Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Review Novel Menunda Logis Karya Izzul Muttaqin







Hallo Ujwinners, kali ini aku kembali review  novel dari Penerbit Razka Pustaka berjudul Menunda Logis yang ditulis oleh Izzul Muttaqin. Yeah, setelah setelah memmbaca novel ini selama seharian di tengah Social Distance yang memang tidak diperkenankan banyak keluar rumah, akhirnya berakhir dengan menyelesaikan buku dan sekaligus akan aku obrolkan.

Sebelum membicarakan lebih jauh isi novel ini, aku akan menjelaskan sejenak, sinopsis Novel Menunda Logis.

Novel ini bercerita tentang seorang anak bernama Rusaifah, yang awalnya tinggal dengan ‘bos’ yang menyuruhnya menjadi seorang pengemis. Hingga kemudian, adik sang ‘bos’ membawa Rusaifah pergi, dan pada akhirnya, Rusaifah jatuh ke tangan seorang janda bernama Tri, seorang kristiani, yang kebetulan menginginkan seorang anak.

Kehidupan Rusaifah berubah 180 derajat ketika tinggal dengan Tri, tetapi semakin sini, dia semakin sadar bahwa perbedaan agama antara keluarga dirinya, dengan yang lain membuat ada banyak sekat. Hingga kemudian muncul masalah-masalah baru dalam kehidupan Rusaifah. Terutama soal dia yang terus mencari tahu agama terbaik untuk dirinya.

***

Lagi-lagi, aku tergiur dengan sebuah novel karena halamannya tidak terlalu panjang. Aku memang suka syok sendiri kalau baca buku tebal, sehingga hal tersebut membuat aku perlahan melipir, lalu nyari buku yang lebih tipis, dan bisa dibaca saat itu juga. Bukan apa-apa, aku suka penasaran jika menunda-nunda baca novel. Kalau yang pendek macam Menunda Logis (yang hanya 197 halaman), jelas saya bisa menyelesaikannya dalam waktu cepat.

Ada beberapa hal yang aku garisbawahi mengenai novel ini. Diantaranya:

1. Tema yang Cukup Berat


Novel yang membicarakan soal agama, kadang-kadang memang sulit untuk diangkat. Jelas tema tersebut sensitif bagi kita yang terdiri dari beberapa agama. Tapi melalui novel ini, hal yang berat ini terasa lebih ringan karena cara penyampaian yang ringan.

Aku cukup enjoy membaca buku ini. Atas itu semua, aku berhasil membaca buku dalam waktu beberapa jam saja. Ya, meskipun, beberapa kali tertunda karena laper, atau kalau enggak, pingganggu sakit, jadi rehat dulu, (malah curhat).

2. Meski Membahas Agama, Tetapi Tidak Menyudutkan  Suatu Agama

Di sini, jelas ada beberapa hal yang berhubungan dengan agama, tentu saja yang disorot dalam novel ini adalah agama islam. Namun, penulis cukup lihai dalam menuliskan isi pikiran si tokoh tanpa menyudutkan agama-agama lain. Bahkan yang diangkat dalam novel ini adalah perdamaian antar agama. 

3. Bahasa Ringan, Membuat Saya Enjoy Membaca

Ini bukan soal isi cerita, tetapi lebih kepada cara penyampaian penulis, atau story telling penulis. Aku cukup enjoy dengan tulisan beliau (meskipun di beberapa tempat ada yang bikin aku bosen). Penulis membuat kalimat yang lebih pendek, dan tidak belibet, sehingga, pesan yang ingin disampaikan bisa terdeliver dengan baik.

Namun, jelas saja aku juga harus objektif dengan menuliskan hal-hal yang aku tidak suka dari novel ini. Hal-hal semacam ini semoga saja menjadi bahan pertimbangan dan perbaikkan untuk penulis.

Satu hal, yang menurut aku fatal dalam buku ini adalah unsur novel yang tidak begitu terdeliver dengan baik. Oke, untuk sisi amanat, aku acungi jempol. Tapi soal latar, menurutku agak kurang tereksplor. Aku sampai akhir bahkan tidak tahu, latar tempat novel ini di mana sih?

Kemudian, aku juga bertanya-tanya dari awal. Terutama saat Rusaifah kecil masih di tangan ‘bos’ jahat. Umurnya berapa? Dan ya, sampai Rusaifah besar, tak tak kunjung tahu, umur dia sebenarnya berapa (ingatkan jika aku salah, barangkali memang akunya yang kurang fokus dalam membaca). Masih banyak plot hole yang sangat mengganggu.

Dari segi tulisan, awalnya rapi, tetapi lama-kelamaan mulai banyak typo dan juga kesalahan penulisan yang sebenarnya sederhana. Seperti nafas (harusnya napas), ada beberapa penyebutan Tuhan, yang ‘T’-nya ditulis dengan huruf kecil, ada sebutan Nak (yang harusnya N huruf besar karena memang menyebut seseorang secara langsung, ini malah kecil), dan lain sebagainya.

Oke, baiklah, itulah review novel Menunda Logis. Dari segi ide dan juga amanat, kukira sangat menarik untuk diikuti. Namun itu tadi, ada beberapa yang setidaknya bisa jadi pengingat untuk proses pembuatan novel selanjutnya.

Bagaimana dengan score? Bagiku, untuk novel ini, skor 2.5 dari 5 bintang sudah lebih dari cukup. Aku kasih apresiasi buat cerita yang menggugah haru dan juga permainan logika (seperti judulnya: Menunda Logis). Aku tunggu karya hebat lainnya dari penulis. 



Sampai ketemu di review selanjutnya yaaa.


Posting Komentar untuk "Review Novel Menunda Logis Karya Izzul Muttaqin"

Berlangganan via Email