Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Review Novel Kami (Bukan) Sarjana Kertas Karya J. S. Khairen





Review Novel Kami (Bukan) Sarjana Kertas Karya J. S. Khairen- Hallo Ujwinners, ayeeee, akhirnya aku kembali lagi untuk review novel best seller karya J.S. Khairen berjudul Kami (Bukan) Sarjana Kertas (353 Halaman) terbitan Bukune. Baiklah, sebelumnya aku mau ucapin terima kasih dulu kepada penulis, sebab telah mengizinkan banyak pembaca untuk bisa mengunduh novelnya di Google Play Book. Itu sebabnya, aku pada akhirnya bisa melahap buku keren ini (yang pada awalnya memang belum memiliki kesempatan untuk baca).


Sebelum aku membahas novelnya, berikut ini adalah garis besar novel Kami (Bukan) Sarjana Kertas:

Novel ini bercerita tentang perjalanan Ranjau, Ogi, Arko, Gala, Sania dan Juwita,  yang berkuliah di Kampus UDEL. Kampus yang katanya memiliki segala masalah dan juga bisa disebut bobrok. Orang-orang yang daftar ke sana, kebanyakan adalah ‘buangan’, paling tidak, UDEL adalah pilihan kampus terakhir.

Di sana, mereka berjuang untuk menggapai cita-citanya, kemudian mereka juga harus menerima kenyataan di depan mata. Yang jelas sekali, kenyataan itu tak selalu baik, meskipun pada akhirnya ada hikmah yang bisa dipetik.

***

Pertama-tama, kukira ini bakal jadi novel yang ringan, dengan komedi ala-ala anak kuliahan gitu. Tapi semakin lama baca, aku semakin menemukan hal lain, yang jelas membuat aku terfokus untuk terus membaca novel ini. Agar lebih jelas, akan aku tulis beberapa hal yang kugarisbawahi berupa poin-poin yang membuat aku betah baca buku, sampai tamat.

1. Story Telling yang Tcakep

Sumpah deh, aku menemukan hal yang berbeda dari cara penulisan Bang Khairen dalam novel ini. Dia punya cara tersendiri dalam mendeskripsikan, menarasikan, bahkan menuliskan dialog-dialog ciamik antara satu tokoh dan tokoh lainnya. Ceritanya ngalir banget. Aku ikut tertawa, sedih, bahagia, dan perasaan lainnya, sesuai dengan apa yang dirasakan si tokoh. Hebat bener kan? 

2. Lebih Dari Sekadar Hiburan, Novel Ini Menuliskan Realita

Aku pernah membaca suatu kalimat (entah di mana lupa), kalimat tersebut berbunyi: Pada akhirnya, tulisan yang jujur akan lebih banyak menemui pembacanya. Mungkin definisi jujur bagi tiap orang berbeda-beda. Bagi aku sendiri, definisi jujur di novel ini adalah tentang realita yang ada dan dikupas di dalam naskah fiksi. Tentang kebanyakan sarjana, yang (kita bisa lihat sendiri), banyak yang nganggur, tentang kesombongan fresh graduate yang memiliki IPK besar dan lantas berpikir bahwa nilai-nilai di kertas itu amat penting. Ya, nilai-nilai itu penting, tetapi ada yang lebih harus diperhatikan, yaitu tujuan setelah kuliah. Mau ke mana? Mau jadi apa apa?

Novel ini juga membabat habis soal kecurangan-kecurangan dan pelanggaran yang dibuat oleh pihak-pihak kampus sendiri, juga tentang realitas young adult di usia-usia seperti itu. Tentang ambisi, tentang mental yang gampang down, juga yang lebih mengena; tentang skills yang mau tidak mau harus kita miliki di luar pelajaran yang didapatkan di kampus.

3. Novel yang Cocok Dibaca Siapa Saja

Kupikir, pada awalnya novel ini hanya akan cocok dibaca oleh orang-orang yang sedang kuliah. Namun setelah ditilik-tilik, karena dari setiap tokoh memiliki masalah masing-masing, novel ini juga cocok dibaca oleh orangtua dan remaja. Aku mengerti satu hal tentang suatu kenyataan: bahwa kebanyakan orangtua di kita selalu menuntut anaknya untuk menjadi seperti yang mereka mau. Padahal tiap anak memiliki keinginan dan passion masing-masing. Sementara, ketika anak-anak remaja membaca buku ini, mungkin mereka bisa lebih mempersiapkan diri di kehidupan di luar sekolah atau kuliah. Seperti yang kita ketahui, bahwa semakin teknologi maju, maka persaingan semakin ketat. Setiap orang tentunya harus memiliki sesuatu yang bisa menjadi bekalnya setelah selesai masa pendidikan.

4. Quotes-nya Bukan Hanya Mengingatkan, Tapi Juga menampar

Beberapa quotes di novel ini menampar banget. Beberapa di antaranya to the poin mengatakan bahwa kita sebagai anak muda memang harus benar-benar mempersiapkan hidup, bukan hanya soal pekerjaan, tetapi juga soal hal-hal lain, seperti hubungan sosial dengan orang lain dan juga kesehatan mental. Baca aja langsung bukunya buat tahu kutipan kerennya. Sengaja nggak aku kutip di sini biar penasaran. Ahahaha.

5. Yang Paling Penting, Novel Ini Memang Layak Dibaca

Sumpah deh, aku beberapa kali berkaca-kaca saat membaca novel ini. Misalkan: saat Ogi putus asa dan merasa dirinya nggak bisa apa-apa. Kemudian saat konflik antara Gala dan Bapaknya. Ada juga saat Ranjau harus menghadapi kenyataan, bahwa hanya dirinyalah yang belum tahu tujuannya apa, padahal dirinya yang paling jor-joran berkualiah. Kayak gimana ya, ngena dan related gitu sama aku. Semua pesannya nyampe. Komedi yang kadang-kadang satir, dikombinasikan dengan drama mahasiswa, bagiku sangat luar biasa. Sepanjang membaca novel, aku merasakan ironi yang luar biasa melihat kenyataan-kenyataan semacam itu.

Setidaknya, 5 poin di atas bisa menggambarkan mengenai kelebihan novel Kami (Bukan) Sarjana Kertas. Namun, aku agak kasihan sama si Cath sih, kok dia nggak ada back story-nya gitu sih? Tokoh-tokoh lain kan ada. Nah, si adiknya bu Lira ini hanya diceritakan beberapa kali. Padahal kalau diceritakan kehidupan dia yang kuliah di luar negeri dan bisa dijadikan sebagai pembanding dengan kuliah di dalam negeri, tentu saja akan lebih menarik menurutku.

Ahaha, ya, itu hanya permintaan pembaca sepertiku aja yang kadang-kadang suka banyak maunya. Tapi over all, novel ini keren banget. Aku nggak nyesel baca (apalagi gratis ye kan, awkwk), ya, tapi sebagai bentuk terima kasihnya, aku review novel ini supaya bisa diketahui lebih banyak lagi manusia. Mungkin saja lewat pembaca blogku, ada satu dua yang juga ngepoin? Dan makin banyak yang terinspirasi sama karya keren ini.

Itu saja review novel Kami (Bukan) Sarjana Kertas. Aku kasih 4 dari 5 bintang. Sebab membaca ini bukan hanya hiburan, tetapi juga renungan dan tamparan. Ya, begitulah. Baca sendiri aja biar kamu ngerti apa yang kumaksud. Ehehe.

Nantikan Review Novel Kami (Bukan) Jongos Berdasi, buku ke 2 dari seri ini. Semoga aku bisa menyelesaikan dalam waktu cepat. Yuhuuuu. Selamat beraktivitas.



Posting Komentar untuk "Review Novel Kami (Bukan) Sarjana Kertas Karya J. S. Khairen"

Berlangganan via Email