Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Review Novel Ayah, Aku Rindu (Pemenang Kompetisi Menulis Indiva 2019)






Salam santuy Ujwinners …. Dalam rangka hastag Di Rumah Aja, maka aku akhirnya baca novel yang lagi anget-angetnya, karena baru terbit Maret 2020 ini (Penerbit Indiva). Nggak afdal dong kalau aku nggak membagikan pengalaman baca buku keren tersebut. Yaps, aku akan review novel Ayah, Aku Rindu Karya S. Gegge Mappangewa. Buku yang tebalnya 192 halaman ini mampu aku selesaikan selama 3 jam aja lho. Pamer, pamer …. Ahahaha.

Baiklah, sebelum aku membahasnya, mari kita lihat garis besar novel ini:

Novel ini berkisah tentang Rudi, seorang anak remaja desa, yang ditinggal meninggal Ibunya. Dia yang memang selalu mendapatkan cinta dan kasih sayang Ibu dan Bapaknya, tiba-tiba dipaksa harus melepas sang ibu untuk pergi selama-lamanya. 

Masalah Rudi tidak berhenti sampai sana. Setelah Ibunya meninggal, sosok ‘ayah’ yang sangat dia kagumi dan idolakan pun berubah. Lelaki yang Rudi kenal tidak pernah marah semasa Ibu Rudi masih ada, bahkan berani membentak dan menciderai Rudi. 

Ini adalah perjuangan Rudi mengembalikan orang yang dia sayangi (satu-satunya). Sampai kemudian, banyak hal yang akhirnya terbuka dan menjadi suatu ‘pecut’. Dia harus menghadapi kenyataan yang tidak bisa diterima dengan akal.

***

Membaca karya S. Gegge Mappangewa adalah adalah suatu keberuntungan bagiku. Mengingat, ini adalah karya pertama beliau yang aku baca. Sebenarnya, aku sempat membaca Sayat-sayat Sunyi (beberapa halaman awal saja) di Ibuk, tapi karena kelupaan, masa sewanya keburu habis. Alhasil novel berjudul Ayah, Aku Rindu, menjadi novel pertama beliau yang kubaca sampai selesai.

Ada beberapa hal yang sangat aku sukai dari novel ini. Berikut ini merupakan poin-poin yang menjadi nilai plus untukku sebagai pembaca:


1. Lokalitas yang Diangkat ke Dalam Novel

Banyak yang akhirnya aku ketahui tentang salah satu daerah dan budaya lokalnya melalui novel ini. Saya jadi tahu sebuah kampung bernama Alakkuang, yang setelah aku cari di internet, ternyata berada di Kab. Sidrap, Sulawesi Selatan. Hal ini membuat aku sebagai pembaca terkagum-kagum, sebab penulis bisa tetap memasukkan unsur latar yang pas dan tidak berlebihan menurutku. Aku juga kemudian dikenalkan dengan sebuah mitos zaman dulu dari sulawesi selatan mengenai Nenek Mallomo. Jelas, ini menjadi ke-khasan tersendiri di dalam cerita yang notabene-nya adalah cerita remaja. 

2. Bahasa yang Sangat Luwes dan Mengalir

Salah satu hal yang membuat aku betah membaca cerita ini di antaranya karena bahasa yang sangat menarik, ala Kak Gegge. Bahasa yang ringan, tetapi terdapat kalimat-kalimat yang ngena, justru membuat aku merasa betah dengan tulisan tersebut. Sangat cocok dibaca oleh remaja (sesuai targetnya), meskipun sebenarnya novel ini sangat aman dibaca oleh siapa saja. Contohnya aku yang sudah nggak remaja lagi, justru malah bisa ikut merasuk dengan masalah-masalah yang dihadapi Rudi (selaku tokoh utama). 

3. Novel yang Tidak Melulu Soal Cinta

Sering sekali aku membaca cerita remaja, dan tidak aneh kalau cerita remaja kebanyakan menjelaskan tentang kisah percintaan di sekolah. Hanya satu dua yang kutemui cerita dengan porsi cinta ‘sedikit’. Sebenarnya, mau cerita cinta-cintaan, atau cerita apa, tidak masalah. Namun, novel ini bagi aku memiliki sesuatu yang baru. Terdapat banyak hal di sini, tetapi kisah cinta yang sedikit ini menurutku jadi pas. Sehingga tidak menghilangkan esensi bahwa di kehidupan remaja itu memang ada masa-masa berbunga-bunga karena kenal lawan jenis. 

Lebih dari itu, sebenarnya ada beberapa masalah remaja (bukan hanya soal asmara), yang ternyata juga kompleks. Seperti yang dihadapi Rudi salah satunya. Bagaimana cara dia mengjalani hidup ketika harus ditinggalkan Ibu, sementara, si ayah juga perlahan menampakkan perubahan.

4. Misteri yang Diramu Apik Sejak Awal

Sebenarnya, untuk menuju ending itu penulis sudah memberikan detail dan lanjaran di awal-awal, tapi sumpah, aku nggak ngeuh. Sampai kemudian, aku terkejut saat sesuatu terkuak. Jelaslah, hal tersebut membikin aku terkagum-kagum.  Aku juga nggak merasa kecolongan dengan kisah yang ada, sebab dari awal memang sudah dimasukkan petunjuk-petunjuk kecil. Satu sih yang ingin aku sampaikan: cerdas. Yaps. Penulis sangat cerdas mengemas suatu hal, tanpa ketahuan di awal aku sebagai pembaca.

5. Quotes yang Daebak dan Relate

Salah satu hal yang kadang-kadang jarang terperhatikan adalah kutipan yang diucapkan si tokoh. Ucapan-ucapan tersebut bisa menjadi penguat cerita, sekaligus penguat untuk si pembaca. Definisi novel yang memiliki pesan moral itu ya, salah satunya novel Ayah, Aku Rindu Ini.

Berikut ini adalah 2 quotes yang paling aku sukai dari bukuAyah, Aku Rindu :

Luka, duka, derita, tak menunggu orang dewasa dulu untuk ditimpanya. Semua kepahitan itulah yang akan menempa kedewasaan.

Harusnya dari dulu saya merasa bahwa kehilangan mampu membuat kita menemukan sesuatu yang lain. 

Lantas, apakah ada yang tidak aku sukai? Sebenarnya ini hanya ‘pertanyaan’ yang belum terjawab. Bagiku belum terjawab. Atau memang aku saja yang kurang fokus membaca? (mungkin nanti akan dibaca sekali lagi).

Aku hanya heran soal peran Cincin Sisik Naga itu. Di salah satu part disebutkan bahwa Rudi merasakan Dejavu ketika memakai cincin tersebut. Tapi sampai akhir, aku nggak tahu, kenapa cincin itu bisa memberikan kekuatan semacam itu? Hum. Semoga saja aku yang kurang fokus, sehingga nanti bisa aku baca ulang mengenai pertanyaan sederhana, dan nggak penting itu, karena sebenarnya yang paling penting ceritanya beres dengan memuaskan. Tapi jujur, itu memang menjadi pertanyaanku setelah beres membaca novel.

Skor yang kukasih untuk novel remaja Gen Z ini adalah 4 dari 5 bintang. Novel ini sangat direkomendasikan untuk remaja Indonesia, atau bagi kamu yang mau mulai menulis naskah remaja. BTW, aku belajar banyak juga dari novel ini, sebagai seseorang yang sedang belajar menulis juga, ehehe.

Selamat beraktivitas teman-teman. Tunggu review novel di sesi selanjutnya.

1 komentar untuk "Review Novel Ayah, Aku Rindu (Pemenang Kompetisi Menulis Indiva 2019)"

Berlangganan via Email