberapa), dan jarang-jarang yang menonjolkan sisi ke-professionalitas-san anggota OSIS, lebih fokus ke percintannya. Di buku ini, aku merasakan bahwa porsinya pas. Nggak lebay dan masih bisa diikuti.

Yang bikin aku seneng juga di novel ini adalah endingnya. Menurutku, Mbak Idha sudah sangat tepat mengambil ending seperti itu. Happy ending nggak harus cemewew-an. Sad ending nggak harus nangis-nangisan. Eaaaa. Aku terkesan di bagian akhir.  

Adakah yang tidak aku sukai dalam novel ini? Bukan yang tidak aku sukai ya, lebih kepada pertanyaan-pertanyaanku setelah baca novel.

Misal, kenapa sih Ziga bisa suka banget sama Rissa? Soalnya kalau Dirga kan, wajar banget perhatian sama Rissa karena berhubungan sama masa lalunya juga. Aku kurang mendapatkan kejelasan. Sampai-sampai Ziga pindah ke sekolah Rissa. Ziga kurang tereskplor menurutku.

Kedua, soal ayahnya Rissa. Sebenarnya dia kerja apa gitu? Entah aku yang nggak fokus sama ceritanya (padahal mungkin sudah dijelaskan dalam cerita), atau memang tidak ada penjelasan lebih. Karena aku merasa aneh aja gitu. Kalau beneran tidak terjelaskan, menurutku akan makin oke kalau ada satu paragraf atau beberapa kalimat yang menjelaskan soal kerjaan bapaknya Rissa. Soalnya di part papanya Rissa ketemu Dirga di Singapura, aku rada mengerutkan dahi. Emangnya si Bapak mau ngapain di Singapura? Iya sih alasannya kerjaan, tapi nggak ada penjelasan kerjaan apa. 

Ketiga, ini manusiawi banget. Aku nggak nemu typo. Namun ada beberapa spasi yang nyatu. Jadi agak kurang nyaman dibaca. Selebihnya, oke bangeeet.

So, itu aja review-ku buat novel: Run, Rissa! 

Makasih buat Mbak Idha udah buat cerita ini. Pesan dari novel ini yang kutangkap: cerita remaja nggak hanya soal cinta-cintaan. Ada banyak tujuan dan impian yang bisa dipadukan dengan kisah percintaan remaja, tanpa harus berlebihan.  Novel ini nggak lebay. Sumpah. Keren.

Kalau disuruh ngasih nilai. Kukasih 3.5 dari 5 bintang. Novel ini enak diikuti. Direkomendasikan untuk teman-teman yang pengin baca novel remaja.

So, itu saja teman-teman. Terima kasih sudah membaca review-ku. Sampai ketemu di review selanjutnya.

Belum ada Komentar untuk "REVIEW NOVEL : RUN, RISSA! Kisah Percintaan Remaja yang Nggak Lebay"

Posting Komentar

Berkomentar dengan baik ya. Ditunggu masukan yang membangun.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 2

BACA ONLINE KARYAKu DI WATTPAD: